Mengurai Problematika Internal-Eksternal Pemuda Persis Kabupaten Bandung

Mengurai Problematika Internal-Eksternal Pemuda Persis Kabupaten Bandung

Dipublish pada 30 Desember 2018 Pukul 07:34 WIB

471 Hits

Untuk melakukan problem solving dalam praktik kejam’iyyahan maka mesti mengetahui sekelumit masalah yang berada di sekitaran jam’iyyah. Baik problematika internal maupun eksternal. Untuk memulai ke arah sana, mesti ada riset berbasis data, agar apa yang dilihat bukan sebatas permukaan saja tetapi mendalam sampai ke dasar masalah.

Maka kita mesti melakukan pengamatan pada area inti [akar] masalah. Untuk menuju ke sana mesti disiapkan perangkat pendekatan [approaches] dan perangkat metodologis yang sesuai. Sehingga ikhtiar melakukan pembacaan dapat terjawab dengan solusi yang membangun.

Menjadi Pemuda adalah kemewahan yang dianugerahkan sang Maha Kuasa untuk keberlangsungan dan keseimbangan kehidupan dunia. Jika bergerak dinamis maka keseimbangan akan tercipta. Jika diam statis maka akan terjadi ketimpangan dan kerusakan tatanan kehidupan alam semesta.

Dalam dimensi sejarah; pemuda adalah modal dari gerakan mencipta peradaban. Baik dengan gerakan intelektual maupun perang (war) dalam bentuk gerakan perlawanan. Pemuda memiliki nilai yang istimewa, memiliki nilai yang mahal dengan semangat dan kebugaran fisiknya. Dua nilai itu akan semakin mahal lagi jika ditopang dengan keilmuan yang tinggi dan moralitas yang luhur.

Lahirnya gerakan pembaruan selalu dimotori oleh Pemuda yang memiliki values. Sebut saja Jamaludin al-Afghani dengan gagasan pan-Islamismenya, Muhammad Abduh dengan gerakan pembaruan pemikiran di Mesir misalnya; sampai kemudian dentumannya menyebar hingga Nusantara.

Gemuruh gerakan kepemudaan ini semakin mengkristal dalam wujud kelembagaan. Seperti di Indonesia lahirnya Ormas/OKP dengan varian pemikiran. Baik yang berbasis nasionalisme, komunisme, sosialisme-marxisme, dan gerakan yang berbasis Islam.

Pemuda Persis adalah salah satu organisasi kader yang basis gerakannya adalah Islam. Lahir pada 22 Maret 1936 tentu bukan untuk dijadikan sebagai ruang berhimpun saja. Lebih dari itu, secara ideologis diharapkan menjadi penerus estafeta perjuangan Persis dalam misi keumatan dan kebangsaan. Secara strategis diharapkan menjadi wadah perkaderan.

Dalam perjalanannya dengan usia yang tidak muda lagi jelas organisasi ini akan bersentuhan dengan problem-problem baik internal maupun eksternal. Problem ini yang nantinya menjadi inti dari pembahasan selanjutnya.

Potret Pemuda Persis di Kabupaten Bandung [Dari Internal sampai Eksternal]

Pemuda Persis di Kabupaten Bandung adalah wajah dari Pemuda Persis tingkat nasional. Pandangan ini setidaknya digambarkan oleh dua keadaan. Pertama, secara kuantitas yang memang cukup banyak. Alasannya cukup rasional dari jumlah Pesantren Persis yang ada Kab Bandung adalah salah satu daerah yang paling banyak Pesantrennya sehingga wajar dan bahkan seharusnya jika anggota menjadi banyak. Walaupun tidak semua lulusan Pesantren menjadi anggota. Kedua, secara kualitas juga menjadi penyumbang dan penopang pemikiran Persis. Ini dijaga dengan tradisi kajian yang sangat kuat dengan berbagai macam corak kajian.

Dari mulai turats klasik hingga kajian-kajian keilmuan lainnya.

Secara internal kejam’iyyahan banyaknya Pesantren menjadi keuntungan sebab tidak perlu repot-repot mencari kader. Karena sudah memiliki lumbung kader yang tersebar di Pesantren-Pesantren Persis. Berbicara proses kaderisasi di Pesantren juga akan lebih intim apalagi intensitas waktunya cukup banyak dan para pengurus di tingkat kecamatan beberapa di antaranya adalah guru di Pesantren. Kemudian keragaman corak gerakan di tingkat Kecamatan juga menjadi modal penting. Sebab pada akhirnya Pemuda Persis akan mimiliki kekayaan pemikiran dan gerakan.

