Humanis Teosentris: Manusia Sebagai Pusat Aktualisasi Nilai-Nilai Ketauhidan

Humanis Teosentris: Manusia Sebagai Pusat Aktualisasi Nilai-Nilai Ketauhidan

SHARE

Oleh: Ilham Nur Hidayatullah (Wakil ketua PW Hima Persis DKI Jakarta)
Dari Mitologis Ortodoks Sampai Humanisme Renaissance
Permasalahan manusia dari zaman-kezaman merupakan permasalahan yang krusial. Peradaban dewasa ini telah mendasarkan pondasi kehidupan pada humanisme, pemujaan manusia.

Alasan pokok mengapa humanisme memajukan kultus pada manusia adalah karena banyak kepercayaan, agama, mitologis dimasalalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya diatas dunia, dan memaksanya agar mengorbankan dirinya dihadapan para dewa atau tuhan.

Seperti halnya mitologis yunani, berisikan kepercayaan bahwa manusia saingan tuhan. Tuhan sama seperti manusia, banyak tuhan atau dewa, sehingga dengan ini tuhan mengekang manusia sedemikian rupa, memasung kebebasaanya, memenjarakan kreatifitasnya, supaya manusia tidak berontak dan dapat mengikuti titah tuhannya, atau dewa dengan membudak tanpa berpikir, disini manusia mengalami Determenisme ( terbelenggu ).
Atau zaman pertengahan masyarakat barat pada abad-abad, 11-16 yaitu abad-abad sebelum zaman modern.

Kekuasaan gereja begitu menggurita tidak tembus kritik, yang adahanyalah Otoritas yang harus dianggap suci dan tidak boleh dibantah, bantahan hanya akan dibalas oleh nyawa.

Gereja mengkalim dan mengasosiasikan diri mereka dengan roh kudus cukup menjamin pemerintahan dan kekuasaan mereka dalam masyarakat selama suatu priode sejarah yang panjang.

Mereka mengklaim kesucian dan perwakilan yesus kristus dimuka bumi. Mereka melihat manusia-manusia awam bagaikan kelompok domba-domba yang memerlukan perlindungan mereka.

Akan tetapi pada hakikatnya manusia-manusia awam dijadikan domba oleh gereja agar dapat memberi susu, kulit wol, dan daging serta hasil-hasil dan upeti lainnya untuk gereja.

Sebagai antitesa dari kepercayaan-kepercayaan yang stag, diam, dan jumud yang mengkerdilkan manusia punya akal dan kreatifitas.

Maka munculah suatu faham Humanisme atau bahasa lainnya antroposentrisme yang menganggap kehidupan berpusat pada manusia bukan tuhan, manusia penentu nasib, manusia penentu kebenaran, rasionalisme, manusia harus menguasai alam. Kitab suci tidak diperluikan lagi, bebas dari kungkungan agama.

Dari pehamanan akan humanisme yang khas barat maka menjadi sebab kemunculan era baru dieroupa yang sering kita kenal dengan zaman Renaissance. Era baru yang akan mewarnai peradaban eourapa bahkan dunia dengan berbagai karakteristiknya.

Zaman yang menganggap metafisik tidak riil, maka penyelidikan manusia tentang metafisik tidak akan bermanfaat. Sebagai gantinya alamlah yang harus diselidiki dan dipahami, oleh Karena alam benar-benar riil dan berguna.

Zaman baru yang menggantungkan diri pada humanisme dengan perhatiannya pada kebutuhan-kebutuhan duniawi serta keinginan-keinginan manusia. Setelah menyatakan bahwa agama tidak ilmiah dan tidak objektif, zaman baru ini menolak agama, meremehkannya, atau menghindarinya.

Konsepsi Islam Tentang Manusia
Dalam Q.S Albaqarah: 30, Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah allah dengan maksud mempercayakan kekuasaannya. Pada mula-mulanya Allah Menciptakan seorang khalifah atau wakil bagi diriNya dari tanah liat kering. Dan kemudian ia tiupkan sebagian dari RohNya sendiri pada acuan tanah liat itu dan kemudian lahirlah manusia.

