Sastra, Dakwah dan Persis (Sebuah Analisa)

0
197

Persatuan Islam (Persis) adalah sebuah ormas Islam yang didirikan pada awal tahun 1920-an tepatnya didirikan pada tanggal 12 September 1923 / 01 Shafar 1342 H. Didirikan oleh para pedagang Palembang yang bermukim di Bandung diantaranya H. Zamzam dan H. Yunus. Baru pada tahun 1926, datang seorang laki-laki dari Singapura bernama Ahmad Hassan yang ikut mewarnai gerak dakwah Persis pada masa itu yang masih berupa taklim, kenduri, juga kajian-kajian pemurnian Islam dari hal-hal yang bersifat bid’ah, khurafat dan takhayul.

Pada perjalanannya, organisasi pembaharu dari Bandung ini semakin mendapatkan tempat bagi sebagian kalangan masyarakat Hindia Belanda pada masa itu karena gerak dakwahnya yang cenderung militan dan terbuka. Tak segan-segan, pada masa itu bilamana ada satu gerakan yang bertentangan dan hendak mengacaukan kehidupan beragama langsung mendapatkan pertentangan sengit melalui jalan debat.

Diantara debat yang paling terkenal pada masa itu adalah debat antara Persis dan Ahmadiyyah. Dimana pada masa itu wakil dari Persis adalah A. Hassan dan Endang Abdurrahman sedangkan wakil dari Ahmadiyyah adalah Abu Bakar Ayyub. Perdebatan itu berlangsung sengit bahkan sampai berhari-hari. Pesertanya pun tumpah ruah sampai keluar bahkan sampai disiarkan oleh beberapa koran terkemuka di Hindia Belanda pada masa itu salah satunya adalah majalah Fikiran Rakjat.

Selain melalui media perdebatan, dakwah Persis pun melebar melalui media publikasi diantaranya melalui majalah-majalah seperti majalah Al-Lisaan, Al-Fatawa, Pembela Islam, juga majalah Risalah yang sampai hari ini masih eksis terbit. Tak hanya melalui majalah-majalah berbahasa Melayu. Adapun pada masa itu pula terbit majalah-majalah Persatuan Islam berbahasa Sunda seperti Iber, At-Taqwa, Bina Dakwah, dsb.

Selain Persis, otonom kewanitaan Persis yakni Persatuan Islam Istri (Persistri) pada tahun 1953 menerbitkan majalah khusus kewanitaan yang berjudul Berita Persistri yang kemudian berubah nama menjadi Akhbar Persistri. Hal ini bisa menunjukkan suatu bukti bahwa tradisi menulis di kalangan ulama Persis dan juga otonom Persis telah berlangsung dengan demikian baik.

Bahkan pada masa itu buku-buku karangan para ulama Persis bisa dijadikan rujukan umat dari berbagai penjuru negeri. Salah satunya adalah buku-buku karangan A. Hassan, Isa Anshary, Mohammad Natsir, Endang Abdurrahman, Abdul Qadir Hassan. Selain para ulama Persis, ada pula generasi muda Persis yang pada masa itu aktif dan terkenal produktif menulis salah satunya adalah Fachruddin Al-Kahiri.

Menariknya, tulisan-tulisan para ulama Persis dan generasi muda Persis pada masa itu juga tidak hanya piawai membahas persoalan politik, agama, juga hal-hal yang berkaitan dengan syari’at Islam. Akan tetapi juga piawai membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan permasalahan kebudayaan. Salah satu ulama Persis yang dikenal luwes dalam membahas persoalan kebudayaan ini adalah Mohammad Natsir.

Selain Mohammad Natsir, A. Hassan guru Persatuan Islam yang juga anggota Majelis Ulama Persatuan Islam (Dewan Hisbah) pada masa itu juga mempublikasikan sebanyak dua jilid kumpulan sya’ir Islam juga empat jilid kumpulan humor yang dijudulinya Tertawa. Lalu pada era 1980-an tradisi penulisan kebudayaan ini berlanjut kepada generasi berikutnya yakni generasi Ust. Abdullah yang pada masa itu demikian piawai menulis gagasan-gagasannya dalam majalah Iber dengan menggunakan bahasa daerah. Lalu kepiawaian ust. Endang Abdurrahman dalam menyampaikan gagasan juga menuturkan sejarah Islam dalam bukunya Renungan Tarikh yang dikenal dengan keindahan bahasanya juga ketenangan dalam penuturan setiap kisahnya.

Kegemilangan sejarah di atas setidaknya bisa memberikan sebuah bukti bahwa dakwah Persatuan Islam (Persis) juga dibangun dengan dakwah-dakwah yang bersifat kebudayaan, meski pada kenyataannya bila menyaksikan konteks hari ini, kita menyaksikan sebagian asatidz Persatuan Islam sedikit antipati terhadap dakwah dengan medium budaya ini. Ini bisa dibuktikan dengan vakumnya Persis dari ranah pengkajian budaya.

Berbeda halnya dengan Nahdlatul Ulama, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia yang sudah sedari tahun 1960-an mendirikan Lesbumi sebagai salah satu wadah para budayawan, seniman juga sastrawan yang terdiri dari berbagai genre (aliran) seni ikut meramaikan pentas dakwah NU di kancah nasional.