Di level Kecamatan yang tentu berbeda medan dan kebutuhan. Misalnya saja Kecamatan Arjasari yang naik ke wilayah pegunungan dengan premanisme yang kuat dan tantangan kristenisasi yang masif maka perlu diadakannya dakwah yang menarik masyarakat dengan tidak mimbar sentris. Menarik dengan gaya pendekatan sosial, sentuhan emosional, dan lain-lain.

Contoh lain, Banjaran karena pusat gerakannya dekat dengan lalulintas pasar dan transaksi ekonomi, maka bisa jadi gerakan dakwah yang diusung adalah gagasan ekonomi kreatif dan sebagainya. Tetapi identitas atau karakteristik Pemuda Persisnya tidak menjadi luntur.

Dalam satu sisi mungkin itu menjadi modal tapi juga menjadi masalah jika tidak dikelola dengan baik. Dapat menjadi masalah internal yang dapat mengganggu stabilitas kepemimpinan. Misalnya saja Arjasari yang mendapat kebolehan dengan adanya Brigade Hamas jika tidak dimenej tentu akan menghasilkan problematika baru dengan pimpinan di atasnya dan pimpinan selevel di daerah lain. Di sini seorang pimpinan mesti dapat mengatur dengan komunikasi kejam’iyyahan yang hebat.

Kemudian ada stagnasi pemikiran dalam mengartikulasikan fikrah sam’an wa tha’atan yang sering dibawa dalam setiap kegiatan. Tertempel dalam spanduk-spanduk yang pada akhirnya hilang gemanya bersamaan dengan habisnya kegiatan.

Tafsiran sam’an wa tha’atan juga mesti dipertegas dalam bentuk dan dimensi yang mana. Sebab ia menjadi penjara bagi kader-kader yang ingin mengekspresikan dirinya dalam ruang-ruang yang tidak disediakan oleh jam’iyyah. Biasanya dalam masalah politik, bukan poilitik praktis. Semisal kader memiliki potensi dalam ranah politik seharusnya diwadahi dengan apresiasi untuk memberikan kebermanfaatan diri dalam edukasi politik di masyarakat. Lewat media-media yang tidak ada di jam’iyyah.

 Selain itu doktrin di atas menjadi bias jika sam’an wa tha’atan diinterpretasikan sebagai orang yang selalu hadir dalam setiap aktivitas kejam’iyyahan baik struktural maupuk program-program organisasi. Sebab ukuran loyalitas itu tidak selalu digambarkan dengan fisik. Terkadang mesti dilihat dalam aspek batini.

Melihat gambaran di atas, maka jelas ekslusivitas dan ketertutupan pemikiran di Kabupaten Bandung sangat terasa. Walaupun di beberapa kecamatan sudah ada yang inklusif meski masih terlihat malu-malu. Padahal, sejatinya berbicara gerakan jangan terlalu sempit dalam masalah internal. Yang pada akhirnya berakibat menimbulkan masalah-masalah baru di pusaran konflik internal.

Seperti hak politik dibatasi, tetapi di internal praktik politik lebih kotor ketimbang di luar. Seperti pertarungan Muktamar tahun lalu. Dalam peristiwa lain; kekhawatiran berlebih terhadap kader muda adalah kegagalan kaderisasi. Semestinya sebagai organisasi kader ia memberikan keleluasaan kepada kader muda untuk eksplorasi program-program kejam’iyyahan.

Selain itu masih ada paradigma kepemimpinan di tiap level itu mesti ada program struktur yang dilandingkan per masa jihad. Padahal, semestinya untuk konteks Kabupaten Bandung tinggal memetakan wilayah kerja. Seperti untuk tingkat PC bidik satu program prioritas yang akan dilaksanakan dan terus berkesinambungan yang pada muaranya nanti ada di level PJ. Pimpinan Daerah dalam hal ini adalah organ yang mengelola program-program di level di bawahnya. Pada akhirnya kita terjebak pada landing program semata tanpa melakukan pembacaan yang holistik.

Secara eksternal dari 31 Kecamatan di Kabupaten Bandung dengan jarak tempuh yang lumayan dari pusat kota, dengan wilayah yang dibaluti lahan-lahan hijau pergunungan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Pemuda Persis. Tantangannya adalah bagaimana memenej wilayah yang cukup luas dengan waktu tiga tahun. Diperlukan komunikasi yang intens dan gerakan pembinaan yang masif.

