Geneologi Keilmuan Persatuan Islam : Refleksi untuk Kader Persis.

Geneologi Keilmuan Persatuan Islam : Refleksi untuk Kader Persis.

Dipublish pada 19 September 2018 Pukul 07:22 WIB

1258 Hits

Geneologi makna asalnya adalah ilmu tentang gen atau keturunan (genea: keturunan, logos: pengetahuan). Yaitu ilmu yang mempelajari dan mengkaji tentang sejarah atau seluk-beluk keluarga dan jalur keturunanya. Jika dikaitkan dengan “keilmuan” dapat dimaknai kajian tentang seluk-beluk jalur keilmuan atau nasab ilmiah seseorang mapun suatu aliran pemikiran.

PERSIS sebagai sebuah Institusi sosial, yaitu Ormas Dakwah, hanyalah wadah, sedang yang menentukan identitas dan jatidirinya adalah pengisi wadah itu sendiri, dalam hal ini adalah tokoh-tokoh penggeraknya. Sebagai ormas yang berusia hampir satu abad, sudah cukup banyak tokoh dan pimpinan yang menakhodai bahtera PERSIS. Namun dari semua itu, peran tokoh-tokoh pendiri (founding fathers) dan pengasas gerakan PERSIS sangat menentukan corak pemikiran yang menjadi visi dan tradisi keilmuan di Jam’iyah PERSIS sebagai gerakan tajdid Islam

A. Hassan adalah tokoh utama dan paling berpengaruh dalam membentuk corak pemikiran dan gerakan keilmuwan PERSIS sehingga diakui sebagai ormas “pembaharuan”. Sebagai tokoh besar yang dilahirkan dari rahim sejarahnya tersendiri, tidak mudah menelusuri geneologis keilmuan dan faktor yang membentuk corak pemikirannya. Pertama, karir pendidikan A Hasan yang tidak menempuh jalur pendidikan formal yang berjenjang dan berijazah berdasar cabang keilmuwan yang dikaji. Kedua, A. Hassan tidak menempuh pendidikan di pusat keilmuan Islam yang terkenal pada masa itu seperti Mesir, Saudi, Irak, ataupun negara-negara Timur Tengah lainnya. Ketiga, karir profesinya seakan menunjukan bahwa A. Hassan tidak dipersiapkan secara terencana dan sengaja dari awal untuk fokus menjadi tokoh ulama atau ahli agama. Terbukti perjalanan karir pekerjaannya yang bercampur antara menjadi penjaga toko, menjadi wartawan, menjadi karyawan biro haji, bekerja di percetakan, sekolah tenun, hingga tambal ban dan jualan vulkanisir. Bahkan hijrahnya dari Singapur ke Surabaya, kemudian ke Bandung, dalam rangka mengembangkan usaha Pabrik Tenun. Keempat, A. Hassan sendiri tidak pernah menyatakan siapa tokoh atau gurunya yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter, kepribadian, dan corak pemikirannya. Berbeda umpanya dengan ketika kita membahas corak pemikiran dan keilmuawan Ibnul Qayyim Al jauziyah, yang sangat jelas terbentuk pola pemikiran guru utamanya, yaitu Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Taimiyah sendiri terbentuk dari pola pemikiran orangtua dan guru- gurunya yang sangat kuat berpegang kepada Mazhab Hambali.

Memang A Hassan menghabiskan masa kanak-kanak hingga masa pemudanya di Singapure dengan berbagai aktivitas termasuk belajar dan mengajar berbagai ilmu. Terutama bahasa, jurnalistik, dan ilmu agama kepada beberapa guru dan tokoh. Tetapi

tidak cukup referensi yang menunjukan siapa di antara guru-guru A. Hassan yang paling menonjol memberi inspirasi pemikiran pembaharuan kepada A. Hassan.

