Kisah Habil – Qabil dan Almarhum Ustadz Prawoto

Dipublish pada 06 Februari 2018 Pukul 06:31 WIB

196 Hits

Pembunuhan pertama kali di dunia terhadap manusia sholeh dilakukan anak Nabi Adam AS, adalah pembunuhan Habil yang dilakukan oleh kakanya sendiri, Qabil. Kedua anak Adam tersebut adalah korban, Habil menjadi korban pembunuhan dan sementara Qabil juga menjadi korban pertama bisikan jahat syetan yang membujuknya untuk melenyapkan nyawa saudaranya dengan sangat tidak manusiawi. Yang menjadi pembeda dari kedua korban itu adalah niat dan itikadnya, Habil tidak beritikad buruk membunuh sehingga dia dicatat sebagai seorang yang sholeh yang hanya takut kepada Allah SWT saja. Adapun Qabil sudah berencana membunuh adiknya Habil dengan berbagai cara dan amarhnya memuncak setelah penqorbanannya tidak diterima Allah SWT.

Karena kemarahan dan kedengkian Qabil kepada adiknya setelah qurbannya –pendekatan diri kepada Allah SWT- tidak diterima ia nekad membunuh Habil dengan mengunakan batu. Sementara itu, qurban Habil diterima oleh Allah SWT karena ia berniat tulus hanya untuk Allah dan memilih harta terbaiknya dalam pelaksanaan qurban tersebut. Qurban itu dilakun dalam bentuk sayembara oleh Nabi Adam AS guna menguji siapa diantara anaknya yang betul-betul sholeh, yang akan mendapatkan ganjaran s etimpal baik di dunia maupun di akhirat. Silahkan simak makna ayat dari surat al-Maidah ayat 27-30. Terutama ayat ke 28 dibawah ini :

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

Artinya : "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."

Apa hubungan kisah Habil dan Qabil diatas dengan kematian Komandan Brigade Persis Kota Bandung, Raden Prawoto atau Dan Oto. Sebagaimana dikmaklumi almarhum aktif melatih dan mengembangkan beladiri Islam Kungfu Syufu Taesyukhan dan Thifan Pokhan. Almarhum menjadi pelatih bagi ratusan santri pesantren Persis yang berlokasi di Garut, dan para muridnya tersebar di seluruh nusantara dan dunia, sebagaimana pengakuan salah satu muridnya yang saat ini sedang menyelesaikan S2 di Maroko, siap mewakafkan dirinya untuk kepentingan dakwah.

Penulis sendiri sangat yakin bahwa kemampuan beladiri Dan Oto sangat mumpuni karena dia salah satu pelanjut dari kepakaran beladiri yang disebarkan untuk pertama kali di Indonesia oleh Allahu Yarham Ustadz A.D. Al-Marzdedeq yang merupakan guru penulis dalam bidang aqidah di PPI 1 Pajagalan-Bandung. Ustadz Al-Marzdedeq senantiasa menasehati muridnya, bahwa “belajar beladiri bukan untuk show of force atau untuk meraih mendali sehingga disebut juara”. Mungkin itulah nasehat Sang Maha Guru kepada muridnya almarhum Prawoto yang senantiasa diinggat dan diterapkan dalam kesahariannya ketika ia masih hidup.

Pertanyaan yang menganjal, kenapa almarhum Prawoto yang mumpuni dalam beladiri dapat dilumpuhkan oleh seorang yang “sakit jiwa”? Menurut Waketum PP Persis, Dr. Jeje Zainuddin “kalaulah memang dalam posisi normal berhadapan dengan pelaku dan tidak dalam keadaan lalai, sepertinya menghadapi orang dengan senjata tumpul bukanlah suatu hal yang berat bagi Ustadz Prawoto,”. Senjata linggis yang digunakan oleh Qabil zaman now tampaknya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari karena bagian tengah ke bawah meruncing dan bagian atasnya tumpul yang dibalut kain agar kuat pegangannya.

Penulis meyakini, pelaku pembunuhan ustadz Prawoto bukanlah seorang kafir tetapi dia seoarang muslim yang fasiq, sebagaimana Habil tidak melakukan perlawanan terhadap tindakan Qabil, dia (habil) khawatir jika melawan akan punya keinginan seperti Qabil yakni membunuh saudaranya. Tentunya hal ini akan berakibat fatal, karena nanti kedua-duanya akan masuk neraka. Nah, almarhum Prawoto dalam keadaan ini mungkin lebih memilih kesholehan Habil yang diterima penqorbannya daripada mengikuti surituladan buruk Qabil.

Tampaknya tindakan almarhum Ustaz Prawoto seperti apa yang diperankan oleh Khalifah Utsman bin Affan, saat terjadinya fitnah ia tidak melawan ketika diserang karena beliau tahu yang dihadapinya orang-orang muslim. Seiring dengan hadits yang shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi : Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana pendapat Anda (wahai Rasulullah) jika ada orang (muslim) yang masuk rumah saya lalu menggerakkan tangannya untuk membunuh saya?” Maka Nabi SAW menjawab, “Jadilah seperti anak Nabi Adam (ketika dibunuh ia tidak melawan).” Kematian almarhum ustadz Prawoto sudah ditakdirkan Allah SWT telah mengamalkan sesuai hadist diatas.

Kembali kepada Qabil yang kalap dan menjadi “sakit jiwa” setelah membunuh adiknya sehingga dia tidak bisa mengunakan akal sehatnya terhadap janazah yang telah bau membusuk sehingga burung gagak mengajarkannya bagaimana cara mengubur mayit saudaranya. Saking ketakutan dan depresi berat atas kelakuannya tersebut, Qabil berupaya melakukan kebohongan termasuk berpura-pura seperti yang “sakit jiwa”. Namun kejahatan Qabil walaupun ditutup-tutupi akhirnya motif dan bau buruk tetap tercium walaupun jasad adiknya telah dikubur di bawah tanah.

Dalam kaitan ini, pelaku (AM) yang merupakan tetangga almarhum ustadz Raden Prawoto memerankan kejahatannya itu pasti tidak dilakukan begitu saja tanpa alasan dan tujuan sebagaimana Qabil membunuh Habil karena disulut kemarahan dan kedengkian. Motif pelaku inilah yang sedang dalam investigasi pihak aparat keamanan dan Tim Ivestigasi Apkam dan Persis dalam kasus pembunuhan ustadz yang dikenal tawadhu dan tegas harus kita dukung penuh sehingga kasus ini dapat dapat diselesaikan dengan adil dan transfaran. Dukungan senada dengan statemen Ketua Bidang Jamiyah PP Persis, Dr. Ihsan Setiadi Latief yang didukung oleh semua masyarakat dan Ormas Islam, khususnya MUI, NU dan Muhammadiyah. Penulis mencermati kejadian ini sebagai yang serius, maka itu tentunya harapan kita dalam investivigasi dapat menepis anggapan teori konspirasi dan puzzle-puzzle kejadian itupun dapat tersusun rapih.

Oleh : Dr. H. Arip Rahman Lc, DESA

Ditulis di Hotel Setya Syariah Madiun-Jatim, Senin 5 Pebruari 2018.

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?