Memaknai Sejarah Hima Persis; 21 Tahun Mengabdi

0
55

oleh : Ridwan Rustandi, Kader Hima Persis dan Presidium MPO Hima Persis Jawa Barat

***

Kaum terpelajar adalah bagian dari entitas masyarakat yang memiliki peran penting. Tugas kaum terpelajar adalah membumikan kesadaran.

Kesadaran pada hakikatnya akan melahirkan gagasan dan perlawanan, gagasan sebagai lokomotif dan perlawanan sebagai sebuah manifestasi perjuangan.

Dalam sejarah selalu ada harapan yang mesti dihidupkan. Harapan adalah cahaya yang diwariskan dari masa ke masa. Maka, kunci untuk menghidupkan harapan tersebut adalah dengan membangun pengkaderan.

Membentuk kader yang loyal, militan dan konsisten memperjuangkan harapan gerakan dan ummat. Maka pada posisi ini Hima Persis adalah bagian dari entitas gerakan mahasiswa yang harus memiliki kesadaran gagasan, perlawanan, perjuangan dan pengabdian.

Bagi Hima Persis, 21 tahun mengabdi untuk jamiyyah, umat Islam dan bangsa Indonesia adalah waktu yang tidak bisa bisa dibilang sebentar atau lama. Sebab, ukuran lama dan sebentar selalu bersifat nisbi.

Angka 21 kalau merujuk pada ukuran demografis masuk pada kategori usia produktif. Kriteria usia produktif didasarkan pada proses menuju kematangan pemikiran, kondisi mental yang stabil, potensi energi dan kreatifitas yang mumpuni. Sehingga, dengan kondisi ini kategori usia produktif dipandang mampu menanggung beban usia non produktif (usia 65 tahun ke atas).

Sepanjang 1996 sampai 2017 Hima Persis sebagai sebuah organisasi telah mengalami berbagai fase perjuangan, proses perkembangan dan hilir mudik pelaksanaan pengkaderan.

Fase kelahiran embrio, ideologisasi gerakan, internalisasi dan eksistensi gerakan, kaderisasi, nasionalisasi dan diplomasi gerakan sampai fase kolektifitas telah berhasil mempertahankan Hima Persis dari dinamika gerakan mahasiswa baik pada skala regional maupun nasional.

Asas Perjuangan
Setidaknya, kalau merujuk pada konstitusi Hima Persis, maka ada tiga asas utama bagi perjuangan pergerakan Hima Persis. Hal ini berkesesuaian dengan peran Hima Persis baik sebagai organisasi mahasiswa, organisasi otonom dan organisasi pengkaderan.

Ketiga asas perjuangan yang dimaksud adalah spirit tajdid, spirit intelektualisme dan spirit amar makruf nahi munkar. Pada yang pertama, asas perjuangan dengan spirit tajdid diambil dari uswah gerakan persis.

Sebagaimana disampaikan KHM. Isa Anshary, bahwa kaidah revolusi Persis mengambil tiga posisi utama, bahwa tajdid dilakukan dengan terlebih dahulu merubah kondisi personal sebelum kondisi komunal, merubah kondisi batiniah sebelum kondisi jasmaniah dan merubah dari atas (struktural) dan membangun dari bawah (kultural).

Pada yang kedua, asas perjuangan intelektualisme untuk memainkan peran sebagai organisasi kaum terpelajar. Asas ini memandang bahwa organisasi pergerakan hidup melalui serangkaian gagasan dan perlawanan.

Sebagaimana diungkapkan Takashi Shiraishi bahwa kemunculan organisasi pergerakan dimulai melalui diskusi, konsolidasi, propaganda dan aksi. Intelektualisme adalah ruh organisasi dalam membaca dan memetakan gerakan organisasi. Dan pada yang terakhir, asas perjuangan Hima Persis adalah amar makruf nahi munkar.

Asas ini sejalan dengan falsafah gerakan Hima Persis sebagai organisasi pengkaderan dengan mengadopsi nilai-nilai ulul albab. Asas ini harus menjadi landasan dalam mengaktualisasikan gagasan pergerakan. Sebab bagaimanapun, ulul albab adalah falsafah, identitas dan karakteristik gerakan Hima Persis.

