Menelusuri Jejak A. Hassan Di Singapura

Dipublish pada 10 Maret 2018 Pukul 23:44 WIB

213 Hits

Setiap kali berkunjung ke Singapura, saya selalu teringat kepada salah seorang tokoh ulama besar Persatuan Islam (Persis), yakni Ahmad Hassan yang lahir dan tumbuh besar di akhir abad 19 dan awal abad 20. Saya juga berkesempatan bersilaturrahim dengan jamaah Persis di Singapura, yang dipimpin Ustadz Kamarudin Ahmad Mustafa di kantor Persis Singapura Jalan Sembawang Road.

Ahmad Hassan--- nama sebenarnya Hassan bin Ahmad, tetapi berdasarkan kelaziman penulisan nama orang keturunan India di Singapura, yang menuliskan nama orang tua (ayah) di depan, maka Hassan bin Ahmad dikenal dengan nama panggilan Ahmad Hassan. A. Hassan, lahir di Jl. Minto Road, Singapura pada tahun 1887. Jalan Minto Road, sekarang masih ada. Sebuah jalan yang tidak terlalu jauh dari komunitas Arab di Singapura. Jejak rumah A. Hassan dilahirkan, tentu sudah tidak ada lagi. Jl. Minto Road, sudah dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan, dan perbankan.

[caption id="attachment_7517" align="aligncenter" width="410"] Mesjid Sultan di jalan Arab Street Singapura[/caption]

A. Hassan, berasal dari keluarga campuran Indonesia dan India. Ayahnya bernama Ahmad, juga bernama Sinna Vappu Maricar, seorang penulis yang ahli dalam agama Islam dan kesusastraan Tamil. Ahmad pernah menjadi redaktur majalah Nur al-Islam (sebuah majalah dan sastra Tamil), di samping sebagai penulis beberapa buah kitab dalam bahasa Tamil dan beberapa terjemahan dari bahasa Arab. Ahmad sering pula berdebat dalam bahasa dan agama serta mengadakan ruang tanya jawab dalam surat kabarnya. Sedangkan ibunya bernama Muznah yang berasal dari Palekat Madras, tetapi lahir di Surabaya. Ahmad dan Muznah menikah di Surabaya ketika Ahmad berdagang ke kota Surabaya, dan kemudian mereka menetap di Singapura.

Masa Kecil A. Hassan

Masa kecil A. Hassan dilewatinya di Singapura. Pendidikan yang dialaminya dimulai dari sekolah dasar, akan tetapi tidak pernah diselesaikannya. Kemudian ia masuk sekolah Melayu dan menyelesaikannya hingga kelas empat. Ia lalu memasuki sebuah sekolah dasar pemerintah Inggris sampai pada tingkat yang sama, di samping belajar bahasa Tamil dari ayahnya. Di sekolah Melayu itulah ia belajar bahasa Arab, Melayu, Tamil, dan bahasa Inggris. Sekitar usia tujuh tahun, ia pun sebagaimana anak-anak pada umumnya, belajar Al-Qur'an dan memperdalam agama Islam. A. Hassan mulai bekerja mencari nafkah pada usia 12 tahun sambil belajar privat dan berusaha untuk menguasai bahasa Arab, dengan maksud agar dapat memperdalam pengetahuannya tentang Islam. 

A. Hassan bekerja pada sebuah toko kepunyaan iparnya, Sulaiman, sambil belajar mengaji pada Haji Ahmad di Bukittiung dan pada Muhammad Thaib seorang guru yang terkenal di Minto Road. Pelajaran yang diterima A. Hassan pada saat itu, sama saja dengan apa yang diterima oleh anak-anak lain, seperti tata cara shalat, wudlu, shaum, dan lain-lain A. Hassan lebih banyak mempelajari ilmu nahwu dan shorof pada Muhammad Thaib. Sebagai orang yang keras kemauannya dalam belajar nahwu dan shorof, ia pun tidak keberatan jika harus datang dinihari sebelum shalat subuh. Setelah kira-kira empat bulan belajar nahwu dan shorof, ia merasakan bahwa pelajarannya tidak mendapat kemajuan, karena apa yang diperintahkan oleh gurunya hanyalah untuk dihafal dan dikerjakan tanpa dapat dimengerti, sehingga akhirnya semangat belajarnya mulai menurun (Mughni, 1980:12)..

Dalam keadaan demikian, pada saat gurunya pergi menunaikan ibadah haji, ia beralih mempelajari bahasa Arab pada Said Abdullah Al-Musawi selama tiga tahun. Di samping itu, ia pun belajar pada pamannya, Abdul Lathif seorang ulama yang terkenal di Malaka dan Singapura, serta belajar pula pada Syekh Hassan seorang ulama yang berasal dari Malabar, dan Syekh Ibrahim seorang yang berasal dari India. Dalam mempelajari dan memperdalam agama Islam dari beberapa orang guru tersebut kesemuanya ditempuh sampai kira-kira tahun 1910, menjelang ia berusia 23 tahun (Mughni, 1980:12).

Di samping belajar memperdalam agama Islam, dari tahun 1910 hingga tahun 1921, A. Hassan melakukan berbagai macam pekerjaan di Singapura. Sejak tahun 1910 ia telah menjadi guru tidak tetap di madrasah orang-orang India di Arab Street dan Baghdad Street serta Geylang Singapura hingga tahun 1913. Kemudian menjadi guru tetap menggantikan Fadlullah Suhaimi pada Madrasah Assegaf (Madrasah Al-Sagoff) di Jalan Sulthan.

