Menuju Persatuan Umat Islam dengan Kalimat Takbir, Tahlil dan Tahmid

Menuju Persatuan Umat Islam dengan Kalimat Takbir, Tahlil dan Tahmid

SHARE

Keberadaan umat Islam di Indonesia khususnya dan dunia secara umum dalam beberapa hal belum menampakkan persatuan yang baik. Hal ini tentu menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi umat Islam itu sendiri.

Posisi yang berjauhan ini malah menguntungkan pihak-pihak yang tidak rela umat Islam bersatu. Mereka pun berusaha sekuat tenaga memelihara kondisi tersebut. Sementara sebagian pihak umat Islam yang sadar dan peduli terus menerus berupaya mempersatukan umat Islam.

Berbagai kegiatan dan moment diusahakan intern umat Islam untuk mewujudkan persatuan. Sepak terjang ini bagi sebagian kalangan dianggap tidak akan membuahkan hasil. Namun, dalam beberapa peristiwa terakhir semisal menyikapi penista agama di Jakarta persatuan umat Islam ini masih dapat diwujudkan. Tentu ini merupakan momentum yang baik untuk terus dipelihara.

Bermacam cara harus dilakukan dalam mewujudkan persatuan tersebut. Di antara hal yang dapat dilakukan umat Islam terkait perayaan ‘Id adalah menyamakan prinsip hidup dan perjuangan diawali Kalimah Thayyibah (Kalimat yang baik).

Kalimah Thayyibah yang dimaksud dalam kesempatan ini adalah takbir (Allah Akbar), tahlil (La Ilaha Illa Allah) dan tahmid (Alhamd li Allah). Bahkan secara keseluruhan dapat ditambahkan dengan tasbih (Subhana Allah) dan hauqalah (La haula wa La Quwwata Illa bi Allah). Mengingat dalam takbir ‘Id hanya mengandung lapad takbir, tahlil dan tahmid saja maka untuk yang sesisanya tidak dibahas sekarang.

1.    Makna Takbir
Takbir merupakan perintah Allah swt kepada umat Islam. Allah berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan sempurnakanlah bilangan kemudian agungkanlah Allah karena Ia telah memberikan hidayah kepadamu, dan supaya kamu  bersyukur. (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Adapun shigat (bentuk takbir) pada ‘Id adalah sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Umar dan Ibnu Mas’ud:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ
Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Tidak ada Tuhan selain Allah! Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Kepunyaan Allah-lah segala pujian!

Dalam susunan kalimat di atas sebenarnya tidak hanya kalimat Takbir. Di dalamnya ada tahlil dan tahmid juga. Namun karena banyak takbirnya maka yang lebih dikenal di masyarakat adalah sebagai takbir saja.

Untuk takbir pada hari Idul Fitri dimulai dari seseorang keluar rumah menuju lapangan sebagaimana yang dikerjakan oleh sahabat Ibnu Umar rhadhiya Allah ‘ahn:
كَانَ ابْنُ عُمَرَ رضي الله عنه يَغْدُو إِلَى الْمُصَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى ثُمَّ يُكَبِّرُ بِالْمُصَلَّى حَتَّى إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ تَرَكَ التَّكْبِيْرَ”. أخرجه الحاكم والبيهقي وصححه، رواه الدارقطني وابن أبي شيبة بإسناد صحيح، انظر “إرواء الغليل” (650).
Keadaan Ibnu Umar rhadhiya Allah ‘ahn, ia berangkat menuju lapangan (mushalla) saat matahari sudah terbit. Ia bertakbir sampai tiba di lapang, kemudian ia pun terus bertakbir di lapangan, sehingga ketika Imam duduk di atas mimbar ia baru meninggalkan takbir.

Takbir bagi umat Islam merupakan tanda kegembiraan. Dalam mendapatkan kebahagiaan kita harus bertakbir, bukan bertepuk tangan. Rasulullah shalla Allah ‘alaihi wa sallam bertakbir manakala mengetahui Abu Jahal terbunuh dalam Perang Badar. Ketika ada para Shahabat yang istrinya melahirkan maka Rasulullah pun bertakbir.

