Kanreapia; Cabang Persis Terpencil di Sulawesi Selatan

0
57

Secara geografis Desa Kanreapia merupakan Desa terpencil di pegunungan Kec. Tinggi Moncong Kab. Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Akan tetapi walaupun terpencil bukan berarti termiskin. Malah justru sebaliknya, Desa ini termasuk Desa dengan tingkat pendapatan ekonominya diatas rata-rata. Tingkat dan taraf kehidupan masyarakat disana bisa dibilang sangat maju. Kalau kita menyempatkan jalan-jalan di Desa ini, maka kita akan dapati deretan perumahan warga yang sangat megah; belum lagi pasti rumah tersebut dilengkapi dengan alat transportasi seperti kendaraan roda dua dan roda empat.

Mayoritas penduduk di sana bermata pencaharian sebagai petani. Dari sektor pertanian inilah laju roda perkembangan ekonomi warga meningkat sangat signifikan. Warga sangat diuntungkan dengan cuaca super dingin. Karena dengan cuaca demikian warga bisa bercocok tanam dengan baik. Ada beberapa komoditi unggulan dari hasil pertanian di cuaca yang sangat dingin seperti di Desa Kanreapia ini; seperti kentang, wortel, lobak dan lain-lain. Yang paling mencengangkan, petani disana bisa menjual hasil taninya ke beberapa pulau yang ada di Indonesia. Sehingga dalam sekali panen saja perputaran uang di Desa Kanreapia ini bisa mencapai milyaran rupiah; angka yang sangat fantastis untuk sebuah Desa yang berlokasi di pegunungan terpencil jauh dari perkotaan.

Kemajuan perekonomian masyarakat ini berimbas pada berkembangnya sektor pendidikan. Karena ekonomi warga sangat stabil, maka mereka tidak kesulitan menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi sekalipun. Meskipun ada beberapa masyarakat yang masih tidak menyadari bahwa sekolah itu penting. Bagi masyarakat model begini yang terpenting dari hidup ini adalah keterampilan dalam bertani; karena dengan demikian ia akan mendapatkan uang untuk membiayai kehidupannya.

Berubahnya ekonomi masyarakat Kanreapia ini, setidaknya terjadi sejak tahun 1986 yaitu dari mulai kedatangan orang-orang dari Jawa Barat, tepatnya dari Pangalengan bandung. Rombongan ini dibawa oleh H. Ilyas yang sengaja datang untuk bertani, dan mulai memperkenalkan cara bertani dan mengolah tanah yang baik dan benar kepada masyarakat. Menurut penuturan pak Haji Ilyas dan juga penuturan warga setempat, sebelum tahun 1986 sesungguhnya Kanreapia ini merupakan salah satu Desa di kabupaten Gowa yang sangat terpuruk dan termiskin. Masyarakatnya pun sangat terbelakang baik dari sisi ekonomi maupun pendidikan. Desa Kanreapia ini sangat terkenal merupakan daerah yang tidak aman. Kanreapia merupakan tempatnya orang-orang jahat (preman). Mencuri dan berjudi menjadi bagian ‘terpenting’ dari aktivitas sehari-hari masyarakat disana. Jangankan untuk bertani apalagi sampai bertempat tinggal, untuk hanya sekedar lewat saja orang-orang takut. Yang paling memalukan dari kebiasaan masyarakat disana adalah para pencuri itu pasti akan meminta tebusan kepada pemiliknya yang asli; dan itu dilakukan sebagai bentuk penghinaan bagi mereka, tutur Haji Ilyas.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan ekonomi di sana memperlihatkan peningkatan yang positif. Setelah dikenalkan dan diajari cara bercocok tanam yang baik, sedikit demi sedikit masyarakat disana mulai meninggalkan kebiasaan buruknya sebagai pencuri dan penjudi, mereka secara kreatif beralih menggantungkan nasibnya dengan cara bertani.

 

Permasalahan dakwah yang timbul sekarang adalah keadaan masyarakat yang sudah begitu maju secara ekonomi tidak berbanding lurus dengan kesadaran masyarakat terhadap agama. Kesadaran masyarakat pada perkara agama sangat lemah. Sehingga meskipun menurut pengakuan beberapa warga tidak ada lagi praktek pencurian dan perjudian di daerahnya, akan tetapi tetap saja kami menemukan potensi-potensi yang bisa membangkitkan kembali upaya-upaya jahat tersebut, bahkan untuk menyebarnya aliran-aliran sesat pun sangat mungkin terjadi di daerah ini.

Hal demikian tiada lain karena begitu lemahnya pengetahuan dan pengamalan agama masyarakat di Desa ini. Perhatian masyarakat pada agama sangat kurang bahkan pada beberapa warga yang kami temui tidak sedikit yang belum bisa baca tulis Qur’an. Tentunnya keadaan yang sebegitu memprihatinkan ini memerlukan bimbingan yang serius. Dengan demikian upaya masifikasi dakwah di daerah ini sangat mendesak dilakukan.

Dewasa ini, dakwah Islamiyah selalu dihadapkan pada situasi yang sangat mengkahwatirkan. Faktor kurangnya personil da’i yang kompeten di suatu daerah yang sangat terpencil menjadi sangat menentukan. Dari kondisi tersebut, sesungguhnya masyarakat Kanreapia sangat membutuhkan tenaga da’i. Sebuah Desa dengan jumlah penduduk hampir mencapai 4.000 jiwa hanya dibina oleh 10 sampai 15 da’i saja.

Daerah terpencil seperti Desa Kanreapia terbilang jarang dikunjungi para da’i dari daerah lain. Para da’i lokal pun merasa kesulitan mengakses informasi dan media dakwah Islam seperti majalah dan buku-buku. Tambahan lagi, Desa ini tidak memilki satupun Pondok Pesantren sehingga hal ini mengakibatkan tersendatnya perkembangan dakwah di daerah tersebut. Jumlah mesjid di Desa ini terbilang sangat cukup. Akan tetapi karena keterbatasan da’i (SDM), masjid-masjid yang tersedia pun belum memperlihatkan kemakmurannya secara menggembirakan.

Pemahaman Qur’an Sunnah (Persis) di daerah ini mulai menggema sejak tahun 2012 sampai sekarang, PP Pemuda Persis secara konsisten mulai mengirimkan kader mudanya untuk mengabdi di tempat ini. Respon positif dari pemuda ini tentunya perlu dorongan dari berbagai pihak, baik dorongan moril maupun materil. PC Persis sendiri telah diresmikan sejak tahun 2011 sebagai wujud tanggung jawab dakwah Persis ke daerah-daerah terpencil seperti Desa Kanreapia ini. Wallahu A’lam.

 

Laporan: Jajang Hidayatullah (persis.or.id)