Dakwah dan Politik : Dua Sisi Mata Uang Yang Tak Terpisahkan

Dipublish pada 11 Agustus 2015 Pukul 22:21 WIB

306 Hits

Oleh : Tiar Anwar Bachtiar

Semua umat Islam saat ini tengah berharap lahirnya satu kekuasaan Islam yang dapat melindungi agama dan kepentingan umat Islam. Sudah banyak cara dilakukan untuk itu. Ada yang beranggapan bahwa kemenangan Islam hanya akan diraih dengan gerakan-gerakan politik, atau bahkan hanya dengan gerakan militer. Padangan pertama secara kasat mata diwujudkan dengan gerakan politik an sich. “Islam” dijadikan label dalam gerakan politik, dan diperjuangkan hanya mengandalkan jalan-jalan politik seperti kekuasaan, lobi, agitasi, kampanye, dan sebagainya. Sampai pada taraf tertentu ada di antara mereka yang berhasil naik dalam tangga kekuasaan. Namun apa yang terjadi setelah itu? Label “Islam” yang sebelumnya melekat, sedikit demi sedikit mulai tersingkir sejak dari ucapan, tindakan, hingga akhirnya dari pemikirannya sebagai pemimpin politik dari partai Islam. Umat pun kecewa karena pemimpin yang sebelumnya diharapkan dapat memperjuangkan kemenangan Islam malah sama sekali tidak menambah Islam semakin kuat.

Ada pula yang berharap kemenangan Islam melalui gerakan militer an sich. Pasukan-pasukan dilatih dan disiapkan untuk mendapatkan wilayah-wilayah kekuasaan. Perang dikobarkan dengan pekik “takbir” sebagai penyemangat jihad. Namun apa yang terjadi? Sebagian besar kandas di tengah perjalanan karena tidak mendapatkan dukungan umat dan berkekuatan amat lemah. Sebagian lain ada yang berhasil merebut wilayah kecil kekuasaan. Namun, setelah berkuasa justru kembali “Islam” yang sebelumnya jadi label tidak ditemukan dalam keseharian para penguasa ini. Mereka malah sibuk berebut kekuasaan dan kemenangan. Mereka lupa akan cita-citanya.

Di titik ekstrim yang lain akhirnya tidak sedikit yang terpengaruh pemikiran politik sekuler a la Ali Abdur Raziq yang menyebut bahwa Nabi Saw. hanyalah seorang pendakwah agama. Rasulullah Saw. tidak pernah menjadi pemimpin politik di Madinah. Oleh sebab itu, menjadi Muslim tidak harus memperjuangkan politik Islam atau Islam politik. Politik hanya cukup diserahkan kepada akal sehat manusia. Pikiran sekuler ini pada gilirannya mengantarkan banyak aktivis politik yang mengaku beragama Islam namun paling depan membela pola dan logika politik Barat-sekuler. Situasi ini menjadi semakin menambah runyam keinginan umat Islam mengembalikan kehidupan seperti yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya.

Ketika berpikir tentang kekuasaan, sebagian besar dari kita seringkali hanya berfokus pada politik dan anasir kekuasaan lainnya. Kita lupa sunnah yang diajarkan Rasulullah dalam menegakkan kekuasaannya, padahal yang dikehendaki adalah kehidupan seperti pada masa Rasul itu. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila usaha-usaha perjuangan politik yang kita lakukan semakin jauh dari keinginan kita melahirkan pemimpin adil seperti Rasulullah Saw. dan Khulafaur-Rasyidin. Kita dapat mempelajari Sunnahnya dari perjalan dakwahnya sejak dri Mekkah hingga Madinah.

Tidak ada yang menolak bahwa Rasulullah Saw. adalah pemimpin hebat dan pemimpin adil dambaan dunia. Kepemimpinannya diakui kawan dan lawan. Seluruh dunia mengakuinya. Akan tetapi, betapapun hebatnya kepemimpinan Rasul, tidak ada seorang pun kafir Quraisy di Mekkah yang mau menjadikannya sebagai pemimpin. Padahal, sebelumnya kepemimpinan Muhammad sudah mereka akui dengan menyematkan gelar Al-Amîn (Sang Terpercaya) di pundaknya. Tidak lama setelah diketahui bahwa Muhammad membawa ajaran Tauhîd yang akan menghancurkan berhala-berhala sembahan mereka, Sang Terpercaya tidak lagi mau mereka jadikan pemimpin. Ini juga yang hari ini terjadi di tengah-tengah kita. Banyak pemimpin-pemimpin Muslim yang hebat-hebat dan amanah ditolak. Alasannya pemimpin semacam ini akan bertindak sektarian dan tidak pluralis! Ini adalah bahasa lain dari penolakan terhadap Tauhîd.

