Shalat Dua Rakaat, Iftirasy atau Tawaruk ?

Shalat Dua Rakaat, Iftirasy atau Tawaruk ?

Dipublish pada 08 Juni 2018 Pukul 23:06 WIB

1569 Hits

Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang telah rukun dan syaratnya oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena itu dituntut untuk sesuai dengan kaifiyat Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Malik bin al-Khuwairits.



صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي 



Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/129)

Salah satu kaifiyat dalam salat adalah tasyahud. Bagaimana tasyahud dengan kaifiyat yang tepat, tentunya harus berdasarkan hadis-hadis yang yang dapat diterima (sahih atau hasan) dan penunjukan dilalahnya secara jelas tidak ihtimal atau mengandung berbagai kemungkinan. Berikut adalah hadis-hadis yang berkaitan dengan cara duduk tasyahud :

1. Abdullah bin Zubair

عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى تَحْتَ فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ وَأَرَانَا عَبْدُ الْوَاحِدِ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ

dari ayahnya dia berkata; "Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam duduk dalam shalat, beliau meletakkan telapak kaki kirinya di bawah paha dan betis kanannya, dan menghamparkan telapak kaki kanannya serta meletakkan tangan kirinya di atas lutut kiri dan meletakkan tangan kanan di atas paha kanan sambil menunjuk dengan jarinya." Abdul Wahid memperlihatkan kepada kami sambil menunjuk dengan jari telunjuknya." (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 3/172)

2. Abdullah bin Mas’ud

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّشَهُّدَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ وَفِي آخِرِهَا، فَكُنَّا نَحْفَظُ عَنْ عَبْدِ اللهِ حِينَ أَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ إِيَّاهُ، قَالَ: فَكَانَ يَقُولُ: إِذَا جَلَسَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ، وَفِي آخِرِهَا عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى: " التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ، وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ "، قَالَ: " ثُمَّ إِنْ كَانَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ نَهَضَ حِينَ يَفْرُغُ مِنْ تَشَهُّدِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي آخِرِهَا دَعَا بَعْدَ تَشَهُّدِهِ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَدْعُوَ ثُمَّ يُسَلِّمَ "

dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepadaku bacaan tasyahhud di pertengahan dan akhir shalat, sedangkan kami menghafalkan dari Abdullah ketika ia mengabarkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan bacaan itu kepadanya. Jika beliau duduk di pertengahan shalat dan akhirnya di atas telapak kaki kirinya beliau membaca: "Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan, semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkahNya, kesejahteraan semoga terlimpahkan atas kita dan para hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya." Ia melanjutkan; Kemudian jika berada di pertengahan shalat, beliau bangkit setelah selesai dari membaca tasyahhud dan jika di akhir shalat, beliau berdoa setelah membaca tasyahhudnya apa yang dikehendaki oleh Allah untuk berdoa kemudian salam. (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad, 7/392)

3. Wail bin Hujr

عَنْ ابْنِ حُجْرٍ قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَأَهْلِ الْكُوفَةِ وَابْنِ الْمُبَارَكِ

بَاب مِنْهُ أَيْضًا

dari Ibnu Hujr ia berkata; "Ketika aku tiba di Madinah, aku berkata; "Sungguh, aku benar-benar akan melihat bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat. Ketika duduk tasyahud beliau membentangkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya -yakni di atas paha kirinya- serta menegakkan kaki kanannya." Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya hasan shahih. Hadits ini diamalkan oleh kebanyakan para ahli ilmu. Ini adalah pendapat Sufyan Ats Tsauri, penduduk Kufah dan bin Al Mubarak." (H.R. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 1/324)

4. Aisyah

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلِكَنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيمِ.

dari Aisyah radhiyallahu'anha dia berkata, "Dahulu Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam membuka shalat dengan takbir dan membaca, 'Al-Hamdulillah Rabb al-Alamin'. Dan beliau apabila rukuk niscaya tidak mengangkat kepalanya dan tidak menundukkannya, akan tetapi melakukan antara kedua hal tersebut. Dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari rukuk, niscaya tidak bersujud hingga beliau lurus berdiri, dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari sujud niscaya tidak akan sujud kembali hingga lurus duduk, dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka'at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan memasang tegak lurus kakinya yang kanan. Dan beliau melarang duduknya setan, dan beliau melarang seorang laki-laki menghamparkan kedua siku kakinya sebagaimana binatang buas menghampar. Dan beliau menutup shalat dengan salam." Dan dalam riwayat Ibnu Numair dari Abu Khalid, "Dan beliau melarang duduk seperti duduknya setan." (H.R. Muslim, sahih Muslim, 2/54)