Masa Ke(c)emasan
Hari ini, setelah 21 tahun mengabdi Hima Persis memasuki fase baru menuju masa ke(c)emasan. Untuk mengatakan fase keemasan disebabkan berbagai faktor, pertama, karena sudah tegasnya lumbung kader Hima Persis yang memiliki potensi besar untuk pengembangan organisasi (alumni PPI); kedua, eksistensi organisasi Hima Persis yang sudah mulai diakui keberadaannya baik pada skala regional maupun nasional; ketiga, jaringan pergerakan Hima Persis yang semakin luas; keempat, keberadaan Hima Persis di jamiyyah Persis kian dibutuhkan; kelima, kian banyaknya alumni Hima Persis yang mengisi post strategis dalam konteks kejamiyyah maupun kebangsaan.

Namun, fase keemasan ini akan berubah jadi fase ke(c)emasan manakala hari ini kader Hima Persis belum mampu memanfaatkan potensi organisasi ini.

Ketersediaan kader, harus dibarengi dengan kelengkapan instrumen dan kejelasan sistem kaderisasi. Potensi jaringan Hima Persis harus dibangun, dipelihara dan ditindaklanjuti untuk kepentingan dakwah organisasi. Serta, kehadiran para alumni Hima Persis di jamiyyah maupun pada skala yang lebih luas seperti negara harus mampu menampilkan idealisme gerakan.

Kesemuanya ini tentunya menjadi tanggung jawab kader Hima Persis untuk menjaga gerakan dari penyakit-penyakit organisasi yang akan membawa Hima Persis di luar koridor ideologi pergerakan.

Tentunya, kita tidak menginginkan di usia ke 21 ini Hima Persis berada pada fase ke(c)emasan yang pada akhirnya jejaknya menjadi hilang?

Arena Perjuangan
Memaknai jejak langkah pergerakan Hima Persis adalah sebuah keniscayaan yang harus dimiliki kader. Hal ini adalah bagian dari proses aktualisasi nilai-nilai Ulul Albab sebagai ruh dan cita-cita Hima Persis. Salah satu karakteristik utama kader Hima Persis adalah berkesadaran sejarah, kesadaran ini dibentuk sebagai tafsiran prospektif untuk pegerakan di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Perjuangan pergerakan Hima Persis dimulai proses pembentukan kader ideologis yang memahami ruh perjuangan dan dimensi gerak Hima Persis.

Dari kader ideologis akan melahirkan gerakan ideologis, dalam hal ini idealisme gerakan dibangun dan dipelihara oleh semua kader dan berwujud sebagai sebuah kesadaran kolektif. Sehingga, gerakan ideologis ini akan melahirkan peradaban. Bagi Hima Persis peradaban mesti dibangun dari fondasi nilai-nilai Ulul Albab.

Secara praktis, peradaban Ulul Albab yang dicita-citakan Hima Persis diaktualisasikan melalui tiga gerakan utama, yakni Intellectual Movement, Social Movement dan Values Political Movement. Pada yang pertama, gerakan intelektual Hima Persis dipandang sebagai fondasi, sebagai dasar, sebagai titik berangkat pergerakan. Dinamika intelektualitas kader dihidupkan dalam berbagai forum kajian dan diskusi. Simbol intelektualitas ini adalah kampus sebagai tempat awal yang membentuk dan melahirkan kader Hima Persis.

Pada yang kedua, gerakan sosial Hima Persis sebagai salah satu ruang investasi dan manifestasi kader Hima Persis. Sangat penting bagi Hima Persis untuk melakukan khidmat terhadap ummat. Keberadaan Hima Persis mesti dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya. Simbol gerakan sosial ini adalah masyarakat, sebagai ruang investasi kader untuk berkhidmat terhadap lingkungannya. Perubahan sosial-kemasyarakat adalah bagian dari membumikan kesadaran dengan menginduk pada dakwah jamiyyah.

Dan pada yang ketiga, gerakan politik nilai Hima Persis dibangun di atas moralitas dengan merujuk pada manhaj gerakan politik nabi. Politik nilai Hima Persis harus di bangun dengan akhlak kader yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Simbol gerakan politik nilai ini adalah negara, sebab Hima Persis mencita-citakan kader yang siap menjadi negarawan yang memiliki pemikiran cemerlang, akhlak yang beradab dan kepeduliaan terhadap ummat. Negara menjadi ruang aktualisasi dakwah bagi kader Hima Persis. Negara menjadi washilah untuk membumikan nilai-nilai ulul albab, dan kekuasaan terhadap negara adalah akses untuk membangun peradaban ulul albab.