Rasulullah Saw. tahu situasi itu; dan tahu bahwa ajaran Allah Swt. hanya akan tegak sempurna bila ditopang oleh kekuasaan. Oleh sebab itu, jalan yang ditempuhnya bukan semata-mata jalan politik. Sebab bila ia gunakan itu, kompromi sampai pada hal yang sangat fundamental seperti akidah akan terjadi. Ia pernah ditawari menjadi pemimpin di Mekkah, asal ia mau behenti dari keyakinannya atau minimal ia mau sehari datang ke tempat ibadah kaum Musyrik itu dan mereka pun berjanji akan datang ke majelis Rasulullah Saw. di hari lain. Semua itu jelas ia tolak. Walaupun kekuasaan bisa diraih, namun justru misi pokok mewujudkan Tauhîd tidak akan pernah terwujud.

Rasulullah tetap memilih jalan dakwah. Ia bina para sahabatnya yang akan menjadi penolong-penolong agama Allah Swt. (Anshârullâh). Walaupun jumlahnya tidak banyak namun aqidah yang ditamankan mampu melahirkan kekuatan yang akan menggetarkan musuhnya. Ia ajarkan Quran. Ia bimbing mereka dengan ajaran-ajaran Islam. Sambil terus menjaga dakwah, ia lakukan beberapa usaha politik. Beliau mencari potensi-potensi tempat yang memungkinkannya lebih leluasa dalam menjalankan ajaran Allah Swt. Berkali-kali beliau Hijrah. Mula-mula ke Habsyah (Ethiopia) lalu ke Thaif. Keduanya dalam rangka mencari tempat yang dapat melindungi ajaran Allah Swt. Keduanya ditakdirkan gagal. Di tempat pertama, walaupun penguasanya mau menerima dengan baik, tapi Najasyi penguasa Habsyah adalah seorang Kristen, juga rakyatnya. Di Thaif situasinya lebih tragis. Para Muhajirin diusir dengan sangat kasar.

Allah Swt. yang memerintahkan Hijrah ke dua tempat itu bukan tidak tahu kejadiannya akan begitu. Allah Swt. rupanya ingin mengajarkan bahwa tanpa persiapan yang memadai, tindakan politik akan berujung seperti itu. Allah Swt. akhirnya menunjukkan jalan-Nya dengan memerintahkan berhijrah ke Madinah. Perintah ini diberikan Allah Swt. setelah terjadi dua kali Baiat Aqobah. Baiat Aqobah ini menjadi penanda penting bagaimana kekuasaan politik akan kondusif untuk dakwah Islam.

Pada peristiwa Baiat Aqobah Pertama datang dua belas pimpinan suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah) hendak menemui Muhammad karena ketenarannya di Madinah. Mereka kemudian yakin akan ke-rasulan-nya dan menyatakan sumpah setia untuk menjadi pembelanya. Rasulullah Saw. melihat potensi besar dari para kepala suku di Madinah ini. Setelah secukupnya memberikan pengajaran, dua belas utusan ini pun kembali ke Madinah. Akan tetapi, mereka tidak dibiarkan tanpa penyerta. Mush’ab bin Umair diutus menemani mereka untuk mengejarkan Al-Quran dan ajaran Islam lainnya kepada masyarakat Madinah. Usaha ini cukup efektif. Masyarakat di Madinah bisa diyakinkan dengan ajaran Islam.

Keyakinan mereka kemudian berbuah Baiat Aqobah Kedua yang diikuti 75 tokoh Aus dan Khazraj. Peristiwa ini semakin meyakinkan Rasulullah bahwa Madinah akan menjadi tempat yang kondusif untuk tegaknya Islam. Tidak lama setelah itu, Rasulullah Saw hijrah ke Madinah dengan sambutan yang sangat meriah dari masyarakat di sana. Keberhasilan Rasulullah mendamaikan persengketaan abadi Aus dan Khazraj di Madinah telah membuka mata orang-orang Madinah akan datangnya seorang pemimpin sejati yang dipenuhi keadilan. Kedatangan Rasulullah Saw. yang diterima sebagai pemimpin Madinah telah membuka babak baru politik Islam.

Dakwah Rasulullah yang dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Madinah melahirkan kaum Anshâr (Para Pembela). Merekalah yang menjadi penopang kekuasaan baru bagi Islam. Sejak saat itulah, Rasulullah Saw. memiliki kekuatan politik untuk terus menyebarkan dakwahnya dalam berbagai bentuknya yang lebih sempurna. Melalui kekuasaan politik ini dijarkan bagaimana membangun masyarakat yang adil dan sejahtera; bagaimana membangun kekuatan ekonomi; bagaimana membangun kekuatan militer; dan bagaimana menciptakan sistem hukum untuk ketertiban hidup bermasyarakat. Dari Madinah inilah Islam kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ini sekaligus menjadi penanda bahwa politik dan dakwah yang bersatu itulah yang menjadi kekuatan tak terpatahkan mengusung tegaknya Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Bila salah satunya terlepas dari yang lain, maka Islam tidak akan pernah tegak dengan sempurna. Wallâhu A’lam.

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?