Komunitas Bentukan Pemuda Persis Terbitkan Harapan Baru

Komunitas Bentukan Pemuda Persis Terbitkan Harapan Baru

SHARE

“Selamat datang para eksekutor! Dulu ketika masih sekolah antum galau, melemparkan kritik pada Persis. Dan sekarang kegalauan itu diaktualisasikan, dieksekusi dengan karya,” jelas Eka Permana, Ketua Umum Pemuda Persis pada acara Silaturahmi 3 Forum Mubahatsah, Ahad, (31/07) Ciwidey, Kab.Bandung.

Silaturahmi 3 forum mubahatsah (grup WhatsApp) menghadirkan 6 komunitas di bawah naungan Pemuda Persis. Di antaranya Komunitas Usaha Pemuda Persis (KUPP), Badan Usaha Milik Jam’iyyah (BUMJ), Forum Muhadditsin Persis, Persis Photograpy, PersisDakwart dan Pesantren Sastra.

Eka berharap ada simbiosis mutualisme antar komunitas. Eka menilai, ragam potensi yang ada harus saling sinergi. Photografer misalkan, dapat bersinergi dengan para designer. Atau penulis dapat sinergi dengan forum Muhadditsin atau Komunitas usaha.

Persis Dakwart, komunitas yang berdiri di bawah Kominfo berkesempatan menyampaikan profilnya paling awal. Kholid Barkah sebagai punggawa Persisadakwart menyampaikan beberapa point terkait latar belakang dan program PersisDakwart.

“Kalau Persis pernah dikesankan galak dalam berdakwah, maka melalui Art, kami berharap stigma itu hilang,” papar Kholid.

Berikut program yang dicanangkan PersisDakwart:

1.Pembentukan Regional Persis Dakwart di 7 Kabuputen Kota

  1. Mengadakan Pesantren Desain bagi para pemula
  2. Mengadakan Road Show ke tiap-tiap Pesantren Persis.
  3. Merekomendasikan ke Bidgar Pendidikan PP. Pemuda Persis agar Desain Grafis dijadikan Ekskul Pesantren
  4. Mengagendakan Pameran Karya Grafis di event Persis dan Car Free Day.

6.Menyediakan jasa pelayanan desain bagi Jamiyyah Persis.

 

Berikutnya, Rizki Ramadan, perwakilan Persis Photografy membeberkan tujuan dan program komunitasnya, “Optimalisasi media sosial, dimana di situ kami publish foto-foto kegiatan jam’iyyah.”

Tujuannya agar dokumentasi setiap kegiatan jam’iyyah dapat diabadikan dengan baik. Dan tentu saja, hasil dokumentasi akan dibutuhkan jam’iyyah sebagai arsip.

Selanjutnya dari KUPP yang diwakili Deddy Sandi, menyampaikan bahwa kelahiran KUPP didasari atas pembacaan terhadap realita berwirausaha di Jam’iyyah yang masih lemah. Deddy pun menuturkan beberapa contoh sukses para sahabat Nabi yang berdakwah dan berdagang di jalan Allah.

KUPP sendiri merupakan komunitas di bawah tim ekonomi Pimpinan Pusat. Gebrakan KUPP di awal kepemimpinan Eka Permana cukup menjanjikan. Pasalnya, dalam pertemuan pertamanya, KUPP berhasil mengumpulkan saham sebesar 67,5 juta.

“Alhamdulillah, dalam pertemuan pertama, kurang dari 5 menit kami bisa mengumpulkan 67,5 juta,” ungkap Dedy.

Selain KUPP, Pemuda Persis pun memiliki Badan Usaha Milik Jam’iyyah (BUMJ). Dan pada kesempatan tersebut, Sopan Ansyari sebagai juru bicara menjelaskan beberapa hal terkait manfaat keberadaan BUMJ.

Sopan menuturkan bahwa BUMJ merupakan wadah bagi para investor.

“Ini wadah bagi para investor untuk menyalurkan investasinya untuk kemudian dikelola oleh jam’iyyah,” papar Sopan.

BUMJ yang berdiri di bawah bidang Ekonomi, bekerjasama dengan Kedai Sop Duren, Warung Nafiz, dan Black Martabak dalam program Investasi Saham.

“Investasi akan digolangkan di 3 usaha, di antaranya Kedai Sop Duren, Warung Nafiz, dan Black Martabak,” papar Sopan.

Selain investasi saham, BUMJ pun menawarkan investasi sedekah bagi para dermawan. Demikian dua program  yang disampaikan Sopan Anshary sebagai juru bicara.

Berikutnya, Forum Muhadditsin Persis disampaikan Ginanjar Nugraha.

Forum Muhadditsin Persis terlahir sebagai respons dan ikhtiar akan kebutuhan kaderisasi ulama di Persis. “In Sya Allah mereka yang tergabung di forum ini, akan melanjutkan perjuangan para ulama untuk duduk di Dewan Hisbah,” ungkap Ginanjar antusias.

Ginanjar pun menyebut bahwa forum yang diinisiasi olehnya, merupakan ruang publik untuk bersosialisasi dan mengemukakan ide. Di dalamnya terdapat para asatidz dari berbagai ormas, di antaranya dari NU, Muhammadiyah, Salafy, HTI dan sebagainya.

“60  hingga 70 persen yang terdapat dalam Forum ini berasal dari luar Persis. Sehingga kajian tercipta sangat dinamis,” terang Ginanjar.

Selanjutnya dari Pesantren Sastra disampaikan oleh Hilman Indrawan. Sebelum menjelaskan, Hilman terlebih dahulu klarifikasi logo Madrasah Pena dalam spanduk dan kaitannya dengan Pesantren Sastra (Pesat)

“Sebetulnya komunitas resmi di bawah Pemuda Persis itu adalah Pesantren Sastra. Adapun Madrasah Pena adalah komunitas yang lahir sebelum Pesat dan dapat dikatakan sebagai pemancing lahirnya Pesat. Dan kini keduanya saling sinergi dalam hal kaderisasi penulis,” jelas Hilman.

Pesat yang berdiri di bawah bidang Turats & Pemikiran Islam, memiliki program kaderisasi Penulis yang akan dikerjasamakan dengan Pesantren Persis. Sebelumnya, Madrasah Pena yang sebagian para punggawanya merupakan anggota Pesat telah berhasil melakukan kaderisasi di beberapa Pesantren.

Hilman menjelaskan, “Madrasah Pena yang mengakomodir potensi penulis muda di Pesantren Persis telah mengadakan pelatihan dan pembentukan Eskul di PPI 20 Ciparay. Dan kini telah berdiri eskul Studi Sastra Iqro (SSI) di bawah binaan Aldy Istanzia Wiguna, Kabid Kajian Pesantren Sastra.”

“Tulisan yang telah terkumpul akan didistribusikan, baik melalui website, seperti di Sigabah.com maupun melalui penerbitan buku,” lanjut Hilman.

Demikian beberapa komunitas yang dikenalkan Pemuda Persis. Terkumpulnya ragam potensi yang diakomodir Pimpinan Pusat Pemuda Persis menerbitkan harapan baru. Sinergitas di antara komunitas diharapkan mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi jam’iyyah. “Alhamdulillah komplit! bisa saling melengkapi satu sama lain,” ungkap salah seorang kader. (HI/Fz)