Penggunaan Kata Falak dalam Al-Quran

Penggunaan Kata Falak dalam Al-Quran

SHARE

Dengan mengucap Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menyusun sedikit demi sedikit pengetahuan yang saya dapatkan dalam bentuk tulisan. Alangkah senangnya hati ketika diberikan suatu tantangan ini, sehingga sebagai motivasi bagi saya untuk terus mengembangkan bakat saya dalam dunia tulis menulis.”- tutur pemateri dalam diskusi Whatsapp

Ada apa sih? Ko bisa ribut seperti ini? Mengenai apa itu Ilmu Falak dan Apa itu Astronomi?

Disini saya tidak akan menyinggu ke ranah Astronomi, karena saya masih sangat awam dengan Ilmu Tersebut dan jauh dari kata paham betul terkait Astronomi. Maka dari itu, saya disini hanya menerangkan ruang lingkup Ilmu Falak.

Tapi, sebelum membahas secara lanjut. Kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu Ilmu? Dan,  apa itu Falak?

Ilmu adalah Keyakinan yang kuat dan sesuai dengan Hakikat yang sebenarnya, berdasarkan realita yang ada.

Falak adalah Gari edar atau disebut juga orbit. Jadi, tempat dimana suatu benda langit melintas.

Jadi, jika dilihat dari definisi, terdapat dua kategori :

1. Berdasarkan Etimologi
Ilmu Falak merupakan Pengetahuan yang diyakini tentang lintasan benda-benda langit.

2. Berdasarkan Terminologi
Ilmu Falak merupakan Ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit. Seperti Matahari, Bulan, Bumi, Bintang dan benda langit lainnya. Dengan tujuan untuk mengetahui posisi dari benda langit itu sendiri serta keadannya.

Berdasarkan definisi yang tadi saya sampaikan. Jadi, kata kunci Ilmu Falak merupakan Garis Edar ataupun Orbit.

Adapun untuk kata Falak sendiri ditegaskan dalam alqur’an sebanyak dua kali, yaitu sebagai berikut :

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an,Al-Anbiya 21:33)

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an,Ya-Sin 36:38)

Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Qur’an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex.

Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.

Sebagaimana komet-komet lain di alam raya, komet Halley, sebagaimana terlihat di atas, juga bergerak mengikuti orbit atau garis edarnya yang telah ditetapkan. Komet ini memiliki garis edar khusus dan bergerak mengikuti garis edar ini secara harmonis bersama-sama dengan benda-benda langit lainnya.

Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Al Qur’an sebagai berikut:

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ

“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,” (Al Qur’an,Adh-Dhariyat 51:7)

Terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah “berenang” sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.

Bisa terbayangkan oleh teman-teman sekalian betapa indahnya mereka berenang kesana kemari tanpa ada yang menyenggol satu sama lain. Indah bukan?

Semua benda langit termasuk planet, satelit yang mengiringi planet, bintang, dan bahkan galaksi, memiliki orbit atau garis edar mereka masing-masing. Semua orbit ini telah ditetapkan berdasarkan perhitungan yang sangat teliti dengan cermat. Yang membangun dan memelihara tatanan sempurna ini adalah Allah, Pencipta seluruh sekalian alam.

Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.

Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Qur’an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa “dipenuhi lintasan dan garis edar” sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Qur’an yang diturunkan pada saat itu: karena Al Qur’an adalah firman Allah.

Jadi, mengapa didalam alqur’an menggunakan nya kata Falak? Karena, arti falak sendiri ialah sesuatu yang melingkar. Sehingga ketika ada suatu objek yang berputar padanya tidak akan salah jalur.

Dijelaskan dalam Buhuts Falakiyyah Fie Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah, Muhammad Abd. Karim Nasr menyatakan :
“Ilmu Falak ialah Ilmu yang khusus membahas perhitungan benda langit. Juga menentukan arah Bintang dan mempelajari karakteristiknya, serta menafsirkan peristiwa alam dengan tafsiran atau penjelasan ilmiah.”

