Al-Quran dan Pesan Membaca

0
133

Oleh. Tatang Muttaqin

COGITO ergo sum, “Saya berpikir maka saya ada.”

Itulah ungkapan terkenal filusuf dan ahli matematika Perancis yang lahir di La Haye-lah, Rene Descartes (1596-1650) yang namanya diabadikan menjadi Universitas Paris V (Université Paris Descartes Paris V). Frase inilah yang menjadi elemen dasar filsafat Barat.

Jika Barat menonjol dengan kosa kata berpikir maka Jepang menonjol dengan kosa kata baca sehingga membaca menjadi bagian hidup (way of life) Bangsa Jepang. Hampir di semua kesempatan, di pusat pertokoan umum dan area transportasi publik, orang Jepang tak pernah lepas dari membaca, “lego ergo sum, saya baca maka saya ada” karena agar berpikir benar diperlukan rujukan untuk selanjutnya menjadi tulisan sehingga mencapai budaya “saya menulis maka saya ada, scribo ergo sum.”

Budaya baca Jepang memang sudah dikenal sejak zaman baheula. Setelah hancur lebur dan dilucuti Tentara Sekutu sebagai konsekuensi kekalahan dalam Perang Dunia II, Jepang segera menata diri untuk melakukan recovery sehingga dalam waktu hanya 40 tahun mampu menjadi penyeimbang keadikuasan Amerika Serikat dalam bidang ekonomi dan pencapaian kemajuan teknologi sehingga beragam perusahaan raksasa dunia lahir dari Jepang.

Tak pelak mantan Direktur Hudson Research Institute di New York, Herman Khan sejak lama memprediksikan bahwa “the 21st Ceuntry will likely become the Japanese Century” atau setidaknya, abad ke-21 akan menjadi abad Amerika-Jepang, di mana Amerika akan memegang peranan utama di bidang militer dan ekonomi, sementara di pihak lain Jepang tampil sebagai kekuatan ekonomi atau dalam istilah buku Prof. Ezra Vogel, “Japan As Number One. Lessons for America.” Bahkan, futurolog masyhur, Alvin Toffler sejak tahun 1981 telah meramalkan kedigjayaan tersebut dengan tajuk “Japan’s Secret: Face Future Without Fear.”

Di samping keuletan, etos kerja, sikap disiplin bangsa Jepang dan kemampuannya menangkap tanda-tanda zaman, seorang pemerhati Jepang Arifin Bey dalam “Peranan Jepang dalam Pasca Abad Amerika” (1990) menyebut dua faktor penting kemajuan Jepang, yaitu: (1) perhatian besar yang diberikan pada pendidikan; dan (2) adanya scientific spirit yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat Jepang.

Faktor penting pertama telah memiliki landasan yang kuat sejak era Reformasi Meiji lebih dari seabad lalu yang memberikan perhatian istimewa pada dunia pendidikan, bahkan jika ditelusuri lebih apik jauh sebelum Restorasi Meiji, pendidikan telah mendapat perhatian yang tinggi sehingga tercatat ada sekira 50.000 ‘terakoya’. Terakoya merupakan pesantren ala Jepang, di mana tempat ibadah dijadikan ruang pembelajaran untuk rakyat biasa; 300 buah sekolah untuk para Samurai, serta sekitar 1000 sekolah yang dimasuki Samurai maupun rakyat biasa.

Di era Reformasi Meiji melalui slogan “fukuko kyoohei” atau “negara yang makmur dan pertahanan yang kuat,” Jepang segera mendirikan Kementerian Pendidikan pada tahun 1817 yang merancang program pendidikan nasional yang berlaku di semua kabupaten/kota. Enam dasa warsa selanjutnya, tepatnya tahun 1877, Universitas Tokyo berdiri sebagai gabungan tiga sekolah shogun di Tokugawa, yaitu: (1) Akademi Kong Fu Tse; (2) Fakultas Kedokteran; dan (3) Fakultas Pengetahuan Asing.

Adapun faktor scientific spirit yang merata hampir di semua masyarakat Jepang berakar dari nilai keagamaan, yaitu kagaku shinkoo atau ‘agama sains’ yang termanifestasikan dalam wujud minat baca masyarakat terhadap bidang sains dan teknologi yang terus mengalami peningkatan.

Pertemuan budaya sains dan teknologi yang mengakar pada masyarakat Jepang dengan pilihan kebijakan yang tepat dari pemerintah menjadi kunci massif dan intensifnya budaya baca. Pilihan kebijakan negara tercermin di saat kalah dalam Perang Dunia II, Kaisar Jepang langsung mendata berapa jumlah sekolah dan guru yang tersisa dan menetapkan pendidikan sebagai prioritas pembangunan utama dibanding dengan bidang-bidang lainnya sehingga angka partisipasi pendidikan dasar dan menengah mencapai 100 persen dan angka partisipasi perguruan tinggi mencapai 60 persen.

