Ilmuwan Muslimah di Bidang Astronomi

Ilmuwan Muslimah di Bidang Astronomi

SHARE

Allah SWT menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril dengan berkata “Iqra!”. Kata Iqra bukan hanya berarti  “bacalah”, namun juga berarti “belajarlah”.

Begitu Maha Segalanya Allah SWT, hingga menurunkan satu kalimat pertama dalam wahyu-Nya yang ternyata mempunyai arti dan makna yang sangat berguna sekali bagi kelangsungan kehidupan manusia dikemudian hari.

Terkadang, meluangkan waktu untuk membaca bagi sebagian itu sangat sulit bahkan sampai ketahap tidak peduli, baik itu membaca buku, koran, berita, terlebih membaca sejarah. Namun juga ada sebagian besar orang yang tertarik untuk membaca, sehingga dia bukan meluangkan waktunya untuk membaca tapi memang sudah dijadwalkan untuk membaca. Apalagi, jikalau orang tersebut memfokuskan dirinya untuk memahami ‘Sejarah’ yang bersifat amat sangat lampau.

Pada dasarnya, ketika kita hendak mengetahui dunia dan seisinya itu harus dengan membaca, piint pentingnya ialah membaca dan memahami sejarah. Dengan hal itu maka kita akan menguasai dunia. Tidak bisa dilepaskan, antara membaca dan menulis merupakan sahabat sejolin. Mengapa menulis (?) Karena, agar ilmu yang kita miliki dari membaca tidak akan pernah hilang dan luntur, meskipun kita telah meninggal tapi tetap jiwa kita, pikiran kita akan slalu ada (hidup).

Berbicara mengenai ‘Sejarah’ merupakan tema yang diangkat dalam diskusi WA di Group Astronom PERSIS. Kita kembali mengulas masa lampau yang harus kita pelajari dan kita ketahui. Kita membahas mengenai ‘Sejarah Ilmuwan Islam’, yang dipandu oleh Ustadz Fajar Ramdhan, beliau merupakan Asatidz PPI 76 Tarogong-Garut.

Perlu diketahui bahwa dianntara karakteristik sejarah adalah adanya pelajaran yang bisa dipetik untuk kebaikan di masa sekarang ataupun masa depan. Termasuk dalam sejarah Islam, begitu banyak pelajaran yang bisa kita petik sebagai generasi muslim yang akan mengembalikan Izzatul Islam melalui berbagai aspek.

Terlebih lagi Islam ternyata pernah menjadi kiblat peradaban dunia lebih dari 7 abad lamanya. Begitu juga dalam perkembangan ilmu pengetahuan, peradaban Islam mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang selama ini kita nikmati, namun sayang ditenggelamkan oleh berbagai kepentingan dan pihak-pihak yang tidak menginginkan Ummat Muslim melek dengan sejarah bahwa generasi terdahulu, pernah menjadi pemimpin dunia.

Diantara pelbagai Ilmuwan Muslim yang mana buah karyanya masih bisa kita nikmati sampai detik ini diantaranya ialah:
1. Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitham  / Alhazen (Basra, 965 – Kairo 1039) beliau meneliti Sifat Cahaya.
2. Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail Buzjani / Abul Wafa (Buzhgan, Nishapur, Iran / Persia 940 – 997 / 998) meneliti astronomi (pergerakan Bulan), matematika (trigonometri).
3. Muhammad Ibnu Zakaria Al-Razi / Razes (864-930) meneliti Ilmu Kimia (Distilasi, Kalsinasi dan sebagainya), Medicine, Ophthalmology, Smallpox , Chemistry, Astronomy.
4. Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi (Iran, 780 – 850) meneliti Matematika (Algebra / Algoritma / Aritmatika / Aljabar), astronomi dan geografi.
5. Abu Raihan Al-Biruni (Khawarazmi, Turkmenistan, Persia, 15 September 973 – 13 Desember 1048) meneliti matematika, astronomi (determined Earth’s circumference), fisika, ensiklopedia, filsafat, sejarah, obat-obatan, farmasi.
6. Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari / Ibnu Ismail Al Jazari / Al Jazari meneliti robotika, mekanika, fluida.
7. Dll,.

Namun, diantara para Ilmuwan tadi yang dipaparkan, yang cukup menarik perhatian adalah Maryam Ijliyaa Al-Asturlabi, yang diangkat dalam diskusi kali ini. Dari sekian banyak Ilmuwan Muslim yang terkenal, ternyata ada juga Ilmuwan Muslimah yang karya nya sangat diakui dalam dunia Astronomi, bahkan konon katanya Astrolabe masih digunakan sampai abad ke-18, bahkan harga satu Astrolabe sebanding dengan 3 buah macbook pro.

Tapi sayang, sejarah tentang Ilmuwan- ilmuwan Islam tidak sebanyak literatur yang membahas para Ulama Muslim lain seperti Imam Al-Ghazali, Imam Asy-Syafi’i, dll. Sehingga informasi sejarah mengenai Ilmuwan Muslim memang tidak begitu banyak bahkan cenderung simpang siur dari beberapa bagian sejarahnya.

