Rasa Kecewa terhadap Orangtua dan Jalan Hidup Seseorang

Rasa Kecewa terhadap Orangtua dan Jalan Hidup Seseorang

Dipublish pada 07 Maret 2019 Pukul 02:22 WIB

1250 Hits

Dari sekian banyak masalah anak usia remaja yang sering ditangani, seringkali kuat sekali kaitannya dengan kondisi di internal keluarganya. Konflik masalah di rumahnya ternyata menjadi beban berat, melebihi beratnya masalah yang terjadi di luar baik itu dengan teman, pelajaran, atau pun masalah lainnya.

Bagi sebagian orang, mereka harus menerima kenyataan pahit di keluarganya. Ada perlakuan-perlakuan orangtua yang tak sesuai  harapannya. Banyak remaja yang merasa sakit hati karena mereka selalu dibanding-bandingkan. Mereka juga ada yang merana karena perlakuan yang dirasa tak adil. Ada juga yang mesti menelan kepahitan karena ayah ibunya berpisah. Ibunya nikah lagi, ayahnya juga nikah lagi. Dia akhirnya diurus oleh nenek atau pamannya, bahkan ada juga yang benar-benar hidup sendirian. Tak jarang juga, diantara mereka yang malam malam harinya tak bisa tidur karena telah melihat ayah ibunya cekcok bertengkar. Ada juga yang meratapi nasib dirinya karena kondisi ekonomi orangtua tak sebagus orangtua temannya. Tak jarang juga, sebagian yang lain harus menanggung perih karena seolah ayah ibu tak peduli terhadap hidupnya, ia sering dikata-katai negatif hampir jarang dipuji atau diapresiasi.

Munculah sebuah rasa kecewa terhadap ayah ibunya. Rasa ini mendorong seseorang untuk berontak sebagai alasan bertahan hidup. Sebab, nyaris terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri penderitaan atas kekecewaan tersebut dengan sebuah aksi yang namanya bunuh diri.

Jalan Gelap

Rasa kecewa yang terus menerus diperbesar dengan kemarahan dan ketidakterimaan, akan mengantarkan orang itu pada jalan hidup yang gelap. Marah karena ia merasa menjadi korban atas perilaku perilaku menyakitkan dari kedua orangtuanya. Tidakterima mendapati kondisi ayah ibunya tak sesuai keinginannya.

Kekecewaan, kemarahan dan ketidakterimaan atas kondisi yang ada, membuka celah setan untuk mengintervensi dan memprovokasi dirinya. Bisikan bisikan jahat mulai bergelimpangan di pikirannya. Dan seolah olah ia berhak melakukan hal tersebut, karena merasa punya alasan kuat.

Akhirnya jalan gelap mulai ia tempuh. Kenakalan demi kenakalan ia lakukan. Kewajiban ibadah mulai malas dikerjakan hingga berani ia tinggalkan. Ia turuti bisikan setan untuk melampiaskan kekecewaannya selama ini dengan hidup bebas dan serampangan, ikut komunitas tertentu yang penting asyik, minum obat-obatan, melakukan cutting (menyayat nyayat kulit sendiri), hingga menenggak minuman keras.

Yang sebenarnya terjadi, ia bukannya bahagia, tetapi malah tambah menderita dan merusak dirinya sendiri. Dosa demi dosa yang terus dikerjakan hanya akan menghadirkan kesengsaraan, baik di dunia dan pasti lebih lebih lagi ketika di akhirat. Ia mulai tertipu oleh setan. Setan sudah mampu membuatnya memandang baik jalan hidup yang ia pilih.



Jalan Terang

Jalan hidup yang gelap itu akan berakhir manakala ia sampai pada titik sadar. Penderitaan dan pahitnya kekecewaan itu akan benar benar berganti dengan kedamaian, manakala ia sampai pada sebuah titik kesadaran yang disebut keinsyafan.

