Jamiyah Persis Menghormati Tamunya

Jamiyah Persis Menghormati Tamunya

Dipublish pada 08 Maret 2019 Pukul 23:30 WIB

866 Hits

Bukan hal yang aneh dan tabu dari mulai Presiden, Capres, Cawapres dan beragam Menteri, Calon Legislatif dan Kepala Daerah juga bermacam macam partai politik mengunjungi Jamiyah Persatuan Islam

Memotret sikap politik jamiyah dari kunjungan silaturahim berbagai tokoh adalah kurang tepat karena sejatinya jamiyah Persis tegak dan lurus pada kesepakatan Qanun Asasi dan Qanun Dakhili (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) yang disepakati di Muktamar.

Tidak mungkin jamiyah Persis mengkhianati amanat Muktamar dan keputusan keputusan yang mengikat lainnya.

Jamiyah Persis akan memperlakukan yang sama siapapun tamu yang ingin bersilaturahim dengan jamiyah Persis, meskipun sikap dan pandangannya berbeda, tidak menghalangi untuk berkomunikasi dan bersilaturahim.

Silaturahmi diambil dari kata kata shilah dan rahim. Shilah berarti menyambung sedangkan rahim atau rahm adalah kekerabatan atau sebab-sebabnya (Mu’jam Wasith 1/335).

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُسْطَ لَهُ فِيْ رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَلَهُ فِيْ أَشَرِهِ فَلْيَصِلْ

“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim”

 al Qurthubi.

قَالَ الْقُرْطُبِيّ : الرَّحِم الَّتِي تُوصَل عَامَّة وَخَاصَّة ، فَالْعَامَّة رَحِم الدِّين وَتَجِب مُوَاصَلَتهَا بِالتَّوَادُدِ وَالتَّنَاصُح وَالْعَدْل وَالْإِنْصَاف وَالْقِيَام بِالْحُقُوقِ الْوَاجِبَة وَالْمُسْتَحَبَّة . وَأَمَّا الرَّحِم الْخَاصَّة فَتَزِيد لِلنَّفَقَةِ عَلَى الْقَرِيب وَتَفَقُّد أَحْوَالهمْ وَالتَّغَافُل عَنْ زَلَّاتهمْ

Beliau mengatakan, “Rahim (kekerabatan) yang wajib dijaga itu ada dua, kekerabatan dalam makna luas dan kekerabatan dalam makna sempit. Kekebatan dalam makna luas adalah kekerabatan karena agama. Kekerabatan ini wajib dijaga dengan saling mencintai, saling memberi nasihat, bersikap adil dan menunaikan hak sesama muslim baik yang wajib maupun yang dianjurkan.

Bahkan Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir. Allah berfirman.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. [Al-Mumtahanah/60 : 8].

Para pendahulu kita banyak mengajarkan berbagai hal termasuk dalam pergaulan di politik, meskipun berdebat keras di parlemen tapi silaturahim tetap jalan, itu yang dilakukan Tuan Hasan, M Natsir,  Isa Anshori dan lain lain

Jadi siapapun yang bersilaturahim dengan jamiyah Persis kita muliakan

Dr Ihsan Setiadi Latief, Ketua Bidang Jamiyyah PP Persis


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?