Madinah, Kota yang Ramah dan Bersahabat.

Madinah, Kota yang Ramah dan Bersahabat.

Dipublish pada 25 Mei 2018 Pukul 05:59 WIB

322 Hits

Setelah empat hari tinggal di kota Mekkah Al Mukarramah, perjalanan dalam rangkaian ibadah umrah tanggal 20 Mei sampai dengan 29 Mei 2018 bersama PT. Karya Imtaq kali ini, tentu saja tidak hanya menunaikan ibadah umrah di Masjidilharam di kota Mekkah, tetapi juga diisi dengan perjalanan ke mesjid Nabawi di Madinah untuk berziarah, menunaikan ibadah salat wajib dan sunnah, serta amalan amalan lainnya di Mesjid  Nabawi.

Rasulullah SAW (570-632) telah mewariskan jejak sejarah pada periode Mekkah (13 tahun, mulai dari 13 Sebelum Hijrah sampai tahun pertama hijriyah) dan Periode Madinah (10 tahun, sejak tahun pertama hijrah sampai 10 tahun Hijriyah).

Sejak zaman Rasulullah SAW, masyarakat Madinah dikenal ramah dan toleran. Tepatlah jika Rasulullah kemudian mengembangkan sayap dakwahnya di kota Madinah. Di kota ini, telah ada jamaah kaum Anshar yang dengan tangan terbuka menerima kedatangan para muhajirin dari kota Mekkah.

Berangkat dari kota Mekkah hari Kamis, 24 

Mei 2018 Pukul 10. 00, cuaca sudah mulai panas. Bis yang kami tumpangi yang disopiri saudara Lukman TKI asal Cililin Bandung mulai beranjak meninggalkan kota Mekkah. Perjalanan dari Mekkah ke Madinah sekira 450 km ditempuh dalam waktu sekitar enam jam perjalanan. Dan tiba di Madinah pukul 16.00 menjelang azan ashar berkumandang.

Sepanjang perjalanan, yang terlihat hanyalah gurun pasir yang gersang dan gunung batu yang tandus. Cuaca begitu terik hingga mencapai 48 derajat. Jalanan cukup luas, mulus, dan lengang karena tidak terlalu ramai lalulintas siang hari di bulan ramadhan ini.

Buka Puasa dan Tarawih di Mesjid Nabawi

Suasana di Mesjid Nabawi agak berbeda dengan di Masjidil Haram, suasana begitu tertib dan teratur. Menjelang maghrib kaum muslimin berbondong-bondong menuju Mesjid Nabawi. Di dalam dan di halaman  mesjid, sudah bersiap ribuan jamaah untuk berbuka shaum. Nampak sebagian orang membagi-bagikan makanan dan sebagian lagi dengan sangat ramah menyambut kedatangan para jemaah. 

Dekat pintu Masjid Nabawi, seorang anak usia 10 tahunan, tiba tiba menggandeng saya dan dengan ramahnya menuntun kami ke tempat dimana hidangan yang disediakannya tersaji di dalam mesjid. Disitu, saya disambut ramah oleh  orang  yang menyediakan makanan itu. Sorot mata yang cerah, keinginan untuk berbagi, menyebabkan kami tak kuasa menolak ajakannya. Kami dituntunnya ke tempat dia menyediakan makanan untuk berbuka. Sebagian besar jamaah sudah duduk tertib menghadap sajian yang terhampar plastik panjang yang diisi dengan sajian khas tanah haram; kurma, segelas air zamzam, susu, roti, dan pisang. Sajian berbuka di masjid Nabawi lebih beragam dan lebih banyak dibandingkan di Masjidilharam. 

Ketika adzan maghrib berkumandang, jemaah dengan tertib mencicipi hidangan yang tersaji. Saya melihat sorot mata anak kecil yang menuntun kami  ke hidangan yang disajikannya begitu bahagia. Mereka berharap akan sabda nabi; “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka dia memperoleh pahalanya, dan pahala bagi yang berpuasa (menerima makanan) tidak dikurangi sedikitpun” (HR. At-Tirmidzi).

Keramahan penduduk Madinah menyambut siapapun yang datang ke mesjid Nabawi, mengingatkan saya akan keramahan orang-orang Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad yang melakukan hijrah dari Mekkah. Keramahan itulah yang membuat Nabi memilih Madinah sebagai tempat hijrahnya, dan keramahan itulah yang masih terpancar dari sorot mata orang-orang Madinah hingga kini.

Usai berbuka dan shalat maghrib di Masjid Nabawi, saya kembali ke hotel untuk berbuka makanan berat. Menjelang azan Isya berkumandang, saya berbegas kembali ke masjid yang jaraknya hanya sepenggelan. Hotel Al Nokbah yang disiapkan travel PT. Karya Imtaq begitu dekat dengan masjid, sehingga memudahkan jamaah untuk beribadah di Masjid Nabawi.

Prosesi tarawih di Masjid Nabawi, hampir sama saja dengan di Masjidilharam. Tarawih berlangsung 23 rakaat. Hanya setelah rakaat kesepuluh, pada malam itu diselingi dengan shalat jenazah. Pada saat shalat jenazah itu, saya laksanakan shalat witir, karena tidak ikut melanjutkan shalat tarawih sampai 23 rakaat. Saya memilih tarawih 11 rakaat.

Surat surat yang dibaca pada saat tarawih, nampaknya juga lebih panjang dari bacaan surat surat ketika tarawih di Masjidilharam. Namun karena dibacakan dengan lantunan suara imam yang merdu, suasana masjid nabawi yang hening, serta kekhusuan shalat tarawih, bacaan imam tidak terlalu terasa lama. Apalagi ketika dilangit langit masjid, tutup kubah bergeser dan terbuka, terlihat bulan sepenggalan menggantung diufuk langit. Subhanallah.

Di bulan suci ramadhan yang bertepatan dengan awal musim panas di saudi arabia, terasa hangat. Madinah memberi kesan yang mendalam bagi jamaah. Kedamaian, keramahan, dan ketenangan selalu membuat rindu untuk kembali ke tanah suci.

Undang kami dan saudara saudara kami untuk kembali berkunjung ke tanah suci-Mu...

Aamiin

Oleh: Dadan Wildan


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?