Ia hentikan pelampiasan pelampian berdosanya dengan cara taubat. Mengimani Allah adalah satu-satunya alasan untuk meleburkan rasa kecewa terhadap orangtua.

Keimanan dan ketakutan terhadap Allah, akan membuat orang itu terarah hidupnya sekalipun harus dihadapkan pada sebuah rasa kecewa yang teramat mendalam di keluarga.

Ia menyadari, akan tiba suatu masa, dimana ia akan mempertanggungjawabkan amalnya sendiri. Ia lari dari saudaranya, ayah ibunya hingga pasangan dan anak-anaknya. Apapun perlakuan dan betapapun kondisi orangtua, itu hanya sebuah momentum (peristiwa). Yang membuatnya menjadi dosa atau pahala tergantung respon diri kita.

Jika kita melakukan respon yang dimurkai Allah, kita akan berdosa. Dosa tersebut yang menyeret kita ke 'jalan hidup yang gelap'. Jika respon kita diridhoi oleh Allah, maka kita akan meraih karunia dan keberkahan di dunia, kelak berlipat lipat di akhirat.

Satu-satunya alasan kita bisa memaafkan dan ikhlash menerima kondisi orangtua, adalah keimanan kepada Allah dan hari akhir. Jangan munculkan alasan dan pertanyaan yang lain, lakukan saja.

Oh ya, apa yang membuat seorang anak merasa kecewa berat terhadap kedua orangtuanya?

Jawabannya karena ia gagal memaknai dan mengambil kesimpulan yang salah.

Jangan menuntut 'kesempurnaan' ayah ibu, karena kita sebagai anak juga 'tak sempurna' bagi mereka. Kita tak tahu betapa sakitnya hati mereka, saat memarahi atau bahkan menghukum  diri kita. Kita juga tak memahami bahwa niat mereka baik, hanya saja kita terlalu naif karena memandang tak adil terhadap sikap mereka. Niatnya memotivasi, dengan cara membanding-bandingkan. Jika kita tak suka, ya bicarakan saja baik baik. Jaga terus adab kita kepada mereka. Takutlah kita kepada murka Allah..

Ayah ibu boleh boleh saja memperlakukan kita secara buruk (menurut pandangan kita, meski kita tak tau detail isi hati mereka), tapi kita tak pernah punya alasan untuk menyakiti perasaan mereka (terlebih ibu yang sudah mengandung diri kita selama 9 bulan lamanya).

Ayah ibu boleh boleh saja kata katanya terasa menyakitkan, tapi kita tak pernah punya alasan kepada mereka yang telah mengasihi dan mengurus diri kita siang malam saat kita masih bayi dulu. Mereka yang terus terganggu tidurnya, ketika kita masih sangat bayi. Terlebih ketika kita sedang sakit kala itu.

Jangan salahkan ayah ibu kita, jika kondisi ekonomi sedang krisis. Jangan banyak menuntut ini itu kepada mereka. Karena kita tak tau apa apa tentang perjuangan kerasnya selama ini, menghidupi kebutuhan keluarga.

Tolong pandang sekali lagi wajah ayah dan ibu kita, pantaskan kita kecewa terhadap mereka? Yang begitu berjasa dalam hidupmu

Apakah pantas, kita membalas sakit hati ini kepada mereka? Padahal dulu engkau mungkin tak tau, ayah ibu begitu menyayangimu melebihi adik adikmu saat ini..

Seburuk buruknya jalan hidup seseorang, ia akan kembali membaik, selama ada setitik rasa untuk membahagiakan ayah ibunya yang dilandasi keimanan kepada Allah (meski keduanya sudah tiada, ia terus mendoakan ampunan bagi almarhum ayah ibunya).

Merasa kecewa terhadap orangtua, hingga pada akhirnya menyuguhkan pilihan berat; mau jalan gelap atau jalan terang yang akan kita tempuh?

Pastikan jangan salah jalan, bisa sengsara di akhirat. Allahu A'lam

 

 

 

***

Penulis: Taufik Ginanjar


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?