Jangan Salahkan Syuhada Mina

Jangan Salahkan Syuhada Mina

SHARE

Oleh Dadan wildan

Ketua Dewan Tafkir PP. Persis

 

Bismillah.

Waktu siang ini, terakhir saya berada di tanah air. Duhai Allah.

Aku datang memenuhi panggilan-Mu.

Duhai Rasul. Aku datang ke tanah tempat perjuanganmu dan para sahabat yang mulia.

Terkenang saudara-saudaraku di tempat asalku, saudaraku yang kucintai karena Allah. Andaikan Allah memanggilku disana, kumohon maafkan aku atas segala khilaf dan salahku serta kelemahanku.

Kuucapkan terimakasih atas indahnya ukhuwah yang selama ini kuterima. Duhai Allah. Sampaikan salam cinta dan rinduku padanya dan semoga Engkau berkenan mempertemukan kembali aku dengannya.

Perkenankan aku merasakan lagi indahnya persaudaraan bersamanya, dalam ketaatan dan dakwah di jalan-Mu. Aamiin.

Itulah pesan terakhir yang disampaikan dari salah seorang jamaah haji dari Sukabumi yang wafat di Mina yang saya terima melalui grup WhatsApp Persatuan Islam (Persis).

Jamaah yang tergabung dalam KBIH Persis terutama Kloter JKS 61 menjadi korban Mina cukup banyak. Sampai Jumat (2 Oktober 2015) tercatat 38 orang diverifikasi wafat oleh Daker Mekkah dan 22 orang masih dinyatakan hilang.

Banyaknya korban dari KBIH Persis menimbulkan tudingan bahwa jamaah tidak taat pada aturan. Menginginkan afdoliyah dalam beribadah. Bahkan menuding Ketua Rombongan yang tidak menepati ketentuan jalan serta melanggar jadwal melontar jumrah yang telah ditetapkan.

Jalan 204 ditengarai bukanlah akses untuk jamaah Indonesia menuju lokasi melontar jumrah atau Jamarat di Mina, Arab Saudi. Namun, jamaah dari tiga kelompok terbang itu justru melintas akses tersebut menuju ke Jamarat pada Kamis (24/9) pagi. Itulah yang menjadi bahan tudingan dari mereka yang tidak memiliki empati pada korban syuhada Mina.

Jangan Salahkan Syuhada

Sampai saat ini, investigasi dari kejadian di Mina masih berlangsung oleh otoritas Saudi Arabia. Namun, seiring dengan itu, para pengamat yang hanya mengandalkan informasi sekunder, tidak valid, dan bersumber dari media sosial telah memberi banyak pernyataan yang menyesatkan.

Kesaksian dari sahabat saya melalui WhatsApp, Ustad Sulwan Kosasih, salah seorang jamaah KBIH Persis yang selamat, bisa dijadikan informasi yang cukup jelas. Ustad Sulwan menulis: Sampai dengan Mabit di Mudzdalifah, seluruh proses ibadah haji itu berjalan lancar sesuai rencana dan skenario.

Start dari Mudzdalifah pukul 06.00 pagi Waktu Arab Saudi, kami berjalan sambil bertalbiyah menuju jamarat hingga masuk di sebuah jalan persimpangan dan harus masuk jalur 204 karena dibelokkan petugas.

Barisan kami mulai bercampur dengan rombongan dari negara lain yang kadang memotong rangkaian barisan, tulisnya. Makin lama, makin kacau, ditambah banyak jamaah yang melawan arah. Jeritan dan teriakan “Allahu Akbar”, semakin riuh dan menggema.

Bendera tanda rombongan yang kami kibarkan, mulai jatuh. Dan saya harus terjepit hingga melemas karena sudah kekurangan oksigen dan dehidrasi hebat. “Laailahailallah” hanya itu yang teringat dan terucap lemah, karena saya merasa malakal maut sudah mau menjemput.

