Inspirasi dari Ridwan Ependi, Mulai dari Bekerja hingga Jadi Pengusaha Kain dan Militan di Jamiyyah Persis

Inspirasi dari Ridwan Ependi, Mulai dari Bekerja hingga Jadi Pengusaha Kain dan Militan di Jamiyyah Persis

Dipublish pada 13 Agustus 2018 Pukul 01:36 WIB

911 Hits

Bandung – persis.or.id,  Tak mudah untuk membangun sebuah bisnis dan berbarengan dengan itu mendapatkan keberkahan. Seperti itu juga yang pernah dialami oleh  Ridwan Ependi.

Pengusaha muda yang lahir 39 tahun yang lalu tepatnya di Sumedang pada April 1979 itu, kini aktif di jamiyyah Persatuan Islam. Salah satu amanah yang sedang diembannya saat ini sebagai Bendahara Himpunan Pengusaha Persatuan Islam (HIPPI).

Mungkin, tidak banyak yang tau terjalnya perjalanan yang dia tempuh untuk berada pada kondisi saat ini. Orang melihat suksesnya hari ini, namun tak tau getirnya perjuangan di masa lalu.

Karena memang seperti itulah ujian kehidupan. Sebagai bentuk validasi keimanan seseorang, apakah akan terus sabar, bersyukur, berikhtiar dan bertawakal pada Allah? Ataukah memilih kufur?



Putus Sekolah, Bukan Halangan Kesuksesan Berbisnis

Sejak lulus dari bangku SD dan hanya satu tauhun mengenyam bangku pendidikan di tingkat SMP (kelas 1), Ridwan berusaha mencari pekerjaan.

Ridwan harus bekerja dan tidak melanjutkan sekolahnya dikarenakan faktor keuangan, dia terpaksa bekerja demi membantu keuangan keluarganya.

Tahun 1992 sampai dengan tahun 1999 Ridwan bekerja pada juragan kain H Asep. Selama 7 tahun tersebut, ia jalani dengan terus menghayati setiap pengalaman dan menjadikannya sebagai pembelajaran.

“Saya bekerja, saya ibaratkan sedang menempuh studi atau sekolah tentang perkainan, saya tekuni dan teladani pekerjaan itu, saya pelajari jenis-jenis kain mungkin kalau ibaratakan selama 7 tahun saya sekolah kain”, tutur Ridwan kepada persis.or.id, Jumat (10/08/2018).

Dikarenakan faktor tuntutan keuangan semakin bertambah, Ridwan memberanikan diri untuk maju sebagai Camat.

“Alhamdulillah dengan pengalaman 7 tahun sebagai pegawai saya membranikan diri menjadi Camat alias calo matu atau juga freelance”, ujarnya sambil tersenyum, mengenang masa lalu.

Selama menjadi freelance, Ia merasa lebih mendapat banyak pelajaran tentang kain dan bagaimana memasarkan kain-kain itu.

“Saya banyak sekali bertemu dengan bos-bos pembeli kain, dari situlah pelajaran dan pengalaman saya bertambah”, tambahnya.

Kesabaran Menjalani Proses, Berbuah Manis

Ridwan tak berlama-lama menjadi freelance, baginya cukup 7 tahun saja. Tuntutan ekonomi bertambah seiring keinginannya untuk menikah.

“Saya memberanikan diri untuk menyewa sebuah kios dan buka usaha kain sendiri”

“Kalau diibratkan selama 7 tahun saya bekerja, ditambah 7 tahun freelance jadi total 14 tahun saya sudah mendapat gelar S3 di kain” ucapnya sambil tertawa.

Selama 14 tahun menjalani dan mensyukuri proses membangun bisnis, akhirnya mulai terbuka pintu rezeki yang jauh lebih besar.

“Inilah semua pengalaman saya, diimplementasikan dalam usaha kemandirian saya. Misalnya keuletan, kesabaran dan kejujuran. Jatuh bangun dalam membangun bisnis, terus saya jalani”, ungkapnya.

Mulai dari menekuni untuk menjual kain jenis kain daleman untuk membuat jaket. Ia membeli kain daleman jaket dari beberpa Garment besar dan kain-kain yang import maupun lokal.