Perhatian Rasulullāh terhadap Bulan Sya’bān

Dipublish pada 30 April 2018 Pukul 08:50 WIB

452 Hits

(studi analisis sanad hadis)
Dadi Herdiansah,


Terkadang manusia lupa akan apa yang ada dipelupuk mata walau itu adalah emas ketika mutiara atau berlian telah menjadi pusat perhatiannya. Begitupun gemerlapnya bulan Ramadlan walau sebulan atau beberapa minggu lagi akan hadir namun daya tariknya telah menyedot perhatian umat muslim hingga terkadang lupa sedang di bulan apakah ia dan apa yang harus dilakukan?

Seperti yang telah kita fahami pada postingan sebelumnya bahwa memanglah benar bulan Muharram adalah bulan terbaik shaumnya seseorang setelah Ramadlan, namun pada bulan Sya’ban lah Rasulullah saw paling perhatian dalam segala hal dalam rangka untuk mempersiapkan bulan Ramadlan menjadi lebih maksimal seperti riwayat berikut ini:

كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم-
يتحفظ من شعبان ما لا يتحفظ من غيره، ثم يصوم لرؤية رمضان، فإن غم عليه عد ثلاثين
يوما، ثم صام


“Adalah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam memperhatikan bulan Sya’bān tidak seperti perhatian beliau pada (bulan) yang lainnya. Kemudian beliau shaum karena melihat Ramadlan, apabila terhalang untuk melihatnya maka beliau menggenapkan bilangan tiga puluh hari kemudian beliau shaum”
Namun hadits ini tidak dikeluarkan oleh Imam al-Bukharī dan Imam Muslim. Apakah hadits ini shahih?
Untuk mempetakan riwayat ini dari seluruh kitab primer yang kami dapat, berikut bagan riwayatnya:



Dengan melihat bagan riwayat di atas maka dapat kami jabarkan sebagai berikut:
1.    Riwayat ini telah dikeluarkan oleh banyak Imam Mukharrij (warna biru). Diantaranya Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya, Imam Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dll.
2.    Walaupun telah dikeluarkan oleh banyak Imam Mukharrij namun tetaplah seluruh riwayat ini bermuara pada jalur tunggal yaitu dari Mu’āwiyah bin Shalih dari Ibnu Aby Qais dari ‘Aisyah r.a
3.    Mu’āwiyah adalah seorang rawi tsiqah (terpercaya). Imam Ahmad, Yahya bin Ma’īn, Imam an-Nasāi dan al-‘Ijly telah menilainya tsiqah. Adapun Abū Hātim menilainya Hasanul Hadīts namun tidak bisa dipakai hujjah.   Ibnu Sa’īd al-Qaththān menilainya dla’if. Atas keseluruhan nilai yang didapat al-Hāfidz dalam kitab taqrib nya menilai bahwa “ia itu jujur hanya saja banyak keliru”.  Imam Muslim menjadikannya sebagai rijal dalam kitab shahihnya sebab yang meriwayatkan dari Mu’āwiyah adalah ‘Abdurrahman bin Mahdī seorang rawi tsiqah sekaligus ahli naqd yang sudah masyhūr. Dan pada riwayat ini ibnu Mahdī pun telah meriwayatkannya.
4.    Ibnu Aby Qais namanya ‘Abdullah bin Aby Qais. Beliau seorang rawi tsiqah. Imam Abū Hātim menilai shālihul hadīts.  

Riwayat ini hemat penulis hasan. Oleh karena itu Imam ad-Dāraquthny menilai hasan shahīh. Imam al-Hakim juga menilainya shahīh atas kedua syarat al-Bukhārī dan Muslim, namun lebih tepatnya hanya syarat Muslim saja adapun Imam al-Bukhārī ia (Mu’āwiyah) tidaklah dipakai.

Riwayat ini memberikan suatu informasi bahwa Rasulullāh saw sangat perhatian pada bulan Sya’bān ini atas segala amal kebaikannya yang tentunya hal ini bisa difahami guna menyiapkan bulan Ramadlān yang penuh berkah itu benar-benar termaksimalkan karena kita sudah terbiasa pada bulan sebelumnya yaitu Sya’bān. Layaknya seseorang yang akan berlomba, ia melakukan pemanasan terlebih dahulu agar lombanya bisa termaksimalkan.

Diatara perhatiannya Rasulullāh saw pada bulan Sya’bān ini beliau memperbanyak shaum dibanding pada bulan-bulan yang lainnya sebagaimana didapatkan riwayat yang sema’na yang menguatkan riwayat Mu’āwiyah ini yang dikeluarkan oleh Imam Muslim No. 2778:


عَنْ أَبِى سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ - رضى الله
عنها - عَنْ صِيَامِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ كَانَ
يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ. وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ.
وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.


“Dari Abī Salamah ia berkata: saya pernah bertanya kepada ‘Aisyah r.a tentang shaum Rasulullāh saw. Maka ia pun berkata: Rasulullāh saw sering shaum hingga kami menduga beliau akan shaum seterusnya. Dan beliau sering berbuka hingga kami menduga beliau akan berbuka seterusnya. Dan aku tidak pernah melihat beliau shaum terus sebulan penuh kecuali Ramadlan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau shaum sunnah dalam sebulan yang lebih banyak daripada shaum di bulan Sya’bān. Beliau shaum pada bulan Sya’bān hingga sisa harinya tinggal sedikit”

Hadits ini selain dikeluarkan oleh Imam Muslim juga dikeluarkan oleh banyak imam. Riwayat ini shahīh. Rawi-rawinya tsiqah.

Mari kita persiapkan dari sekarang untuk menyambut bulan Ramadlan sebagai pemanasan agar pada waktunya di bulan Ramadlan kita semakin siap dengan beramal shalih yang lebih banyak. Tebarlah kebaikan dimanapun kita berada, tetaplah senyum, karena dengan senyum akan meluluhkan kerasnya hati seseorang. Tidak lupa kita perbanyak amalan sunnah-nya.

________________
Abu Aqsith, Dadi Herdiansah.


[1]Kitab tahdzību al-Kamāl. Imam al-Mizzy. Juz 28 hal. 187. No. rawi: 6058

[2]Kitab taqrību at-Tahdzīb. Ibnu Hajar. Hal955 no. rawi: 6810

[3]Kitab tahdzību al-Kamāl. Imam al-Mizzy. Juz 15 hal. 460. No. rawi: 3496

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?