Dengan demikian sewaktu memperoleh kebahagiaan kita disyariatkan untuk bertakbir. Seperti itupula takbir selepas melaksanakan shaum dan menjelang ‘Id terkait dengan kegembiraan. Bagi umat Islam dapat menyelesaikan shaum selama sebulan penuh merupakan kebahagiaan yang besar.

Dalam hadits dikemukakan bahwa masa menjelang buka shaum adalah mengandung kegembiraan. Kewajiban shaum dapat diselesaikan dengan baik yang ditandai berbuka tentu merupakan hal istimewa. Kita bahagia merasakannya. Bertambah jam ketika shaum merupakan kebahagiaan tersendiri. Dapat menyelesaikan shaum sehari saja terasa gembira apalagi bila menyelesaikan satu bulan. Tentu umat Islam berbahagia.

Dalam ayat di atas dikemukakan bahwa perintah takbir sebagai ekspresi kebahagiaan disebabkan kita mendapatkan hidayah. Walitukabbirullah ‘ala ma hadakum (Kemudian agungkanlah Allah karena Ia telah memberikan hidayah kepadamu). Oleh karena itu nikmat yang paling besar setelah menyelesaikan shaum adalah hidayah.

Sayid Qutub menjelaskan maksud ayat tersebut di atas:
فَهَذِهِ غَايَةٌ مِنْ غَايَاتِ الْفَرِيْضَةِ …. أَنْ يَشْعُرَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِقِيْمَةِ الْهُدَى الَّذِي يَسَّرَهُ اللهُ لَهُمْ. وَهُمْ يَجِدُوْنَ هَذَا فِي أَنْفُسِهِمْ فِي فَتْرَةِ الصِّيَامِ أَكْثَرَ مِنْ كُلِّ فَتْرَةٍ. وَهُمْ مَكْفُوْفُو الْقُلُوْبِ عَنِ التَّفْكِيْرِ فِي الْمَعْصِيَّةِ، وَمَكْفُوْفُو الْجَوَارِحِ عَنْ إِتْيَانِهَا. وَهُمْ شَاعِرُوْنَ بِالْهُدَى مَلْمُوْساً مَحْسُوْسًا لِيُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى هَذِهِ الْهِدَايَةِ، وَلِيَشْكُرُوْهُ عَلَى هَذِهِ النِّعْمَةِ. وَلِتَفِيْءَ قُلُوْبُهُمْ إِلَيْهِ بِهَذِهِ الطَّاعَةِ.

Inilah salah satu tujuan disyareatkannya kewajiban shaum, yaitu agar orang-orang yang beriman merasakan nilai hidayah yang telah dimudahkan Allah SWT kepadanya. Mereka mendapatkan hal itu pada dirinya selama shaum melebihi waktu yang lain.

Hati mereka tertahan untuk berpikir maksiat dan angota badannya pun tertahan dari melakukannya. Mereka merasakan kehadiran hidayah itu menjadi sesuatu yang konkrit, agar mereka mengagungkan Allah SWT atas nikmat hidayah itu kemudian mensyukurinya. Hati mereka dipenuhi kesiapan untuk selalu taat kepada-Nya.

Apa yang dikemukakan oleh Sayid Qutub ini dapat dirasakan oleh umat Islam. Shaum yang sangat berat selama satu bulan dapat diselesaikan sempurna karena adanya hidayah dari Allah. Dengan demikian kebahagiaan ini harus diakui dengan dikumandangkannya takbir. Kita mengagungkan Allah yang telah memberikan hidayah sehingga kita sadar dan mampu shaum.

Terkait ‘Id sebagai momentum persatuan umat Islam untuk bersatu diawali dari rasa kegembiraan yang dimiliki.
اَلْعِيْدُ هُوَ مَوْسِمُ الْفَرْحِ وَالسُّرُوْرِ، وَأَفْرَاحُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَسُرُوْرُهُمْ فِي الدُّنْيَا إِنَّمَا هُوَ بِمُوَلَاهُمْ إِذَا فَازُوا بِكَمَالِ طَاعَتِهِ، وَحَازُوْا ثَوَابَ أَعْمَالِهِمْ بِوُثُوْقِهِمْ بِوَعْدِهِ لَهُمْ عَلَيْهَا بِفَضْلِهِ وَمَغْفِرَتِهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: (قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ) [يونس: 58].

