Seputar Hukum Mengikuti Perayaan Natal dan Tahun Baru

Seputar Hukum Mengikuti Perayaan Natal dan Tahun Baru

Dipublish pada 30 Desember 2018 Pukul 12:06 WIB

1745 Hits

Untuk memahami hukum mengikuti perayaan Natal  maupun Tahun Baru, kita perlu mempelajari beberapa dalil berikut ini:

1. Firman Allah dalam Al-Qur’an. Surat Al Furqan ayat 72.

   وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

 “Dan mereka orang-orang (mukmin) yang tidak menyaksikan perkara ‘jûr’,  dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”.  

Ciri orang mukmin yang sejati sebagai hamba-hamba Allah yang setia dalam ketaatan kepada-Nya adalah mereka yang tidak menyaksikan  perkara “Jûr”. Yangdimaksud dengan perkara-perkara yang  Jûr adalah setiap perkara yang mengandung kepalsuan, kebohongan, kedurhakaan, dan kesia-siaan. Seperti perkataan dusta, perbuatan sia-sia, perbuatan maksiyat, sumpah dan saksi palsu. Menurut Abul Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirin, Al Dhahhak, Rabi’ bin Anas dan sejumlah ulama lainnya dari kalangan Tabi’in, termasuk perbuatan jûr adalah perayaan-perayaan kaum musyrikin. (Tafsir Ibnu Katsir VI: 130-131)  

 

2. Hadits-hadits Nabi SAW. 

 

  عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا ، فَقَالَ : مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ ؟ قَالُوا : كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا : يَوْمَ الأَضْحَى ، وَيَوْمَ الْفِطْرِ.

Dari Anas bin Malik beliau berkata, “Nabi SAW datang di Madinah, sementara peneduduk Madinah mempunyai dua hari raya yang mereka biasa bermain-main (merayakan) keduanya. Nabi bertanya, ‘Apa dua hari ini?’. Mereka menjawab, ‘Ini adalah dua hari raya yang kami biasa merayakannya di masa jahiliyah!’. Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik, yaitu hari raya qurban dan hari raya berbuka puasa (lebaran)”. Hadits Sahih Abu Dawud No. 1039 diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (3/103) dan An Nasai (3/179) Lihat Jâmiul Ushul fi Ahaditsr Rasûl: (9/261)  

Sebelum penduduk Madinah memeluk Islam, mereka sudah biasa merayakan perayaan hari Nairuz dan hari Mahrojan.  Nairuz adalah perayaan awal tahun Syamsiyah pada Agama Majusi-Persia, sedang Mahrojan adalah perayaan atau pestival besar yang biasa dilakukan bangsa Persia menyambut musim yang paling baik. (Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud, III: 485). Perayaan dilakukan dengan berbagai kegiatan dan permainan. Seperti menyalakan api unggun, obor, lilin, pembagian hadiah dan makanan, pesta minuman dan saling menyiram air.

  عن ابن عمر قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

ِْ Dari Ibnu Umar RA. Beliau berkata, Rasululah bersabda, “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia dari golongan mereka. (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, IV:78;  Musnad Ahmad, IX:123; Musand Al Bazzar, II:447; Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, IV:575; Mushannaf Abdurrazzaq, XI:453; Sunan Sa’id bin Manshur, II:143)  

 

3. Perkataan para ulama

 وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ: مَنْ تَأَسَّى بِبِلَادِ الْأَعَاجِمِ، وَصَنَعَ نَيْرُوزَهَمْ، وَمِهْرَجَانَهمْ، وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوتَ، وَهُوَ كَذَلِكَ، حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. اقتضاء الصراط المستقيم

 Berkata Abdullah bin Amr bin Ash, “Barangsiapa meneladani negeri asing (kafir) dan ia melakukan perayaan Nairuz dan perayaan Mahrojan lalu meniru-niru mereka sampai ia mati dalam keadaan seperti itu, maka ia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka. (Ibnu Taimiyah: Iqtidha Shiratal Mustaqim, 2: 51)

 وَقَالَ الْقَاضِي أَبُو الْمَحَاسِن الْحَسَن بْن مَنْصُور الْحَنَفِيّ : مَنْ اِشْتَرَى فِيهِ شَيْئًا لَمْ يَكُنْ يَشْتَرِيه فِي غَيْره أَوْ أَهْدَى فِيهِ هَدِيَّة إِلَى غَيْره ، فَإِنْ أَرَادَ بِذَلِكَ تَعْظِيم الْيَوْم كَمَا يُعَظِّمهُ الْكَفَرَة ، فَقَدْ كَفَرَ ، وَإِنْ أَرَادَ بِالشِّرَاءِ التَّنَعُّم ، وَالتَّنَزُّه ، وَبِالْإِهْدَاءِ النِّحَاب جَرْيًا عَلَى الْعَادَة ،

لَمْ يَكُنْ كُفْرًا ، لَكِنَّهُ مَكْرُوه كَرَاهَة التَّشْبِيه بِالْكَفَرَةِ حِينَئِذٍ فَيُحْتَرَز عَنْهُ

