Kritik Nalar Hadis Khilafah Akhir Zaman (Kritik Atas Kritik)

Dipublish pada 05 Maret 2018 Pukul 12:44 WIB

323 Hits

Maraknya kajian akhir zaman belakangan ini, khususnya di kalangan generasi muda Zaman Now, menarik perhatian banyak pihak. Mulai dari ketertarikan terhadap konten, pemateri, hingga motif politik di balik gencarnya kajian dengan tema ini tak luput dari perhatian.

Salah satu konten kajian akhir zaman yang banyak dibicarakan berkenaan dengan hadis tentang Khilafah ‘alaa Manhajin Nubuwwah (khilafah berdasarkan metode kenabian), khususnya riwayat Imam Ahmad yang membagi masa kehidupan umat Islam menjadi lima periode:

Pertama, masa kenabian yang terjadi pada masa Nabi Muhammad saw. Kedua, masa kekhilafahan al-khulafaa’ ar-rasyidun. Ketiga, masa  Mulkan Azhzhan (kerajaan yang menggigit). Keempat, masa Mulkan Jabriyyah (kerajaan diktator), dan yang terakhir kembali ke khilafah kenabian.

Hadis ini dipandang oleh sebagian pihak sebagai basis ideologis tumbuh suburnya bibit-bibit aktivis pejuang khilafah, yang dianggap berbahaya bagi eksistensi NKRI, sehingga dicurigai sebagai bagian dari hadis politik yang dipengaruhi oleh unsur politis pula. Meski begitu, ada pula pihak yang menilai hadis ini dalam perspektif ilmiah ilmu hadis berkenaan dengan status kehujahannya, tanpa peduli atas muatan yang dikandungnya.

Kritik Atas Kritik
Kritik ilmiah kehujahan hadis ini muncul dari salah seorang generasi muda Persis, yang menyatakan bahwa hadis ini lemah (dha’if) kerena pada sanadnya terdapat dua rawi yang lemah: (1) Habib bin Salim, (2) Sulaiman bin Dawud.

Untuk Habib bin Salim, ia mengajukan dua penilaian: Pertama, Syadz apabila merujuk kepada penilaian tsiqah dari Imam Abu Hatim. Kedua, Munkar apabila merujuk kepada penilaian dari Imam Al-Bukhari (Fiihi Nazharun).

Untuk Sulaiman bin Dawud, ia menyatakan tsiqah namun dinilai ghalath oleh Ibn Hajar.  Ghalath versi Ibnu Hajar ditafsirkannya dengan: “Suka keliru dalam periwayatannya.”

Sehubungan dengan kritik ilmiah di atas perlu disampaikan beberapa catatan sebagai kritik balik atas kritikan itu sebagai berikut:

Pertama, Dinilai Tsiqah, Tapi Koq Syadz ?


  • Istilah Syadz adalah hadis yang diriwayatkan oleh rawi Maqbul (Rawi Shahih atau Hasan) mukhalafah (bertentangan) dengan periwayatan rawi lain yang lebih utama darinya. [1]

  • Mukhalafah ats-Tsiqat menurut para ahli hadis memiliki kaidah yang jelas, bukan sekedar asumsi atau indikasi terjadinya perbedaan riwayat. Para ahli hadis menetapkan lima hingga enam bentuk (shigah) mukhaalafah:


Pertama:

فإن كانت المخالفة بتغيير سياق الإسناد، أو بدمج موقوف بمرفوع، فيسمى المدرج

“Jika mukhalafah itu disebabkan merubah susunan sanad, atau menggabungkan mauquf (ucapan shahabat) dengan marfu’ (ucapan Nabi), maka dinamakan Mudraj.”

Kedua:

وإن كانت المخالفة بتقديم أو تأخير، فيسمى المقلوب

“Jika mukhalafah itu disebabkan mendahulukan atau mengakhirkan (rawi pada susunan sanad atau kalimat pada matan), maka dinamakan Maqlub.”

Ketiga:

وإن كانت المخالفة بزيادة راوٍ، فيسمى المزيد في متصل الأسانيد

“Jika mukhalafah itu disebabkan menyisipkan rawi (pada susunan sanad), maka dinamakan Al-Mazid fii Muttashil al-Asaanid.”

Keempat:

وإن كانت المخالفة بإبدال راوٍ براوٍ، أو بحصول التدافع في المتن ولا مرجح، فيسمى المضطرب

“Jika mukhalafah itu disebabkan mengganti rawi dengan rawi lain atau terjadi kontradiksi pada matan dan tidak dapat ditetapkan mana yang rajih (terkuat), maka dinamakan Mudhtharib.”

Kelima:

وإن كانت المخالفة بتغيير اللفظ، مع بقاء السياق، فيسمى المصحف

“Jika mukhalafah itu disebabkan merubah lafal namun susunan redaksinya tetap utuh, maka dinamakan Mushahhaf.” [2]


  • Dalam menilai Syadz rawi Habib, pengkritik tidak tidak menyebutkan tolok ukur (Shigah mukhalafahnya) selain indikasi bahwa Habib menyebut kalimat (kembalinya Khilafah ‘alaa Manhaj An-Nubuwwah) yang tidak disebut dalam riwayat lain semisal Ath-Thabrani, Ibnu Abu Syaibah, dan Al-Bazzar.

