Kisah Galih Pribadi Alumnus PPI 34 Cibegol, Jalani Ramadhan di Bawah Langit Sudan dengan Suhu 47-50 Derajat Celcius.

Kisah Galih Pribadi Alumnus PPI 34 Cibegol, Jalani Ramadhan di Bawah Langit Sudan dengan Suhu 47-50 Derajat Celcius.

Dipublish pada 04 Juni 2018 Pukul 22:32 WIB

1687 Hits

Sudan - persis.or.id, Mimpi yang besar dimulai dengan satu langkah. Inilah yang membuat hati saya dan ketiga sahabat saya Riyadh, Habib dan Abdul Latif mantap untuk merangkai kisah baru di negeri 2 nil.

Semenjak menginjakkan kaki di Khartoum (Ibukota Sudan) September silam, banyak sekali pengalaman yang kami terima, tapi semua itu tak lengkap bila belum bercerita tentang keunikan Ramadhan disini.

Ketika bulan Syawal menyapa, kabar gembira mulai menggemparkan rasa, doa-doa berlimpah di seluruh penjuru langit agar senantiasa dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Ahh.. rindu rasanya hati ini tak sabar ingin segera berjumpa dengannya. 

Bagi saya ini adalah pengalaman pertama menjalani Ramadhan di luar negeri, tentunya ada banyak kesan yang didapat. 

Pertama, panasnya suhu yang menimpa. Bahkan pada awal Ramadhan suhu di kota Khartoum mencapai 47-50 derajat celcius. Bayangkan saja, ketika sore hari saja, sinar matahari yang hendak terbenam terasa begitu menyengat, terasa seperti siang bolong di Indonesia. Sungguh merupakan hal yang tak lazim dirasakan ketika dulu menjalani shaum di Indonesia. Kalaulah tidak berbekal kesabaran, rasanya sangat sulit untuk menjalaninya.

Ketika memasuki siang hari, jalan pun akan sedikit lenggang karena jarangnya orang yang beraktifitas di luar. Justru masjid-masjid yang penuh sesak oleh lautan manusia yang sekedar ingin menyejukkan diri, sekaligus menyejukkan hati dan jiwa dengan banyak membaca Al-qur’an. Sungguh rugi ketika cuaca panas menerpa, hati pun ikut panas karena tidak disiram dengan lantunan ayat-ayat Ilahi.

Kegiatan mahasiswa di bulan Ramadhan pun sedikit berubah, hari-hari yang biasa diisi dengan kuliah dan penuh dengan perjalanan kajian kepada syekh kali ini agak sedikit dikurangi untuk menjaga shaum agar tetap fresh hingga waktu buka tiba. Untuk menambal kekurangan tersebut, mahasiswa lebih banyak muroja’ah (mengkaji ilmu yang telah dipelajari) di malam hari.

Kedua, ghubar (badai pasir). Karena Ramadhan bertepatan dengan musim panas, maka tak jarang ghubar pun datang menerjang. Pernah terjadi ketika sedang bersiap menunggu waktu berbuka, tiba-tiba angin besar disertai debu datang menggulung langit. Seketika langit yang tadinya cerah menjadi gelap kemerah-merahan. Makanan pun sedikit tercampur dengan debu, tapi apadaya, karena lapar sudah mendarah daging makanan pun kita santap. 

Anehnya, meskipun ghubar mendatangkan madlorot, tapi tak sedikit warga sudan yang berharap datang ghubar. Karena ibarat  habis gelap terbitlah teramg maka habis ghubar datanglah kesejukan. Biasanya setelah ghubar datang, langit akan sedikit mendung dan udara pun akan terasa lebih sejuk.

Bahkan ketika hari kedelapan Ramadhan, hujan turun di malam hari setelah datangnya ghubar. Sontak hal ini agak aneh sekaligus mengherankan. Maklum saja, 8 bulan di Sudan belum pernah sekalipun merasakan hujan sekali pun. Kami yang sedang bersiap masak sahur pun dengan reflek pergi keluar menikmati indahnya rintik hujan. Benar, Ramadhan bulan yang penuh berkah.

