Mengembalikan Fungsi Mahasiswa sebagai Agent of Change

0
405

Pergolakan pemikiran telah menghinggapi alam pikiran mahasiswa atau biasa disebut kaum intelegensia. Hal ini menjadi semacam stimulus terbentuknya paradigma terpola untuk merekayasa tangga kesuksesan. Pergolakan itu dimulai dengan cara menerawang masa depan (forecasting), membulatkan tekad (dedication) dan meneguhkan pendirian (loyality). Demikian itu, bahwa dengan menuntut ilmu atau katakanlah kuliah merupakan tahap yang mesti dilewati oleh seorang mahasiswa.

Mengingat hegemoni modernisme telah menjadi tantangan yang perlu dihadapi setiap mahasiswa. Lalu modernisme perlu diiringi dengan penguatan intelektual agar tidak tergilas dimakan zaman. Seorang filsuf Rene Descartes mengatakan, “Aku berpikir, maka aku ada”. Sehingga dengan berpikir, maka seseorang akan dikatakan ada dalam mewarnai kehidupannya. Bagi kaum intelektual, bukan zamannya lagi untuk berpangku tangan untuk menghayalkan masa depan. Tapi, mulai menata ke depan, bahwa akan melakukan yang terbaik bagi agama dan bangsa Indonesia tercinta. Kemudian menggali potensi masing-masing dengan penuh perjuangan demi menggagas peradaban yang baru.

Dalam kerangka aktivisme, mahasiswa kerap dijuluk sebagai agent lokomotif, agent of change dalam pranata sosial. Hal itu tentu menjadi tanggung jawab besar dalam masyarakat dan bangsa. Setidaknya ada hal bermakna yang dapat dilakukan bagi lingkungan dimana ia berada.

Di waktu yang sama, kita menyaksikan presentasi situasi dimana nampak terjadi pergeseran nilai dan budaya, seperti sopan santun yang mulai tergerus berganti dengan premanisme, ramah tamah berganti vandalisme dan liberalisme yang kian menghinggapi masyarakat pada umumnya. Disinilah peran mahasiswa dituntut melakukan aksi nyata demi mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh pendahulu bangsa ini.

Perubahan sosial, menurut penulis, terjadi dikarenakan semakin massifnya teknologi dan arus informasi menancapkan cengkramannya. Sebagai contoh, handphone yang dulu hanya sebatas alat komunikasi semata. Kini, ia berubah menjadi alat informasi yang bisa merubah keadaan sosial masyarakat.

Mahasiswa yang sadar akan diri dan posisinya, tidak akan diam melihat kondisi akibat dari arus informasi tersebut. Dengan kesadaran intelektual ideologis, mahasiswa sebagai kaum terdidik harus melakukan aksi nyata dalam menyadarkan masyarakat dan khususnya pada  diri sendiri, bahwa ia tidak boleh terpedaya oleh teknologi.

Dapat dikatakan bahwa kalangan pelajar atau mahasiswa, merupakan kelompok tingkat sosial yang sangat rentan dipengaruhi oleh pesatnya arus teknologi. Ia kemudian memicu terjadinya pemerkosaan, pergalauan yang diluar batas manusiawi, kemorosotan moral, budaya komsumtif, pesimisme dan hedonisme. Tentu saja keadaan yang jelas sangat mengkhawatirkan itu menjadi tantangan bagi mahasiswa yang hidup di zaman modern. Sehingga, sebuah kebodohan dan hipokritas yang sangat nyata apabila ada mahasiswa yang hanya terus sibuk beraktifitas di dalam ruang bertembok tanpa mau peduli dengan lingkungannya sebagai bentuk apresiasi terhadap interaksi sosialnya.

Melihat kenyataan tersebut, perlu ada kegiatan yang mengarah pada hal yang positif. Misalnya saja, membentuk sebuah lembaga sosial untuk menggali potensi mahasiswa, membuat sebuah forum kajian keagamaan untuk memperkokoh pondasi keagamaan dan mengajak untuk menghasilkan karya demi tegaknya peradaban baru.  Bukan hanya sekedar kuliah pulang(mahasiswa kupu-kupu), jalan bersama pacar, tiap bulan minta gaji pada orang tua dll. Hal seperti itu harus dihindari oleh kita sebagai mahasiswa.

Sebab, harus diingat, bahwa menyandang status mahasiswa, bukan hal yang mudah untuk diemban. Karena perlu ada aktualisasi dalam bentuk nyata untuk mewarnai kehidupan. Sehingga akan lebih bermakna kehidupan ini, bilamana ia bisa bermanfaat di antara kita dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan pencipta-Nya. Khairunnas anfa’ukhum linnas (sebaik baik manusia adalah yang bisa bermanfaat buat manusia yang lainnya). Karenanya, Sang Proklamator Soekarno mengatakan, “Berikan Aku sepuluh pemuda, maka aku akan guncangka dunia”.

Artinya, segolongan pemuda atau mahasiswa yang potensial dan berdedikasi, akan mampu menaklukkan dunia dengan pemikiran dan penanya. Kemudian mengambil peran sesuai dengan keahlian yang bisa disumbangkan kepada bangsa. Dengan kata lain apabila kita sebagai mahasiswi ingin mewujudkan apa yang dimaksud oleh bapak Soekarno tentunya kita harus memperkuat intelektual, humanisme, dan religius kita sebagai mahasiswa yang kemudian nanti bisa diaplikasikan pada masyarakat yang ada.

Dalami pandangan Antonio Gramsci, sebagai kaum intelektual organik, mahasiwa perlu mengaplikasikan semua potensi yang dimiliki. Kemudian mengeluarkan sebuah karya positif demi terciptanya sebuah peradaban baru, yakni peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas, humanisme dan religiusitas.

Dengan demikian, kita berharap perubahan sosial menuju tampilnya Indonesia sebagai bangsa yang mandiri, bangsa yang berdiri di kaki sendiri, akan benar-benar terwujud.Oleh karena itu mulai dari sekarang kita harus memahami peranan kita sebagai mahasiswa, yang menyandang tugas berat sebagai agent lokomotif, agent of change pada lingkungan sekitar kita. Semoga nama MAHASISWA yang kita emban sekarang bisa membawa perubahan yang jelas terhadap lingkungan sekitar kita khususnya buat bangsa yang besar ini. Amin.

 

***

Penulis : Abdurrahman Irham (Kabid KAIL Hima Persis Malang)