Kepedulian Itu Tak Cukup Hanya Dipidatokan !

0
1187

Selama beberapa hari terakhir ini saya menghabiskan waktu bersama ratusan ribu saudara kita Pengungsi Etnis Muslim Rohingya di Coxs Bazar, Bangladesh.

Dari sejumlah perjumpaan dengan mereka, saya mendapatkan kesimpulan sederhana bahwa penderitaan yang mereka rasakan sungguhlah luar biasa.

Mereka seperti dihadapkan pada buah simalakama; tinggal di tanah kelahirannya lalu mereka akan tergolek mati dengan berdarah-darah atau pergi ke luar batas Negara mereka dengan konsekuensi hidup menderita di tenda-tenda pengungsian yang sungguh sangat menyiksa.

Di gelap gulitanya sorot mata ratusan ribu pengungsi Rohingya , di saat yang sama saya jumpa dengan sorot-sorot mata yang bercahaya.

Sorot mata bercahaya itu dimiliki oleh mereka; para relawan kemanusiaan yang mencoba memberikan bantuan terbaik untuk Etnis Muslim Rohingya.

Para relawan itu datang dari berbagai negara, bahkan dengan latar belakang agama yang berbeda. Mereka hadir di tempat pengungsian Rohingya karena mereka sadar  bahwa saat ini di hadapan kita semua sebagai warga dunia tengah terjadi pelecehan terhadap martabat sekelompok ummat manusia.

Di sini saya jumpa dengan Alberto, anak muda Italia yang bekerja di salah satu Organ PBB di Jenewa,  Andy staf WHO asal Britania Raya, Michiko perempuan paruh baya dari Jepang, Abdul Aziz dari Mesir, Schiller dari Jerman, Michael dari Amerika dan relawan kemanusiaan lainnya dari seluruh belahan dunia.

Dari sejumlah perjumpaan dan diskusi yang saya lakukan dengan mereka, simpulan diskusi kami semua sama bahwa kepedulian itu tak cukup dipidatokan di mimbar mimbar aksi, mimbar mimbar agama dan mimbar istana kepala negara.

Kepedulian kita semua harus digeser dari sekedar pidato yang cuma kaya kata, mari ubah dengan tindakan yang kaya akan karya dan makna.

 

 

***

Tatan Ahmad Santana,

Ketua International Flotilla to Arakan Indonesia

LEAVE A REPLY

2 × 1 =