‘Id Bertepatan dengan Hari Jum'at.

‘Id Bertepatan dengan Hari Jum'at.

Dipublish pada 08 Juni 2018 Pukul 22:39 WIB

3427 Hits

1. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ قَالَ شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ قَالَ أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin katsir telah mengabarkan kepada kami Isra`il telah menceritakan kepada kami Utsman bin Al Mughirah dari Iyas Ibnu Abu Ramlah As Syami dia berkata; aku pernah melihat Mu'awiyah bin Abu Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam, tanyanya; "Apakah kamu pernah melakukan dua hari raya bertepatan dalam satu hari ketika bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?" Jawabnya; "Ya. ' Mu'awiyah bertanya; "Bagaimana beliau mengerjakan shalat tersebut?" Zaid bin Arqam menjawab; "Beliau mengerjakan shalat ied dan memberi keringanan pada waktu shalat Jum'at, lalu beliau bersabda: "Barangsiapa ingin mengerjakan (shalat Jum'at), hendaknya mengerjakan shalat (Jum'at)."

2. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى وَعُمَرُ بْنُ حَفْصٍ الْوَصَّابِيُّ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْمُغِيرَةِ الضَّبِّيِّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ. قَالَ عُمَرُ عَنْ شُعْبَةَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mushaffa dan Umar bin Hafsh Al Washabi sedangkan maksud haditsnya sama, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Baqiyah telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al Mughirah Adldlabi dari Abdul Aziz bin Rufai' dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda; "Pada hari ini telah berkumpul bagi kalian dua hari raya, barangsiapa ingin melaksanakan, maka hari rayanya ini sudah mencukupi shalat jum'atnya, namun kami akan tetap melaksanakan Jum'at." Umar berkata dari Syu'bah.

 3. حَدَّثَنَا جُبَارَةُ بْنُ الْمُغَلِّسِ حَدَّثَنَا مِنْدَلُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ ثُمَّ قَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَأْتِهَا وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتَخَلَّفَ فَلْيَتَخَلَّفْ

Telah menceritakan kepada kami Jubarah bin Al Mughallis berkata, telah menceritakan kepada kami Mindal bin Ali dari Abdul Aziz bin Umar dari Nafi' dari Ibnu Umar dia berkata, "Dua hari raya terkumpul menjadi satu pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian shalat bersama orang-orang, lalu bersabda: "Barangsiapa ingin mendatangi jum'at hendaklah ia mendatanginya, dan barangsiapa ingin meninggalkannya hendaklah ia tinggalkan. "

 4. حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ قَالَ عَطَاءٌ اجْتَمَعَ يَوْمُ جُمُعَةٍ وَيَوْمُ فِطْرٍ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَقَالَ عِيدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلَّاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Khalaf telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Ibnu Juraij dia berkata; 'Atha' berkata; Hari raya ied dan hari Jum'at pernah bertepatan pada masa Ibnu Zubair, lalu dia berkata; "Dua hari raya telah bertepatan dalam satu hari, maka keduanya di kumpulkan (oleh Nabi), dan shalat dua rak'at di pagi hari, tidak menambah atas dua raka'at, hingga beliau shalat Ashar." 

Imam An Nawawy dalam Al Majmu’ (4: 492) menyatakan bahwa sanad hadits di atas shahih menurut syarat Muslim 

Dalam riwayat Imam An Nasa’i (3:194) disebutkan :

5. أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنِي وَهْبُ بْنُ كَيْسَانَ قَالَ اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَأَخَّرَ الْخُرُوجَ حَتَّى تَعَالَى النَّهَارُ ثُمَّ خَرَجَ فَخَطَبَ فَأَطَالَ الْخُطْبَةَ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى وَلَمْ يُصَلِّ لِلنَّاسِ يَوْمَئِذٍ الْجُمُعَةَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِابْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyar dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya dia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Abdul Hamid bin Ja'far dia berkata; telah menceritakan kepadaku Wahb bin Kaisan dia berkata; "Pada masa Ibnu Zubair, pernah terjadi dua hari raya (hari raya & Jum'at) dalam satu hari. Ibnu Zubair mengakhirkan keluar untuk shalat 'Id agak siang, lalu ia keluar dan menyampaikan khutbah dengan khutbah yang lama. Kemudian ia turun dan mengerjakan shalat. Pada hari itu ia tidak mengerjakan shalat Jum'at bersama manusia. Hal tersebut diceritakan kepada Ibnu Abbas, dan dia mengatakan bahwa Ibnu Zubair sudah melakukan sesuai dengan Sunnah."

6. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَرِيفٍ الْبَجَلِيُّ حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Tharif Al Bajali telah menceritakan kepada kami Asbath dari Al A'masy dari Atha' bin Abu Rabah dia berkata; Ibnu Zubair shalat bersama kami pada hari raya di hari jum'at, di awal hari, kemudian kami berangkat untuk melaksanakan shalat jum'at, namun dia tidak keluar untuk mengimami kami, akhirnya kami shalat sendiri-sendiri, ketika itu Ibnu Abbas sedang berada di thaif, setelah datang, kami sampaikan hal itu kepadanya, dia menjawab; "Dia (Ibnu Zubair) benar telah melaksanakan sunnah."  (ABUDAUD - 905).

قَالَ الْعَيْنِيُّ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ : قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ : لَيْسَ فِي الِاسْتِسْقَاءِ صَلَاةٌ مَسْنُونَةٌ فِي جَمَاعَةٍ ، فَإِنْ صَلَّى النَّاسُ وُحْدَانًا جَازَ 

Al-‘Aeny dalam syarah Bukhori mengatakan: “Abu Hanifah berpendapat, “Shalat istisqo tidak diharuskan berjama’ah apabila orang-orang shalat sendiri-sendiri (tanpa berjama’ah) tidaklah dilarang. (Tuhfatul Ahwazy, 2:94).

Dalam syarah Abu Dawud (4: 398), Al-‘Aeny disebutkan :

قوله: "وحدانا" أي: متوحدين منفردين.

Kata “wuhdanan” maksudnya sendiri-sendiri, munfarid (shalat sendiri-sendiri). 

Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq Al Adhim Abady, pengarang kitab Aunul Ma’bud syarah Sunan Abu Dawud menyatakan :

بَلْ فِي قَوْل عَطَاء إِنَّهُمْ صَلَّوْا وِحْدَانًا أَيْ الظُّهْر مَا يُشْعِر بِأَنَّهُ لَا قَائِل بِسُقُوطِهِ ، وَلَا يُقَال إِنَّ مُرَاده صَلَاة الْجُمُعَة وِحْدَانًا فَإِنَّهَا لَا تَصِحّ إِلَّا جَمَاعَة إِجْمَاعًا

Yang dimaksud perkataan ‘Atho bahwa mereka shalat sendiri-sendiri yaitu shalat dhuhur, dengan alasan tidak ada yang mengatakan atas gugurnya. Dan juga tidak dikatakan itu maksudnya adalah shalat jum’at sendiri-sendiri karena jum’at tidak sah kecuali berjama’ah menurut ijma’. (Aunul Ma’bud, 3: 408).

Menurut Abdul Muhsin, dalam kitabnya syarah Sunan Abu Dawud (6: 292) :

 (وحداناً) أنهم كانوا يصلون جماعات متتابعة، ويحتمل أن كل واحد منهم صلى الظهر وحده، و ابن الزبير صلى الظهر في بيته.

“Wuhdanan” maksudnya mereka shalat berjama’ah (dhuhur) kelompok demi kelompok, atau juga masing-masing dari mereka shalat dhuhur sendiri-sendiri dan Ibn Zubair shalat dhuhur di rumahnya.

7. قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدْ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِي فَلْيَنْتَظِرْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ 

Abu 'Ubaid berkata; Setelah itu aku juga pernah shalat ied bersama Utsman bin 'Affan, waktu itu bertepatan dengan hari Jum'at, kemudian dia mengerjakan shalat ied sebelum berkhutbah lalu berkhutbah, katanya; "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya pada hari ini telah berkumpul dua hari raya kalian, maka siapa di antara kalian dari penduduk luar kota yang hendak menunggu di sini (hingga tiba waktu Jum'at), silahkan menunggu, namun jika menginginkan pulang sekarang, maka aku telah mengizinkannya pulang." (BUKHARI - 5145) 

 

 

 

 

Perbedaan Para Ulama :

Para ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ‘id pada hari jum’at kepada 4 pendapat :

1. Pendapat Pertama, wajib jum’at walaupun ia sudah melaksanakan shalat ‘id. Jum’at tidaklah gugur baik bagi penduduk kota maupun kampung. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, beliau berdalil dengan keumuman ayat dan hadits-hadits atas keumuman wajib jum’at.

Ibnul Mundzir mengatakan : ‘Id adalah sunnah sedangkan jum’at adalah wajib, maka wajib tidak ditinggalkan oleh sebab thatowwu. (Al-Ausath, 4: 290).

2. Pendapat kedua, sesungguhnya shalat ‘id apabila telah dilaksanakan, maka gugurlah jum’at bagi penduduk kampung dan jum’at tetap wajib bagi penduduk kota. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, beliau berdalil dengan ucapan Utsman ra.” (lihat riwayat Bukhori di atas).

3. Pendapat ketiga, sesungguhnya orang yang melaksanakan shalat ‘id, maka gugur baginya kewajiban jum’at, tetapi wajib baginya shalat dhuhur. Ini adalah pendapat Imam Ahmad berdasarkan no. 6 di atas. 

