Safari Dakwah PP. Pemuda Persis di Sapeken

Safari Dakwah PP. Pemuda Persis di Sapeken

Dipublish pada 23 Mei 2018 Pukul 09:43 WIB

855 Hits

Mendengar kata “Sapeken”, jama’ah Persatuan Islam (Persis) pasti tidak akan merasa asing. Ingatan pun akan langsung tertuju pada sebuah kepulauan di ujung timur Madura yang di sana eksis dakwah Persatuan Islam. Tetapi ingatan itu sebenarnya masih sebatas khayalan, sebab mayoritas jama’ah Persis, bahkan jajaran Pimpinan Pusatnya sekalipun masih langka yang pernah menjejakkan kaki di Pulau Sapeken. Sulitnya akses transportasi udara dan darat ke kepulauan Sapeken menjadi satu-satunya kendala untuk mengenal lebih dekat dakwah Persatuan Islam di Sapeken.

Atas usaha maksimal dari PC. Pemuda Persis Sapeken, alhamdulil-‘Llah penulis bisa menjejakkan kaki di pulau Sapeken, menemani Ustadz H. Eka Permana Habibillah, Ketua Umum PP. Pemuda Persis, dalam rangka safari da’wah jam’iyyah. Tepatnya pada 7-10 Mei 2018 silam, kami berdua diundang oleh PC. Pemuda Persis Sapeken, atas arahan dan bimbingan dari Ustadz H. ad-Dailami Abu Hurairah, Imam Masjid Agung Sapeken sekaligus Mudir ‘Am Pesantren Persatuan Islam Abu Hurairah, yang juga sebagai anggota Dewan Hisbah Persatuan Islam. Atas arahan dan bimbingan dari beliau lah segenap jama’ah Persis Sapeken, dengan pelaksana utamanya PC. Pemuda Persis Sapeken, mendukung sepenuhnya kegiatan safari dakwah jam’iyyah selama empat hari tersebut.

Sapeken itu sendiri adalah nama sebuah pulau terbesar di kepulauan paling timur Madura. Nama Sapeken ini kemudian dijadikan nama juga untuk kepulauan yang mengitarinya, yang terdiri dari 53 pulau kecil yang tersusun mekar menjadi 11 desa dan dijadikan satu dalam satu kecamatan, kecamatan Sapeken. Kecamatan paling timur di Madura ini masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Pulau Sapeken itu sendiri, luas daratannya sekitar 3 km x 1,5 km persegi. Jika yang terbesarnya saja sebesar ini, maka bisa terbayangkan bagaimana 52 pulau lainnya yang lebih kecil. 

Pulau Sapeken saat ini menjadi pusat pemerintahan tingkat kecamatan dan pusat bisnis. Bisa disebut pasar induk untuk warga di kepulauan Sapeken adalah Pulau Sapeken ini. Warga di pulau-pulau sekitar Sapeken berbelanjanya ke pulau Sapeken ini, tentunya menggunakan perahu yang menjadi alat transportasi utamanya. Para pedagang di Sapeken sendiri umumnya membeli barangnya dari Bali, Sumenep, dan Banyuwangi. Penulis yang sempat berjalan-jalan di sekitar pasar Sapeken memang tidak merasa sedang berada di pulau terpencil, karena melihat hampir semua kebutuhan manusia bisa ditemukan di pasar Sapeken, mulai dari sembako, rumah-rumah makan yang menjual makanan siap santap, pakaian dan segenap accesoriesnya, barang-barang elektronik, sampai SPBU. Tetapi memang dealer sepeda motor tidak penulis temui. Kata beberapa jama’ah Persis yang memiliki sepeda motor, umumnya sepeda motor yang mereka miliki diperoleh dari “pasar gelap” yang dilegalkan oleh polisi sendiri. Disebut dilegalkan karena memang warga membayar semacam pajak kepada polisi. Disebut “pasar gelap” juga karena memang umumnya warga memiliki sepeda motor tanpa STNK, dan membelinya juga dengan harga miring. Yang sama sekali tidak penulis temukan di Sapeken adalah kendaraan mobil, sebab memang jalan rayanya juga tidak ada. Jalan-jalan di pulau Sapeken hanya jalan-jalan kecil untuk sepeda motor dan pejalan kaki. Hanya kurang dari 30 menit saja, semua jalan di pulau Sapeken bisa dikelilingi dengan sepeda motor.

Meski bagian dari kepulauan Madura, tetapi warga di kepulauan Sapeken bukan etnis Madura, melainkan etnis Bajo dan Bugis dari Sulawesi. Mayoritas warga Sapeken adalah nelayan atau berusaha di bidang perikanan dan hasil laut. Bagi yang fisiknya kuat, umumnya mereka menjadi nelayan; baik dengan perahu atau kapal milik sendiri, ataupun menjadi buruh nelayan dengan perahu atau kapal milik majikannya. Bagi yang tidak mampu melaut mereka berusaha dengan berdagang. Ada yang berdagang di pulau Sapeken, ada juga yang menjual ikan dan hasil laut lainnya ke Jawa dan Bali. Berdasarkan pengamatan penulis, hasil laut utama dari kepulauan Sapeken ini adalah udang lobster dan ikan kerapu. Kedua jenis ikan ini umumnya dijual dalam keadaan hidup ke Hongkong dan Cina, melalui Bali. Para pengusahanya memiliki keramba-keramba yang terapung di tengah laut. Sekitar satu minggu sekali ikan yang sudah terkumpul banyak itu kemudian dikirimkan menggunakan kapal-kapal kecil ke Bali. Rata-rata dalam satu pengiriman itu mencapai 1 ton ikan hidup per kapalnya. Maka dari itu kapal-kapalnya itu sendiri umumnya memiliki kolam ikan di dalamnya yang cukup besar, yang cukup untuk menampung ikan hidup sebanyak 1 ton.