Gerakan yang turun ke bawah untuk memahami situasi dan kondisi tantangan dakwah di Kecamatan. Peluangnya adalah sektor pariwisata yang dapat dijadikan sebagai salah satu bidikan program pemberdayaan umat dan masyarakat. Sayangnya hari ini dakwah kita tidak ke arah sana. Kita lebih nikmat dengan oralitas dakwah tanpa evaluasi yang membangun.

Kita dinina bobokan dengan banyaknya anggota dan tidak terdengarnya aktivitas dari OKP Islam lainnya. Dan kita selalu tertutup dan memosisikan diri sebagai OKP Islam yang paling hebat. Ini dampak dari terbatasnya pergaualan kita di level daerah. Padahal, OKP, LSM, komunitas di Kabupaten itu banyak dan mereka berhimpun di dalam lembaga yang menurunkan legitimasi hukum keberadaan mereka. Bahkan mereka lebih masif dari kita; dakwah dan gerakannya lebih deras pada soal-soal yang real.

Jika boleh jujur, sejujurnya kita tertinggal akses dan informasi dari pusat gerakan. Alih-alih menjaga dan mencipta poros gerakan, yang ada hanyalah kita yang masuk pada rutinitas program keorganisasian. Ini karena kita cenderung mengisolir diri dari hak politik kepemudaan di Kabupaten Bandung dengan alasan menjaga marwah organisasi. Apakah demikian? Apakah dengan menarik diri organisasi kita akan disebut suci? Apakah dengan kita ikut di dalam jalan raya gerakan kepemudaan di Kabupaten Bandung organisasi kita akan ternodai? Saya pikir ini frame berpikirnya mesti dirubah. Sebab kehadiran kita di tengah-tengah mereka justru sangat ditunggu. Memberikan uswah bagi gerakan kepemudaan di Kabupaten Bandung dan itulah dakwah.

Selanjutnya jika kita membincang soal core gerakan dakwah dan pendidikan di Kabupaten Bandung, sudah sejauh mana kita memerjuangkannya. Kemudian apa yang kita lakukan untuk transformasi gerakan dakwah dan pendidikan itu?

 Sejujurnya kita masih terjebak dalam kerangka ritualistik ibadah organisasi dengan seabreg program yang kaku. Belum menyentuh ke masyarakat luas. Sebab terma dakwah dan pendidikan itu luas tidak hanya pada ruang formalistik saja. Seperti tadi misalanya, apa konsep kita tentang dakwah pariwisata? Bagaimana peluang ini bisa jadi lahan dakwah bagi masyarakat sekaligus lahan ekonomi bagi jam’iyyah dan masyarakat.

Belum lama ini ada istilah pariwisata halal. Mestinya kita menyambut dan memberikan gagasan yang nyata terkait program ini. Atau sudahkah kita merespon isu pendidikan di Kabupaten Bandung? Sejauh mana peran kita dalam melakukan gerakan pendidikan di Kabupaten Bandung? Apa gagasan transformatif terkait pola pendidikan di Kabupaten Bandung misalnya, dan seterusnya. Merespon revolusi industri 4.0 apa yang akan kita tawarkan dalam masalah pendidikan dan dakwah? Bahkan sejauh ini dakwah kita konvensional belum terlalu masif penggunaan teknologi.

Sementara yang lain semakin populer dan diminati. Bahkan masa pengajian kita kadang kalah oleh seorang yang mengaku baru hijrah dan mengambil jalan dakwah. Ini hanya sebuah perenungan saja. Sejauh mana evaluasi kita? Jangan kemudian dakwah kita hanya berhenti dalam penjadwalan saja. Tetapi kita harus mulai berbicara strategi gerakan.

Intinya kita mesti membuka tabir, sekat, dan kabut agar lebih terbuka lagi terhadap segala persoalan yang ada di sekitaran kita. Atau pada akhirnya ide kita hanya akan menajdi fosil sebab kita hanya berhenti pada romantisme pemikiran masa lampau dari founding fahters kita. Serta keberadaan kita hanya menjadi pasar bagi mereka yang memiliki kepentingan.

Bangkit Pemuda Persis: Pemuda Bisa, Pemuda Berdaya.

Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi umum belum menyentuh pada semua persoalan yang ada di Kabupaten Bandung. Tapi bagi penulis inti dari masalah Pemuda Persis Kab Bandung hari ini adalah soal paradigma sam’an wa tha’atan dalam menyikapi perkembangan zaman dan soal keterbukaan.

Ana Muslimun Qabla Kulli Syai’in

 


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?