Hari raya adalah waktu penuh kebahagian dan kegembiraan. Kegembiraan orang mukmin  di dunia hanyalah bersama Tuhannya. Yaitu saat mereka dapat mengerjakan ketaatan kepada-Nya dengan sempurna, berhasil mendapatkan ganjaran amalnya karena keyakinan mereka terhadap janji-Nya untuk mendapatkan karunia dan maghfirahnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah hanya kepada karunia dan rahmat-Nya-lah, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada  yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus [10]: 58)

Ungkapan ini membuktikan bahwa bagi seorang muslim kebahagiaan yang harus diperlihatkan sebenarnya adalah terkait rahmat Allah. Sebagai manusia kita mempunyai kebahagiaan yang fitrah dan lumrah secara umum. Namun, yang lebih berharga dan harus diperlihatkan kepemilikannya adalah bila mendapat karunia dan rahmat Allah.

Seorang muslim harus bahagia bila dapat menyelesaikan berbagai ketaatan kepada Allah. Ia mampu shaum, shalat tarawih, khatam al-Qur`an, berbagi dengan yang papa, menunaikan zakat dan lain sebagainya harus dirasakan dengan gembira. Bagi yang lain urusan keduniaan bahkan perkara yang melalaikan dan mengandung dosa membuat mereka bahagia. Orang-orang yang lalai bergembira dengan yang sia-sia bahkan perkara yang bertentangan dengan aturan Allah.

Sementara kebahagiaan seorang muslim terikat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu karunia dan rahmat-Nya. “Kepada karunia dan rahmat-Nya-lah, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada  yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus [10]: 58)

‘Idul Fitri merupakan momen yang sangat bahagia. Seluruh umat Islam sedunia sama-sama menyelesaikan shaum Romadhon. Pada hari ini mereka serempak melaksanakan ‘Idul Fitri. Berbagai negara, suku bangsa, laki-laki dan perempuan, si kaya dan yang tiada berpunya semuanya bergembira pada Hari Raya. Simaklah penjelasan di bawah ini:
أَمَّا الْمَعْنَى الْإِنْسَانِي فِي الْعِيْدِ، فَهُوَ أَنْ يَشْرُكَ أَعْدَادًا لَا حَصْرَ لَهَا مِنْ أَبْنَاءِ الشِّرْقِ وَالْغَرْبِ بِالْفَرْحِ وَالسُّرُوْرِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ، فَإِذَا بِالْأُمَّةِ تَلْتَقِي عَلَى الشُّعُوْرِ الْمُشْتَرَكِ بِالْغِبْطَةِ، وَإِذًا بِأَبْنَاءِ الْأُمَّةِ الْوَاحِدَةِ عَلَى اخْتِلَافِ دِيَارِهِمْ يَشْتَرِكُوْنَ فِي السَّرَّاءِ كَمَا يَشْتَرِكُوْنَ فِي الضَّرَّاءِ، فَفِي الْعِيْدِ تَقْوِيَّةٌ لِهَذِهِ الرَّوَابِطِ الْفِكْرِيَّةِ وَالرُّوْحِيَّةِ الَّتِي يَعْقِدُهَا الدِّيْنُ بَيْنَ أَبْنَاءِ مِنْ مُخْتَلِفِ اللُّغَاتِ وَالْأَقْوَامِ.

Adapun makna ‘Id (Hari raya) adalah bersama-samanya orang yang sangat banyak (tak terbatas) dari barat dan timur merasakan kebahagian dalam waktu yang sama. Ternyata semua umat Islam memiliki perasaan  yang sama. Dengan demikain umat Islam adalah umat yang satu meskipun berbeda-beda tempatnya. Umat Islam akan senantiasa bersama-sama dalam suka dan duka. Hari ‘Id  akan memperkuat ikatan pemikiran dan ruh persatuan ini. Ikatan yang dibentuk oleh agama antara pemeluknya yang berbeda bahasa dan bangsa.

Takbir pada ‘Id harus membentuk dan memperkuat ikatan pemikiran dan ruh yang didasari agama. Berbagai latar belakang umat Islam jangan menghalangi persatuan tersebut. Sejarah telah mencatat bahwa umat Islam dapat bersatu padu dan memimpin dunia dengan berbagai latar belakang dan tempat yang ada.

