SAYEMBARA 72 TAHUN MERDEKA: “INDONESIA BUTUH NEGARAWAN REFORMIS”

SAYEMBARA 72 TAHUN MERDEKA: “INDONESIA BUTUH NEGARAWAN REFORMIS”

SHARE

OLEH : ANDRI NURKAMAL (KABID. KADERISASI PP. HIMA PERSIS)

Duduk diantara polemik klasik tentang bangsa Indonesia dan simbol kenegaraan, di satu sisi dipandang tabu, di lain sisi mengurut logika untuk direnungkan berulang kali. Di tengah kontoversi menarik tersebut kita mengenal dari tokoh-tokoh legendaris yang menawan itu, yang menggerakkan perjuangan nasionalis dan pergerakan Islam. Kita selaku anak bangsa disajikan pola pandang kebangsaan yang tajam mesti faktanya sangat pelangi. Misalkan duduk soal hukum menghormat bendera, atau tinjaun cerdas mencari formula falsafah dasar negara. Baik nasionalis atau kelompok Islam sesungguhnya memiliki suatu I’tikad yang sungguh-sungguh demi terciptanya kedaulatan bangsa yang merdeka. Oleh sebab itu kita patut berterima kasih atas pengajaran prinsip bernegara yang menjunjung tinggi landasan-landasan ilmiah filosofis. Secara ringkas, Indonesia lahir dari darah kesatria, dan dari kepalanya orang-orang cerdas dengan pikirannya yang melompati zaman.

Secara sadar, bersaksilah masyarakat Indonesia ketika dimulainya Ibu Fatmawati menjahit kain berwarna merah dan putih, lantas ditarik ke tiang bendera (dan di kemudian hari) sambil tangan mengangkat penuh takdzim dan hormat. Lagu Indonesia raya disenandungkan sarat penghayatan. Demikian diantara ritus seremonial sakral upacara bendera yang digelar di hari bersejarah, 17 agustus. Alih-alih mengenang saat penting bagi laju kembang Negara Indonesia, serasa bahwa keringat dan genangan darah para pahlawan hadir dalam simbol warna merah bendera Indonesia. Pada warna putihnya, sekalian anak bangsa diseru untuk menelusuri jiwa-jiwa paling suci mereka yang telah mengorbankan segenap jiwa raganya di atas hati yang jernih, tulus dan suci. Pada saat demikian, boleh kita menaruh curiga atau bangga. Curiga akan karakteristik bangsa kita yang terjerat momentumorial sedikit dasar. Sehingga produk moment ini tidak melahirkan penghayatan heroisme pahlawan yang dengannya seharusnya kita lebih inovatif dan kreatif untuk membangun garuda Indonesia terbang sebagai Negara panutan kembali. Dan atau bangga karena bangsa kita tidak melupakan jasa para pahlawan. Meski agaknya terkesan kerdil manakala menakar hormat sejarah dengan sekedar mengiring-iringkan jempana, meriakkan hari 17 agustus dengan lodong-lodong buatan. Bising saling membalas, atribut merah putih semarak di banyak benda-benda dan ornament pengiring 17-an. Hanya saja ritual hari ini boleh sama malah bisa jadi lebih megah dari pagelaran tahun 50-an. Akan tetapi, nikmat jiwa anak bangsa umpamanya telah jauh panggang dari api. Perlu khawatir rasanya kita mengingat pada saat-saat di banyak hari-hari lainnya di kurun pintu abad 21 ini justeru anak bangsa lebih banyak menunjukkan sikap pengkhianatan terhadap jasa pahlawan. Baik soal agama, moral, budaya, ekonomi, atau politik, sebutlah bangsa kita kian terporosok dalam jurang yang bobrok. Oleh sebab itu, ajuan curiga dan bangga ini murni disajikan buat pemantik pikiran anak muda bangsa Indonesia yang hidup di tahun 2017.

Lahir hari jum’at, tanggal 9 Ramadhan, atau dalam kalender masehi, 17 Agustus 1945, Sepatutnya di usia ke-72, masyarakat kita sudah harus dewasa dalam memahami kemerdekaan. Merenungi penghayatan keindonesiaan dengan tulus. Kebutuhan bangsa kita yang mendesak adalah kebutuhan terhadap sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dengan spesialisasi di bidang masing-masing. SDM yang memiliki cinta dan cita untuk memajukan bangsa Indonesia. Manusia yang bukan sekedar lahir dan besar untuk membawa kebaikan bagi dirinya sendiri. Tetapi manusia tangguh yang berdaya guna untuk memberi manfaat bagi seluruh rakyat secara baik dan sungguh-sungguh. Manusia dengan ciri ini mengerahkan fikirnya secara maksimal dan fokus membaca kebutuhan bangsa dalam rangka membawa garuda terbang pada kebaikan rahmatan lil-‘alamin. Penulis menyebutnya sebagai karakter negarawan reformis. Yang siap menempeleng ulat-ulat pengganggu yang menempel pada karakter bangsa Indonesia. Dari rakyat leutik sampai para penakar politik di kelas elit. Dari masyarakat bawah sehingga pemimpin yang retem dengan gelar akademis serta lain-lain lagi dengan aneka sebutan yang kesemuanya ‘wah’.