Pendirian Lesbumi menjadi semacam jawaban atas pendirian Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang pada masa itu digawangi oleh sastrawan kenamaan Indonesia yakni Pramoedya Ananta Toer yang notabenenya menjadi bagian dari kampanye Partai Komunis Indonesia yang pada masa itu demikian nyaring menentang bahkan mencegah dakwah Islam melalui medium kebudayaan.

Tentu, hal ini bisa dijadikan semacam pertarungan sengit melalui medium budaya dimana dua lembaga kebudayaan berada pada titik paling menentukan di masa itu. Beda halnya dengan Persis yang pada masa itu cenderung tertutup terhadap kebudayaan-kebudayaan yang lahir di luar.

Persis di bawah kepemimpinan Endang Abdurrahman pada masa itu lebih memfokuskan kegiatan dakwahnya melalui jalan pendidikan dan juga pengembalian terhadap khittah Persis di masa awal. Hal itu bisa dipahami sebagai salah satu bentuk isolasi strategis yang dilancarkan Persis mengingat ada banyak oknum luar yang berusaha memanfaatkan keberadaan serta kehadiran Persis untuk mengeruk kepentingan pribadi. Akan tetapi, bila ditelisik lebih jauh maka pola isolasi strategis ini justru terkesan menciptakan gelombang dalam gelas.

Riak intelektualitas Persis pada masa itu seperti terhambat. Adanya pakem atau suatu pemahaman bahwa garis intelektualitas asatidz juga kaum cendekiawan Persis pada masa itu lebih memainkan peranannya pada bidang pengkajian fiqih serta aturan-aturan syari’at. Ini terbukti dengan semakin kuatnya Dewan Hisbah Persis mengeluarkan fatwa-fatwa berkaitan dengan aturan berkehidupan jam’iyyah di masa-masa tersebut yang mana bila dikaji lebih dalam lagi ini bisa menjadi semacam benturan tersendiri ketika pada masa kepemimpinan berikutnya mulai memberlakukan jalan atau upaya berdakwah melalui jalan lain, salah satunya budaya.

Berkaca dari pendapat Mohammad Natsir dalam bukunya yang berjudul Capita Selecta, bahwa sudah seharusnya dakwah Persis bukan lagi dakwah yang dititikberatkan kepada salah satu masalah. Ada baiknya dakwah Persis bisa menyentuh bidang-bidang lain selama bidang-bidang itu tidak melanggar aturan syari’at Islam juga tidak mengarah pada hal-hal yang bersifat bid’ah, khurafat juga takhayul. Terlebih mengingat pesan ust. Shiddiq Amien tentang pembagian tugas dakwah di jam’iyyah berdasarkan kemampuan masing-masing.

Persis boleh saja terpaku pada pola dakwah dengan pokok kajian fiqh. Akan tetapi pola penyampaian daripada kajian-kajian tersebut sudah seharusnya dikreasikan dengan pola dakwah lainnya. Salah satunya adalah sastra selama dalam pola penyampaian atau penulisannya tidak ada aturan syari’at Islam yang dilanggar juga tidak menjerumuskan pembaca atau pendengar pada hal-hal yang bersifat bid’ah, khurafat, takhayul dan juga taqlid yang berlebihan. Mengutip perkataan dari allahu yarham ust. Endang Abdurrahman bahwasannya dakwah Persis itu bukan untuk mencari puas melainkan untuk mencari jelas.

 

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, menarik bilamana Persis mulai melirik sastra sebagai salah satu medium dakwahnya. Namun, sastra sebagai alat dakwah di sini tidak berarti harus berlepas dari hal-hal fiksi-nya, melainkan sastra tetap memberikan peranan sebagai bentuk tinjauan kritis, penelaahan juga penelitian terhadap produk atau fatwa yang dikeluarkan Dewan Hisbah Persis atau dalam penyampaian-penyampaian dakwah lainnya yang berkenaan dengan perihidup berjam’iyyah ke depannya.

Sastra bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif jalan dakwah Persis ke depannya selama dalam perjalanannya tidak ada yang dilanggar baik itu aturan syari’at yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah juga tidak menjerumuskan umat kepada taqlid buta atau juga kepada hal-hal yang berbau bid’ah, khurafat dan takhayul.

 

 

 

Sumber Bacaan :

  • Howard M. Federspiel, Labirin Ideologi Muslim, Jakarta: Serambi, 2004
  • Mohammad Natsir, Kebudayaan Islam Dalam Prespektif Sejarah, Jakarta: PT. Girimukti Pasaka, 1988
  • D.S Moeljanto & Taufiq Ismail, Prahara Budaya, (Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI, dkk), Bandung: Penerbit Mizan, 1995
  • PP. Persatuan Islam, Qanun Asasi, Qanun Dakhili, Pedoman Kerja dan Kaifiyah Kerja Dewan Hisbah, Bandung: PP. Persatuan Islam, 1995
  • Tiar Anwar Bachtiar dan Pepen Irfan Fauzan, Persis dan Politik : Sejarah dan Aksi Pemikiran Politik Persis 1923-1927, Jakarta: Pembela Islam Media, 2012
  • Philip K Hitti, History of The Arabs, Jakarta: Serambi, 2014

 

__________________

*Oleh : Aldy Istanzia Wiguna, Penulis sehari-hari mengajar di Pesantren Persatuan Islam 20 Ciparay dan aktif sebagai sekretaris di Pimpinan Cabang Pemuda Persis Ciparay