Bahaya Memiliki Sikap Istihza’

Bahaya Memiliki Sikap Istihza’

SHARE

Pada Agama Allah ‘Azza wa Jalla, Rasul-Nya, dan Ayat-ayat-Nya.

Wajib  bagi setiap orang yang beriman takut kepada Allah SWT dan mempercayai bahwa dirinya akan kembali kepadaNya, untuk menjauhi perbuatan dosa dan maksiat. Hendaknya meletakkan posisi dirinya dalam menjauhi maksiat seperti posisinya menjauhi racun yang mematikan, air yang menenggelamkan, dan api yang membakar.

Di antara indikator keimanan seorang mukmin yang dapat kita lihat adalah sikap mengagungkan syiar-syiar agama Allah SWT. Dan di antara kemunkaran yang paling berat yang dilakukan oleh seorang yang mengaku beriman adalah merendahkan agama, menjelek-jelek ajaran dan hukum-hukumnya serta melecehkan dan menghinakan ulama, orang-orang sholeh yang mengamalkan ajaran-ajaran agama itu. Idealnya sebagai seorang  yang mengaku beriman kepada Allah SWT.,  haruslah menjaga persaksian kita (syahadat) dengan mengetahui dan menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan keimanan kita (nawaqidh al-iman).

  1. Makna Istihza`

Istihza’ atau dapat diartikan sikap manusia yang selalu menghina, mengejek, dan mengolok-olokan  agama Allah ‘Azza wa Jalla, Rasul-Nya, dan ayat-ayat-Nya. Sedangkan makna dari Istihza` biayatillah (memperolok-olok ayat-ayat Allah) disini adalah  memperolok-olok Al-Qur`an dan segala sesuatu yang berkaitan dengan  Dien (Agama Islam). Sikap ini timbul karena kesombongan yang dimiliki manusia.  Sikap  Istihza` pun dapat lahir karena mereka yang senantiasa mencari muka di hadapan manusia, penguasa  sehingga mereka berani mempermainkan Allah, rasulNya, dan Ayat-ayatNya.  Oleh karenanya, segala bentuk amal ibadah yang diperbuat dengan  diniatkan untuk mencari muka, maka kandaslah amalnya, gagal usahanya, dan batal pahala karena perbuatan tersebut bukan karena Allah tapi karena mengharap pengakuan dari manusia, bahkan bisa jadi mereka akan memperoleh hukuman dan azab yang pedih dari Allah disebabkan hal itu.

Sesungguhnya mengharap pujian makhluk termasuk perbuatan dosa besar yang dapat mengugurkan pahala amal baik. Rasulullah SAW telah menamakan sikap tersebut dalam sabdanya dengan “syirik tersembunyi dan syirik kecil.”. disebutkan pula dalam hadits tesebut bahwa pembaca kitab Allah, orang yang syahid di jalan-Nya, dan menyedekahkan harta, jika menginginkan pujian manusia dengan semua itu,  maka Allah SWT akan mendustakan dan murka terhadap mereka serta memerintahkan mereka agar ditarik masuk ke dalam neraka. Firman Allah SWT., “ Barang siapa yang menghendaki kehidupaan duniadan  perhiasanya, niscaya Kami berikan kepada  mereka balasan  pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan, itulah  orang-orang  yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka… “ (QS. Hud:15-16)

Allah telah menyebutkan  di antara sifat orang kafir adalah menghina agama Allah ‘Azza wa Jalla, Rasul-Nya, dan ayat-ayat-Nya. Allah telah menjelaskan tentang istihza’ (penghinaan, ejekan, dan olok-olokan) mereka terhadap ayat-ayat-Nya, seperti dalam firman-Nya QS Al-Kahfi:  56 yang artinya,  “Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokkan.

Mereka mengolok-olok bukan  hanya pada ayat-ayat Allah tapi juga terhadap para Nabi Allah. Berikut Allah mengabarkan tentang penghinaan orang kafir terhadap Nabi SAW., firman Allah terkait hal tersebut,  “Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan): “Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?” (QS. Al Anbiya': 36). Dalam ayat lain dijelaskan pula,  “Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?” (QS. Al furqan: 41).

Ayat-ayat yang membicarakan hal itu sangat banyak. Sesungguhnya menghina dien termasuk kekufuran yang banyak dilakukan orang-orang terdahulu. Kekufuran mereka dengan penolakan dan mendustakan atau dengan kesombongan dan keengganan, yang kemudian ditambah dengan  penghinaan terhadap para rasul dan risalah mereka. Semua itu Allah ceritakan berkaitan dengan seluruh umat yang kafir.

  1. Kasus-kasus Pelaku Istihza`

Orang-orang yang berlaku Istihza` bahkan lebih parah dari itu Allah swt gambarkan dalam beberapa kisah yang terdapat dalam Al-Qur`an. Seperti orang yang mengakui tuhan lain bersama Allah, ia tidak memiiki bukti sama sekali atas pengakuannya. Bahkan bukti yang dikemukakannya, jelas sekali kebathilannya dan kemustahilannya.karena itulah orang-orang yang mengaku-ngaku dan menghinakan serta mencela Allah akan selalu berubah, seperti firaun yang dilaknat oleh Allah.

