Fitnah-Fitnah Akhir Zaman: Menelusuri Jejak Mukjizat Nubuwwah Nabi SAW (Part 1)

Fitnah-Fitnah Akhir Zaman: Menelusuri Jejak Mukjizat Nubuwwah Nabi SAW (Part 1)

Dipublish pada 12 Maret 2019 Pukul 20:57 WIB

243 Hits

Berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang lebih mencapai dua ribu hadits mengenai akhir zaman dan tanda-tandanya, dari sisi keberadaan dan waktunya, tanda-tanda kiamat itu, dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu : Pertama, Tanda Yang Sudah Terjadi Dan Telah Berlalu; Kedua, Tanda Yang Sedang Terjadi Dan Semakin Bertambah; dan ketiga, Tanda-Tanda Besar Yang Segera Disusul Dengan Kiamat. Dari ketiga fase itu ulama ada yang membagi menjadi tanda kiamat sugro (kecil) dan kiamat kubro (besar).

Diantara tanda yang sudah terjadi dan telah berlalu adalah seperti diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam Sabda Nabi : “Aku di utus dan hari kiamat itu bagaikan dua jari (sambil menunjukkan dua jari, telunjuk dan tengahnya”  (Shahih Bukhori No. Hadist: 6022). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan segala mukjizatnya diutus sebagai nabi terakhir artinya tidak akan ada nabi setelahnya sampai akhir zaman. 

Diantara mukjizat Nabi Muhammad sollallahu ‘alaihi wasallam adalah apa yang beliau beritakan mengenai kejadian yang akan datang yang akan dialami oleh umat manusia, khususnya kaum muslimin.

Kaum muslimin menurut Rasulullah akan mengalami fitnah-fitnah dan malahim. Yang dimaksud fitnah di sini adalah kekejaman, penyiksaan, pembunuhan yang terjadi di kalangan kaum muslimin yang disebabkan peperangan di antara mereka (internal). Sedangkan Malahim ialah kekejaman, penyiksaan, pembunuhan yang dialami oleh kaum muslimin akibat konflik dengan bangsa-bangsa kafir (eksternal). (Ithaful Jamaah, 1/ 353).

Menjelang akhir kekhalifahan Umar bin Khotob itulah awal pintu fitnah didobrak. Khudzaifah menuturkan; ketika kami duduk-duduk bersama Umar, tiba-tiba ia bertanya; 'Siapa diantara kalian yang menghapal sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang fitnah? ' maka Khudzaifah menjawab; 'Fitnah seseorang di keluarganya, hartanya dan anaknya serta tetangganya bisa terhapus oleh shalat, sedekah, dan amar ma'ruf nahyi mungkar.' Umar berkata; 'Bukan tentang ini yang aku tanyakan kepadamu akan tetapi tentang (fitnah) yang bergelombang seperti gelombang lautan.' Khudzaifah berkata; 'kamu tidak terkena dampaknya dari fitnah itu ya amirul mukminin, sebab antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu tertutup.' Umar bertanya; 'Apakah pintunya dipecahkan atau dibuka? ' Khudzaifah menjawab; 'bahkan di pecahkan.' Maka Umar berkata; 'kalau begitu tidak ditutup selama-lamanya.' aku menjawab; 'Betul.' Saya bertanya kepada Khudzaifah; 'Apakah Umar mengetahui pintu itu? ' Khudzaifah menjawab; 'Ya, sebagaimana ia mengetahui bahwa setelah esok ada malam, yang demikian itu karena aku menceritakan Hadits kepadanya dengan tanpa kekeliruan, maka kami khawatir untuk menanyakan kepada Umar siapa pintu sebenarnya.' lalu kami perintahkan kepada Masruq untuk bertanya kepada Khudzaifah; (siapakah pintu itu), Khudzaifah menjawab; 'Umar. (Shahih Buhori No. Hadist: 6567, lihat pula kitab Shahih Asyratis Sa’ah, hal. 15)

Setelah terbunuhnya Umar bin Khotob mulailah masuk fitnah-fitnah di kalangan kaum muslimin.  Berkata Hudzaifah :”Fitnah pertama adalah terbunuhnya Utsman”. Dan Al Laits menyebutkan dari Yahya bin Sa'id dari Sa'id bin Al Musayyab, "Fitnah pertama kali muncul, yaitu terbunuhnya Utsman, maka tidak ada seorang pun dari ahli badr yang tersisa. Kemudian muncul fitnah kedua, yaitu peristiwa harrah (zaman Yazid bin Mu'awiyah -pent), tidak ada seorangpun dari sahabat ahli Hudaibiyyah yang tersisa. Kemudian terjadi fitnah ketiga, dan fitnah itu tidak berkesudahan sehingga manusia (para sahabat) tidak lagi memiliki kekuatan." (Shahih Buhori No. Hadist: 3720).