Dari nama guru-guru A. Hasan yang terekam dalam buku-buku biografi beliau seperti Ustaz Muhammad Thaib, Said Abdullah Al Musawwi, Syekh Hassan, dan Syekh Ibrahim, sewaktu A. Hassan masih di Singapur, tidak ada keterangan siapa di antara mereka yang paling berpengaruh dalam pemikiran pembaharuan. Adapun ketika A. Hasan Hijrah ke Surabaya mengikuti paman yang sekaligus juga gurunya, yaitu Ustaz Abdullatif, beliau aktif mengikuti kajian KH. Faqih Usman, seorang ulama pembaharu di Surabaya. Sikap pamannya justru memperingatkan agar A. Hassan jangan sekali-kali mengikuti fahamnya. Peringatan pamannya itu yang justru malah menambah ke penasaranan A. Hassan untuk makin mendalami pandangan-pandangan kaum pembaharu.

Kuat dugaan bahwa corak pemikiran pembaharuan A. Hassan terbentuk oleh trend global dunia Islam masa itu. Di samping tentu yang paling penting karakter unggul A. Hassan itu sendiri yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata yang berpadu dengan bakat pribadinya yang tekun, kritis, dan terbuka. Keunggulan kepribadiannya serta bekal kemampuan bahasa yang dimiliki memudahkan A. Hassan untuk mengakses informasi melalui kitab, buku, majalah, dan radio lokal maupun manca negara dalam berbagai bahasa yang dikuasainya, kemudian berinteraksi dan mengikuti dinamika perubahan dunia saat itu, termasuk dinamika di tubuh umat Islam itu sendiri yang sedang hangat perdebatan kaum tua (tradisionalis) dan kaum muda (modernis). Selanjutnya beliau melakukan penelitian-penelitian secara otodidak dengan ketekunan yang mengagumkan.

Salah satu isu global yang utama saat itu adalah tentang penyebab kemunduran dan terjajahnya dunia Islam oleh bangsa Barat yang kafir. Sedang isu utama internal umat Islam adalah gugatan atas orisinalitas dan validitas pemahaman dan tradisi keagamaan yang selama ini dianut dan dipraktekan oleh kebanyakan umat Islam. Jadi pemikiran pembaharuan A. Hassan tidak terlepas dari inspirasi gerakan global dunia Islam saat itu yang esensinya adalah gerakan “pembebasan” atau “pemerdekaan” dari dominasi mazhab-mazhab Islam yang terasa mengerangkeng kebebasan berfikir dalam merespons perkembangan dunia modern di satu sisi, dan gerakan pembebasan dari dominasi serta penjajahan bangsa Barat.

Lebih dari itu gerakan pembaharuan adalah suatu keniscayaan dalam sejarah sosial umat manusia termasuk umat Islam dalam mempertahankan eksistensi dan peranannya dalam membangun peradaban yang berkelanjutan. Dari sudut pandang ini, munculnya pemikiran dan gerakan pembaharuan Islam dapat dianalisis dengan pendekatan doktrinal dan pendekatan kesejarahan. Secara doktrinal, ajaran Islam sudah lengkap tertuang dalam Al-Quran dan Hadits Nabi, sedang praktek pengamalan Islam dan kontribusinya terhadap kemajuan peradaban sudah berlangsung dalam sejarah manusia slama empat belas abad setengah.

Islam sebagai doktrin yang tersimpan dalam al Quran dan Hadits Nabi yang sahih tetap utuh, sempurna, dan tidaklah akan berubah kemurniannya sepanjang keyakinan umat Islam atas orosinalitas keduanya. Tetapi Islam dalam pemikiran dan praktek pengamalan umatnya dalam rentang sejarah, selain aspek-aspek yang tetap sama, banyak hal telah mengalami berbagai varian dan perbedaan. Sehingga satu varian penafsiran dan praktek keagamaan satu kelompok Islam dikritik, dianggap sesat hingga, dikafirkan. Itu adalah “Sunnatullah” dalam sejarah semua agama manusia. Makanya perpecahan itu, sabda Nabi, pada Umat Islam lebih banyak daripada umat Yahudi dan Nashrani, karena datang di akhir zaman.