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menyatakan dalam Al-Fatawanya (24: 211) : 

أنَّ على الإمام أن يقيم الجمعة ليشهدها من شاء شهودها، ومن لم يشهد العيد .

Bagi Imam wajib melaksanakan jum’at untuk mengimami orang-orang yang hendak melaksanakannya dan orang-orang yang tidak shalat ‘id.

4. Pendapat keempat, sesungguhnya orang yang melaksanakan shalat ‘id, maka gugur baginya kewajiban jum’at dan kewajiban shalat dhuhur. Pendapat ini adalah pendapat Imam Ali bin Abi Thalib ra, Ibn Zubair, Ibn Abbas, Atho bin Abi Robbah, Imam As Syaukany, dll.

Di antara ulama kontemporer yang berpendapat seperti di ini adalah Sayyid Sabiq (1: 316), beliau berkata :

 وتجب صلاة الظهر على من تخلَّف عن الجمعة لحضوره العيد عند الحنابلة، والظاهر عدم الوجوب . اهـ .

Menurut Mazhab Hanbali wajib shalat dhuhur bagi yang shalat ‘id tetapi tidak melaksanakan jum’at, tetapi yang jelas adalah tidaklah wajib.

Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang keempat sebagaimana dipahami oleh para sahabat ra.  Di antaranya Ibn Zubair ra. Ketika pada jamannya berkumpul jum’at dan ‘id,  ia tidak menambah shalat (termasuk dhuhur) kecuali shalat ‘id saja. Ibn Abbas ketika diberitahukan pekerjaan Ibn Zubair seperti di atas tidak menegurnya malah menyetujuinya dengan mengatakan “Ia sesuai sunnah”. Perkataan Ibnu Abbas tersebut menurut Imam An Nawawy hukumnya menjadi marfu’. (Al Majmu’: 4/492).

Imam As Syaukany menyatakan :”Secara dhahir bahwasanya ia (ibn Zubair) tidak shalat dhuhur. (Nailul Author, 3:283).

As Sindy dalam Hasyiyah An Nasa’i (3: 195) mengatakan :”sebagian riwayat menunjukkan gugurnya shalat dhuhur, seperti riwayat hadits Ibn Zubair.

Bahkan dalam Mushonnaf Abdurrozaq lebih terang lagi dikatakan oleh Imam Atho, “Adapun para fuqoha mereka tidak mengingkarinya (perbuatan Ibn Zubair tersebut – pen), adapun orang yang tidak faham ia mengingkarinya dan aku termasuk yang mengingkarinya, maka aku melakukan shalat dhuhur waktu itu sehingga sampai kepada kami setelahnya bahwanya dua ‘id telah berkumpul maka pelaksanaannya disatukan.  Hal tersebut disampaikan kepada Muhammad bin Ali bin Husein, maka ia menyatakan bahwa ia benar-benar telah mendapatinya dalam suatu kitab, bukan semata perkiraan (Mushonnaf, 3: 303, no. 5725).

 Akan tetapi bagi yang mahu melaksanakan dhuhur tidaklah mengapa, hal itu menjadi amalan sunnah (nafilah) sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat-sahabat yang lain dan para tabi’in pada masa Ibn Zubair. Dan juga berdasarkan hadits :

وَعَنْ يَزِيدَ بْنِ اَلْأَسْوَدِ رضي الله عنه ( أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلَاةَ اَلصُّبْحِ, فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلِّيَا, فَدَعَا بِهِمَا, فَجِيءَ بِهِمَا تَرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا, فَقَالَ لَهُمَا: "مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا?" قَالَا: قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا. قَالَ: "فَلَا تَفْعَلَا, إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمْ, ثُمَّ أَدْرَكْتُمْ اَلْإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ, فَصَلِّيَا مَعَهُ, فَإِنَّهَا لَكُمْ نَافِلَةٌ" )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاللَّفْظُ لَهُ, وَالثَّلَاثَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان َ 

Dari Yazid Ibnu al-Aswad bahwa dia pernah sholat Shubuh bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah usai sholat beliau bertemu dengan dua orang laki-laki yang tidak ikut sholat. Beliau memanggil kedua orang itu, lalu keduanya dihadapkan dengan tubuh gemetaran. Beliau bertanya pada mereka: "Apa yang menghalangimu sehingga tidak ikut sholat bersama kami?" Mereka menjawab: Kami telah sholat di rumah kami. Beliau bersabda: "Jangan berbuat demikian, bila kamu berdua telah sholat di rumahmu kemudian kamu melihat imam belum sholat, maka sholatlah kamu berdua bersamanya karena hal itu menjadi sunat bagimu." Riwayat Imam Tiga dan Ahmad dengan lafadz menurut riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Tirmidzi. 

Wallahu A’lamu Bishowab.. Wilujeng Boboran..

OLEH : DENI SOLEHUDIN

 


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?