Hukum Bermakmum pada Imam yang Bacaannya Terlalu Cepat

[Istifta] Hukum Bermakmum pada Imam yang Bacaannya Terlalu Cepat

SHARE

Bagaimana hukumnya bermakmum kepada imam yang bacaannya terlalu cepat sehingga kadang-kadang atau sering tertinggal dalam membacanya sedangkan kita sangat ingin berjamaah di masjid, mohon solusinya? Chaerul Shaleh, chaerulshaleh@gmail.com, 13 September 2016

***

Jawaban;

Shalat, baik munfarid maupun berjamaah hendaklah dilakukan dengan khusuk, tuma’ninah, dan sakinah (tidak tergesa-gesa). Sebagaimana sabda Rasul saw. :

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا لِي أَرَاكُمْ رَافِعِي أَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ اسْكُنُوا فِي الصَّلَاةِ قَالَ ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا فَرَآنَا حَلَقًا فَقَالَ مَالِي أَرَاكُمْ عِزِينَ قَالَ ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ

Dari Jabir bin Samurah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah mendatangi kami, lalu beliau bersabda, ‘Aku melihat kalian mengangkat tangan seperti ekor kuda yang berjemur. Tenanglah saat shalat'” Kata Jabir, “Kemudian Rasulullah SAW mendatangi kami lagi saat kami sedang bergerombol. Lalu beliau bersabda, ‘Aku tidak melihat kalian berpecah-belah’.” Kata Jabir, “Kemudian Rasulullah SAW keluar lagi kepada kami seraya bersabda, ‘Mengapa kalian tidak berbaris sebagaiamana para malaikat berbaris di sisi Tuhan mereka?’ Lalu kami bertanya, ‘Ya Rasulullah! Bagaimana para malaikat berbaris di sisi Tuhan mereka?’ Beliau menjawab, Mereka menyempurnakan shaf depan dan meluruskan serta merapatkan shafnya’ {Muslim 2/29, 132, Bab Perintah Tenang Dalam Shalat}

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( إِذَا سَمِعْتُمْ اَلْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى اَلصَّلَاةِ, وَعَلَيْكُمْ اَلسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ, وَلَا تُسْرِعُوا, فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا, وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau telah mendengar qomat, maka berjalanlah menuju sholat dengan tenang dan sabar, dan jangan terburu-buru. Apa yang engkau dapatkan (bersama imam) kerjakan dan apa yang tertinggal darimu sempurnakan.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari, dalam Bulughul Maram hadits No. 446).

Sebaliknya bagi orang yang shalatnya tergesa-gesa, oleh Rasulullah saw. ia ditegur dan disuruh untuk mengulang lagi shalatnya. Sebagaimana hadits berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ يَوْمًا ثُمَّ انْصَرَفَ فَقَالَ يَا فُلَانُ أَلَا تُحْسِنُ صَلَاتَكَ أَلَا يَنْظُرُ الْمُصَلِّي إِذَا صَلَّى كَيْفَ يُصَلِّي فَإِنَّمَا يُصَلِّي لِنَفْسِهِ إِنِّي وَاللَّهِ لَأُبْصِرُ مِنْ وَرَائِي كَمَا أُبْصِرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, ”Pada suatu hari Rasulullah shalat bersama kami. Setelah shalat beliau berpaling seraya bersabda, ‘Wahai Fulan! Mengapa kamu tidak memperbaiki shalatmu? Mengapa orang yang shalat tidak memperhatikan bagaimana dia melakukan shalat? Sesungguhnya dia shalat untuk dirinya sendiri. Demi Allah, sesungguhnya aku dapat melihat apa yang ada di belakangku sebagaimana aku bisa melihat apa yang ada di hadapanku.” {Muslim 2/27}

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامَ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ الرَّجُلُ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ثُمَّ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ الرَّجُلُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا عَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW masuk masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk dan kemudian shalat. Setelah shalat, laki-laki itu mendekat dan memberi salam kepada Rasulullah SAW. Beliau menjawab salamnya kemudian berkata, “Ulanglah shalatmu, karena kamu belum shalat dengan sempurna.” Laki-Iaki itu kemudian shalat lagi sebagaimana semula, lalu mendekati Nabi SAW dan memberi salam. Rasulullah SAW menjawab, “Wa ‘alaikum salaam.” Kemudian beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat dengan sempurna.” Hal itu berulang-ulang sampai tiga kali, kemudian laki-laki itu berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan benar! Saya tidak bisa memperbaiki shalat lebih dari ini, ajarilah saya!” Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu memulai shalat, maka bertakbirlah, lalu bacalah apa yang bisa kamu baca dari ayat-ayat Al Qur’an {setelah Al Fatihah}, lalu ruku’lah dengan tumaninah, kemudian bangunlah sehingga kamu duduk dengan tumaninah, lalu lakukanlah seperti itu di setiap shalatmu.” {Muslim 2/11}

Dalam keadaan berjama’ah untuk imam dan makmum sebaiknya diperhatikan keterangan-keterangan berikut :

  1. Orang yang Lebih Berhak Menjadi Imam

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Dari Abu Mas’ud Al Anshari RA, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, Imam suatu kaum adalah orang yang paling pandai membaca dan memahami kitab Allah. Kalau mereka setara dalam qira’ah {membaca dan memahami Al Quran}, maka imamnya adalah orang yang paling banyak mengetahui Al Hadits. Kalau mereka setara dalam mengetahui hadits, maka imamnya adalah orang yang lebih awal hijrahnya. Kalau mereka sama-sama dalam berhijrah, maka imamnya adalah orang yang lebih awal islamnya. Janganlah sekali-kali orang menjadi imam di wilayah kekuasaan orang lain. Janganlah seseorang duduk di rumah orang lain pada tempat yang dimuliakan, kecuali atas izinnya’ {Muslim 2/133}

