PERANG SURIAH, jangan sampai salah tanggap!

PERANG SURIAH, jangan sampai salah tanggap!

SHARE

Suriah dalam konflik, benarkah atau sekedar rekayasa ? Tim Website Persis berkesempatan bertemu dengan Ust. Yusuf Burhanuddin (Bidgar Hubungan Luar Negeri PP Persis) disela-sela rapat yang dilaksanakan di Aula kantor PP Persis Lt.4. dalam pertemuan singkat tersebut beliau menyampaikan bahwa apa yang terjadi di Suriah ini banyak yang simpang siur,  pertama ada yang menyatakan bahwa ini adalah perang aqidah, idiologi antara syiah dan sunni. Jelas  bahwa yang terjadi antara syiah dan sunni itu bukan perbedaan madzhab tapi perbedaan aqidah atau agama. Kedua, mereka yang menganggap Syiah sebagai Madzhab artinya masih sebagai Islam,  bahwa yang terjadi di Suriah itu akibat adanya adu domba, Ust Yusuf menegaskan bahwa ini tidak benar,  kok bisa sampe berdarah-darah, memangnya umat Islam di Suriah ini mudah dibodohi, jarang gaul, tentu tidak mereka faham dengan kondisi mereka. Kita misalkan saja, jika di Indonesia terjadi perbedaan apakah sampai berdarah-darah, tidak akan mungkin, tapi kalau perbedaannya aqidah seperi Persis dengan Ahmadiyyah atau dengan yang lainnya, itu bisa terjadi. Kondisi yang terjadi di Suriah dan ini banyak didustakan oleh media-media, dan kalau kita tahu media-media dan di internet itu mereka menyuarakan sesuai dengan ideology mereka. Singkatnya, apa yang terjadi di Suriah itu terjadi karena adanya hegemoni dari minoritas Syiah yang sudah dimulai dari Hafez Asad hingga sekarang anaknya Basar Asad.

Masa kepemimpinannya sudah beralih pada kekerasan dan ini meningkat menjadi eskalasi kekerasan yang terus berlanjut, dan ini yang tidak diterima oleh masyarakat. Kemudian secara naluriah mereka melawan rezim tersebut, karena rezim itu sudah represif dan membuka peluang dengan Iran terlalu banyak, bahkan Suriah dikalangan pengamat politik internasional terutama di Timur Tengah menyebutkan bahwa  Suriah itu  ingin masuk menguasai Timur Tengah Raya dimana wilayahnya memanjang dari Israel hingga Timur di Persia ke Iran, jadi untuk mempengaruhi Timur Tengah adalah Suriah sebagai pintu gerbangnya, hingga terjadilah perang antara Sunni dengan Syiah.

Penduduk Sunni merupakan mayoritas, tapi Syiah ini yang memegang tampuk kepemimpinan dan tentara sehingga memiliki persenajataan dan lain sebagainya, maka berperanglah Syiah dan Sunni. Ketika Sunni hampir menguasai kota-kota di Suriah (dan sebenarnya Basar Asadz ini akan hengkang) dilakukan sebuah pertemuan dari kalangan Sunni, dalam pertemuan tersebut ada yang mempertanyakan jika Sunni menang maka negara ini akan dibawa kemana ? sebagian yang hadir mengusulkan agar dijadikan Negara demokrasi dan sebagian lain menyampaikan agar dijadikan Negara khilafah Ismlamiyyah, sehingga munculah perpecahan. Bagi mereka yang telah mengusulkan agar menjadi negara Khilafah akhirnya keluar dan menjadi benih Islamic State atau IS, yang kemudian menjadi Islamic State of Irak and Suriah atau ISIS.

Sedikit mengenai yang terjadi ini adalah perang segitiga, antara Syiah, Suni dan ISIS. ISIS memerangi Syiah, Syiah memerangi ISIS, Syiah memerangi Sunni, Sunni memerangi Syiah. Sekarang Syiah memerangi Sunni dan ini terjadi karena adanya perbedaan pendapat tadi dan mereka keluar dari barisan Sunni yang mana jumlah tentaranya cukup signifikan dari jumlah yang bersitegas ingin mendirikan Negara Khilafah. Maka diangkatlah khalifah Abu Bakar Al-Baghdadi yang kontrofersial, dan setelah itu mereka menganggap murtad, menganggap kafir bagi siapa saja yang tidak mengakui kekhalifahan ini dan memerangi kesemuanya, hal demikian yang bahaya. Ini terjadi karena kekecewaan tadi dan akhirnya disepakatilah tidak akan mengambil di Suriah tapi di Irak hingga muncul ISIS, Irak and Syam atau Irak and Suriah, hingga mereka kembali ke Irak untuk berjuang untuk melawan Syiah di Irak tapi sekarang akhirnya kembali lagi ke Suriah sehingga cenderung menghalangi perjuangan teman-teman Jabhah Nusroh  dan yang lainnya. Pasukan Suni itu bermacam-macam seperti salaf dengan nama Ahrosan, Jabhah Nusroh (jika di Indonesia seperti PKS atau Tarbiyyah) dan Ikhwanul Muslimien. Mereka semua selalu bersatu, namun ISIS ini selalu menjadi penghalang.