  • Riwayat Habib tidak memenuhi salah satu unsur Shigah mukhalafah itu. Tapi mengapa dinilai Syadz?


Dengan demikian, menilai seorang rawi sebagai Syadz tanpa menunjukkan fakta Mukhalafah-nya merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa, untuk tidak menyebut tasaahul (ceroboh).

Kedua, Dinilai Fiihi Nazhar, Tapi Koq Munkar?
Menurut pengkritik, Habib dinilai dhaif oleh Imam Al-Bukhari dengan kalimat: “Fiihi Nazhar”, namun dalam kesimpulannya pengkritik menilai Habib rawi yang Munkar. Dari situ tidak salah jika disimpulkan bahwa kalimat “Fiihi Nazhar” versi Imam Al-Bukhari dipahami oleh pengkritik maknanya sebagai rawi yang munkar. Benarkah begitu maksud Imam Al-Bukhari?

Maksud Imam Al-Bukhari: Fiihi Nazhar
Para ahli hadis telah memberikan beberapa penafsiran tentang maksud perkataan Imam Al-Bukhari demikian itu, misalnya:

قال الحافظ الذهبي: عبدالله بن داود الواسطي ، قال البخاري: فيه نظر ، ولا يقول هذا إلا فيمن يتهمه غالباً - أنظر ميزان الإعتدال ٢/٤١٦ -

وقال الحافظ الذهبي: إذا قال البخاري فيه نظر ، بمعنى أنه متهم أو ليس بثقة ، فهو عنده أسوأ حالاً من الضعيف - أنظر الموقظة في علم مصطلح الحديث: 43 -

وقال الحافظ ابن كثير : البخاري إذا قال في الرجل:(فيه نظر) فإنه يكون في أدنى المنازل وأردئها عنده – أنظر اختصار علوم الحديث : ٣٢٠ -

وقال الحافظ السخاوي: كثير ما يعبّر البخاري بـ (فيه نظر) فيمن تركوا حديثه - أنظر فتح المغيث ٢/١٢٢ –

Berbagai penjelasan para ahli hadis di atas menunjukkan bahwa kalimat: “Fiihi Nazhar” versi Imam Al-Bukhari maksudnya bahwa rawi yang dinilai itu Muttaham bil Kadzib (tertuduh dusta). Hal ini berbeda maksudnya dengan rawi yang dinilai Munkar al-Hadits oleh Imam Al-Bukhari, sebagai rawi pendusta (kadzdzab), sebagaimana dijelaskan oleh para ahli hadis berikut ini:

قال الحافظ الذهبي: نقل ابن القطان أن البخاري قال: من قلت فيه (منكر الحديث) فلا تحل رواية حديثه - - أنظر ميزان الإعتدال ١/٥ –

وقال المحدث أحمد شاكر : قول البخاري (منكر الحديث) فإنه يريد به الكذابين - أنظر الباعث الحثيث : ٣٢٠ –

Dengan demikian, menilai seorang rawi sebagai Munkar karena dinilai Fiihi Nazhar oleh Imam Al-Bukhari merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa, lagi-lagi untuk tidak menyebut tasaahul (ceroboh).

Munkar Secara Istilah Umum
Jika yang dimaksud dengan munkar oleh pengkritik itu dalam pengertian umum (Mushthalahat ‘Ammah), maka penilaian itu juga tidak tepat mengingat tidak sesuai dengan kriteria munkar dalam dua definisi berikut:

Definisi Pertama:

هو الحديث الذي في إسناده راو فَحُشَ غلطُه أو كثرت غفلته أو ظهر فسقه

Ini definisi yang digunakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani. [3]

Definisi Kedua:

المنكر هو ما رواه الضعيف مخالفاً للثقة

Ini definisi yang digunakan oleh Imam As-Sakhawi, salah seorang murid Al-Hafizh Ibnu Hajar. [4]

Dalam definisi pertama, munkar digunakan untuk rawi dhaif yang banyak salah dalam menerima (Farath/Katsrah al-Ghaflah) atau menyampaikan hadis (Fahusya/Katsrah al-Ghalath) atau rawinya fasik. Sementara Habib bin Salim tidak memenuhi salah satu unsur kedaifan itu.

Dalam definisi kedua, munkar digunakan untuk rawi dhaif yang mukhalafah dengan rawi yang tsiqah. Sementara riwayat Habib bin Salim tidak memenuhi salah satu unsur shigah mukhalafah itu.

Dengan demikian, menilai hadis khilafah akhir zaman riwayat Ahmad sebagai hadis dhaif karena kedhaifan Habib bin Salim merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa, lagi-lagi-lagi untuk tidak menyebut tasaahul (ceroboh).

 

 

Bandung, 5 Maret 2018

***

Penulis, Para Santri Pesantren Ibnu Hajar kelas Ulum al-Hadits

Editor: Amin Muchtar, Anggota Dewan Hisbah Persis

[1]Lihat, Fath Al-Mughits fii at-Ta’liq ‘Ala Taysir Mushthalah Al-Hadits, hal. 163

[2]Lihat, Syarh Kitab Nukhbah al-Fikr, hal. 48-49

[3]Lihat, Syarh Kitab Nukhbah al-Fikr, hal. 47

[4]Lihat, Fath Al-Mugits bi Syarh Alfiyah Al-Hadits, I:190

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?