Ilmu falak sering dikenal dengan Ilmu Hisab Rukyah. Karena, ditinjau berdasarkan 2 pendekatan :
1. Hisab (Perhitungan)
2. Rukyah (Observasi)
*Berdasarkan QS. Yunus ayat 5 & Al-an’am ayat 36.

Adapun nama lain dari Ilmu Falak ialah :
1. Ilmu Rashd
2. Ilmu Miqat
3. Ilmu Handasah
4. Ilmu Hai’ah

Lalu, untuk pembahasan utama dari Ilmu Falak ialah :
1. Rashdul Qiblat (Penentuan arah Kiblat & bayangan)
2. Waktu Shalat
3. Penentuan Awal Bulan dan Akhir Bulan
4. Penentuan Gerhana.

Manfaat dari mempelajari Ilmu Falak :
1. Dapat menentukan arah kiblat suatu tempat dipermukaan Bumi
2. Memastikan waktu Shalat
3. Memastikan bahwa Matahari sudah terbenam untuk waktu berbuka
4. Dapat mengarahkan pandangan dengan tepat ke posisi Hilal ketika Rukyatul Hilal
5. Dapat menghitung akan terjadinya peristiwa gerhana berpuluh tahun yang akan datang bahkan bisa seratus tahun yang akan datang lho.. 6. Serta, berkaitan dengan waktu shalat gerhananya ya sob.

Adapun Klasifikasi Ilmu Hisab :
1. Urfi Istilahi
2. Taqriri
3. Haqiqi

Teringat sebuah ayat yang slalu terlantun dalam hati yaitu QS.  Al-Imran ayat 190 yang berbunyi :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Tafsir ayat :
Yakni yang ini dalam ketinggiannya dan keluasannya, dan yang ini dalam hamparannya, kepadatannya serta tata letaknya, dan semua yang ada pada keduanya benipa tanda-tanda yang dapat disaksikan lagi amat besar, seperti bintang-bintang yang beredar dan yang tetap, lautan, gunung-gunung dan padang pasir, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman dan buah-buahan serta hewan-hewan, barang-barang tambang, serta berbagai macam manfaat yang berancka warna, bermacam-macam rasa, bau, dan kegunaannya.

Maksudnya, saling bergiliran dan saling mengurangi panjang dan pendeknya; adakalanya yang ini panjang, sedangkan yang lainnya pendek, kemudian keduanya menjadi sama. Setelah itu yang ini mengambil sebagian waktu dari yang lain hingga ia menjadi panjang waktunya, yang sebelum itu pendek, dan menjadi pendeklah yang tadinya panjang. Semuanya itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.

Yaitu akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena hanya yang demikianlah yang dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya masing-masing secara jelas dan gamblang. Lain halnya dengan orang yang tuli dan bisu serta orang-orang yang tak berakal.

Yang menjadi tonggak ukur saya ialah Orang-orang yang berakal.

Adapun ciri-ciri orang yang berakal ialah Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.

Syekh Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, “Sesungguhnya bila aku keluar dari rumahku, tiada sesuatu pun yang terlihat oleh mataku melainkan aku melihat bahwa Allah telah memberikan suatu nikmat kepadaku padanya, dan bagiku di dalamnya terkandung pelajaran.” Demikianlah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abud Dunia di dalam Kitabut Tawakkul wal I’tibar.

Jadi, ketika sedang melakukan suatu pengamatan ataupun observasi. Bukan hanya sekedar duduk, menatapi lalu suka bahkan Cinta. Bukan, bukan hanya itu saja! Melainkan harus adanya penyebutan Asma Allah didalam hati. Bahwa, kita memang benar-benar mengagungkan-Nya.

انما العلم بالتعلم..
العلم قبل القول و العمل..
الله يأخذ بايدينا الا ما فيه خير للاسلام و المسلمين..

 

***

Penulis: Daisy Salsabila