Mengajar di Madrasah Al-Sagoff

Di Jl. Arab Street, terdapat mesjid Sultan, yang merupakan Mesjid Tertua di Singapura. Di sebuah negeri yang sekuler seperti Singapura, di mana kebebasan beragama dijamin namun juga dibatasi oleh kepentingan orang lain yang berbeda keyakinan, tidak ada adzan yang berkumandang di masjid atau surau. Adzan dilarang untuk dikumandangkan keras-keras keluar dari masjid. Tetapi, hal ini tidak berlaku di wilayah masjid Sultan. Di sekitar Arab Street ini, adzan boleh dikumandangkan melalui pengeras suara, dan menjalankan fungsinya sebagai pengingat dan pemanggil umat untuk menunaikan ibadah shalat. Di tempat lain, seseorang boleh melakukan adzan di masjid, namun suaranya tidak boleh keluar dari masjid. Ini yang diberlakukan oleh Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) - sebuah lembaga semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Indonesia yang memegang penuh otoritas beragama Islam di sini.

Madrasah Assegaf---atau Al-sagoff---tempat A. Hassan mengajar dulu, sekarang masih berdiri kokoh dan memiliki banyak murid. Di Depan bangunan Utama, tertulis; Al-Sagoff Arab Scholl dengan angka tahun 1912 dan angka tahun Hijriyah 1330. Madrasah ini merupakan madrasah yang pertama kali didirikan di Singapura oleh seorang pengusaha Arab bernama Mr. Syed Mohamed Alsagoff. Madrasah ini, berada di tengah keramaian kota Singapura, tepatnya di 111 Jalan Sultan, Singapore. Saya berkesempatan mengunjungi madrasah ini dimana A. Hassan pernah mengajar dulu. Di sekolah ini, anak-anak muslim terutama dari keturunan Melayu, bersekolah dan menerima pelajaran Agama Islam. Tentu saja, faham keagamaan yang diberikan, tidak jauh berbeda dengan faham keagamaan yang dianut oleh komunitas melayu Singapura pada umumnya. Di Singapura, sekolah pemerintah tidak memasukkan kurikulum pendidikan agama. Untuk itu, madrasah adalah solusi untuk anak kita mendapatkan pendidikan agama yang layak dari jalur sekolah.

Sekitar tahun 1912-1913, A. Hassan menjadi anggota redaksi surat kabar Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Singapore Press di bawah pimpinan Inche Hamid dan Sa'dullah Khan. Ia banyak menulis artikel tentang agama Islam yang bersifat nasihat, anjuran berbuat baik dan mencegah kejahatan yang sering diketengahkannya dalam bentuk syair. Tulisan-tulisan A. Hassan banyak pula menyoroti masalah aqidah dan ibadah, dan kadang-kadang tulisannya bersifat mengkritik hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, misalnya yang mengecam qadli dalam memeriksa suatu perkara dengan cara mengumpulkan tempat duduk pria dan wanita dalam satu ruangan (Mughni, 1980:12; Anshary, 1984:18).

Di samping itu, pidato-pidatonya pun kadang-kadang bersifat kritis, seperti halnya dalam sebuah pidato ia mengecam kemunduran ummat Islam, sehingga oleh pihak pemerintah ia dianggap berpolitik dalam pidatonya itu. Akibatnya ia tidak diperkenankan lagi berpidato di muka umum. Setelah berhenti beberapa saat, sejak tahun 1915-1916, ia kembali aktif membantu surat kabar Utusan Melayu dengan bentuk dan sifat tulisan yang sama. Dalam karirnya sebagai pengarang di Singapura, ia pernah membuat cerita humor yang berjudul "Tertawa" sebanyak empat jilid. Selain itu, ia pun tidak segan-segan bekerja menjadi buruh toko, berdagang tekstil, permata, minyak wangi, menjadi agen distribusi es, dan agen vulkanisir ban mobil. Ia pernah pula menjadi juru tulis di kantor jemaah haji di Jeddah Pilgrrims Office Singapura serta menjadi guru bahasa Melayu dan bahasa Inggris di Pontian Kecil, Sanglang, Benut, dan Johor (Mughni, 1980:14; Anshary, 1985:18)

Pada tahun 1921, A. Hassan hijrah dari Singapura ke Surabaya dengan maksud untuk mengambilalih pimpinan toko tekstil yang menjadi milik pamannya, Haji Abdul Lathif. Pada masa itu Surabaya menjadi tempat pertikaian antara "kaum muda" dengan "kaum tua". Kaum muda dipelopori oleh Faqih Hasyim, seorang pendatang yang menaruh perhatian dalam masalah-masalah keagamaan. Ia memimpin kaum muda dalam upaya melakukan gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Surabaya dengan cara tukar pikiran, tabligh, dan diskusi-diskusi keagamaan. Kaum muda di Surabaya ini mendapat pengaruh pembaharuan Islam dari karangan-karangan Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah, dan Zainuddin Labay dari Sumatera serta Ahmad Soorkati dari Jawa.

Haji Abdul Lathif, paman A. Hassan yang juga gurunya pada masa A. Hassan masih kecil, mengingatkan A. Hassan agar tidak melakukan hubungan dengan Faqih Hasyim yang dikatakannya telah membawa masalah-masalah pertikaian agama di Surabaya, dan dianggap pula oleh pamannya sebagai orang Wahabi. Tetapi, justru sejak itulah, A. Hassan lebih banyak bergaul dengan komunitas penganut faham wahabi. Dari pergaulannya inilah, A. Hassan tertarik untuk menyebarkan faham al-Qur’an dan Sunnah. Di kemudian hari, ketika A. Hassan hijrah dari Surabaya ke Bandung, ia menjadi tokoh yang berpengaruh di jam’iyyah Persatuan Islam.

Oleh: Prof. Dr. H. Dadan Wildan Annas, M.Hum

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?