Kesemuanya ini tidak lahir begitu saja, jika mengamati dari sejarah maka ini lahir dalam sejarah rahim umat Islam sendiri. Karena secara ideology hal ini memiliki dasar sejarah yaitu Khawarij, jika kelompok hari ini keluar dari barisan Suni, tapi kalau Khawarij terdahulu itu keluar dari barisan Syiah dan kemudian mengacaukan, dan gaya-gaya mereka pun sama, seperti meyakini bendera hitam, meyakini kekhalifahan, adanya imam Mahdi dan lain sebagainya, inilah yang harus kita ketahui bersama.

Dalam posisi seperti ini, mana yang harus kita dukung? Ust Yusuf berpesan bahwa ini semua harus kita kaji, karena hampir semua kelompok itu sudah ada di Indonesia, kita harus berhati-hati, dan sayap-sayapnya sudah ada di Indonesia. Jika ditanya dukungan, jelas kita mendukung masyarakat Sunni yang benar-benar muklis memperjuangkan rakyat Suriah, tegaknya Islam dan kaum muslim di Suriah kemudian merebut kembali kesejateraan dan politik

Satu hal yang sering di desas desuskan oleh penulis Syiah di Indonesia, seperti Dina Sulaiman yang menyebutkan itu hanya LSM-LSM dari luar negeri yang meramaikan Suriah itu, semacam LSM gadungan, Ust Yusuf menyangkal, “masa yang demikian itu dilakukan sampai mati-matian, pembelaan dalam perlawanan rezim Suriah?”. Dan beberapa hal yang tidak pas dikemukakan oleh Dina seperti rakyat Suriah senang dipimpin oleh Basar Asad, padahal tidak demikian, karena masyarakat Suriah ini banyak yang mengalami kekerasan dan pembantaian oleh rezim Asad, dan dunia pun mengetahui, sejak rezim Bapaknya pun memang kejam. Begitulah perjuangan orang-orang Sunni dalam memperjuangkan agar tegaknya kembali kedaulatan di Suriah.

Konflik ini tidak luput dari pemberitaan media, karena kita ini sudah berada pada area terbuka, perang opini sedang berlangsung, maka kita harus mengetahui sumber berita yang kemudian di analisis, hingga kita percayai dan mana yang hanya sebagai propaganda seperti kita harus mewaspadai kepada media-media Syiah. Maka hari ini tidak hanya terjadi perang militer saja tapi perang opini sebagaimana tadi telah disampaikan, dengan begitu kita harus jeli mencari sumber informasi yang benar.

Pada akhir perbincangan kami, Ust Yusuf menyampaikan Pertama, sebagaimana Rasul telah menegaskan man lam yah tam bi umuri muslimin falaysa minni, barang siapa yang tidak perduli dengan urusan umat Islam, maka bukan golongan kami. Jadi kalau kita sudah bisa tertib mengurus diri dan juga kelompok, keluarga dan masyarakat di tanah air, maka berbagilah untuk memperhatikan, memperdulikan orang lain, apapun itu. Jika disarankan untuk mengirim orang ke suriah bukan jawaban tepat pula, karena kita akan berbentrokan dengan pemahaman dan ideologi yang kita dukung. Kedua, pertanyaan semakin rumit, karena itu kita dapat mendukung ke Suriah dengan harta, maka berikanlah infaq terbaik  dan kita pun harus memilih mitra yang tepat untuk menyalurkannya. Dan yang terakhir adalah  do’a, karena doa itu silahul mu’minin, do’a itu senjata orang mu’min.  Kondisi satu tahun terakhir, secara intens saya selalu memantau, melihat kondisi disana  yang mana di jalan-jalan itu banyak perempuan yang diperkosa secara rama-ramai, pembunuhan ibu & anak yang sedang menyusui, dll. Maka bayangkan jika hal  tersebut terjadi pada diri kita? Mereka yang terbunuh adalah anak-anak kita? Ini yang perlu kita fikirkan, mereka orang-orang Suni itu telah dihinakan layaknya binatang. Setelah banyak pemberitaan di media, orang Irak mengatakan bahwa semua itu adalah rekayasa, sungguh lucu mereka ini, mana mungkin jutaan chanel mau direkayasa. Perang opini ini mereka tujukan terutama pada Arab Saudi, karena merupakan negara yang paling depan memimpin koalisi menggagalkan usaha-usaha orang Syiah menguasai Timur Tengah.