Mata Air Modernitas; Kegairahan Baru Peradaban Islam Indonesia

Mata Air Modernitas; Kegairahan Baru Peradaban Islam Indonesia

SHARE

Saat Jakarta kembali disapa hiruk pikuk rutinitas yang terus berdetak. Melihat kesibukan warga ibu kota, seperti disuguhi drama teatrikal tanpa henti. Pelbagai peran dimainkan dengan apik, dari pelancong yang menggeber kendaraan pribadi, sampai pejalan-pejalan kaki yang terus melangkahkan kedua kakinya menuju suatu tempat.

Di antara gugusan gedung tinggi pencakar langit, terselip dengan gagah sebuah masjid di komplek Bank Indonesia, Masjid Baitul Ihsan. Masjid ini berbentuk kotak sempurna berhias marmer berwarna abu, ditutup kubah yang dilapisi keramik berpola geometri dengan kombinasi warna biru dan krem. Terasa kental dengan sentuhan Eropa

Gambaran di atas bercerita tentang mulai menggeliatnya nuansa keagamaan di era modern ini. Hal tersebut merupakan bagian dari sebuah perubahan besar dalam kehidupan keislaman di Indonesia. Bahkan Yuswohady (2014:203) menyebutnya sebagai kegairahan baru dalam peradaban Islam di Indonesia. Kenapa disebut demikian? Karena perkembangan positif kehidupan keislaman ini terjadi di berbagai bidang kehidupan, mulai dari ekonomi dan bisnis, seni dan kebudayaan, pendidikan dan keilmuan, kegiatan dakwah hingga gaya hidup.

Salah satu fenomena menarik  yang perlu kita cermati adalah kehidupan masjid yang kian modern dan inklusif. Artinya masjid tidak hanya dijadikan tempat untuk kegiatan ibadah tapi juga menjadi tempat untuk menjalankan berbagai kegiatan positif yang membawa kemanfaatan universal kepada masyarakat.

Kehadiran masjid di tengah gempita kehidupan yang sibuk seakan memberikan nuansa kesejukan sendiri. Karena sesungguhnya, di balik hiruk pikuk kesibukan kehidupan modern, terselip kebutuhan yang tidak bisa dinafikan akan sisi spiritualnya. Kebutuhan semacam ini diterjemahkan Muwafik (2009:5) sebagai kecerdasan spiritual. Muwafik secara apik menjelaskan, kecerdasan spiritual dipercaya mampu mengantarkan seseorang pada ketenangan dan kesadaran diri yang tinggi saat melakukan berbagai pekerjaan.

Dalam kurun waktu yang cukup panjang, manusia memahami bahwa indikator dan syarat utama sebuah keberhasilan sangat ditentukan oleh kemampuan seseorang merespon hal-hal yang bersifat akademis. Seperti berhitung, berlogika, berbicara, dan berpikir secara sistematis. Kemampuan inilah yang disebut kecerdasan intelektual (IQ). Dalam perkembangannya, muwafik (2009:3) mengungkapkan bahwa kontribusi maksimal kecerdasan intelektual hanyalah 20 persen dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang.

Sementara itu, 80 persen sisanya ditentukan oleh kecerdasan emosional yang mencoba mematahkan paradigma kecerdasan yang hanya mengandalkan intelektual. Namun dalam perkembangan selanjutnya, diyakini bahwa kecerdasan emosional bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Sebagai ilustrasi, sebut saja seorang koruptor. Mereka memiliki tingkat kecerdasan emosional yang baik, seperti berkomunikasi dan memimpin orang lain. Tetapi, mengapa mereka tetap korupsi?

Jawabannya, karena mereka tidak memiliki kepekaan spiritual, moralitas, dan akhlaqul karimah. Inilah yang kita sebut sebagai kecerdasan spiritual. Namun sayangnya pusat kajian kecerdasan spiritual ini masih sebatas kajian yang sifatnya materi rasionalistik, sehingga tidak menyentuh langsung ke pusat kesadaran.

Kendati demikian, Piet (2006:89) tetap bersyukur karena paradigma kecerdasan ini telah mengubah cara pandang manusia dalam menilai kehidupan. Menurutnya, manusia telah lama terjebak dalam penjara rasionalisme-materialisme akibat sistem kehidupan kapitalis dan hegemoni. Karena itu geliat pertumbuhan dimensi religiusitas harus terus diamini.