Perjalanan pergi dan pulang ke dan dari Sapeken memang cukup melelahkan. Benar kata Dr. Atip Latifulhayat, Ketua Umum PP. Pemuda Persis 1995-2000 yang pernah safari dakwah ke Sapeken di masa kepemimpinannya, bahwa kesan mendalam dari perjalanan ke Sapeken adalah “kapok”. Kami berdua berangkat dari Bandung ke Surabaya, Ahad (6/5/2018) waktu maghrib naik pesawat terbang. Sampai di Surabaya dua jam kemudian, langsung disambut oleh panitia dengan mobil dan melakukan perjalanan darat ke Sumenep, yang merupakan Kabupaten paling timur di Madura, selama hampir 5 jam. Sesampainya di Sumenep lewat tengah malam, kami beristirahat dahulu. Keesokan harinya jam 8.00 pagi kami berangkat menuju pelabuhan Sumenep. Kebetulan pada Senin pagi itu sedang ada Kapal ekspress menuju pulau Kangean. Disebut ekspress karena cukup cepat dan lebih nyaman dibanding kapal pilihan lainnya, yakni Kapal Perintis. Perjalanan Sumenep-Kangean ditempuh selama 4 jam. Sesampainya di Kangean pada jam 13.00 wib kami disambut oleh mobil yang sudah disiapkan panitia untuk melakukan perjalanan darat dari ujung barat Kangean sampai ujung timur Kangean selama 3,5 jam. Sesampainya di ujung barat pulau Kangean pada jam 16.30, kami sudah ditunggu oleh enam kapal speed boat yang akan mengantarkan kami ke pulau Sapeken. Speed boat yang kami tunggangi sebenarnya cukup satu saja. Tetapi atas perintah “Pimpinan”—yang dimaksud Ustadz ad-Dailami, demikian jama’ah Sapeken memanggil beliau—yang menginstruksikan agar semua aghniya yang punya speed boat turun menjemput, jadilah kami dijemput oleh arak-arakan speed boat sebanyak enam buah yang melaju kencang menembus ombak dan angin laut. Sebuah perjalanan yang cukup mengesankan, sebenarnya. Perjalanan menuju Sapeken ini ditempuh selama 40 menit, sehingga kami tiba di pulau Sapeken tepat memasuki waktu maghrib. Waktu maghrib untuk Sapeken pada awal Mei itu sendiri adalah jam 17.10 wib. Perjalanan yang kami tempuh ini disebut ekspress karena memang lebih cepat daripada alternatif lainnya, yaitu menggunakan Kapal Perintis dari Sumenep menuju Sapeken yang lama waktunya sampai 20 jam. Jadi yang ekspress sekalipun, berangkat Ahad maghrib dan sampai Senin maghrib. 

Perjalanan pulang dari Sapeken lebih cepat dari berangkatnya. Kami berlayar menuju Bali pada Kamis sore jam 16.30 menggunakan kapal nelayan—bukan kapal penumpang komersial—dan sampai di pelabuhan Bali dinihari jam 02.00 wib/03.00 wita. Dari pelabuhan Bali kami melakukan perjalanan darat menggunakan mobil menuju bandara Ngurah Rai Bali selama 2 jam. Dengan lancar dan selamat, kami tiba di bandara bertepatan dengan berkumandangnya adzan Shubuh. Dari bandara Bali pesawat menuju bandara Bandung terbang pada jam 07.00 wib dan tiba di Bandung jam 09.00 wib. Perjalanan Sapeken-Bali ini lah yang mungkin disebutkan oleh Dr. Atip sebagai perjalanan yang membuat “kapok”. Betapa tidak, karena belum ada kapal penumpang komersial yang reguler, kami jadinya menumpang kapal nelayan. Di kapal yang terbuat dari kayu tersebut, kami tidak bisa berdiri, sebab ruangan awak kapalnya hanya setengah badan. Di bagian bawahnya adalah mesin kapal yang bersuara bising dan bersuhu cukup panas sehingga terasa sampai ke bagian atas. Berjalin kelindan dengan bau anyir dari ikan-ikan yang diangkut. Angin yang besar, suasana yang gelap gulita karena penerangan yang terbatas, dicampur dengan goyangan kapal yang bagi kami terasa cukup besar dihantam ombak-ombak yang besar pula, menjadi pengalaman yang cukup “berkesan” untuk diceritakan di masa-masa mendatang.

Selama tiga hari efektif di Sapeken itu, penulis dan Ustadz Eka berbagi tugas mengisi beberapa kegiatan yang sudah diagendakan sebelumnya, yakni Kuliah ‘Isya dan Shubuh di beberapa masjid, di antaranya Masjid Agung Abu Hurairah, al-Mujahadah, as-Sakinah, at-Taqwa, dan Baiturrahim; Bedah Buku “Menuju Islam Kafffah” yang ditulis oleh penulis sendiri; Daurah Pemuda Persis “Mengubah Pemuda, Membangun Sapeken” yang dibagi dalam dua sesi; Ta’aruf calon anggota yang dibagi dalam dua sesi, sekaligus pembai’atan anggota baru Pemuda Persis; dan acara puncaknya Pengajian Akbar “Meraih Kemuliaan dan Penguatan Umat di Bulan Ramadlan”. (/NS)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?