Cinta dan Valentine, Serupa tapi Tak Sama

Dipublish pada 14 Februari 2018 Pukul 01:03 WIB

169 Hits

Kisah majnun dan layla memberikan gambaran betapa anehnya cinta.. pernah suatu hari majnun melalui rumah layla yang telah hancur, dia mendantangi rumah itu lalu menciumi tembok yang tersisa dari kepingan rumah layla.

Orang-orang berkata "majnun (orang gila)". dia menjawab, "tidak, aku tidak gila.. aku mencium tembok ini bukan karena aku mencintai tembok ini, tapi karena aku mencintai orang yang pernah tinggal di sini.".

Seperti pepatah yang mengatakan cinta adalah api dia membakar hangus apa yang ada di depanya, kecuali sesuatu yang dia cintai..

Tapi apakah Islam membenarkan jika seseorang mencintai seperti itu? Dalam Islam, interaksi antara laki-laki dan wanita diatur dengan sempurna karena yang maha cinta lah yang membuat hukum atasnya.

Namun kali ini bukan cinta yang menjadi pokok pembahasan, tapi bagaimana sang maha cinta memberikan kemuliaan kepada wanita karena cinta..

Allah menetapkan syariat kedapa wanita untuk menutup auratnya, itu lah cara-Nya menjaga.. allah haramkan wanita di sentuh oleh laki-laki yang belum halal baginya, itulah cara-Nya memuliakan.

Semua ini karena wanita adalah pondasi utama sebuah peradaban. bukan kah pemuda dan pemudi yang baik hanya akan lahir dari rahim ibu yang shalihah? Abu bakr ash-shidiq pernah mengatakan "tidak akan ada lagi wanita yang bisa melahirkan seseorang seperti khalid bin walid."

Ini menujukan bahwa ibu khalid lah yang merawat, mendidik, dan menjaganya meskipun dalam masa jahiliyyah, tapi bisa menjadikan khalid sosok yang luar biasa. Oleh karena itu, peran wanita sangat besar dalam membangun peradaban Islam.

Umar bin khattab pernah berkata, " seorang laki laki yang berhasil dapat di lihat dari dua hal, pertama siapa ibunya, yang kedua siapa istrinya". maka pentingnya menjaga generasi muda wanita karena kelak dia yang akan menjadi ibu bagi generasi yang akan datang, maka keluar lah sebuah slogan yang berbunyi pemudi hari ini adalah ibu di masa yang akan datang..

Lalu bagaimana kaum laki-laki marus memperlakukan wanita? kita memiliki rasulullah sebagai suri tauladan, maka lihat lah bagaimana dia meperlakukan istrinya.

Suatu hari, nabi mengharamkan madu karena ada dua istrinya yang tidak senang kepada istri lain yg sering menyajikanya kepada rasul, tapi allah menegur dengan menurunkan sebuah ayat (at tahrim ayat 1).

Adapun amirul mu'minin umar bin khattab yang diam ketika dimarahi karena dia tahu betul peran, dan pengorbanan istrinya.. lalu bagaimana laki laki yang masih belum di pertemukan jodohnya?

Hmm, sebelum Ali melamar Fathimah, dia hanya diam di hadapan orang-orang menyembunyikan rasa cintanya dari siapapun, tapi diam dihadapan makhluk bukan berarti diam di hadapan allah, justru doanya lah terdengar bagaikan terikan penderitaan karena cinta, penderitaan yang lahir karena takut melanggar hukum yang allah telah tetapkan karena perasaan cintanya itu.

Saya tidak berkata harus memendam perasaan, karena mungkin memendam rindu dan perasaan bukan suatu yang mudah. Bahkan ibnul qoyyim membuat sebuah buku yang berjudul taman orang orang jatuh cinta dan memendam rindu untuk memahami rasa itu.

Memang sulit untuk menjaga kemurnian cinta, tapi sikap ali itu menujukan ada nya perjuangan yang dilakukan. perjuangan untuk menghalalkan yang sebelumnya haram.

Karena fathimah sebagai bentuk implementasi dari wanita, mereka tidak butuh untuk di perebutkan, tapi perlu untuk di perjuangkan, bukan sebagai alat percobaan apalagi alat untuk alat untuk permainan.

Bukan untuk diberi tapi untuk memberi, bukan untuk  di beri coklat atau diberi boneka, tapi di beri mahar yang ragamnya beraneka.

Cinta melahirkan kekuatan, sementara semakin besar kekuatan yang dimiliki semakin besar juga tanggung jawab yang di pegang. Dan dia (cinta) tidak pernah meminta untuk menanti. mengambil kesempatan, itulah perjuangan.. atau melepaskan, dan itulah pengorbanan..

valentine=cinta?

Setelah melihat berbagai sumber, ada bermacam-macam versi tentang sejarah valentine. tapi yang pasti, valentine adalah upacara romawi kuno yang menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I.

Jadi acara valentine ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine. Dan sekarang, kebanyakan perayaan ini di isi oleh kemaksiatan. Bagaimanapun, dan apapun bentuknya..

Rasulullah bersabda "barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari padanya." syaikh utsaimin mengatakan "patokan disebut tasyabbuh (menyerupai) adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi ke khususan orang yang di tiru."

Jadi? ya ... tinggal kita sebagai pemuda islam sudah selayaknya menyuarakan #SayNOtoValentine.. karena tidak susuai dengan ajaran islam, bukan hanya secara syar'i. tapi juga mencederai konsep, inti, dan nilai keindahan dari cinta itu sendiri..

 

***

Penulis: Muhammad Rifqi Fathurrahman (bid. pendidikan dan da'wah IPP)

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?