Ketika masih duduk di bangku Tsanawiyah Pesantren Persatuan Islam 34 Cibegol saya sempat membaca sebuah hadits di kitab Bulughul Maram, ketika datang hujan Rasulullah sampai membuka baju supaya air hujan membasahi tubuhnya. Kemudian tak jarang juga kalangan orang arab apabila turun hujan mereka berlarian keluar sebagai rasa syukur akan turunnya hujan.

Heran memang, harus sebegitunya ketika turun hujan? Tapi sekarang saya merasakannya sendiri betapa bahagianya hati ini ketika daerah yang sangat kering dicucuri oleh rahmat Allah (hujan). 

Ketiga, kedermawanan orang-orang sudan. Hal itu terlihat ketika hendak berbuka, banyak sekali orang dermawan yang dengan tidak ragu membuka lebar pintu rumah mereka. Saya pun setiap tanggal genap di bulan Ramadhan ini selalu berbuka di kediaman Syekh Abdul Aziz bersama ratusan mahasiswa dari negara lain, bahkan disediakan pula tarhil (kendaraan jemputan) untuk memfasilitasi perjalanan ke rumahnya. Menu yang dihidangkan pun sangat beragam mulai dari berbagai jenis jus, aisy (roti), nasi, dan berbagai makanan khas sudan lainnya. 

Selain menyediakan buka di rumah-rumah, orang sudan pun terbiasa menyediakan makanan berbuka di pinggir-pinggir jalan, bahkan kendaraan-kendaraan yang lewat pun diajak untuk ikut buka bersama sambil melontarkan ucapan “Ramadhan kareem ya akhi!”. Inilah fenomena yang dinamakan begal Ramadhan

Kalo di Indonesia orang yang berbuka berebut mencari takjil, tapi di Sudan justru sebaliknya. Mereka beradu mulut hingga hampir terjadi baku hantam hanya untuk alasan yang sederhana, berebut orang di jalanan untuk buka shaum bersama mereka. Sungguh mulia niat mereka. Tak ada ikatan darah, tak ada ikatan persaudaraan, tapi yang ada hanyalah ikatan keimanan. 

Wajah-wajah penuh kebahagiaan akan nampak ketika banyak orang yang hadir di rumahnya untuk ikut ifthor bersama, tapi sebaliknya raut wajah penuh kecewa ketika orang menolak untuk buka bersamanya. Oleh karena itu, di setiap hari ganjil saya pun selalu berkeliling untuk mencoba berbuka di pinggir-pinggir jalan bersama mereka, selain untuk membuat mereka bahagia, tentunya untuk menghemat biaya pengeluaran juga..hehe.

Meskipun banyak penyedia ifthor, tapi kerinduan akan makanan Indonesia tak terelakkan. Sebetulnya beberapa bulan yang lalu sudah berdiri “Nusantara Resto” milik ketua PCI Persis Sudan yang menyediakan makanan khas Indonesia, namun sayang ketika bulan Ramadhan resto tersebut tutup karena ingin fokus beribadah selama bulan Ramadhan. 

Maka untuk mengobati rasa rindu tersebut, biasanya mahasiswa mendatangi undangan buka bersama dari KBRI, PPI, dan juga ormas-ormas lainnya di sudan yang tentunya menghidangkan makanan-makanan khas Indonesia. 

Dan menjelang masuk waktu maghrib, semua orang pun mulai khsuyuk menundukkan kepala mereka, berdoa dan bersyukur dipanjatkan dalam hati. Saya pun selalu berdoa supaya dapat menahan benih-benih rindu yang sudah tersimpan lama akan sosok keluarga, hingga suatu saat nanti kita akan dipertemukan kembali pada waktu yang tepat. 

Dari sekelumit kehidupan di Sudan, tak ayal tebersit pertanyaan “mengapa harus terus bertahan?”. Teringat sebuah pepatah “lautan yang tenang tidak akan melahirkan seorang pelaut ulung “. Artinya manusia berkualitas tak lahir hanya dengan kejapan mata, melainkan dari besarnya tempaan yang diterima sehingga menjadi sosok yang tangguh dan siap mengukuhkan Dienul Islam di seluruh penjuru dunia.

Galih Pribadi A

(Alumnus Pesantren Persatuan Islam 34 Cibegol)

 

 

 

 


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?