Munculnya pemikiran Pembaharuan tidak akan lepas dari aspek doktrin dan tantangan sejarah. Karena itu bisa dianalisis dengan teori “Challenge and Response” dan “Continuity and Change”. Dengan teori Tantangan dan Perubahan, kita akan fahami bahwa munculnya corak pemikiran pembaharuan (reformis-modernis) karena tantangan zaman. Pola pemikiran lama yang tradisional tidak mampu menjawab gelombang modernisasi. Maka siapapun yang hidup pada masa itu akan menghadapi dua pilihan, apakah tetap mempertahankan pola fikir lama yang sudah tidak sejalan atau mulai merumuskan paradigma baru untuk menjawab tantangan.

Dengan teori keberlangsungan dan perubahan, kita akan memahami bahwa pemikiran pembaharuan tidak mungkin berdiri sendiri tanpa sama sekali punya dasar dan preseden masa dulu. Maka pembaharuan A. Hassan dan tokoh-tokoh lainnya masa itu pastilah terinspirasi oleh pemikiran yang berkembang pada masanya dan masa sebelumnya. Lalu dari kekayaan khazanah ilmiah masa sebelumnya itu A. Hassan merumuskan ulang dan mentranformasikannya ke dalam konteks sosial yang dihadapinya. Dengan kata lain, tidak mungkin seorang tokoh benar-benar merumuskan pemikirannya sendiri dari nol tanpa terpengaruh oleh pemikiran sebelumnya, dan begitu pula sebaliknya tidaklah mungkin seorang tokoh punya pemikiran yang seratus persen sama persis dengan pendahulunya dalam segala hal.

Apabila hal ini berlaku bagi A. Hassan dengan tokoh-tokoh terdahulu maka berlaku juga antara A. Hassan dengan murid-murid beliau setelahnya. Seperti Dr. M. Natsir, KH. Isa Anshary, KH. AbdulQadir, dan KH.E. Abdurahman sebagaimana tercermin dari keragaman dalam pemikiran, kiprah, maupun karir intelektual mereka masing masing.

Ustadz Abdul Qadir Hassan lebih mencerminkan sosok Ulama fikih, mufti, pendidik, dan penulis produktif melanjutkan tradisi Ayahandanya mengembangkan Pesantren Persis Bangil dan Majalah Al Muslimun. Kurang tertarik merespon dan terlibat dalam harakah dakwah lapangan, politik, maupun pengembangan Jam’iyah. Jasa beliau secara akademik melahirkan karya ilmiah di bidang Musthalah hadits, hadits, fikih dan fatwa.

KH. Isa Anshari mencerminkan sosok Ulama leader, pejuangan dakwah, ideolog Islam, politikus, penulis, orator, dan berambisi memberi warna terhadap ideologi negara serta sangat berani berhadapan dengan penguasa yang pro Komunis. Jasa beliau di pentas nasional adalah terorganisirnya gerakan perlawanan yang masif dari kalangan aktivis dan umat Islam dalam menentang Komunisme di Indonesia. Bahkan beliau adalah inisiator sekaligus penandatangan Kongres Alim Ulama Islam se Indonesia tgl 8-11 September 1957 di Palembang, yang menghasilkan keputusan tegas dan keras tentang haramnya ideologi komunis dan pengkutinya difatwakan murtad serta haram disolatkan. Beliau juga adalah pendiri dan sekaligus Ketua Pront Anti Komunis.

Dr. Muhammad Natsir lebih menampilkan sosoknya sebagai seorang ulama yang negarawan, intelektual, leader yang kharismatik, menajer ulung, politikus yang ahli strategi dan diplomasi, dengan ciri umum murid A. Hassan yaitu ahli debat serta penulis produktif. Jasa Muhammad Natsir tidak terbatas kepada internal Jamiyah Persatuan Islam tetapi juga terhadap kemajuan dakwah Islam secara menasional bahkan iternasional. Baik dibidang pendidikan, sosial, maupun ekonomi dan politik.

Pada sekup internal, Natsir berjasa besar memodernisir gerakan Persis bukan sekedar gerakan pembeharuan pemikiran semata tetapi juga gerakan dakwah dan pendidikan. Dakwahnya pun bukan sekedar pemurinian internal dalam bidang akidah dan ibadah dari apa yang disebut TBC (takhayyul, churafat, dan Bid’ah) tetapi juga melawan gerakan missionaris, liberalis, sekuler, hingga komunis. Pendidikan bukan sekedar majelis taklim dan debat, tetapi Pendidikan Islam untuk kader (Pendis) dan Pesantren untuk pembibitan ulama dan mubalig.