Dari Aisyah, dia berkata, "Rasulullah SAW pada waktu sakitnya telah bersabda, Aku ingin jika di sampingku ini ada beberapa orang sahabatku'. Kami mengusulkan, 'Ya Rasulullah! Bagaimana jika kami memanggilkan Abu Bakar untukmu?' Beliau diam saja. Lalu kami berkata, 'Apakah engkau ingin kami panggilkan Umar?' Beliau hanya terdiam. Kemudian kami mengatakan, 'Apakah kami panggilkan Utsman?' Beliau menjawab, 'Ya'. Maka Utsman pun datang. Kemudian beliau berduaan saja dengan Utsman. Beliau berbicara dengan Utsman, dan wajah Utsman setelah itu menjadi berubah." Qais berkata, "Abu Sahlah, maula (budak) Utsman, meriwayatkan kepadaku bahwa Utsman bin Affan berkata pada Yaumud-Dar,' (hari dimana Utsman  isolir di rumahnya-ed) Sesungguhnya Rasulullah SAW mengamanatkan kepadaku sebuah janji dan aku harus menjalaninya'." Ali berkata dalam sebuah haditsnya, "Wa ana shabirun ilaih (Aku bersabar atasnya)." Qais berkata, "Maka, orang-orang telah menyaksikan hari kejadian tersebut." (HR. Ibn Majah, no. 119; Shahih Asyratis Sa’ah, hal. 16)

Tidak diragukan lagi bahwa mereka yang membunuh Utsman adalah dari kelompok orang-orang munafik.

Dari Aisyah, Rasulullah sollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Wahai Utsman, jika Allah memberimu kekuasaan atas umat Islam pada suatu hari nanti, maka orang-orang munafik hendak melepaskan baju yang telah dikenakan oleh Allah kepadamu. Maka janganlah engkau lepaskan!" Beliau mengatakan hal itu sampai tiga kali. Nu'man berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah, 'Apa yang mencegahmu untuk memberitakan hal ini kepada orang-orang?' Ia menjawab, 'Demi Allah! Terlupakan olehku'." (HR. Ibnu Majah, no. 112; Al Musnad Al Maudhui, bab Min alamatis sa’ah shugro maqtal Utsman: 2/68).

Fitnah-fitnah itu muncul penyebabnya ada dua yaitu motif politik dan motif agama. Menurut Muhammad Sayyid Al-Wakil dalam bukunya Lahmatun Min Tarikhid Da’wah, kalau membahas seputar konflik politik, maka kita dihadapkan kepada kesulitan membedakan dengan jelas antara motif politik dan motif agama. Sebab secara umum agama mencakup urusan politik. Jadinya pemerhati masalah ini memandang motif-motif politik sebagai motif-motif agama dan begitu juga sebaliknya. Karena politik adalah bagian dari Islam yang tidak terpisahkan dan Islam secara global tidak boleh dipahami kecuali dengan bagian yang satu ini (politik). (Wajah Dunia Islam, hal. 41).

Gerakan-gerakan politik dalam Negara Islam pertama kali muncul pada akhir pemerintahan Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu yang ditandai dengan kemunculan Abdullah bin Saba’. Ia mempengaruhi manusia untuk menyerang Utsman bin Affan, menyingkirkannya dari jabatan khalifah dengan alasan Ali bin Abi Thalib  Radhiyallahu anhu lebih berhak menjadi khalifah. Ia berusaha mati-matian mendongkel Utsman bin Affan. Inilah usaha pembelotan dan pembangkangan pertama terhadap pemerintahan yang sah. Dan inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, sekelompok kaum muslimin menyatakan keluar dari pemerintahan yang sah, menuntut khalifah melepas jabatan dan terang-terangan membelot.

Para pembelot berhasil mewujudkan ambisinya. Pintu terbuka lebar di depan mereka. Muncullah gerakan pembelotan politik dengan terang-terangan dalam masyarakat Islam. Dan inilah kelemahan pertama yang terjadi dalam tubuh umat Islam. Karenanya mereka terpuruk ke tempat yang sangat dalam dan sulit baginya bangkit kembali kecuali pada masa-masa tertentu di mana kondisi semakin kondusif dan memungkinkan bagi khalifah zaman tersebut memimpin kaum muslimin bangkit kembali. Tetapi gerakan pembelotan politik telah menjadi trend dan selalu bermunculan pada setiap masa pemerintahan khalifah.

Fenomena di atas menjadi saksi atas sabda Rasulullah sollallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa beliau bersabda :

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ وَتَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ وَدَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ.

'Kiamat tidak akan terjadi hingga ada dua kelompok besar yang saling bunuh-membunuh. Kedua kelompok tersebut akan menderita kerugian dan akan kehilangan korban yang amat besar, sedangkan tuntutan mereka sama.'' (Muslim: 8/170).