Biografi Maryam Ijliyaa Al-Astrulabi

Maryam Ijliyaa Al-Asturlabi dikatakan hidup menjelang abad ke 10 M di Aleppo, sebelah Utara Syiria. Maryam dipekerjakan oleh Sayf al-Dawla yang memerintah dari tahun 944 sampai 967 M. Berarti ini  berada pada fase Bani Abbasiyyah dimana kekhalifahan ini terkenal dengan perhatiannya yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya akan menjadi bagian penting dalam rennaissance Eropa.

Dan juga, perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu juga tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan Yunani, baik masa Aristotles, Plato, dll. Begitupun dengan Astrolabe, juga sebenarnya tidak murni berasal dari khazanah keislaman, tentu ada sejarah nya juga dengan perkembangan Astronomi/Astrologi pada zaman Yunani.

Astrolabe sendiri mempunyai kegunaan sebagaimana Global Positioning System (GPS) yang kita kenal pada saat ini, namun lebih kompleks. Selain itu, Astrolabe diciptakan untuk mengetahui koordinat langit, bintang-bintang, juga dapat digunakan untuk menentukan arah qiblat, kapan dan dimana terbit hilal, kapan waktu sholat yang presisi, dll. Bahkan Astrolabe ini memiliki 400 fungsi lain yang dapat digunakan.

Astrolabe
Astrolabe

Berdasarkan kompleksitivitas seperti itu, tentunya astrolabe adalah mahakarya terhebat dalam sejarah ilmu pengetahuan manusia bahkan sampai melintas zaman, berabad-abad lamanya. Dan semua itu berkat hasil dari penyempurnaan Astrolabe yang dilakukan oleh Maryam. sehingga dibelakang namanya juga disandingkan Al-Asturlabi selain nama suku nya dari Bani Ijliyaa. Karya ini lah yang akhirnya menjadi karya paling mutakhir dalam perkembangan Astrolabe yang akhirnya menyebar ke berbagai belahan Eropa.

Panduan mengenai penggunaan Astrolabe sendiri pertama kali diterjemahkan dari bahasa Arab ke b. Inggris pada tahun 1391 oleh Geoffrey Chaucer untuk putranya Lewis. Setelah itu baru kemudian semakin menyebar terjemahan panduan Astrolabe ini semakin banyak.

Diantara guru Maryam sendiri bernama Muhammad bin Abdillah Bastulus yang beliau merupakan murid dari Al-Khawarizmi dan Al-Battani. Sehingga Maryam dalam membangun Astrolabe nya selain terpengaruh oleh ayahnya, juga terpangaruh oleh gurunya juga. Jadi wajar ya kalo belajar astronomi ataupun ilmu falak nanti bakal banyak ketemu sama trigonometri yang wow.

Nama Maryam Ijliyaa Al-astrulabi ini diabadikan oleh Henry E. Holt saat Ia melakukan penelitian Sabuk Utama Asteroid di Obsevatorium Palomar, sehingga Asteroid yang berada di sabuk utama tersebut dinamakan 7060 Ijliya, diberikannya nama tersebut sebagai bentuk penghargaan karena telah membuat mahakarya yang bermanfaat.

Maryam Ijliyaa Al-Asturlabi memang tidak setenar dengan Ilmuwan Muslim lainnya, apalagi jika dibandingkan dengan para Fuqoha Muslim. Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari seorang Maryam, di antaranya adalah:
✅ Tidak ada batasan gender dalam berkarya dan menuntut ilmu
✅ Ilmu Astronomi sebagai ilmu tersulit pada saat itu saja bisa dipelajari dan dikuasai. kita punya kesempatan yang sama dan mungkin bisa jadi kita adalah Al-Khawarizmi berikutnya, Maryam berikutnya, dan ilmuwan muslim lain nya yang akan mengembalikan kejayaan ilmu pengetahuan dalam khazanah keislaman. BTW baru satu orang saja lho muslim yang dapet hadiah nobel.
✅ Perlu spirit Islam untuk perkembangan dan membangkitkan kembali kejayaan Islam dalam berbagai aspek dan mari kita berbagi peran dan memainkan peran masing-masing untuk hal itu.

Demikian merupakan biografi Maryam Ijliyaa Al-Astrulabi yang dipaparkan oleh Pemateri pada diskusi WA group Astronom PERSIS. Insyaallah, untuk Astrolabe sendiri, salah satu anggota Astronom PERSIS ada yang sedang berusaha menerjemahkan Manuskrip yang berbahasa Arab kedalam bahasa Indonesia. Agar masyarakat umum pun bisa mempelajari nya dengan mudah. Dan juga, salah satu pengurus Astronom PERSIS ada yang sedang membuat Astrolabe. Insyaallah, upaya ini akan berhasil dan akan menjadi penemuan terbaru di zaman sekarang.

 

***

Penulis: Daisy Salsabila