Untuk memaksimalkan penguasaan ipteknya, pada tahun 1958 Jepang juga mencanangkan pembebasan dari ketergantungan impor dan menjadi negara mandiri dalam memproduksi beragam produk dan inovasi yang berbasis sains dan teknologi. Bersamaan dengan itu sosialisasi dan pendidikan sains dan teknologi pada masyarakatnya mulai gencar ditanamkan melalui institusi pendidikan, keluarga, pranata sosial dan juga media massa cetak dan elektronik.

Terkait pendidikan, diterapkan pendidikan iptek sejak dini lewat pendidikan formal dari tingkat pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi. Semangat untuk meneliti sudah ditanamkan sejak SD dengan memanfaatkan musim libur panjang bagi murid-muridnya untuk melakukan sebuah penelitian bertema bebas sebagai pekerjaan rumah.

Pada tingkat SLTP-SLTA, para guru ilmu alam dituntut menyerahkan proposal penelitian yang bisa dilaksanakan secara kolektif satu kelas.

Jika ditelusuri lebih jauh, tradisi keilmuan Jepang tak dapat dilepaskan dari ide-ide budaya ketimuran, khususnya Cina sehingga nampak suatu kesatuan yang utuh antara aspek spiritual, ilmu dan teknologi sebagaimana terekam dalam teks-teks tradisi Taoisme dan Kong Fu Tse; seperti dalam “jalan dan nilai-nilai kehidupan” (Daode-Jing) dan petunjuk manual kehidupan (I-Jing). Jika Daode-Jing memandang alam pada prinsipnya dari sisi metafisis, pembahasan dalam I-Jing lebih bersifat prinsip-prinsip ilmiah yang lebih detail tentang bagaimana alam bekerja dan berjalan.

Dari perspektif strategi pemerintahannya, untuk menjamin konsistensi pelaksanaan kebijakan, pemerintah dengan payung hukum Goverment Policy Evaluation Act (Act No. 86/2001) melakukan evaluasi dan pengendalian yang menuntut setiap kementerian harus memiliki misi dan strategi atau semacam Rencana Strategis (Renstra) Kementeian yang ditetapkan Menteri terkait untuk menjadi rujukan dalam evaluasi kinerja kementeriannya.

Dalam Renstranya, Kementerian Kementerian Pendidikan Sains dan Teknologi memiliki 13 sasaran kebijakan yang dioperasionalisasikan melalui sasaran pelaksanaan. Terkait budaya baca, nampak sekali sekalipun sudah membudaya, pemerintah Jepang tetap menempatkan pada posisi prioritas tertinggi, yaitu sasaran kebijakan poin 1. Realization of a lifelong learning society yang diarahkan untuk merealisasikan sebuah masyarakat, di mana semua warganya dapat terus belajar dalam setiap kesempatan dan tempat sepanjang hayat dikandung badan serta memanfaatkan pengalaman dan pengetahuannya secara baik dan tepat guna.

Tujuan tersebut dicapai melalui 5 sasaran pelaksanaan, yaitu: (1) mempromosikan standar pengukuran reformasi pendidikan; (2) perluasan kesempatan belajar sepanjang hayat; (3) meningkatkan keterampilan pendidikan di dalam komunitas; (4) meningkatkan keterampilan pendidikan dalam rumah tangga; dan (5) mempromosikan pendidikan dan pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Untuk menopang kebijakan tersebut, ada juga sasaran kebijakan poin 7. Comprehensive promotion of science and technology/academic policy melalui sasaran pelaksanaan 7.1. mendorong sumberdaya manusia yang senantiasa berinteraksi dengan iptek dan merangrang masyarakat untuk terus tertarik dalam iptek

Sinergi lintas lembaga pemerintah dan pranata sosial kemasyarakatan dalam mendukung budaya baca nampak juga dari dukungan infrastuktur yang memadai untuk melakukan pembelajaran sepanjang hayat sehingga di manapun dapat membaca dan belajar dengan aman dan relatif nyaman semisal sistem transportasi massal yang memungkinkan warga membaca buku dalam bis dan juga kereta bawah tanah (subway), serta berbagai ruang publik lainnya semisal pusat pembelanjaan, lapangan olah raga dan beragam pusat kegiatan komunitas lainnya.

Makro sistem lain yang tak kalah pentingnya adalah media massa, baik cetak maupun elektronik. The Asahi Shimbun misalnya, merupakan salah satu koran terbesar yang selalu memberikan informasi tentang perkembangan sains yang diterbitkan secara popular sehingga terasa renyah dan enak dibaca. Televisi publiknya, yaitu Nippon Housou Kyoku (NHK) juga menyediakan slot khusus pendidikan, yaitu Nippon Housou Kyoku Kyouiku Terebi, atau NHK Education TV yang didesain untuk peningkatan pendidikan dan pengetahuan masyarakat Jepang.

Di samping TV publik, semua TV swasta juga menyajikan beragam acara yang bernuansa ilmiah atau sains dan teknologi, bahkan hampir semua tayangan TV dalam prime time yang paling diminati pengiklan karena banyak ditonton diisi dengan penyampaian beragam mata pelajaran sains sekolah.