Semua syarah yang pernah penulis baca menerangkan bahwa dua kelompok besar itu adalah kelompok Ali melawan kelompok Muawiyah. Sedangkan yang dimaksud dengan “tuntutan mereka sama” sebagaimana diterangkan dalam kitab Mirqatul Mafatih (8/3405) masing-masing dari dua kelompok besar itu mendakwakan Islam dan mengklaim masing-masing di atas haq. Ibn Malik mengatakan, yang dimaksud adalah Ali dan Muawiyah dan orang-orang yang bersama keduanya. Dari pernyataan Rasul tersebut sekaligus menolak tudingan kelompok khowarij yang mengkafirkan kedua belah pihak.

Berdasarkan riwayat-riwayat ternyata selain adanya perang antara Ali dengan Muawiyah terdapat pula peperangan-peperangan dan pemberontakan-pemberontakan yang tentunya memakan korban yang semua korbannya adalah kaum muslimin yaitu perang Bani Umayyah dengan Syiah yang menewaskan Husein bin Ali beserta dari kedua belah pihak kurang lebih seratus enam puluh dua orang, pemberontakan Kaum Tawwabin terhadap Bani Umayyah yang dipimpin oleh Sulaiman bin Shard, pemberontakan Mukhtar bin Abi Ubaid, dua kelompok ini mayoritas adalah kaum syiah yang menuntut balas atas terbunuhnya Husein bin Ali, perlawanan Abdullah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid, pada perang ini Yazid bin Muawiyah dan Ibn Zubair sama tewas, pemberontakan kaum Khawarij, pemberontakan Ibnu Asy’ats, pemberontakan Zaid bin Ali, perang Bani Umayyah dengan Bani Abbasiyah. Pada perang ini Marham bin Muhammad sebagai khalifah pengganti Yazid bin Muawiyah berhasil dibunuh yaitu pada hari Ahad tanggal 3 Dzulhijjah, versi lain menyebutkan hari kamis tanggal 6 Dzulhijjah 132 H. (Al-Bidayah wan Nihayah, 10:45). Dengan terbunuhnya Marwan bin Muhammad berakhirlah masa kejayaan Negara Bani Umayyah setelah berkuasa selama 92 tahun. Terlepas dari peperangan dan pemberontakan, selama jangka waktu tersebut, Negara bani Umayyah telah berbuat banyak demi Islam dan kaum muslimin. Wilayahnya memanjang mencapai perbatasan Cina di sebelah timur dan Perancis Selatan di sebelah barat, termasuk Andalus.

Berkuasalah Bani Abbasiyah, yang bermula dari ajakan untuk ridha dengan keluarga Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam pada tahun 101 H yang diserukan oleh Muhammad bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Muhammaad Sayyid Al Wakil (wajah dunia Islam, hal 80), orang-orang Bani Abbasiyah berkeyakinan kuat bahwa dengan menghabisi orang-orang bani Umayyah dan para pendukungnya, maka kehidupan negaranya relatif aman dan mereka menikmati singgasana kerajaan tanpa gangguan apapun. Tapi mereka lupa kalau ternyata orang-orang bani Umayyah memiliki banyak pendukung yang mencintai mereka, membanggakan kebaikan mereka, berterimakasih kepada mereka yang telah banyak mengamalkan kebaikan dan mereka tidak akan bisa melupakan kebaikan bani Umayyah dalam sehari semalam.

Dari sebab itulah muncullah pemberontakan-pemberontakan yang tentunya memakan korban dan jiwa ratusan bahkan ribuan orang yang semuanya itu di kalangan kaum muslimin.

Kejadian-kejadian tersebut lebih meyakinkan kita akan mukzijat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam atas kejadian yang akan dialami oleh kaum muslimin sebagaimana riwayat berikut :

Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash RA dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya pada suatu hari beliau pernah bertanya, "Apabila negeri Persia dan Romawi telah ditaklukan untuk kalian, akan menjadi bangsa yang bagaimanakah kalian?" Abdurrahman bin Auf menjawab, "Insya Allah kami akan melaksanakan seperti apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kami." Rasulullah SAW bersabda, "Mungkin kalian tidak akan seperti itu. Kalian akan saling bersaing, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Setelah itu kalian akan datang kepada kaum Muhajirin yang miskin dan kalian akan menjadikan sebagian mereka menjadi budak bagi sebagian yang lain." (Muslim 8/212)

 

..... (bersambung ke Part 2, tayang edisi selanjutnya)

 

 

 

***

Penulis: H. Deni Solehudin, M.SI (Ketua Bidang Garapan Pengembangan Dakwah dan Kajian Pemikiran Islam PP Persis)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?