 

Dan berkata Al Qadhi Abul Mahasin al hasan bin Manshur Al Hanafy, “Barangsiapa yang membeli sesuatu pada hari itu (hari raya Nairuz dan Mahrojan) yang tidak biasanya ia beli di hari lain atau ia menghadiahkannya kepada orang lain, jika ia maksudkan dengan itu mengagungkan hari tersebut sebagaimana diagungkan oleh orang-orang kafir , maka iapun telah kufur. Jika ia maksudkan dengan pembelian itu bersenang-senang dan menghadiahkannya untuk saling mencintai sebagai suatu kebiasaan, tidaklah ia menjadi kufur akan tetapi makruh karena kemakruhan tasyabbuh (menyerupai-meniru-niru) kaum kafir , karena itu hendaklah dihindari..” (Aunul Ma’bud: III/486) .

 قَالَ أَبُو حَفْص الْكَبِير الْحَنَفِيّ : مَنْ أَهْدَى فِي النَّيْرُوز بَيْضَة إِلَى مُشْرِك تَعْظِيمًا لِلْيَوْمِ فَقَدْ كَفَرَ بِاَللَّهِ تَعَالَى وَأَحْبَطَ أَعْمَاله

 Berkata Abu Hafs al Kabir al Hanafy, “Barangsiapa memberi hadiah pada hari Nairuz dengan sebutir telor kepada kaum musyrik dengan niyat mengagungkan hari tersebut  maka ia telah kufur kepada Allah Ta’ala dan hapus amal-amalnya”. (Aunul Ma’bud, III: 485)

 لاَ يَحِلُّ لِلْمُسْلِمِينَ أَنْ يَتَشَبَّهُوا بِهِمْ فِي شَيْءٍ، مِمَّا يَخْتَصُّ بِأَعْيَادِهِمْ، لاَ مِنْ طَعَامٍ، وَلاَ لِبَاسٍ وَلاَ اغْتِسَالٍ، وَلاَ إيقَادِ نِيرَانٍ، وَلاَ تَبْطِيلِ عَادَةٍ مِنْ مَعِيشَةٍ أَوْ عِبَادَةٍ، وَغَيْرِ ذَلِكَ. وَلاَ يَحِلُّ فِعْلُ وَلِيمَةٍ، وَلاَ الْإِهْدَاءُ، وَلاَ الْبَيْعُ بِمَا يُسْتَعَانُ بِهِ عَلَى ذَلِكَ لأَجْلِ ذَلِكَ.

“Tidaklah halal bagi kaum muslimin meniru mereka dalam hal apapun yang berkaitan dengan pengkhususan hari raya mereka , baik itu makanan, pakaian, mandi, menyalakan api, pengkhususan tradisi  ataupun ibadah , dan selain itu. Tidak halal pula melakukan resepsi, demikian pula pemberian hadiah, dan jual beli untuk membentu perbuatan tersebut  dengan tujuan seperti itu..” (Ibnu Taimiyah, Fatawa al Kubra: II/488)

Dari dalil-dalil dan fatwa para ulama di atas, jelas sudah tentang haramnya kaum muslimin ikut terlibat dalam perayaan-perayaan kaum kafir dan musyrik. Bahkan sebagaian ulama sampai menghukumi kafir jika seseorang mengikuti perayaan kaum musyrik diiringi dengan niyat mengangungkan, memuliakan dan mempercayainya dan dosa besar jika melakukan tanpa niat mengagungkannya. Demikian juga dengan terlibat dalam segala perkara yang terkait dengan perayaan kekufuran itu, seperti  pakaian seragamnya, alat-alat perlengkapan upacaranya semisal terompet, kembang api, lilin dan obornya, dan lain-lainnya.  

Adapun mengenai hadiah atau makanan yang dikirimkan kaum musyrik dan kafir pada hari raya mereka, jika hal itu bukan berupa daging sembelihan atau makanan yang khusus untuk persembahan ritual mereka, maka para ulama membolehkan menerima dan memakannya berdasarkan beberapa keterangan:

Pertama, bahwa Ali bin Abu Thalib pernah dikirim makanan oleh seorang Majusi, lalu beliau bertanya, “Dari mana makanan ini?” dikatakan kepada beliau, “Ini makanan hadiah dari perayaan Nairuz”. Beliau berkata, “Jadikan saja setiap hari itu hari Nairuz”, lalu beliau memakan makanan itu. (Al Faiq fi Gharibil Hadits, III: 319) Kedua, bahwa Aisyah ditanya oleh seorang wanita tentang makanan hadiyah dari perayaan kaum Majusi, beliau menjawab,

  فَقَالَتْ : أَمَّا مَا ذُبِحَ لِذَلِكَ الْيَوْمِ فَلاَ تَأْكُلُوا , وَلَكِنْ كُلُوا مِنْ أَشْجَارِهِم