  1. Imam agar Meringankan Bacaan Shalat

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضِبَ فِي مَوْعِظَةٍ قَطُّ أَشَدَّ مِمَّا غَضِبَ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

Dari Abu Mas’ud Al Anshari RA, dia berkata, “Ada seorang pria menjumpai Rasulullah SAW sambil berkata, ‘Kami pasti telat dalam melaksanakan shalat Subuh karena imamnya si Fulan yang memperpanjang shalat.” Kata Abu Mas’ud, ‘”Saya sama sekali tak pernah melihat Nabi SAW marah dalam memberi nasihat kecuali pada hari itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai seluruh manusia! Sungguh di antara kalian terdapat orang-orang yang suka mempersulit. Maka siapa saja yang menjadi imam hendaklah tidak memanjangkan shalat, sebab di belakangnya terdapat orang-orang tua. lemah dan orang yang mempunyai hajat’{Muslim 2/42-43}

عَنْ جَابِرٍ قَالَ صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الْأَنْصَارِيُّ بِأَصْحَابِهِ صَلَاةَ الْعِشَاءِ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ لَهُ مُعَاذٌ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا صَلَّيْتَ بِالنَّاسِ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ

Dari Jabir, ia berkata, “Mu’adz bin Jabal Al Anshari melakukan shalat Isya bersama para sahabatnya, lalu dia memperpanjang (bacaan shalatnya). Kemudian ada seorang di antara kami yang keluar lalu shalat sendiri. Hal itu dikabarkan kepada Mu’adz, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya dia adalah seorang yang munafik’. Dan ketika hal ini diketahui oleh laki-laki tersebut, ia mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang dikatakan Mu’adz. Rasulullah SAW bersabda, ‘Apakah kamu ingin menjadi penyebar fitnah, wahai Mu’adz? Apabila kamu shalat dengan orang banyak (menjadi imam), maka bacalah; Wasy-syamsi wa dhuhaha (Surah Asy-Syamsy [91]), Sabbihis maa rabbikal ‘alaa (Surah Al A’laa [87]), dan wallaili idza yaghsya, (Surah Al-Lail [92]), serta iqra’bismirabbika (Surah Al A’laq [96])’.” Shahih: Shahih Ibnu Khuzaimah (1633). Muslim (2/42).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوجِزُ وَيُتِمُّ الصَّلَاةَ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah SAW meringkas dan menyempurnakan shalat.” Shahih: Muttafaq alaih.

  1. Imam adalah orang yang diridhoi oleh makmum

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُقْبَلُ لَهُمْ صَلَاةٌ الرَّجُلُ يَؤُمُّ الْقَوْمَ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ …

Dari Abdullah bin Amru, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “”Ada tiga golongan yang shalat mereka tidak diterima; orang yang mengimami satu kelompok sementara mereka tidak menyukainya…” (Shahih Sunan Ibn Majah, 2/115).

  1. Imam bertanggungjawab atas makmumnya

حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ قَالَ كَانَ سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ السَّاعِدِيُّ يُقَدِّمُ فِتْيَانَ قَوْمِهِ يُصَلُّونَ بِهِمْ فَقِيلَ لَهُ تَفْعَلُ وَلَكَ مِنْ الْقِدَمِ مَا لَكَ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِمَامُ ضَامِنٌ فَإِنْ أَحْسَنَ فَلَهُ وَلَهُمْ وَإِنْ أَسَاءَ يَعْنِي فَعَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهِمْ

Dari Ibnu Hazim, ia berkata, “Sahal bin Sa’ad As-Sa’idi menunjuk seorang anak muda untuk menjadi imam shalat bersama mereka, lalu dikatakan kepada Abu Hazim, ‘Kamu melakukan hal itu, sedangkan kamu lebih dahulu masuk Islam, mengapa?'” Kemudian ia menjawab, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasululah SAW bersabda, ‘Imam itu orang yang bertanggungjawab. Apabila dia baik, maka kebaikan itu baginya dan bagi mereka. Tetapi apabila dia jelek, maka kejelekannya hanya untuk dirinya dan bukan untuk mereka’. ” Shahih: Ar-Raudh (1076-1080), Ash-Shahihah (1767).

Bila Imam mengamalkan keterangan-keterangan di atas, maka wajib bagi makmum untuk mengikutinya, sebagaimana hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّمَا جُعِلَ اَلْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ, فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا, وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ, وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا, وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ, وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اَللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, فَقُولُوا: اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ اَلْحَمْدُ, وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا, وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ….

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka apabila ia telah bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan bertakbir sebelum ia bertakbir. Apabila ia telah ruku’, maka ruku’lah kalian dan jangan ruku’ sebelum ia ruku’. Apabila ia mengucapkan (sami’allaahu liman hamidah) maka ucapkanlah (allaahumma rabbanaa lakal hamdu). Apabila ia telah sujud, sujudlah kalian dan jangan sujud sebelum ia sujud. … (Bulughul Maram, no. 430).

Apabila imam tidak mengamalkan keterangan-keterangan di atas, maka makmum diperbolehkan mufaroqoh (memisahkan diri).