Melapangkan Beban Hidup; Pahami Alasan Terlahir Ke Muka Bumi

Melapangkan Beban Hidup; Pahami Alasan Terlahir Ke Muka Bumi

Dipublish pada 23 Desember 2018 Pukul 22:38 WIB

402 Hits

Mari kita awali dengan memahami alasan mengapa kita terlahir ke muka bumi. Sebab dengan memahaminya, bisa membuat kita menyadari seharusnya melangkah ke arah mana. Bahkan, bisa membuat diri kita tertenagai untuk kembali bangkit, kembali menatap masa depan sekali lagi.

Apakah kita tercipta begitu saja dan menjalani kehidupan ini dengan sendirinya? Tanpa ada yang menciptakan dan menggenggam kehidupan kita? Tentu tidak. Ada alasan kenapa kita terlahir ke muka bumi ini.

Kau yang Terpilih

Hari ini kita bisa hidup di dunia, karena sudah tertakdir. Allah memilih kita untuk menjalani kehidupan ini. Allah ingin memberi banyak kebaikan yang tak terbatas, saat takdir hidup sebagai seorang manusia menjadi kenyataan di hari ini. Kebaikan demi kebaikan itu akan terus menyelimuti dirimu selama di dunia bahkan hingga ke akhirat kelak, saat kita mampu menghamba kepada Allah SWT semata.

Kebaikan yang dimaksud adalah substansinya. Meski kita tahu bahwa dinamika hidup tak hanya terasa manis, tetapi juga pahit dan memilukan. Meski pahit bahkan terasa sangat menyedihkan, tetap menjadi nilai kebaikan di pandangan Allah, selama kita menghambakan diri kepada Allah. Selama kita menundukan hati dan pikiran kita untuk mengikuti ritme ujian-ujian-Nya. Kesabaran itulah yang mengubah nilai dan makna hidup yang sedang dijalani sebagai sebuah kebaikan.

Kau seorang Pemenang

Salah satu yang patut kita syukuri selanjutnya adalah bahwa kita bisa terlahir ke dunia ini dengan melalui proses kompetisi. Kita berkompetisi dengan jutaan sel sperma lainnya saat ada dalam rahim ibu. Kita yang terlahir ke muka bumi, sejatinya telah memenangkan kompetisi yang luar biasa itu.

Mental pemenang harusnya terus tumbuh dalam jiwa dan pikiran kita. Jangan sampai ketakutan, kesedihan, kegagalan-kegagalan dan kekurangan yang ada dalam dirimu menutupi kesadaran. Kesadaran tentang diri kita sebagai yang terpilih dan seorang pemenang.

Kita harus terus menghidupkan optimisme yang ada dalam hati. Apakah kita tak percaya bahwa Allah mendengar semua doa-doa yang kita panjatkan pada-Nya? Apakah kita memiliki prasangka bahwa Allah tak akan mewujudkan mimpi-mimpi besar kita? Tentunya Allah akan mendengar doa dan mengabulkannya. Allah juga maha berkuasa atas hidup kita, Allah pasti akan memberikan karunia-Nya kepada mereka yang beriman dan bertawakal hanya kepada-Nya.

Tentang Iman dan Tawakal

Keimanan pada Allah adalah hal fundamental dan alasan terbesar hadirnya sebuah kebahagiaan, hadirnya kekuatan besar, munculnya kemampuan-kemampuan terbaik diri kita, serta alasan terbesar kita bisa terus bertahan dalam kondisi terburuk. Sedangkan tawakal (menggantungkan seluruh harapan dan hasil ikhtiar diri kita) adalah bentuk nyata dari keimanan. Siapa saja yang mampu bertawakal hanya kepada Allah, maka ia akan terlepas dari belenggu-belenggu yang membebani jiwa dan pikirannya. Ia akan menjadi orang merdeka, benar-benar manusia sejati. Kebaikan dan kebahagian menghampiri orang tersebut, meski kenyataan hidupnya terlihat pahit bagi oranglain.