Pada tataran nasional, Natsir menjadi Bapak Dakwah dan Pendidikan. Ribuan cendekiawan dan ulama lulusan Barat dan Timur lahir di Indonesia berkat rekomendasi Natsir untuk bisa menimba ilmu di luar negeri. Sehingga muncul tokoh-tokoh nasional semisal KH. A. Latif Muhtar, M.A, Prof. A.M. Saefudin, Prof. Amin Rais, Prof. Imadudin Abdurahim, Prof. Juhal Abdul Kadir, Prof. Didin Hafiduddin, Prof.Yusril I. Mahendra, dan sederet tokoh ulama pergerakan Islam di Indonesia. Puluhan perguruan tinggi Islam dirintisnya di seluruh Indonesia: UII di Jogja, IAI. Al Ghuraba, IAI Thawalib, UID di Jakarta, UMI di Sumatra, UNISBA di Bandung, dan sebagaianya. Pesantren, kampus, birokrasi, dan mesjid, tidak ada yang luput dari bidikan tangan dingin Natsir untuk diberdayakan dan dioptimalkan fungsiya bagi kebangkitan Islam Indonesia.

Natsir juga pemimpin partai politik MASYUMI dua periode yang sangat fenomenal di masanya dan menjadi Menteri Penerangan pada tiga kabinet berturut-turut (Kabinet Syahrir I, Kabinet Syahrir II, dan Kabinet Hatta) kemudian menjadi Perdana Menteri yang menjadi tokoh dan pemimpin teladan sepanjang sejarah politik Indonesia dalam integritas, kejujuran, dan keamanahannya.

Pada tataran internasional Natsir termasuk deretan tokoh penggagas dan pendiri Rabithah Alam Islamy dan Dewan Masajid al Alamy. Namanya dimasukan dalam deretan ulama dan cendekiawan muslim internasional yang berjasa dalam kebangitan dunia Islam di abad ke 20.

Sementara itu, KH. E. Abdurahman tampil sebagai sosok Ulama ahli hadits dan fikih yang sangat mumpuni. Sepanjang hayatnya dihabiskan dalam penelaahan dan pengkajian mendalam terhadap berbagai aspek ajaran Islam terutama hukum Islam. Melalui buku-buku karangannya, tulisan-tulisannya di Istifta Risalah, kajian-kajian di majelis ilmu, kuliah-kuliah umum, dan pengajarannya yang berpuluh tahun di Pesantren Persis nomer 1 Pajagalan Bandung, corak pemikiran Persis di bidang fikih semakin kokoh dan mantap. Bukan hanya itu, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Persis Masa Jihad 1962-1983, jasa beliau yang besar adalah keberhasilan beliau dalam mengkonsolidasi Jam’iyah Persis terutama di Jawa Barat melalui peneguhan wajah dan wijhah Persatuan Islam dibawah slogan “satu rasa, satu cita-cita, dan satu usaha”, dan “mencari jelas bukan mencari puas”.

Di bawah pimpinan dan asuhan KH.E. Abdurahman juga, lembaga pendidikan Persis direvitalisasi dan kegiatan dakwah ditumbuh kembangkan dengan mengirim kader- kader mubaligh ke berbagai daerah yang membutuhkan, sementara kaderisasi ulama berlanjut dengan membentuk TMD (thaifah mutafaqqihiin fid din).

“Itulah umat terdahulu, mereka telah memperoleh pahala perjuangan mereka, dan bagi kalian hasil usaha perjuangan kalian. Kalian tidak akan diminta pertanggung jawaban atas perjuangan mereka” (Al Baqarah: 134)

Mau jadi kader seperti apakah kita? Allah telah memberi teladan-tladan terbaik dari para pendahulu kita. 

Dr. KH. Jeje Zaenudin. (Wakil Ketua Umum PP Persis)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?