Umpama mengemuka di banyak keluhan dan refleksi sekian banyak anak bangsa, apa kurang suburnya sumber daya alam yang dianugerahkan oleh Allah Swt. kepada bangsa Indonesia? Hanya saja boleh kita menilik dari premis umum, seberapa glamournya kekayaan dimiliki, namun di tangan manusia yang tidak berjiwa besar, akan sangat tidak ada artinya. Atau yang paling mendasar lagi misalnya, bangsa kita kurang bersyukur, dalam pengertian sedikit pengakuan terhadap keterlibatan Allah Swt. dalam semua anugerah bangsa ini, sehingga dari ghaibnya pengakuan tersebut, ucapan syukur keilahian menjadi jauh dari lisan pemerintah, dan fatalnya, ketaatan terhadap Allah Swt. lebih jauh lagi pada pengelolaan berbangsa dan bernegara kita. Kalau itu yang sebenarnya terjadi, sungguh masuk akal kenapa bangsa kita sulit maju ke depan. Anehnya tidak kepalang, bahkan utang negara hari ini sebanyak 3.706,52 Triliun (detik.com). Tentu kita tidak bisa menerima jika menjadi bangsa dari analogi pribahasa sindiran, ayam mati di lumbung padi.

Artinya, Bangsa ini masih dalam perjuangan yang belum selesai. Maka betapa buruknya jika masyarakat masih terjebak pada momentum-momentum yang sifatnya insidental kilasan. Manusia momentumorial hanya memikirkan cangkang formalitas kulit luar dan melupakan kandungan isi. Bukankah binatang kera misalnya hanya memakan bagian isi pisang dan membuang cangkangnya ke semak belukar? Ini tidak boleh terjadi lagi. Seperti yang nampak setiap 17 agustus, justru banyaknya bangsa kita sibuk memikirkan keunikan apa yang mau ditunjukkan di hari perayaan HUT-RI, hasilnya banyak orang terseguk pada cangkang. Sebaliknya, segelintir orang saja yang menghayati sejarah secara benar. Jikalau ini dipandang sebagai sebuah refleksi, maka merefleksikannya menjadi sebuah bahan penting.

Jika dibiarkan, masa depan Indonesia dapat diramalkan berada dalam lubang kematian yang tragis. Diperjuangkan dengan darah, berujung dengan title negeri jajahan yang populis-selebritif, atau bangsa yang dijual belikan, dalam bahasa Iwan Simatupang, seorang sastrawan budayawan, kita terjebak pada pola dandysme, gaya hidup mewah dan populis. Karenanya, bangsa ini membutuhkan para pemikir (mufakkir) dan para eksekutor (muharrik) dan atau keduanya sekaligus (mujaddid). Tanpa keduanya Indonesia dalam marabahaya serius. Orang pintar, orang cerdas, orang terampil, orang perasa dan orang-orang lainnya yang begitu banyak, haruslah ada yang memandu untuk memadukan seluruh potensinya dengan jiwa pemersatu yang kokoh dan mengikat secara nasional. Dalam istilah ketua umum Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA PERSIS), Nizar Ahmad Saputra, bangsa ini membutuhkan Negarawan Reformis yang membarui semangat pembaharuan di berbagai sektor. Menurut Nizar, gerakan-gerakan pengkaderan demi mencetak kader Negarawan Reformis haruslah digalakkan secara massif. Disamping kebutuhan mendesak, pemenuhan terhadap asas leaders yang surut dan mengalami kelangkaan pahlawan di era modern yang serba bebas ini harus segera direalisasikan secara serius dan kontinyu.