Pola pikir umat Islam harus bersatu padu untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin. Semangat mereka harus sama untuk siap berkorban apa pun dalam mewujudkan kemuliaan Islam. ‘Id mempersatukan umat Islam merayakan hari raya. Mereka pun sama-sama bahagia karena mendapatkan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan bertakbir kesamaan tersebut semakin terlihat keselarasannya. Seruan dan slogan mereka pun sama. Takbir. Semuanya mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu hal ini akan lebih bermakna bila dapat mewujud dalam persatuan pemikiran dan ruhnya.

Kalimah Takbir adalah bentuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai hamba umat Islam menyadari dan mengakui bahwa seluruh makhluk tiada arti dan kedudukan di hadapan Pencipta dan Pemelihara semesta alam. Al-Azhari menyebutkan:
وَقَوْلُ الْمُصَلِّي: اَللهُ أَكْبَرُ، وَكَذَلِكَ قَوْلُ الْمُؤَذِّنِ، أَنَّ فِيْهِ ضَمِيْراً، اَلْمَعْنَى: اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرٍ، بِمَعْنَى أَنْ يَكُوْنَ اللهُ عِنْدَ الْعَبْدِ أَكْبَرَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، أَيْ لَا أَكْبَرَ وَلَا أَعْظَمَ مِنْهُ،

Ucapan seorang yang shalat dan adzan Allahu akbar, pada kalimat itu ada yang dibuang. Maknanya bahwa Allah SWT di sisi seorang hamba paling agung dari apa pun juga. Tida ada yang paling akbar dan agung selain Allah SWT.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan:
اَلتَّكْبِيْرُ يُرادُ بِهِ أَنْ يَكُوْنَ (اللهُ) عِنْدَ الْعَبْدِ أَكْبَرَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ: “يَا عَدِيُّ مَا يُفرُّك؟ أيُفرُّك أَنْ يُقالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؟ فَهَلْ تَعْلَمُ مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللهُ؟ يَا عَدِيُّ مَا يُفِرُّكَ. أَيُفرُّكَ أَنْ يُقَالَ: اَللهُ أَكْبَرُ؟ فَهَلْ مِنْ شَيْءٍ أَكْبَرُ مِنَ اللهِ؟” رواه الإمام أحمد والترمذي وابن حبان وغيرهم بإسناد جيّد

Yang dimaksud dengan takbir adalah: Kedudukan Allah pada diri seseorang paling agung dibandingkan apa pun juga. Sebagaimana Nabi pernah berkata pada Adi Bin Hatim: “Wahai Adi apa yang membuatmu berlari (menghindar)? Apakah yang membuatmu menghindar untuk mengatakan La Ilha illa Allah? Apakah ada tuhan selain Allah ?Wahai Adi! Apa yang membuatmu menghindar untuk mengatakan Allahu akbar?Apakah ada yang lebih akbar selain Allah SWT (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

وَالتَّكْبِيْرُ هُوَ تَعْظِيْمُ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَإِجْلَالُهُ، وَاعْتِقَادُ أَنَّهُ لَا شَيْءٌ أَكْبَرُ وَلَا أَعْظَمُ مِنْهُ، فَيَصْغُرَ دُوْنَ جَلَالِهِ كُلُّ كَبِيْرٍ، فَهُوَ الَّذِي خَضِعَتْ لَهُ الرِّقَابُ وَذَلَّتْ لَهُ الْجَبَابِرَةُ، وَعَنَتْ لَهُ الْوُجُوْهُ، وَقَهَرَ كُلَّ شَيْءٍ، وَدَانَتْ لَهُ الْخَلَائِقُ، وَتَوَاضَعَتْ لِعَظَمَةِ جَلَالِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَعُلُوِّهِ وَقُدْرَتِهِ الْأَشْيَاءِ، وَاسْتَكَانَتْ وَتَضَاءَلَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَحْتَ حُكْمِهِ وَقَهْرِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Takbir adalah mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan memuliakan-Nya. Meyakini  tidak sesuatu apa pun yang lebih akbar dan agung selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua yang besar menjadi kecil di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tertunduk pada-Nya semua kepala. Merasa hina di hadapan Allah semua yang sombong. Tertunduk malu semua wajah. Dia-lah yang menguasai segala sesuatu. Dan tertunduklah semua makhluq dan merasa hina terhadap keagungan keagungan kebesar dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Takbir akan membentuk cara pandang kita terhadap berbagai hal. Segala sesuatu selain Allah adalah kecil. Dengan takbir saat melihat apa pun dan siapa pun akan menjadi kecil. Yang tampak adalah kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk itu dalam menghadapi momen dan masalah besar kita diperintahkan untuk bertakbir. Dengan takbir ini perkara yang berat akan terasa kecil dan ringan.

