Kenanganku di Lapas Wanita

380

Awal aku mengenal penjara, atau yg sekarang disebut LP, Lapas atau Lembaga Pemasyarakatan, ketika Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra atau lebih dikenal dengan sapaan Bang YIM, menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM RI. Aku salah satu dari sekian orang yang ditugaskan sebagai penyuluh agama didalamnya, melalui MBB Jabar.

Hari berganti minggu, bulan dan tahun, aku lagi, lagi dan lagi ditugaskan oleh MUI Jabar juga PW Persistri Jabar sampai saat ini.

Banyak banget kenangan indah bersama mereka, walau terkadang harus menarik nafas panjang dan mengusap air mata karena merasa tak mampu berbuat banyak untuk mereka.

“Bunda….. bawa cd ga?”, tiba-tiba seorang ibu paruh baya menghampiri, memeluk dan berbisik lirih ke telingaku. Dia nggak pernah ditengok siapapun.

“Bunda….. aku ga punya pembalut”, seorang ibu muda memegang erat tanganku sambil tersenyum malu.

“Alhamdulillah….. sekarang aku sudah iqra 2 Bun”, dengan bangga ibu cantik ini menatapku.

“Aku sudah tamat iqra 6 Bun….. mau naik ke Al-Qur’an tapi belum punya Qur’an nya”, kata seorang ibu yang memelukku dari belakang.

“Bunda! Mana buku do’a-do’a tea?”, dengan penuh semangat seorang ibu berusia lanjut ini menegurku. “Sama buku belajar sholat ya Bun!”…..

“Aku kangen banget sama anak-anak Bun….. sudah sekian lama ga ada kabar mereka sama sekali”, isak seorang ibu seumurku sambil mengusap air matanya yang tak terbendung. “Do’akan aku selalu ya Bun”, katanya penuh harap.

Entah sudah berapa lama aku bersahabat dengan mereka yang terjerat hukum pidana. Bagiku mereka bukanlah penjahat tapi sahabat yang harus kudengarkan curhat-curhatnya.

Meskipun aku yakin belum tentu mampu menghilangkan kegalauan dan kesedihannya. Apalagi memenuhi semua kebutuhannya.

Kupejamkan mata ini
Kupeluk erat mereka dengan penuh haru.
Ya Allah Ya Rabby….. Engkau maha segala pemberi segala, Engkau maha kuasa, diatas segala.
Kuatkanlah kami ya Rabb….

 

***

Oleh:
Imas Karyamah, M. Pd.

LEAVE A REPLY

three × one =