Manusia lahir dari dua hakikat yang berbeda, tanah bumi dan roh suci. Dalam bahasa manusia, simbol kerendahan, kenistaan dan kekotoran adalah tanah. Dan tidak ada suatupun didalam alam yang lebih rendah dan hina dari pada tanah, dari mana manusia telah diciptakan.

Dan dalam bahasa manusia, tuhan adalah maha sempurna dan maha suci. Sebagai gabungan dari tanah dan spirit suci, manusia telah diciptakan menjadi mahluk dua dimensional, dengan dua arah dan kecenderungan, yang satu membawanya ke bawah kepada stagnasi, kedasar hakikat yang terendah.

Akan tetapi dimensi manusia yang lain, dimensi spiritualnya, cenderung naik kepuncak spiritual tertinggi yaitu ke zat yang maha suci. Perjungan tanpa henti dan peperangan terus menerus yang dilakukan oleh kedua kutub itu dalam diri manusia akhirnya akan memaksa manusia unuk memilih salah satu kutub tersebut dan pilihan inilah yang akan menentukan nasibnya.

Dan kemudian tuhan mengajarkan kepada manusia nama-nama, setelah tuhan meyelesaikan ciptaannya. ( Albaqarah:31 ). Tuhan mengajarkan nama-nama pada manusia, dengan demikian tuhan menjadi guru pertama manusia, dan pendidikan manusia yang pertama bermula dengan menyebutkan nama-nama, nama-nama itu kalau dalam bahasa ali syariati sebagai bahasa simbolik, memiliki arti yang luas.

Para malaikat mengajukan protes bahwa mereka diciptakan dari api tanpa asap, sedangkan manusia diciptakan dari tanah liat. Tetapi mengapa manusia diistimewakan diatas mereka ? tuhan bersabda,  saya mengetahui apa-apa yang tidaki kalian ketahui “ maka bersujudlah kamu sekalian dihadapan manusia “.

Dan perhatikan bagaimana islam mengangkat derajat manusia dan bagaimana islam menempatkan manusia diatas para malaikat, walaupun secara inheren malaikat mestinya lebih unggul dari pada manusia, karena diciptakan dari cahaya.,

sementara manusia diciptakan dari tanah liat. Sujudnya para malaikat dihadapan adam membuktikan kenyataan bahwa dalam pandangan islam keluhuran esensial manusia dan keunggulannya atas para malaikat terletak pada ilmu pengetahuan, bukan pada pertimbangan rasial apapun juga.

Satu hal lain yang sangat indah tentang manusia ialah hanya manusia sajalah, diantara mahluk dan gejala yang ada dialam semesta, yang mampu menjadi pemegang dan pengemban amanat tuhan.

Ketika tuhan menawarkan kepada seluruh mahluknya, langit, bumi, gunung-gunung, lautan, sungai, fauna, flora dan semua fenomena dijagat raya. Apakah diantara mereka ada yang sanggup mengemban amanah tuhan, meka sekali lagi manusia sajalah yang secara sukarela menerima amanat tersebut. Maulana Jalal Al-Din Rumi mengatakan bahwa amanah itu berarti kehendak bebas ( free will ).

Yang menandai superioritasnya atas mahluk-mahluk lain, adalah kekuatan kemauannya atau kekuatan iradahnya. Ia adalah satu-satunya mahluk yang dapat bertindak melawan dorongan instingnya.

Kemauan bebas merupakan hal penting pada manusia dan menjadi penghubung kedekatannya dengan pencipta. Dengan kata lain, apa yang sama dalam roh manusia dan tuhan adalah kemauan bebas. Tuhan satu-satuya zat dengan kemauan mutlak. Jadi kebebasan manusia dengan tuhan berasal dari keutamaan yang sama yaitu kemauan bebas.
Humanis Teosentris
Dalam Q.s Albaqarah: 2, Mutaqin sebagai bentuk final, harus terlebih dahulu iman, shalat, dan zakat dalam bahasa lain Trilogi yaitu iman, ilmu, amal. Berujung pada aksi, tauhid sebagai pusat iman ( allah pusat orientasi ) aktualisasinya manusia sebagai tujuan dari transforamasi nilai.

Agama mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Memusatkan diri pada keimanan terhadap tuhan mengarahkan perjuangannya untuk kemuliaan peradaban manusia.