Terasa tetesan darah masuk ke mulut dari gigi yang patah tanpa bisa mengusap, karena kedua tangan terjepit.

Saya ikhlas ya Allah, jika takdir maut menjemput disini. Tapi jika masih mempercayai untuk hidup, berikan saya kekuatan untuk menyelamatkan diri, gumam hati ini sambil berucap “La haula wa la quwwata illa billah”.

Dan kekuatan dahsyat itu tiba-tiba muncul. Tangan, kaki, dan badan yang semula terjepit tanpa daya, seperti enteng terlepas dan tangan dapat meraih besi-besi tenda.

Dan entah dengan cara bagaimana, saya bisa naik ke atap dengan mudah tanpa digelantugi orang-orang dibawah.

Alhamdulillah saya hanya bisa merendam diri dalam kubangan air semprotan yang sudah kotor dan sesekali memeras kain ihram untuk minum. Alhamdulillah hingga terdengar adzan dzuhur berkumandang, atau sekitar empat jam saya bertahan antara sadar dan tidak sadar di bawah teriknya matahari.

Dari kesaksian itu, tentu saja jamaah yang berjalan kaki menuju jamarat setelah bermalam di Muzdalifah untuk melontar jumrah, tidak bisa disalahkan. Para jamaah itu, berjalan dengan bibir basah dengan talbiyah, beringan menuju jamarat yang letaknya kira-kira 3,5 km dari maktab di Mina Jadid (perluasan Mina).

JKS 61 adalah salah satu maktab yang berangkat pada pagi itu. Keterangan saksi mata diatas, sudah cukup menjadi bukti bahwa sebagian jamaah kloter JKS 61 memasuki jalur “tidak resmi” 204 bukan karena mereka tidak disiplin, melainkan “kondisi lapangan” yang memaksa mereka harus melalui jalur itu.

Saya yakin, seandainya mereka mengetahui apa yang akan terjadi di jalur 204 itu, tentu saja mereka akan memaksa untuk tetap berada di jalur lurus. Tapi jika memaksa, bisa jadi mereka pun dipersalahkan oleh pemerintah Arab Saudi sebagai jamaah yang tidak disiplin.

Jamaah itu begitu taat pada aturan yang ditetapkan, meskipun harus keluar dari jalur yang ditentukan.

Banyak analisis telah dikemukakan penyebab dari musibah ini. Mulai dari masalah sistem infrastruktur, psikologis, hingga politis. Pantaskah para pengamat menyalahkan para syuhada ditengah duka memeluk jiwa keluarga dan kaum muslimin.

Selain tidak tepat waktu, fatwa itu juga belum tentu tepat fakta. Sebab, jika jadwal melontar yang dijadikan alasan, bukankah pada jam yang sama banyak jamaah haji Indonesia yang selamat dari musibah itu, bahkan dapat melontar jumrah dengan aman.

Saya meyakini, mereka yang berada di jalur 204, khususnya jamaah haji kloter JKS 61, datang dengan motivasi semata-mata memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, serta ketundukan yang sempurna kepada Allah ‘azza wa jalla. Karena itulah, mereka yang wafat masih berkain ihram ketika akan melempar jumrah itu, digolongkan oleh Allah sebagai syuhada di jalan-Nya.

Akhirnya, mari kita menahan diri untuk tidak menghakimi. Hentikan berbagai komentar dan pernyataan yang menyudutkan para syuhada. Hentikan pula isu-isu politik untuk mengadu domba antar umat Islam dan membangun opini kebencian kepada Pemerintah Saudi sebagai Pelayan Dua Tanah Suci.

Investigasi dan pernyataan resmi dari pemerintah Arab Saudi mengenai sebab-sebab utama terjadinya musibah, itulah yang harus jadi patokan. Mari kita dukung pemerintah Arab Saudi untuk menyelidiki secara tuntas terjadinya musibah Mina agar tidak terulang kembali di masa depan.