Begitu pula dengan Namruz, seperti yang dikisahkan Allah dalam firmannya ketika Ibrahim as. mengemukakan bukti-bukti kenabiannya. Allah berfirman, “ Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan)..” hingga firmannya, “….. lalu terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petujuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqorah:258).

Baru-baru ini dalam dunia sosmed disajikan sebuah artikel yang mau tidak mau menggiring kita pada kewaspadaan dan kehati-hatian dalam berucap dan berlaku supaya tidak terjerumus pada Istihza`.  Seorang Profesor di sebuah Perguruan Tinggi di Indonesia dan sempat di mintai menjadi saksi ahli pada kasus Penistaan Agama Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Prof. Sarlito Wiraan Sarono meninggal dunia, dia adalah guru besar psikolog UI yang memberi komentar tentang demo tanggal  4 November 2016 di Jakarta dengan kalimat “ Sebegitu lemahnya Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umat-Nya”.  Menurut berita yang penulis baca dalam sosmed eberapa hari setelah aksi demo itu dia diharuskan terbang ke Singapura untuk mengikuti riset terorisme dan deradikalisasi, tapi dia diturunin dari pesawat karena jatuh, dia dilarikan ke rumah sakit Siloam Asri Mampang dan di raat 5 hari kerena pendarahan usus, kemuidan dirujuk ke rumah sakit PGI Cikini yang akrinya meninggal pada senin 14 Novenber 2016 sekitar pikul 2218 menit WIB. Sarlito meninggal cuman selang 10 hari dari pernyataannya itu semoga bisa menjadi pembelajaran dan menambah imam kita. Banyak komentar dalam menyikapi kejadian tersebut, diantara komentar menyatakan bahwa kejadian ini menjadi sebuah bukti bahwa Allah tidak lemah selang 10 hari Allah memanggil untuk mempertanggungjawabkan perkataannya. Allahu `alam bissowab.

Dalam kasus ini pun kita kembali digiring untuk senantiasa mawas diri dan menjaga dengan sebenar-benarnya keimanan kita terhadap Allah. Al-Hasan Al-Bashri rhm. berkata, “ Orang Mukmin adalah penjaga dirinya, menghisab dirinya karena Allah swt. sesungguhnya hisab di hari kiamat kelak akan ringan bagi sekelompok orang yang menghisab diri mereka di dunia dan akan berat bagi sekelompok orang yang menjalani perkara ini tanpa menghisab diri.”

Allah swt berfirman, “ kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya.” (QS. Ar-Rum 10).

  1. Bagaimana Hukum Istihza`?

Berbagai pendapat  menyatakan bahwa istihza` adalah  kekufuran yang membawa pada kekafiran.  Pendapat tersebut merujuk pada QS. Al Taubah: 64-66, yang artinya:

Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, sungguh kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Beberapa orang munafikin tersebut, sebelumnya berstatus sebagai orang beriman, seperti yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan, “sungguh kamu kafir sesudah beriman.” Mereka itu mukmin secara dhahir dan batin sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, tapi iman mereka lemah sehingga mereka melakukan istihza’.

Dalam kisah ini, pelaku kekufuran menjadi kafir tidak disyaratkan tahu bahwa perbuatannya adalah sebuah kekufuran. Tapi cukup dengan dia tahu bahwa perbuatan tersebut diharamkan. Mereka, para pencela, tidak mengetahui bahwa perbuatannya ini sebuah kekufuran, tapi mereka mengira perbuatannya tersebut bagian dosa yang tidak mengeluarkan dari iman (tidak memurtadkan), dan Allah tidak menerima udzur dari mereka itu.

Sedangkan kelompok yang Allah maafkan, dalam salah satu pendapat, adalah orang yang mengingkari mereka terhadap perkataan-perkataan kufur. Dan pendapat lain menyebutkan, bahwa kelompok yang dimaafkan  adalah mereka yang bertaubat, lalu Allah memaafkan kesalahan mereka. Sedangkan kelompok yang kekeh dengan kekufurannya dan berlaku nifaq, mereka itulah yang diadzab.

  1. Bagaimana kita bersikap pada orang yang selalu melakukan istihza`?

Dan ketika kita duduk atau bersama orang-orang yang merendahkan dan menjelek-jelekkan agama dan hukum Allah itu, hendaklah kita meninggalkan majlis itu agar kita tidak termasuk ke dalam golongan mereka. Allah SWT. berfirman dalam  QS. Al-Nisa` [4]: 140, yang artinya, 

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.

Dalam kisah di atas juga mengandung faidah bahwa berkumpul dan berteman dalam kekufuran, ridla padanya, dan berakrab ria dengan orang yang mengucapkan kalimat kufur menunjukkan persetujuan.  Jika kita melihat ada orang yang mengaku muslim, tapi kerjaannya adalah merendahkan hukum Islam atau malah menganggap hukum Islam itu tidak adil, tidak relevan atau tidak layak lagi dilaksanakan  pada zaman  sekarang ini, maka kita perlu waspada dan hati-hati terhadap orang seperti itu.

Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud .Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Allahu a`lam

 

Dr. Ela Hodijah, M.Pd.I. Sekretaris Bidang Tarbiyyah PP persistri