Belajar dari Kebangkitan-Keruntuhan Islam di Spanyol dan Turki

Belajar dari Kebangkitan-Keruntuhan Islam di Spanyol dan Turki

SHARE

Majalengka – persis.or.id, Tabligh Akbar Pimpinan Daerah (PD) Persis Majalengka menghadirkan DR. Atif Latiful Hayat, SH, LLM, Phd, ahad (02/04/2017) di Mesjid Al Manar – Sekretariat PD Persis Majalengka.

DR. Atif menyampaikan bagaimana kita mesti belajar dari sejarah kebangkitan sampai kehancuran Islam di Andalusia (spanyol) dan di Turki.

Islam sebagai sebuah ajaran dalam kilasan sejarah ternyata telah mampu membangun pradaban dunia dengan sangat gemilang. Hampir seluruh wilayah yang pernah menjadi pusat kekuasaan kekhalifahan Islam telah mampu merubah sebuah kawasan tersebut menjadi kawasan yang berpradaban emas.

Dapat kita saksikan bagaimana Islam dapat merubah kawasan gurun tandus di jazirah Arab, Syiria, Afrika menjadi kawasan yang berperadaban. Begitu Pula kawasan Andalusia – Sapayol salah satu kawasan di benua Eropa yang juga sama mengalami kemajuan yang begitu dahsyat setelah kedatangan peradaban Islam yang dibangun oleh Dinasti Bani Umayyah.

Selama hampir 700 Tahun lamanya Islam dapat bertahan disana dan membangun sebuah pradaban yang masyur, baik dalam ilmu pengetahuan, Arsitektur, Penataan Kota, Militer dan Ekonomi dan Pengelolaan sitem ketatata negaraan yang modern. Dan sisa-sisa pradaban tersebut dapat kita saksikan sampai saat ini.

Walaupun pradaban Islam di Eropa yang bepusat di Andalusia – Spayol hanya menyisakan sejarah tapi dari Perjalanan pradaban tersebut kita dapat banyak belajar bagaimana membangun sebuah pradaban dan bagaimana mempertahankan pradaban.

Al-Ustad Atip Mengutip salah satu Ungkapan cendikiawan Muslim Indonesaia alm, Nurcholis Majid yang mengatakan “perbedaaan Islam di Eropa dan Indonesia adalah kalau Islam di eropa mempunyai masa lalu yang gemilang, akan tetapi muslim Indonesia yang pada saat sekarang diperkirakan genap 700 tahun belum mampu membangun pradaban”.

Salah satu pelajaran penting yang dapat diambil dari kilasan sejarah Islam di Eropa , menurut Ustd Atip adalah bahawa para Khalifah pada masa itu dapat menjalin sinergi antara Ulama dan Umaro, bagaimana ulama mendapatkan tempat untuk bersama-sama membangun pradaban dengan menjadi control para khalifah dalam menjalankan pemerintahan.

Para ulama tidak segan-segan menegur dan mengingatkan para pemimpin apabila keluar dari aturan agama. Adapaun salah satu factor kemunduran Islam di eropa menurut analisa beliau, bahawa Penguasa Islam di Spayol – Andalusia tidak melakukan Islamisasi secara merata sampai kepada masyarakat paling bawah, kemudian Para penguasa lebih cenderung berkonsentrasi kepada Pergulatan Politik elit di Istana sehingga menyisakan berbagai persoalan yang menimbulkan ketidak stabilan dalam pemerintahan.

Indonesia sebagai sebuah Negara dengan Muslim terbesar Didunia ditunjang dengan kekayaan alam yang begitu melimpah seharusnya mampu bangkit dalam keterpurukan pasca kolonialisme barat selama 350 Tahun lamanya.

Pada masa penjajahan Umat Islam dijadikan Musuh oleh para penjajah sehingga dalam waktu yang lama kita terus berkonsentrasi berjuang dalam rangka merebut kemerdekaan dan mengusir para penjajah. Sampai pada saat ini pun kita menyaksikan bagaimana Islam belum mampu bangkit bahkan Kaum Muslimin Indonesia terus mendapat tekanan dari berbagai pihak sehingga sulit untuk berkembang.

Lebih memprihatikan Umat Islam di Indonesia justru saat ini mengarah kepada kembali pada masa penjajahan walaupun dalam wajah dan bentuk yang berbeda.

Proses menuju penjajahan menurut Ust. Atip Latipul Hayat adalah Imperrialisme, Kolonilisme dan Pemurtadan. Imperialisme yakni dengan menguasai seektor-sektor ekonomi strategis. Setelah itu dilanjukan dengan Kolonialisme yakni menguasai pemerintahan.

Mudah-mudahan Para pemimpin di Indonesia tidak kehilangan berkah dari amanat kepemimpinan yang telah diberikan kepada mereka, dan kita tidak dijadikan makhluk yang kufur terhadap nikmat besar yang telah Alloh SWT angrahkan kepada bangsa Indonesia. (*)