Prof, Kenapa Anda Masih Bertahan di Jamiyyah Persis?

Prof, Kenapa Anda Masih Bertahan di Jamiyyah Persis?

SHARE

Pertanyaan semacam itu, kerap kali muncul dari benak banyak orang. Sekelas Deputi Mentri, Profesor yang satu ini sebenarnya sudah ada di level kemapanan. Namun apa sebabnya, mau-maunya bertahan di Jamiyyah Persatuan Islam yang bahkan sering muncul dinamika dan sekelumit persoalan di dalamnya? Padahal jika dilihat prosfeknya, masih ada ormas Islam yang lebih menjanjikan secara politik.

Dengan tenang, Profesor yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Majelis Penasehat PP Persis ini, menjawabnya dengan 5 Alasan;

  1. Alasan Genealogis. Profesor yang satu ini lahir dari keluarga anggota persis. Bapak dan ibunya aktif di persis meskipun hanya di tingkat cabang. Sepertinya  orang tuanya lebih senang anaknya aktif di Persis dibandingkan ormas lain.
  2. Alasan Sosiologis. Prof lahir di kampung Leles – Desa mekarsari, Kecamatan ciparay – Kab. Bandung. Persis sudah hadir di kampungnya sejak tahun 1953. Satu kampung hampir semua anggota persis. Agak aneh kalau di kampung dirinya tidak masuk persis.
  3. Alasan Idealis. Prof ini kuliah di jurusan Sejarah. Dia membandingkan sejarah dan aktivitas berbagai ormas islam. Satu satunya ormas yang konsisten memperjuangkan tegaknta quran sunnah, bagi dirinya pribadi, dia temukan hanya di Persis.
  4. Alasan Pragmatis. “Sederhana saja. Mudah-mudahan dengan aktif di Persis terbuka sedikit ladang amal untuk bekal pulang ke kampung akhirat. Dan semoga pula ketika saya wafat kelak menambah jumlah orang yang menshalatkan” ucap sang Profesor.
  5. Alasan Personal. Orang tuanya sangat ridho mewakafkan anaknya untuk aktif di jamiyyah maka dirinya berusaha untuk taat pada pesan personal kedua orang tua.

Karena itulah. Meskipun profesor ini bukanlah lulusan pesantren persis, hanya pernah ikut sekolah sore hari di madrasah ibtidaiyyah persis di kampungnya yang tanpa ijazah. Dirinya tetap memilih aktif di Persis.

 

 

Sekilas Tentang Kiprahnya di Jamiyyah Persis

Ketika SMA tahun 1982-1985 sudah ikut bergabung di PC. Pemuda Persis Magung. Sekarang PC. Pemuda Persis Ciparay. Tahun 1985-1989 semasa kuliah di IKIP Bandung (UPI sekarang), diamanahi sebagai Sekretaris PC. Pemuda Persis Magung.

Tahun 1990 ketika muktamar Pesis di garut, diajak bergabung oleh ustad Entang Mukhtar sebagai Ketua Umum PP.  Pemuda Persis untuk menjadi salah seorang tasykil di PP. Pemuda Persis (1990-1995) bersama Ust. Atip Latiful hayat dan ust. Aam Amiruddin. Dilanjutkan tahun 1995-2000 dimasa ketua umum Atip Latifulhayat.

Ketika masih duduk di PP. Pemuda Persis masih berusia 31 tahun, di Tahun 1998 diminta bergabung di Persis untuk menjadi ketua bidgar Dikti. Dalam masa dua tahun bidgar dikti, Profesor mendirikan STKIP Persis pada tahun 1999 bersama Haji Andi dan Ustad Ino sebagai sekretaris bidgar dikti. Yang alhamdulillah telah berkembang sampai sekarang.

Pada muktamar di jakarta tahun 2000, ustad shiddiq amien meminta profesor untuk mendampinginya sebagai Sekretaris Umum PP. Persis periode 2000-2005. Dan tercatat sebagai sekum termuda di usia 33 tahun dan satu satunya sekum PP. Persis yang bukan alumni pesantren Persis.

Sejak 2005-2015 masih aktif di PP. Persis sebagai ketua dewan tafkir dan saat ini di periode 2015-2020 diamanahi sebagai sekretaris majelis penasehat. Dan juga tercatat sebagai anggota penasehat PP. Persis termuda.

Diatas semua itu, dalam jabatannya sebagai deputi menteri sekretaris negara bidang hubungan kelembagaan dan kemasyarakatan, dalam keikutsertaan di berbagai forum nasional dan internasional selalu membawa misi Persis. Alhamdulillah, saat ini Satu satunya kader persis yg menempati posisi deputi menteri eselon 1A  yg berada di ring satu istana. Dengan tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan As-sunnah. —Semoga—

Bagaimana dengan diri kita?

Apa yang bisa kita berikan untuk jamiyyah Persatuan Islam. Jawabannya silahkan dengan cara mengaktualisasikan diri sesuai peran masing-masing untuk jihad jamiyyah. (HL & TG)