Bangsa ini perlu menelaah atensi al-qur’an (lihat QS. Albaqarah: 49-60), benar bahwa bani Israel telah dimerdekakan oleh Nabi Musa as. dalam keberagamaan dengan tauhid yang menjadi simbol bebasnya manusia dari segala sembahan-sembahan kebendaan dan kepercayaan-kepercayaan khayali-tahayuli serta lepasnya manusia dari sungkur-manggut sesamanya. Bani Israel dimerdekakan atas kehendak Allah Swt. dari cengkraman diktator Fir’aun yang lalim. Kemerdekaan agung yang patutnya disyukuri dengan sikap penyerahan diri pada sang pemberi kemerdekaan. Kenyataannya, bukan syukur yang mereka kadokan sebagai balasan, sebagaiamana al-qur’an mengabadikan, Bani Israil malah membuat kedzoliman-kedzoliman beraneka rupa. Dibikinnya patung anak sapi sebagai sembahan seolah dengannya bisa menjadi ungkapan penghormatan untuk para pejuang mereka dan dianggapnya patung itu sebagai pelantara dari rangkaian ritual penyembahan pada yang esa. Tuhan menjadi murka dan kutukan ditibankan pada bangsa dzolim Bani Israil (lihat ayat 61). Dalam istilah Ibnul Qoyyim mereka masuk dalam kategori gagal faham terhadap sejarah.

Kelangkaan pahlawan yang kehilangan patriotis-nasionalisme harus dijawab dengan kemunculan generasi emas, yang kita sebut para negarawan. Ruh negarawan yang mematri kuat ke dasar indonesianism. Mereka adalah generasi unggul yang mengakar pada kesadaran cinta Negara untuk membangun bahtera Indonesia yang berlayar perkasa diantara hempasan dan terpaan badai zaman yang ditiupkan dari seluruh arah. Tiupan angin badai materi dari Barat dan Timur, gelombang sparatisme rasis dari Utara dan Selatan. Berkat tangan dingin negarawan reformis yang penuh pengabdian, bendera merah putih mengibar dengan tegar dan handal dikala imperialis menancapkan kuku-kuku tajamnya untuk menjerat jantung Indonesia. Karena, kekuatan negarawan reformis lahir dari paduan kecintaan terhadap negara dengan melandaskan sepenuhnya pada kesadaran amanah Allah Swt.. Ketika itu yang terjadi, rasanya sulit mencari bandingan kemurnian dan keberanian azzam yang ditunjukkannya. Dan itulah yang saat ini mendesak dibutuhkan!

Bukan tak ada negarawan itu pada saat sekarang, justru kenyataannya lebih banyak silent (diam) dan kelimpungan menatap fenomena yang bergulir begitu cepat dan progress. Mereka Nampak tidak siap menyelesaikan kenyataan lapangan. Jangankan untuk penyelesaiannya, sekedar untuk menerima kenyataan perubahan-perubahan pun mereka nampak kikuk dan kaku. Bukankah negarawan sejati tidak bisa mengunci mulutnya untuk menyatakan bahwa kebenaran harus dijunjung demi membangun bangsa Indonesia secara berkepribadian mandiri? Bagi seorang negarawan, ruh dan jasadnya semata dikerahkan dalam proyek pengembangan bangsa dari sabang sampai merauke menuju bangsa yang mengayomi seluruh negara di belahan dunia. Dengan ungkapan itu, para negarawan harus ditandai dengan semangat pembaharu sebagai sifat yang melekat pada makna gerakan dari jiwa negarawan (mujaddid: reformis). Negarawan reformis akan mampu membarui semangat kenegaraan dengan lebih indonesianism-dinamis-progress-visioner. Ia akan melakukan pembaruan dalam konteks punggawa pelaksana pemerintahan (internaslisasi kaum elite), di samping juga mengambil sikap dengan memasang tameng dari gonjang-ganjing dan huru-hara yang disebabkan serangan politis dari bangsa luar. Sehingga, ia kukuh secara keindonesiaan dan teguh dalam keterlibatannya mengatur perdamaian dan nasib dunia.

Kita adalah bangsa merdeka! Harus berani mandiri jika merdeka. Dalam rindu-rindu yang bergelombang lebih dari setengah abad lamanya itu, pertiwi memang tengah melengkingkan panggilan sayembara bela negara bagi sekalian bumi putera. Seperti yang pernah ditegaskan oleh Isa Anshory, bilamana tidak mampu berani mengatakan kebenaran di parelemen, buat apa kita mau mengaku politisi? Mundur saja jika tidak berani!
Menjawab panggilan itu, generasi bumi putera patut menyambut. Seharkat-harkatnya kita memerlukan negarawan reformis yang dilahirkan dari buah fikir dan buah tangan didikan bangsa kita yang paling asli, murni, dan utuh. Atau sebenarnya kita masih diterkam kebingungan mencari sosok yang merefresentasikan bangsa Indonesia yang utuh. Jika itu yang terjadi, ternyata kita masih harus mencari secara cermat identitas bangsa kita yang semurni-murninya. Demikian seruan jiwa ini menguntil usia bangsa kita yang dalam hitungan hari lagi genap 72 tahun.