Pelajar Muslim Harus Selektif Dalam Bertindak

Dipublish pada 01 Januari 2018 Pukul 06:00 WIB

36 Hits

Waktu telah berlalu, menandakan ketaatannya atas perintah Rabb–Nya.
Malaikat pun sudah mencatat prilaku–prilaku yang telah dikerjakan oleh para makhluk–Nya yang hidup di dunia.

Hidup ini tidak bisa ditarik untuk mengembalikan kehidupan yang sudah berlalu, ataupun ingin mencapai kehidupan yang masih ghoib keberadaannya, tugas kita sebagai hamba – Nya ialah, hidup dengan menaati norma–norma yang telah di gariskan–Nya di dalam syari’at yang telah di ejawantahkan melalui utusan–Nya yaitu Nabi Muhammad Saw.

Hari ini dan malam ini adalah hari terakhir penutupan tahun 2017 M / 1439 H, dimana akan terjadinya pergantian tahun yang lama berpindah ke tahun yang baru, semua yang telah dikerjakan ditahun 2017 di penghujung tahun ini, akan menjadi memontum bersejarah, yang harus dijadikan sebagai ladang untuk mentafakkuri atau berintropeksi diri.
Karna tidak menutup kemungkinan, bahwa yang namanya manusia tidak akan luput dari yang namanya perbuatan dosa, sebagaimana yang telah Rosululloh saw ingatkan didalam haditsnya :

كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون حسن. صحيح الترغيب والترهيب( 3139
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.” (hasan, lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139).

Namun itu semua bukan menjadi hal yang membuat kita menjadi sedih, karna di akhir hadits itu disebutkan bahwa sebaik – baik manusia adalah yang banyak bertaubat, sesuai dengan firman Allah swt :

(( قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا )) [الزمر:53
“Katakanlah (Ya Muhammad):”Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53).

Itulah beruntungnya kita dilahirkan dalam keadaan Islam, maka dari itu kita harus selalu menjaga diri kita dari perbuatan dosa, dan bukan maksudnya kita memahami bahwa Allah Swt Maha pengampun itu dijadikan dalih untuk kita seenaknya berbuat dosa.
Bunyi nyaring terompet dan cahaya gemerlap kembang api senantiasa menghidupkan suasana malam tahun baru. Dan seluruh ummat manusia sejagad raya dari beragam macam etnis, dan budaya dari mulai kalangan anak–anak hingga orang tua dibelahan dunia sana sedang melakukan perayaan tahunan ini.

Tidak terkecuali dan tidak mau kalah negara kita sendiri pun yaitu Indonesia, sama halnya dengan negara – negara lain, sedang melakukan perayaan tahunann ini.
Terkhusus bagi mereka kaum muda mudi yang begitu antusias dalam menyambutan tahun baru ini, tempat – tempat tongkrongan pun di penuhi oleh kaum muda mudi, dengan daalih mereka juga akan merayakan tahun baru ini, hingga tepat pukul 00.00 nanti.
Cara – cara yang mereka lakukan untuk menyambut tahun baru itu, sangat jauh dari prilaku – prilaku yang baik, mulai dari meniup trompet, menyalakan kembang api, kemudian adalagi yang membawa pasangan lawan jenis padahal bukan muhrimnya, dan ada juga yang sambil meminum minuman haram, pada intinya cara yang mereka lakukan itu sangat kental dengan kemaksiatan.

Apabila kita merunut sejarah, bahwa kebiasaan merayakan hari hari tertentu adalah kebiasan kaum Yahudi dan Nashroni, dan ini sudah merebak dan mulai ditiru oleh sebagian kamu muslimin, Rosululloh sudah memberitahukan dan mewanti – wanti dari jauh jauh hari, didalam haditsnya yang berbunyi :

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

Di hadits lain pun Rosululloh saw bersabda :
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).
Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 27: 286.

Syaikhul Islam menerangkan pula bahwa dalam shalat ketika membaca Al Fatihah kita selalu meminta pada Allah agar diselamatkan dari jalan orang yang dimurkai dan sesat yaitu jalannya Yahudi dan Nashrani. Dan sebagian umat Islam ada yang sudah terjerumus mengikuti jejak kedua golongan tersebut. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 1: 65.

Imam Nawawi –rahimahullah– ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.” (Syarh Muslim, 16: 219)

Apabila kita melakukan apa yang suka dilakukan oleh orang – orang yang diluar islam, contohnya dalam hal perayaan ini, maka kita akan termasuk bertasyabbuh.
Tasyabbuh ialah menyerupai apa yang dilakukan kebiasaan oleh orang – orang diluar islam, dan kita sebagai muslim sudah sepatutnya tidak melakukan hal demikian, sebagaimana apa yang di kemukakan oleh Rosululloh dalam haditanya :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)

Kenapa sampai kita dilarang meniru-niru orang kafir secara lahiriyah? Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 154).

Di tempat lain dalam Majmu’ Al Fatawa, beliau berkata, “Jika dalam perkara adat (kebiasaan) saja kita dilarang tasyabbuh dengan mereka, bagaimana lagi dalam perkara yang lebih dari itu?!” (Majmu’ Al Fatawa, 25: 332)

Nah apabila kitta perhatikan dari mulai kata merayakannya, bagi kita ummat islam merayakan hari tertentu tidaklah dicontohkan kecuali merayakan hari raya yang dua yaitu, ‘idul fitri dan ‘idul adha, selain kedua itu berarti tidak dicontohkan oleh Rosululloh saw.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahihsesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan. Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3).

Kalau ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.
Perayaan di luar dua perayaan di atas adalah perayaan Jahiliyahkarena yang dimaksud ajaran jahiliyah adalah setiap ajaran yang menyelisihi ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga merayakan perayaan selain perayaan Islam termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِى الْحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ
“Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari no. 6882)

Kemudian yang selanjutnya dalam hal cara perayaanya yaitu dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api. Dari kedua cara ini apabila di teliti, dua hal ini berindikasi menyerupai kebiasaan kaum Yahudi yaitu terompet sebagai alat panggil untuk datangnya waktu beribdah, dan Kempang api di indikasikan serupa dengan kaum Majusi yang suka menyembah Api.

Maka dari itu kita selaku ummat islam sudah saatnya berhati – hati dalam bertindak, terkhusus bagi kaum muda mudi yang notabene mempunyai kecenderungan rasa penasaran yang besar. Bagi kita pun sebagai pelajar muslim, orang yang terpelajar sangat disayangkan apabila beprilaku dalam hal – hal yang dilarang oleh agama, sekalipun hawa nafsu kita ingin melakukannya.

Akhir kata, semoga kita selalu dijaga dan di arahkan oleh Allah Swt dalam segala tindak tanduk kita di kehidupan sehari – hari, dan bagi saudara – saudara kita yang melakukan hal – hal yang dilarang oleh agama itu, semoga Allah menyadarkan mereka dan mengampuninya.

Wallahu ‘alam bishshowab...

Arman Nurhakim Maulana
(Ketua Umum PP IPP) ⁠⁠

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?