Dalam suatu kesempatan Siti Fatimah rhadhiya Allah ‘ahna memohon pembantu kepada Rasulullah. Namun Rasulullah shalla Allah ‘alaihi wa sallam memberikan pengajaran kepada Siti Fatimah untuk senantiasa bertasbih, tahmid dan takbir sebelum tidur. Kesulitan mengelola urusan rumah akan terasa ringan dihadapkan kepada Allah swt yang digambarkan dalam tasbih, tahmid dan takbir tersebut.

Ketika Perang Qadisiyah kaum Muslimin menghadapi musuh yang sangat besar. Tidak sampai di situ, mereka pun berkendara juga menggunakan perahu di sungai yang memisahkan kedua pasukan. Namun kaum muslimin tidak merasa takut dan berat menghadapinya.

Seraya bertakbir kaum muslimin menyerang mereka sehingga mengalahkannya. Jumlah yang banyak, perlengkapan yang bagus, dan medan yang sulit tidak menyurutkan umat Islam.

Diawali takbir kaum Muslimin menghadapi mereka dengan baik dan dapat memenangkannya. Kumandang takbir menggetarkan musuh. Bagi umat Islam musuh dan perlengkapannya adalah kecil di hadapan Allah. Yang besar itu hanyalah Allah. Demikian pula sewaktu kita mendengar adanya kriminalisasi terhadap para ulama akhir-akhir ini. Tentu mendengarnya kita menjadi ciut dan kecil nyali. Namun, dengan takbir kita akan percaya diri dan berani menghadapinya.

Menurut Ibnul Qayyim bahwa Ibnu Taimiyyah merupakan orang yang sangat banyak bertasbih, bertahmid, dan bertakbir. Ia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki yang lain.

Dengan demikian dapat difahami bahwa keberadaan Ibnu Taimiyyah sangat berpengaruh dan produktif. Dalam menulis karyanya kemampuan menulisnya sangat cepat. Bagi orang lain memerlukan waktu berhari-hari hingga satu minggu, namun Ibnu Taimiyyah dapat menyelesaikannya satu hari.

Keberadaan takbir bagi seorang muslim tidak hanya melihat yang lain di luar Allah sebagai kecil. Namun pada yang sama ia melihat dirinya sendiri sama kecil. Ia akan merasa kecil, hina, lemah dan tidak memiliki apa-apa. Maka hilanglah dari dirinya sifat sombong dan takabur sehebat apa pun dirinya. Allah tidak suka dengan orang yang sombong.

Dalam hadits digambarkan bahwa orang-orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan di padang Mahsyar dengan ukuran kecil. Mereka dibentuk dalam keadaam kecil ka amtsal al-dzar (seperti kerikil) kemudian diinjak oleh makhluk yang banyak dari berbagai penjuru.

Bila disadari memang manusia di dunia ini pun adalah kecil dibanding makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Masih ada gunung, pulau, planet, galaksi, dan ‘arasy Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apalagi dibandingkan dan dihadapkaan kepada Allah swt. Maka manusia tidak pantas untuk menyombongkan diri.

