Hima dan Pemuda Persis Tasikmalaya Gelar Aksi dan Audiensi tolak Perppu

Hima dan Pemuda Persis Tasikmalaya Gelar Aksi dan Audiensi tolak Perppu

SHARE

Tasikmalaya – persis.or.id, Dalam percaturan berbangsa dan bernegara, kaum muda Persis kabupaten Tasikmalaya pada Jumat (21/07/2017) dari sayap kepemudaan dan kemahasiswaan  mengajukan sebuah cara pandang menarik.

Saat menyampaikan pandangannya terkait aksi bersama menolak PERPPU No. 2 Tahun 2017, dengan nada khas mahasiswa, Farid Abdul Hakim, korlap dari Hima Persis menggugah Kesadaran peserta aksi dengan suatu asumsi timbal balik.

“Jika PERPPU keormasan ini sampai disahkan, kita tinggal melirik fokus secara seimbang pada undang-undang Pemakzulan presiden. Simpel saja.” Ungkap Farid.

Farid juga menambahkan, jika mekanisme Republik, “re” yang berarti kembali dan “publik” berarti rakyat, maka republik berarti kembali ke rakyat, maka mekanisme pemakzulan dengan pandangan yang disampaikan dari analisa DPR sebagai perwakilan rakyat untuk diajukan di sidang istimewa, itu sangat demokratis. Akan tetapi lain halnya dengan proses eksekusi PERPPU keormasan yang dibuat oleh Pemerintah dengan semata tunggal pandangan pemerintah, jelas bukan dari rakyat, dan apalagi tidak ada poses pengadilan untuk pembelaan dari suatu ormas yang dipandang tidak pancasilais, maka jelas, itu sikap represif pihak pemerintah yang mendekati otoritarianisme.

“Karenanya PERPPU no. 2 tahun 2017 tentang keormasan ini sangat aneh dan mengherankan”, ujarnya.

Tidak berselang lama, ketua PD. Pemuda Persis Kabupaten Tasikmalaya, Caca Ruhimat juga menilai bahwa PERPPU yang mengundang polemik ini sebaiknya segera ditarik dan tidak usah dilanjutkan.

Mengajak belajar dari sejarah, Caca mengingatkan bahwa pemimpin diktator seperti Musolini dari Italia, Lenin atau Stallin dari Uni sovyet, fir’aun di Mesir, Adolf Hitler dari Jerman, kesemuanya itu tidak berkesudahan kecuali dengan dipaksa jatuh dengan cerita ahir yang tragis.

Semoga, kata Caca, hal itu bisa menjadi bahan ajar bersama.

“Apalagi mengingat bahwa 4 pilar berbangsa dan bernegara kita bukan 1 poin. Kalau sekedar tidak sesuai dengan Pancasila, lantas bagaimana kaitannya dengan UUD -45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI?” Selusur Caca dengan penuh keheranan.

Saat menemui salahsatu peserta aksi lainnya, wakil ketua PD. Pemuda Persis kabupaten Tasikmalaya justeru menitipkan pesan edukatifnya untuk Pemerintah.

Itang Iskandar, atau yang biasa dipanggil Itang itu menyilahkan pada pemerintah, kalau pemerintah ingin rakyat Nasionalis, Pancasilais, setia pada UUD -45, dan memegang teguh kebhinekaan, hendaklah ada satu atau dua sosok yang terhimpun pada dirinya keempat dari 4 pilar tersebut.

“Kalau pemerintah sekedar main justif dan sekemaunya memaksa rakyat untuk jadi bangsa Indonesia sejati, tetapi dari antara mereka sendiri tidak tercermin sikap keindonesiaan yang sejati, itu ibarat menanti bulan di siang hari. Sama sekali halusinasi.” Papar Itang.

Berlangsung dari Tugu Adipura kota Tasikmalaya, aksi yang melibatkan seluruh ormas Islam dan Aktivis tersebut dipungkas dengan audiensi bersama anggota DPRD Kota Tasikmalaya.

Seluruh massa aksi pulang pada pukul 5 sore dengan kesepakatan yang berhasil mensinergiskan harapan ummat Islam Tasikmalaya dengan pelantara anggota DPRD sebagai penyambung nurani rakyat agar disampaikan ke DPR RI di hari itu juga. (/Z3)