Bolehkan Bersholawat Kepada Selain Nabi, Misal kepada Pemimpin?

Bolehkan Bersholawat Kepada Selain Nabi, Misal kepada Pemimpin?

Dipublish pada 10 Mei 2018 Pukul 00:17 WIB

465 Hits

Secara bahasa shalawat adalah bentuk jamak dari kata shalla  ( (صلىatau shalat yang berarti doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah. 

Firman Alloh Ta’ala :

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا 

Pada ayat di atas ada lafal يُصَلِّي. Menurut Jamaluddin Al-Jauzy dalam kitabnya ”Zadul Masir Fi Ilmit Tafsir” mengenai makna sholawat Alloh terdapat lima pengertian  : yaitu rahmat-Nya, ampunan-Nya, pujian-Nya, kemurahan hati-Nya, dan keberkahan-Nya. Sedangkan sholawat Malaikat mengandung dua makna yaitu doa dan permohonan pengampunan mereka. (Zadul Masir: 5/140). 

Sehingga terjemah ayat di atas menjadi :

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. Al Ahzab : 43).

Menurut Ibn Abbas, ketika turun ayat :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Al-Ahzab: 56)

Orang-orang Muhajirin dan Anshar berkata : Wahai Rasulullah, ini (sholawat) adalah khusus untukmu, Apakah ada untuk kami? Maka Alloh menurunkan ayat ini (Al-Ahzab: 43). (Tafsir Al Qurthuby: 14/197).

Berdasarkan keterangan di atas selain sholawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Alloh dan Malaikat pun bersholawat kepada kita (orang-orang yang beriman). Rasul telah mengajarkan bagaimana cara kita bersholawat kepadanya. Diantaranya berdasarkan riwayat berikut :



عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قِيلَيَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا السَّلَامُ عَلَيْكَ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ فَكَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

dari Ka’ab bin 'Ujrah radliallahu 'anhu ketika dikatakan; Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui salam kepadamu, lalu bagaimanakah caranya bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: "Ucapkanlah; ALLAHUMMA SHALLI 'ALAA MUHAMMAD WA 'ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHALLAITA 'ALAA AALII IBRAAHIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAAHUMMA BAARIK 'ALAA MUHAMMAD WA'ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAARAKTA 'ALAA 'AALI IBRAHIIMA INNAKA HAMIIDUM MAJIID." (Bukhori, No. 4423). 

Dan Rasul pun diperintahkan oleh Alloh untuk bersholawat dalam arti memintakan permohonan ampun dan mendoakan untuk kaum mukminin. Firman-Nya:

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

dan mendoalah (memohonkan ampunan dan rahmat) untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (At-Taubah: 103)

Rasul pernah mendoakan kepada keluarga Abu Aufa dengan lafal :

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى أَبِي أَوْفَى

Ibnu Abbas berkata bahwa do’a Nabi untuk keluarga Abu Aufa itu bermakna: “Semoga Alloh melimpahkan rahmat kepada Abu Aufa, dan semoga para malaikat mendoakan dan memohonkan keberkatan untuknya.”( Terjemah Tafsir Ayat Ahkam: 2/591).

Dari keterangan-keterangan di atas, didapati bahwa sholawat itu datangnya dapat dari Alloh dan para malaikat kepada kaum mukminin,  dari Alloh dan para malaikat kepada Rasul, dan kita pun diperintahkan bersholawat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dengan makna sholawat yang berbeda-beda pula. 

Kemudian adakah keterangan diperbolehkan sholawat sesama kaum mukminin termasuk kepada Presiden?

Untuk menjawab pertanyaan di atas perhatikan hadits berikut ini :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ …

Dari Auf bin Malik RA dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, "Para pemimpinmu yang baik adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintaimu; mereka mendoakan kepada kamu dan kamu pun mendoakan kepada mereka. Sedangkan para pemimpinmu yang jahat adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun membencimu; kamu mengutuk mereka dan merekapun mengutukmu." …" (Muslim, hadits no 1233).

Menurut Imam Nawawi makna يُصَلُّونَ yaitu يَدْعُونَ (mendoakan). (Syarah Nawawi: 6/328).

Dalam syarah Riyadussholihin (hal. 707) disebutkan : 

الصلاة هنا بمعنى الدعاء يعني تدعون لهم ويدعون 

“Sholawat di sana bermakna do’a, yaitu kamu mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kamu. 

Dengan demikian kita diperbolehkan mendoakan sesama kaum muslimin termasuk kepada presiden tetapi bukan dengan shalawat sebagaimana shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Wallahu a'lam.

Penulis Deni Solehudin.


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?