Aksi Teroris Tidak Mencerminkan Ajaran al-Quran

Aksi Teroris Tidak Mencerminkan Ajaran al-Quran

SHARE
Prof. Dr. Hamid Bin Ahmad Al-Rifaie

Oleh;

Prof. Dr.Hamid  Bin Ahmad Al-Rifaie*

Mayoritas warga Barat bependapat bahwa Islamlah yang menganjurkan aksi kekerasan.   Mereka perpendapat demikian, karena mereka memahami teks dalam al-Quran yang salah dan juga hanya melihat al-Quran berdasarkan kepada tingkah laku dan perilaku sebagian oknum umat Islam yang melakukan tindakan kekerasan di berbagai Negara,  terutama pada dua dekade terakhir ini. Berkenaan anggapan tersebut, tentunya penulis tidak  membenarkan tindakan teror yang dilakukan sebagian kecil umat Islam. Pastinya penulis akan membela dan menyebarkan pemahaman yang benar terhadap al-Quran kepada mereka melalui mimbar yang kami tekuni. Misalkan, ketika kita berdialog dengan Vatikan yang diselenggarakan di kota Tetouan-Maroko yang bertopik: ‘Bagaimana Kristen Berdialog kepada Muslim, dan sebaliknya Bagaimana Muslim Berdialog kepada Kristen?’ Dari kelompok Islam, saya menyiapkan menyiapkan artikel, dan rekan saya dari Perwakilan Paus-Vatikan di Afrika, Kardinal Francisco Renzi yang berasal dari Nigeria berbicara sekitar etika dialog Kristen terhadap Muslim.

Dalam artikel itu dibahas perihal hubungan Islam-Kristen, antara lain mengupas al-Quran secara detil dan terperinci antara lain tentang pandangan Islam tentang toleransi, Islam rahmat lil ‘alamiin, keamanan, perdamaian, hak dan kewajiban sesama manusia, keadilan Ilahi dan lain-lain. Allah s.w.t dalam al-Quran menyerukan agar kita dapat berdilaog dan bermujadalah dengan Ahli Kitab – – Yahudi dan Kristen – – secara beradab dan lebih baik sebagaimana firman-Nya, artinya : ‘dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (QS.29 : 46). Namun apabila kita telah berupaya melakukan dialog secara cara baik mereka tidak menima  atau tetap orang itu dalam kezhaliman. Padahal   kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik telah disampaikan, dan mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan maka dialog tidak boleh dilakukan.

Begitu banyak ayat dalam al-Quran, tetapi karena keterbatasan ruang penulis hanya sampaikan ayat ini yang harus dipahami dan diamalkan dalam kontek hubungan Islam dan non-muslim khususnya Kristen. Yang artinya : ‘Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS.3:64). Lalu Kardinal Francisco yang merupakan akademisi juga seorang filusuf bertanya kepada penulis, semua yang anda sampaikan tersebut adalah sesuatu yang sangat fantastik dan dahsyat, tetapi bagaimana dapat menselarakan antara paparan anda di atas dengan ayat lain dalam al –Quran ini :

 

{يا أيها النبي جاهد الكفار و المنافقين و اغلظ عليهم و مأواهم جهنم وبئس المصير}

Artinya : ‘Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali’. (QS.66:6). Dari ayat diatas dimana sebenarnya  ukhuwah/persaudaran sesama manusia dan tolerasi saling memahami tetapi yang diperintahkan adalah ‘bersikap keraslah terhadap mereka’  dan tidakah ayat di bawah ini  paradok dengan artikel yang anda sampaikan?

 

{قاتلوا الذين لا يؤمنون بالله ولا باليوم الأخر و لا يحرمون ما حرم الله و رسوله ولا يدينون دين الحق من الذين اوتوا الكتاب حتى يعطوا الجزية عن يد وهم صاغرون}

 

‘Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk’. (QS.9:29).

Kami berimam sekali kedua ayat sebagaimana mestinya dia diturunkan dan kami meyakini sebagaimana tujuannya dan tiada keraguan padanya. Dan saya tegaskan bahwa apabila anda membaca ayat lain dalam al-Quran, anda akan mendapatkan yang lebih keras dari kedua ayat diatas. Tetapi saya perlu menjelaskan kepada anda ‘al-Quran adalah insklopedia dan untuk memahami kitab itu, bahwa setiap manusia harus paham bahasa Arab. Karena setiap kata dan kalimat dalam al-Quran memiliki dilaalah dan kedalaman makna tersendiri, tetapi ini tidak cukup. Selanjutnya harus menkolektif semua ayat mengulas dalam satu subyek pembahasan dan dibaca/pelajari satu sama lain, karena satu ayat dengan ayat yang lain saling menyempurnakan, tetapi ini juga tidak cukup. Selanjutnya semua ayat diatas harus diletakkan dalam alur al-Quran secara menyeluruh dan komprehensif agar dapat dipahami satu masalah dalam bingkai al-Quran, dan ini juga tidak cukup, namun wajib masuk petunjuk Nabi Muhammad s.a.w agar Hadist Nabi yang mentafsirkan ayat-ayat itu. Begitulah methodenya, saya sebagai seorang muslim dan bangsa Arab juga harus melalui minimam empat tahapan dimaksud.

Ringkasnya, al-Quran menyerupai undang-undang negara manapun, sebagaimana setiap konstitusi negara terdapat bab dan pasal baik itu berkenaan dengan politik, ekonomi, organisasi dan lainlain. Jadi, ayat di atas diamalkan apabila kaum muslimin dalam keadaan perang. Penulis bertanya adakah pasal/peraturan sebuah negara dalam keadaan perang yang menyuruh kepada pasukan tentaranya agar menhamparkan karpet merah dan bunga?. Sejarah mencatat sebaliknya yang terjadi di Hiroshima, alat perang menghanguskan kota tersebut begitu juga di Aljazair bahasa radiasi nuklir masih mengancam kesehatan banyak warga walupun sdh merdeka lebih dari 60 tahun. Untuk itu, ketika kaum muslimin bukan dalam perang dengan non-muslim atau dalam kondisi keadaan damai dianjurkan anda membaca ayat :

{لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم، إن الله يحب المقسطين}

Artinya : ‘Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil’. (QS.8:60) Terakhir perlu disampaikan, dalam Islam kata  البر – – kebaikan – – tidak dipergunakan kecuali hanya kepada kedua orang tua. Namun kami diperintahkan al-Quran agar berbuat albirru kepada non-muslim dalam kedaan damai sebagaimana kami berbuat baik kepada kedua orang tua kami. Setelah mendengar penjelasan ayat diatas Kardinal Francisco Renzi mengatakan kepada kami, tetapi kalian umat Islam mengatakan: ‘kami adalah adalah kafir’. In Syaa Allah dalam kesempatan yang lain kita akan membahas pengertian kafir secara bahasa dan istilah.

 

 

*Ia adalah mantan dosen kimia dan pemikir Saudi yang aktif dalam forum dialog antar agama, Presiden International Islamic Forum for Dialogue (IIFD) berpusat di Irlandia, Wakil Ketua Motamar al-Alam al-Islami l The World Muslim Congress (WMC), dan penulis produktif yang telah menerbitkan lebih dari 75 buku dalam bahasa Arab dan Ingris. Diterjemahkan dan disusun ulang oleh Arip Rahman yang tinggal di Rabat-Maroko dari dialog.