Menurut hasil survei Gallup yang dilansir kembali oleh Yuswohady (2014:5), Indonesia masuk dalam daftar 10 negara paling religius. Gallup menemukan bahwa 99 persen orang Indonesia menilai agama merupakan hal penting dalam kehidupan keseharian mereka. Tak ayal lagi, lahirlah berbagai aktivitas untuk memenuhi panggilan jiwa yang dahaga akan spiritualitas tersebut.

Kembali ke Masjid: Shalat Sebagai Ruh Spiritual yang Menggerakan

Marilah kita mulai bagian ini dengan sebuah pertanyaan sederhana. Mengapa sekarang kita melihat hampir tidak ada hubungannya antara masjid-masjid yang ramai dengan jamaah, bahkan hampir setiap jumatan jamaah memadati masjid-masjid hingga pelataran, dengan kejahatan dan korupsi yang juga makin semarak? Maka di mana hubungan antara keduanya? Jika menurut Amien (1998:61) jawabannya karena ruh shalat belum benar-benar di hayati, selain itu shalat yang dilakukan masih secara mekanis, rutinitas, dan belum ditegakkan dalam kehidupan yang lebih kongkrit.

Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa masjid merupakan tempat yang penting dalam membangun masyarakat dan shalat adalah kegiatan utama di dalamnya. Maka diperlukan ikhtiar reflektif untuk menghidupkan kembali ruh mesjid dan shalat.

Apalagi pada zaman modern ini, saat kecenderungan materialisme yang kuat hampir menjalar berbagai lini kehidupan, maka tidak sedikit yang menghalalkan segala cara untuk pemenuhan hasrat materi itu. Keserakahan yang mulai menggerus batas-batas baik dan buruk serta halal dan haram. Sehingga kehadiran masjid dengan seluruh elemen yang melingkupinya dapat menjadi penawar dahaga di tengah kekeringan moral dan spiritual.

Maka hemat saya, kembali ke masjid dan tegakkan shalat. Bangun keshalihan di dalamnya, dan bawa keshalihan itu dalam rapat-rapat direksi, bawa energi spiritual itu dalam presentasi-presentasi produk perusahaan, dan bawa kejujuran vertikal itu dalam setiap sendi kehidupan. Dijamin, perusahaan akan mengalami kemajuan dan peningkatan, karena di dalamnya terlibat Sang Maha menggerakan, Sang Maha Pemberi rezeki yang tersirat dalam sujud-sujud para pekerjanya. Sungguh!

Menutup Wacana

Di bagian akhir ini, izinkan saya menuliskan kejeniusan spiritual seorang Cak Nun saat menulis puisi tentang masjid dengan judul Begitu Engkau Bersujud.

Begitu engkau bersujud, terbangunlah ruang yang kau tempati itu menjadi sebuah mesjid. Setiap kali engkau bersujud, setiap kali pula telah engkau dirikan masjid. Wahai, betapa menakjubkannya, berapa ribu masjid yang telah engkau bangun selama hidupmu? Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu meninggi, menembus langit, memasuki alam makrifat. Setiap gedung, rumah, bilik, atau tanah seketika bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud. Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan. Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan ke piring ke-ilah-an, menjadi serakaat sembahyang. Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara adzan.

Untaian syair di atas cukup menggetarkan kesadaran kita. Bahwa makna sesungguhnya dalam beragama bukan berada pada simbol-simbol keagamaan saja. Ketinggian spiritualitas manusia tidak bisa dilihat dari megahnya masjid yang dibangun, dari jubah yang dipakai, atau dari panjangnya janggut yang dipelihara. Kesemuanya itu menunjukan betapa pentingnya menghidupkan akar keberagamaan dan mengaktifkan sinyal spiritualitas dalam berbagai dimensi kehidupan. Menciptakan keterikatan kepada Ilahi dalam berbagai kondisi dan situasi, tidak hanya saat berada dalam lokus-lokus spiritul saja.

Kendati demikian, kehadiran masjid baik secara hakiki maupun secara nisbi tetap dipandang perlu terutama dalam konteks dunia modern sebagaimana saya paparkan di awal. Lagi pula tidak ada salahnya, jika gagasan ini diterima dalam bentuk semangat membangun masjid secara fisik di berbagai perusahaan Indonesia. Karena itu adalah bagian dari geliat kegairahan peradaban muslim hari ini. Dihadirkannya sentuhan arsitektur masjid yang modern dan tidak lagi konservatif.

Dengan begitu masjid menjadi kian open-minded, relevan, dan down –to-earth menjawab persoalan-persoalan aktual dimensi modernitas. Masjid kian menawarkan kemanfaatan universal kepada stakeholders-nya. Sekian!

 

 

***

Oleh: Lida Maulida, S.Kom.I, Ketua Umum PP Himi Persis