Dengan cara pandang ini maka umat Islam akan bersatu. Ia sebagai pribadi, berperan dalam bagian kehidupan dan pergerakan harus mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia dalam aktivitasnya jangan merasa berat menghadapi berbagai masalah dan rintangan. Ia pun dengan pergerakannya jangan berbesar diri. Semuanya adalah hamba Allah. Semuanya harus mengutamakan Allah, bukan kepentingan pribadi dan pergerakannya. Allah yang harus diutamakan. Allah yang harus diagungkan. Allahu Akbar harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Takbir adalah iqrar ketaatan. Hanya perintah dan larangan Allah-lah yang paling agung. Titah Allah adalah yang harus menjadi prioritas dibandingkan dengan perintah dan larangan siapapun. Allah memerintah shaum kita pun siap melaksanakan. Meskipun perkara tersebut bertentangan dengan hawa nafsu, seorang muslim siap melaksanakannya. Kita diperintah shaum siap menunaikannya. Ketika ngantuk harus sahur, kita pun siap melaksanaknnya. Malam hari harus tarawih kita sigap melakukannya. Konsekuensi dari takbir adalah lahirnya ketaatan. Kita siap melaksanakan perintah dan larangan Allah swt. Ibnu Jarir menafsirkan firman Allah di atas:
{وَكَبِّرْهُ تَكْبِيراً}: “يَقُوْلُ وَعَظِّمْ رَبَّكَ يَا مُحَمَّدُ بِمَا أَمَرَكَ أَنْ تُعَظِّمَهُ بِهِ مِنْ قَوْلٍ وَفِعْلٍ، وَأَطِعْهُ فِيْمَا أَمَرَكَ وَنَهَاكَ”.

(Dan agungkanlah Allah dengan sebenar-benarnya) Agungkanlah Tuhanmu, wahai Muhammad dengan semua yang Ia perintahkan  kepada mu baik dengan ucapan atau tindakan dan taatlah kepada perintah dan larangan-Nya.

Senada dengan itu Syeikh Amin Al-Syinqity menafsirkan:
“أَيْ عَظِّمْهُ تَعْظِيْماً شَدِيْدًا، وَيَظْهَرُ تَعْظِيْمُ اللهِ فِي شِدَّةِ الْمُحَافَظَةِ عَلَى امْتِثَالِ أَمْرِهِ وَاجْتِنَابِ نَهْيِهِ وَالْمُسَارَعَةِ إِلَى كُلِّ مَا يَرْضِيْهِ”

Yaitu agungkanlah Tuhanmu dengan sebenar-benarnya pengagungan. Pengagungan Allah SWT yang benar akan tampak dalam sikap seseorang yang sangat menjaga semua perintah Allah SWT, menjauhi semua larangan-Nya dan bersegera melakukan semua yang diridoi-Nya.

Semua bentuk ketaatan, amal ibadah tidak lain adalah sebagai realisasi penghayatan seorang muslim terhadap kalimat Allahu Akbar. Dalam kaitan ini Prof Abdurrazaq Al-Abbad menjelaskan :
وَفِي هَذَا إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ الدِّينَ كلَّه يُعدُّ تَفْصِيْلاً لِكَلِمَةِ “الله أكبر” فَالْمُسْلِمُ يَقُوْمُ بِالطَّاعَاتِ جَمِيْعَهَا وَالْعِبَادَاتِ كُلَّهَا تَكْبِيْراً للهِ وَتَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ وَقِيَاماً بِحَقِّهِ سُبْحَانَهُ، وَلِهَذَا يُرْوَى عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: “قَوْلُ الْعَبْدِ: اللهُ أَكْبَرُ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

Hal itu menunjukan bahwa agama secara keseluruhan dianggap sebagai rincian dari kalimat Allahu Akbar. Seorang muslim mengerjakan semua ketaatan dan ibadah adalah bentuk pengagungan dan penghormatan kepada Allah SWT dan sebagai bentuk memberikan hak-Nya. Oleh karena itu, diriwayatkan  dari Umar Bin Khathab  RA bahwa ia mengatakan: “Ucapan seorang  hamba Allahu Akbar adalah lebih baik dari dunia dan isinya”.

Penjelasan di atas menekankan kepada kita bahwa ajaran Islam merupakan penjabaran dari takbir. Ajaran Islam adalah bentuk pengagungan Allah swt. Kita memperhatikan dan mentaati segala yang Allah perintahkan dan menjauhi yang dilarang-Nya. Kita melakukan shalat karena Allah memerintahkan.