Adapun hasil sembelihan mereka untuk hari perayaan itu maka jangan kalian makan. Tetapi makanla dari hasil pepohonan mereka (buah-buahan)”. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: 12/249)  

Berdasar dua riwayat di atas Ibnu Taimiyah menyatakan,

 فهذا كله يدل على أنه لا تأثير للعيد في المنع من قبول هديتهم ، بل حكمها في العيد وغيره سواء ؛ لأنه ليس في ذلك إعانة لهم على شعائر كفرهم

“Ini semua menunjukan bahwa perayaan tidak mempengaruhi untuk menerima hadiyah mereka, hukumnya dalam hari raya sama dengan hari lainnya, karena hal itu tidak  termasuk membantu mereka dalam syiar kekufuran mereka” . (Ibnu Taimiyah: Iqtidha’ shiratal mustaqim, II: 52)

 

Hikmah Larangan Mengikuti Perayaan-Perayaan Yang Tidak Syar’i:

Setiap bagian dari syariat Islam selalu mengandung kebaikan dan hikmah yang terkadung di dalamnya. Jika itu perintah, maka perintah itu untuk kemaslahatan dan kemanfaatan yang akan diraih manusia. Jika ia larangan, maka larangan itu untuk menolak keburukan dan kerusakan yang akan menimpa manusia. Demikian pula halnya larangan mengikuti dan meniru perayaan-perayaan kaum kafir karena di dalamnya mengandung kemudharatan bagi umat Islam khususnya dan bagi mahusia pada umumnya. Baik dari aspek aqidah maupun muamalah.  

1. Semua umat mempunyai perayaan yang lahir dari aqidah mereka. Aqidah yang batil melahirkan tradisi perayaan yang batil juga. Maka tidak sepatutnya kaum muslimin yang sudah diberikan hari raya terbaik oleh Allah dan Rasul-Nya masih terlibat dalam perayaan-perayaan batil. Mereka yang terlibat keumuman adalah orang-orang yang lemah iman dan ilmu terhadap aqidah agama mereka dan agama orang lain.

2. Perayaan-perayaan yang batil menimbulkan kebatilan dan kemunkaran yang lain. seperti:


  1. Pemubaziran harta dengan belanja berbagai macam perlengkapan khusus yang tidak ada faidahnya;

  2. Campur baur kaum laki-laki dan wanita yang bukan mahram yang memberi jalan  dan membuka kesempatan merajalelanya perzinahan. Betapa banyak kemesuman dan kemaksiyatan yang dilakukan dengan memanfaatkan momentum perayaan-perayaan Jahiliyah seperti Pesta Tahun baru dan Valentine Day;

  3. Membuka pintu kejahatan dan tindakan kriminalitas. Pencurian dan perampokan meningkat karena banyak orang-orang jahat yang tergiur pesta tetapi tidak mempunyai harta sehingga mengambil jalan pintas dengan mencuri, merampok, dan menipu;

  4. Memperlebar kecemburuan sosial di tengah masyarakat. Kalangan kaya raya dan selebritis berpesta mewah dengan mengeluarkan biaya besar di hotel dan bar,  memamerkan kendaraan dan pakaian mewah di tempat rekreasi, saling bertukar hadiah yang mahal di antara mereka. Sementara kaum papa dan miskin hanya menjadi penonton atau paling beruntung  jadi pelengkap penderita sebagai penjual asongan dan alat-alat pelengkap pesta kaum kaya.

 

Catatan Penutup

Di saat kebanyakan orang yang lemah imannya sudah terjerumus dalam perayaan-perayaan yang menimbulkan kemudharatan pada aqidah dan kehidupan mereka, apa yang harus kita lakukan?  Tidak ada cara lain selain kita menjaga diri dan keluarga kita untuk tidak terbawa arus. Lebih utama lagi jika dapat memberi kesadaran kepada tetangga dan teman kita untuk melakukan hal yang sama dengan kita. Dahulu, di masa generasi Tabi’in, sampai-sampai sebagian ulama mengurung diri di mesjid pada malam-malam perayaan Nairuz dan Mahrojan karena khawatir terlibat dalam perayaan-perayaan jahiliyah yang masih dilakukan oleh masyarakat. 

 وكان السلف يكثرون فيه الاعتكاف بالمسجد وكان علقمة يقول اللهم إن هؤلاء اعتكفوا على كفرهم ونحن على إيماننا فاغفر لنا

Adalah kaum Salaf memperbanyak berdiam diri di mesjid pada malam tersebut. Alqamah (seorang ulama Tabi’in di antara yang menyepi di mesjid) memanjatkan doa, “Ya Allah, sesungguhnya mereka beri’tikaf atas kekufuran mereka, sedang kami beri’tikaf atas keimanan kami, amunilah kami”. (Faidul Qadir IV: 669).

 

Wallahu waliyyut taufiq wa huwa a’lamu bish shawab

 

 

 

 

***

Penulis: Dr. Jeje Zaenudin, Wakil Ketua Umum PP Persis


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?