Apakah Benar, Kita telah Dicintai oleh Allah?

Dipublish pada 27 Februari 2018 Pukul 05:28 WIB

176 Hits

Kecintaan dan Kasihsayang Allah tidak terletak pada hal-hal duniawi. Harta dan kesuksesan, bukanlah tanda cinta dan sayang Allah pada seorang hamba.

Wajah yang cantik, tampang yang ganteng, fisik yang sempurna, kecerdasan intelektual. Itu semua tak ubahnya seperti ujian-ujian pada umumnya.

Harta dan kesuksesan hidup merupakan Kasih-nya Allah. Dan itu diberikan kepada siapapun, tak memandang apakah itu hamba Allah yang sholeh ataupun yang selalu bermaksiat.

Sayang-nya Allah tak terletak pada harta, kesuksesan hidup, atau bahkan memiliki anak-anak yang luar biasa mapan.

Jika Allah mencintai dan menyayangi seorang hamba, maka Allah akan membuat hamba tersebut mudah memahami agama. Mudah menjalankan ketaatan kepada Allah. Lalu, Allah memberinya ilmu ikhlash dan ilmu shabar.

Rasulullah SAW pernah bersabda;

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan memahamkan urusan agama padanya.." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu 'Anhu)

Seseorang pernah berkata “Kenapa ya, rasa rasanya saya sudah ibadah, menjalankan shalat selalu di masjid, tapi tak diberi karunia harta yang melimpah. Eh, kenapa si fulan, jarang ke mesjid, jarang ibadah, tapi dia kaya raya”, kata-kata orang tersebut terlontar diakhiri tawa penuh makna.

Saya hanya tersenyum, dan mengatakan “Pahamilah isyarat sayang Allah kepadamu..”

Kaya raya, punya jabatan, popularitas, strata sosial bagus, dan berbagai kesuksesan hidup, sekali lagi bukan tanda sayang Allah pada seseorang. Apalagi jika orang itu selalu maksiat.

Itu bukan sayang, tapi itu merupakan sebuah istidraj. Allah ulur berbagai kenikmatan hidup yang akan membuat orang tersebut bertambah durhaka, tambah tambah kesombongannya, hingga sampai akhirnya mereka Allah jatuhkan ke jurang neraka. Naudzubillahi min dzalik.

إن الله يعطي الدنيا من يحب ومن لا يحب ولا يعطي الدين إلا من يحب

“Sesungguhnya Allah memberi dunia kepada siapa yang Dia cinta dan juga pada yang Dia benci. Tapi Allah tidak memberi nikmat agama ini (Islam dan Iman), kecuali hanya pada orang yang Dia cintai.

Namun demikian, harta kekayaan dan berbagai karunia Allah pada seseorang, tak akan jadi madharat. Bila orang tersebut bertaqwa kepada Allah.

Sekali lagi, tanda cinta dan sayangnya Allah adalah membuat diri kita memahami agama Islam dengan benar, menimbulkan ketaatan dan ketaqwaan pada Allah, melapangkan hati kita dengan ikhlas, sabar dan syukur. Mau kaya mau tidak, mau bagaimana pun strata sosial kita.

Betapa banyaknya orang yang dipandang hina oleh manusia, tapi mulia dalam pandangan Allah. Betapa banyak orang yang dipandang mulia oleh manusia, tetapi sesungguhnya hina dalam pandangan Allah.

Perhatikan Allah memberikan pelajaran bagi kita dalam Surah Al-Kahfi;

جَعَلْنَا لأحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِن أعنابٍ وحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وجَعَلْنَا بينهما زَرْعًا * كِلتا الجنَّتَيْن آتتْ أُكُلَهَا ولم تَظْلِم منه شَيئًا وفَجَّرْنَا خلالهما نَهَرًا * وكان لهُ ثَمَرٌ

“Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 32-34)

فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

“Maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 34)

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 35)


وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 36).


قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya — sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (QS:Al-Kahfi | Ayat: 37)


وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 39)


فَعَسَىٰ رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا * أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا

“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin. atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. (QS:Al-Kahfi | Ayat: 40-41)

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. (QS:Al-Kahfi | Ayat: 42


وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا

“Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 43)

 

Allahu A'lam.

 

***

Penulis: Taufik Ginanjar

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?