Kesadaran ‘Menaklukan’ Dunia 

Kesadaran berikutnya, yang mesti terus tertanam dalam hati, jiwa dan pikiran kita adalah menaklukan dunia. Maksudnya, Dunia dan segala godaannya tak boleh membuat kita lalai terhadap ketaatan kepada Allah. Kita harus melihat bahwa dunia itu ujian. Jangan sampai ada perasaan kita rendah, hina, minder dan lainnya disebabkan kita tak memiliki banyak uang, tak memiliki kekayaan dan karir mulus seperti tetangga sebelah, teman dan saudara kita.

Ali bin Abi Thalib pernah menyebutkan, siapa yang tau hakikat Dunia maka ia merasakan setiap ujian/musibah sebagai hal yang biasa. Dunia tak boleh sampai membuat diri kita silau. Fokus kita menjalani hidup ini adalah mardhatillah (keridhoan dari Allah SWT).

Dunia harus takluk pada diri kita. Tandanya adalah kita menjalani kehidupan yang berjalan saat ini, kita tak mencerca diri, kita terus menjalankan ketaatan kepada Allah SWT tanpa sedikitpun perasaan ingin mendapatkan pujian dan perhatian manusia lainnya.

Memahami Godaan

Satu hal yang pasti terjadi saat kita hidup; mendapatkan berbagai godaan kehidupan dunia. Adakalanya berbentuk  manis, adakalanya pahit. Godaan itu akan selalu muncul dari berbagai arah. Mulai dari dalam diri kita, keluarga, sahabat dan masyarakat.

Godaan dari dalam diri, muncul karena kita memiliki hawa nafsu dan di saat yang sama kita memiliki musuh yang bernama setan. Hawa nafsu ini bisa membawa kebaikan jika kita berhasil menaklukannya. Sayangnya, tak mudah. Sulit banget menaklukan hawa nafsu yang ada dalam diri kita. Satu-satunya cara adalah dengan muraqabah kepada Allah. Kita mendekatkan diri kepada Allah dimanapun dan kapanpun kita berada.

Selain itu, godaan dalam diri kita muncul karena kita memiliki pikiran dan perasaan. Kita sering terjebak dalam cara pandang keumuman manusia. Dimana saat miskin, terpuruk, mengalami kegagalan kita menilainya sebagai sebuah kehinaan. Dimana karir bagus, rezeki bagus, punya banyak keberuntungan dan bisa mengukir prestasi kita menilainya sebagai sebuah kemuliaan.

Padahal tidak demikian, keduanya sama-sama godaan. Godaan bagi pikiran dan perasaan kita. Apakah kita akan bersyukur atas apa yang Allah berikan? Apakah kita juga bisa bersabar atas apa yang Allah tetapkan untuk diri kita? Jika jawabannya ya, maka Allah akan memberikan karunia dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Oranglain boleh kaya raya, orang lain boleh karirnya melesat, oranglain boleh memiliki segudang prestasi dan hal-hal lain yang membuat kita terpesona namun kadang bikin panas hati (hehe). Hati, pikiran dan perasaan kita mesti tetap bersih. Sadarkan diri kita, bahwa Allah juga memberi banyak kebaikan pada diri kita. Abaikan saja penilaian manusia dan fokuslah pada upaya meraih perhatian dari Allah SWT saja, maka kelak sakinah (ketenangan) akan diturunkan pada hati kita. Kalau sudah sakinah, maka kita bisa tetap berdiri kokoh meski kondisi hidup sedang pahit dan penuh goncangan masalah. Jiwa kita stabil, meski harus digunjing dan diomongkan oleh banyak orang.

Godaan berikutnya muncul dari keluarga. Bisa dari ayah, ibu, mertua, istri, suami dan anak-anak kita. Mereka mengeluh, mereka meminta agar kita berbuat maksimal. Padahal kita sedang berjuang. Padahal mereka belum tau betapa getirnya perjuangan diri kita. Lagi-lagi, ini juga godaan. Apakah kita akan kehilangan akal sehat? Apakah kita akan menyakiti diri kita? Ataukah kita masih mengimani Allah? Semoga kita masih tetap mengimani Allah, sehingga tindakan yang kita pilih berdasarkan atas apa yang Allah ridhoi. Meski, keluarga kita mungkin tak menyukai pilihan kita.

 

 

 

***

Penulis: Taufik Ginanjar (Konsultan Psikologi Remaja dan Keluarga)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?