Pesan Membaca Dalam Nuzulul Quran
Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam sehingga jika dilacak pada sumber mata airnya, spirit dasar way of life Indonesia bermuara pada nilai-nilai Islam yang tersurat dalam Al-Quran.
Dilihat dari perspektif Al-Quran, perintah membaca atau iqra merupakan pesan Allah pertama kepada Nabi Muhammad SAW yang saat ini diperingati sebagai napaktilas momentum turunnya kitab suci umat Islam di Gua Hira. Dengan demikian, seorang muslim sejatinya selalu mendasarkan kehidupannya pada membaca dan belajar sepanjang hayat, sejak lahir sampai tutup usia sebagaimana firman Allah “Bacalah.., Dia yang mengajar manusia dengan perantaraan pena.” (Al-Alaq 96:1).
Pembacaan terhadap “buku kecil” kitab suci Al-Quran dan “buku besar” berupa alam semesta akan melahirkan beragam ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga manusia berpotensi menjadi khalifah (pengelola, hamengku buwana) di muka bumi “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-Baqarah 2:30).

Dengan Ilmu” manusia dapat mengenal Tuhan, Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata, Tuhan tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Ali-Imran 3: 191).

Secara ajaran, Islam benar-benar sempurna dengan memandang Ilmu” sebagai kesatuan utuh yang bersifat holistik, suatu pendekatan yang mengaitkan dunia nyata dengan aspek nilai-nilai spritual. Dengan demikian, falsafah ilmu pengetahuan umat Islam harus bersifat holistik, yang bersumber pada ajaran ketuhanan dan keteraturan alam semesta.

Uniknya, pesan Tuhan untuk terus membaca tersebut tak sepenuhnya ditunaikan sehingga budaya baca umat Islam relatif tertinggal jika dibanding tradisi Jepang di atas. Di saat budaya baca belum solid, kehadiran beragam produk teknologi melahirkan kemudahan dan kenyamanan sehingga masyarakat langsung meloncat pada budaya audio-visual, televisi yang lebih hidup dan atraktif. yang tentu saja termasuk didalamnya berpikir namun masyarakatnya terlanjur melompat budaya konsumerisme tak terperikan sehingga tiada waktu tanpa berbelanja dan tidak ada ruang yang lebih baik selain mal.

Jika ini yang terjadi, maka kita semakin jauh dari lego ergo sum, saya baca maka saya ada” untuk selanjutnya saya berpikir maka saya ada, cogito ergo sum” dan mendokumentasikannya sehingga menjadi saya menulis maka saya ada, scribo ergo sum” yang ada justru saya berbelanja maka saya ada, Emo Ergo, Sum” sehingga tempat pembelanjaan paling banyak ada di Indonesia, orang yang paling sering belanja di luar negeri juga orang Indonesia dan waktu terbanyak juga untuk berbelanja sehingga malam sekalipun tetap belanja dengan maraknya fenomena Midnight Sale di pusat perbelanjaan kota besar.

Penguasaan iptek (knowledge) oleh umat Islam menjadi tak terhindarkan dan membaca dan berpikir menjadi titik berangkatnya untuk mencapai kejayaan dan kemakmuran. Seorang pakar dari Massachuset Institute of Technology (MIT), Lester Thurow menegaskan bahwa kemakmuran suatu negara ditentukan terutama oleh brainpower and imagination, invention and the organization of new technologies. Dengan kata lain knowledge” akan merupakan basis baru bagi kesejahteraan suatu bangsa. Jika umat Islam tak mampu membaca dan berpikir untuk selanjutnya berkreasi, maka tidak termasuk hamba yang baik (shalih) yang akan dipilih Tuhan untuk mewarisi dunia ini karena dunia hanya diwariskan kepada hamba yang shalih sebagaimana tersurat dalam firmanNya dalam surat Al-Anbiya 105: Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh”.

Agar umat Islam tak terus tertinggal maka perlu dilakukan ikhtiar untuk kembali merevitalisasi pesan Nuzulul Quran untuk menanamkan buaadaya baca dengan cara: (1) memastikan pelaksanaan pembelajaran sepanjang hayat dalam upaya penguasaan sains dan teknologi bagi masyarakat sejak di usia dini sampai perguruan tinggi bahkan sampai akhir hayat; (2) advokasi, sosialisasi dan internalisasi budaya belajar sepanjang hayat melalui beragam pranata sosial dan kemasyarakatan, keluarga dan media massa sehingga semuanya berkontribusi terhadap peningkatan informasi di bidang sains dan teknologi; (3) Memastikan anggaran yang memadai untuk pendidikan dan memastikan pemanfaatannya secara efektif dan efesien; (4) mensinergikan upaya pembelajaran sepanjang hayat dengan berbagai kebijakan dan penyediaan teknologi informasi dan komunikasi sehingga pembelajaran dapat dilakukan tanpa terkendala ruang, jarak dan waktu termasuk kemudahan dan keterjangkauan dalam mengakses digital library merupakan solusi yang sangat membantu karena akan menghilangkan kendala geografis yang selama ini merupakan masalah utama dalam mencari sumber pengetahuan dan rujukan ilmiah. Wallahu’alam bish-shawab. [***]

Penulis adalag peneliti di The Inter-university Center for Social Science Theory and Methodology (ICS), University of Groningen, The Netherlands.