Kita tidak makan makanan yang haram adalah karena dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitupula dengan ibadah-ibadah, bermuamalah dan kegiatan dalam kehidupan yang lainnya. Semuanya harus memperlambangkan pengagungan kita terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Manakala kita maksimal mengindahkan perintah dan larangan-Nya maka berarti benar-benar mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk itulah kita dapat memahami ucapan Umar di atas bahwa: “Ucapan seorang  hamba Allahu Akbar adalah lebih baik dari dunia dan isinya”.

2.    Makna Tahlil (La Ilaha illa Allah)
Makna Kalimat Tahlil yang benar adalah tidak ada yang disembah dengan benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala (La Ma’buda bi haqqin illa Allah). Manusia banyak menyembah tuhan-tuhan menurut persepsi mereka masing-masing. Semua itu adalah tidak benar. Yang benar adalah hanya Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah. Makna tersebut banyak ditunjukan oleh ayat-ayat Al-Quran. Diantaranya:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Hajj [22]: 62)

Kalimat yang akan menyatukan umat Islam adalah tahlil. Di samping takbir maka tahlil harus mendorong persatuam Umat Islam. Semua umat Islam mengucapkan takbir dan tahlil. Seluruh umat Islam sepakat dengan dua kalimat ini. Sudah sepatutnya mereka pun bersatu untuk memperlihatkan pengagungan kepada Allah dengan mentaatinya.

Tuhan umat Islam adalah sama. Yang disembah oleh mereka adalah hanya satu yaitu Allah. Kiblat dan panduan hidup mereka adalah harus dari Allah. Konsep, pemahaman, dan ketentuan dalam kehidupan harus mengejawantahkan takbir dan tahlil.

Kalimat tahlil jika dipahami dengan benar akan menjadi kekuatan besar yang mempersatukan umat Islam. Tuhan yang disembahnya adalah sama. Segala sesuatu yang dilakukan seorang muslim diperuntukkan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhannya. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala!

3.    Makna Tahmid (Wa Li Allah al-Hamd)
Kalimat Tahmid ialah al-Hamdu li Allah (Segala puji milik Allah). Dalam Takbir ‘Id susunannya dibalik menjadi Wa Li Allah al-Hamd. Susunan berbeda namun maknanya sama. Kalimat Tahmid menegaskan bahwa kita sebagai makhluk Allah mengakui keagungan Allah. Kita pun memuji kepada-Nya. Hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala semua pujian.

Kita mengetahui bahwa Allah adalah terpuji dalam semua hal terkait dengan-Nya. Dzat Allah adalah terpuji. Nama Allah adalah terpuji. Perbuatan Allah adalah terpuji. Sifat Allah adalah terpuji. Apa yang dikehendaki dan ditentukan oleh Allah adalah tidak ada yang tercela.

Tidak sampai di situ, apa yang dianugerahkan Allah kepada makhluk-Nya termasuk kita sebagai manusia adalah terpuji. Tidak ada yang tidak berguna dan hina. Rabbana ma khalaqta hadza bathila. Namun pandangan kita sebagai makhluk lemah sering tidak pada tempatnya.

Karunia Allah bagi manusia terwujud dalam berbagai segi dan segmen kehidupan. Akhirnya mereka memiliki dan menciptakan berbagai penilaian dan penghargaan yang memperlihatkan keterpujian. Semuanya itu adalah pemberian dari Allah Swt.

Oleh karenanya kita harus memperlihatkan kesadaran dan pengakuan akan keterpujian Allah dalam kehidupan kita. Kalimat itu kalau diaplikasikan akan melahirkan sosok seorang muslim yang ihlas. Beramal, berjuang bukan untuk mencari imbalan dan pujian dari manusia. Karena semua pujian milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kejayaan Islam hanya bisa diraih dari perjungan orang-orang yang ikhlas.
4.    Kembali memahami kalimat thayyibah
Kalimat thayibbah adalah kalimat yang dapat menyatukan umat Islam. Visi dan misi umat Islam terdapat dalam kalimat tersebut. Dalil-dalil dalam al-Quran sangat banyak menjelaskan keutamaannya. Untuk menuju kejayaan Islam mulailah dengan memahami kalimat thayyibah tersebut. Hayati, dalami, dan jalankanlah konsekwensinya.

 

 

***

Oleh: H. Husen Zainal Muttaqin, Lc., M.Pd.I, Anggota Dewan Hisbah PP Persis