Antara Persis dan Kerajaan Adonara

Antara Persis dan Kerajaan Adonara

SHARE

Flores – persis.or.id, Persis berkembang di Adonara tidak terlepas dari peran turunan Raja Adonara.

Sejarah lokal Adonara terdokumentasikan dari abad keenam belas, ketika para pedagang dan misionaris Portugis mendirikan pos di dekat Pulau Solor.Pada saat itu Pulau Adonara dan pulau-pulau di sekitarnya dibagi di antara penduduk pesisir yang dikenal sebagai Paji, dan penduduk pegunungan yang disebut Demon.

Para Paji mudah menerima Islam, sementara Demon cenderung di bawah pengaruh Portugis. Wilayah Adonara milik Paji mencakup tiga kerajaan, yaitu Adonara (berpusat di pantai utara pulau), Terong dan Lamahala (di pantai selatan). Bersama dengan dua kerajaan di Pulau Solor, Loyahong dan Lamakera, mereka membentuk sebuah persekutuan yang disebut Watan Lema (“lima pantai”). Watan Lema bekerja sama dengan VOC pada 1613 dan ditegaskan pada 1646.

IMG-20170804-WA0012
Kerajaan Adonara sendiri sering permusuhan dengan Portugis di Larantuka, Flores, dan tidak selalu taat kepada Belanda. Pada abad kesembilan belas, penguasa Adonara di utara memperkuat posisinya di Kepulauan Solor; saat itu, ia juga menjadi penguasa bagian timur Flores dan Lembata. Wilayah Demon berdiri di bawah kekuasaan kerajaan Larantuka, yang berada di bawah kekuasaan Portugis sampai tahun 1859, ketika wilayah tersebut diserahkan pada Belanda. Kerajaan Larantuka dan Adonara dihapuskan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1962.

Adonara, sebuah desa di Kecamatan Adonara, diambil dari nama sebuah Kerajaaan Islam “Adonara“ dimasa lampau yang menyimpan catatan sejarah tentang perjuangan masyarakat setempat melawan kolonial. Hal ini dapat dilihat dari peningalan-peningalan sejarah yang masih ada seperti reruntuhan benteng dengan koleksi meriam-meriam kuno.

Terdapat Benteng Adonara yang konon merupakan kubu pertahanan menghadapi penjajah. Dari Ibukota Kecamatan ± 7 km dan dapat ditempuh dalam waktu 20-30 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Berdekatan dari tempat tersebut terdapat danau Kota Kaya yang terbentuk dari sebuah laguna besar yang dijadikan budidaya ikan bandeng. Selain itu juga terdapat tugu peringatan pelaut Belanda “ VandenBergh “ di Sagu. Dapat dijangkau menggunakan transportasi laut dan darat dari kota Larantuka dengan lama perjalanan + 2,5 jam.

Ust Rahman Nueng Bunga merupakan turunan generasi ke 23 Raja Arkian Kamba beliau Ketua PC Persis Adonara Timur. Ust Qoimuddin generasi ke 24 Raja Arkian Kamba.

Kedua orang tersebut yang mewakafkan sebagian tanahnya untuk dibangun mesjid dan madrasah Persis di pinggir pantai Sagu Adonara. (*)