5. Abu Humaid as-Sa’idi

فَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ وَسَمِعَ اللَّيْثُ يَزِيدَ بْنَ أَبِي حَبِيبٍ وَيَزِيدُ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَلْحَلَةَ وَابْنُ حَلْحَلَةَ مِنْ ابْنِ عَطَاءٍ قَالَ أَبُو صَالِحٍ عَنْ اللَّيْثِ كُلُّ فَقَارٍ وَقَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَهُ كُلُّ فَقَارٍ

dari Muhammad bin 'Amru bin 'Atha', bahwasanya dia duduk bersama beberapa orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mereka bercerita tentang shalatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka berkatalah Abu Hamid As Sa'idi, "Aku adalah orang yang paling hafal dengan shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, jika shalat aku melihat beliau takbir dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundaknya, jika rukuk maka beliau menempatkan kedua tangannya pada lutut dan meluruskan punggungnya. Jika mengangkat kepalanya, beliau berdiri lurus hingga seluruh tulung punggungnya kembali pada tempatnya semula. Dan jika sujud maka beliau meletakkan tangannya dengan tidak menempelkan lengannya ke tanah atau badannya, dan dalam posisi sujud itu beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat. Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kananya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya." Dan Al Laits telah mendengar dari Yazid bin Abu Habib, dan Yazid dari Muhammad bin Halhalah, dan Ibnu Halhalah dari Ibnu 'Atha'. Abu Shalih menyebutkan dari Al Laits, "Seluruh tulung punggung." Ibnu Al Mubarak berkata dari Yahya bin Ayyub ia berkata, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abu Habib bahwa Muhammad bin 'Amru menceritakan kepadanya, "Seluruh tulung punggung." (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/165)

6. Abdullah bin Umar

عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ كَانَ يَرَى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَتَرَبَّعُ فِي الصَّلَاةِ إِذَا جَلَسَ فَفَعَلْتُهُ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ حَدِيثُ السِّنِّ فَنَهَانِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَقَالَ إِنَّمَا سُنَّةُ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِيَ الْيُسْرَى فَقُلْتُ إِنَّكَ تَفْعَلُ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ رِجْلَيَّ لَا تَحْمِلَانِي

dari 'Abdullah bin 'Abdullah ia mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah melihhat 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma mengerjakan shalat dengan cara bersimpuh dengan kedua kakinya ketika duduk. Maka aku juga melakukan hal serupa. Saat itu aku masih berusia muda. Namun 'Abdullah bin 'Umar melarangku berbuat seperti itu. Ia mengatakan, "Sesungguhnya yang sesuai sunnah adalah kamu menegakkan telapak kakimu yang kanan sedangkan yang kiri kamu masukkan dibawahnya (melipat)." Aku pun berkata, "Tapi aku melihat anda melakukan hal itu!" Dia menjawab, "Kakiku tidak mampu." (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/165)

7. Abu Humaid as-Sa’idi

سَمِعْتُ أَبَا حُمَيْدٍ السَّاعِدِيَّ، فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ أَبُو قَتَادَةَ، قَالَ أَبُو حُمَيْدٍ: أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالُوا: فَاعْرِضْ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ، قَالَ: " وَيَفْتَحُ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ إِذَا سَجَدَ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، وَيَرْفَعُ وَيَثْنِي رِجْلَهُ الْيُسْرَى، فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا، ثُمَّ يَصْنَعُ فِي الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ "، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ: «حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ، أَخَّرَرِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ»، زَادَ أَحْمَدُ: قَالُوا: صَدَقْتَ، هَكَذَا كَانَ يُصَلِّي، وَلَمْ يَذْكُرَا فِي حَدِيثِهِمَا الْجُلُوسَ فِي الثِّنْتَيْنِ كَيْفَ جَلَسَ.

"…dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang terdapat salam, beliau merubah posisi kaki kiri dan duduk secara tawaruk (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan) di atas betis kiri." Ahmad menambahkan; "Sepuluh sahabat tersebut berkata; "Benar kamu, demikianlah beliau biasa melaksanakan shalat." keduanya tidak menyebutkan dalam kedua hadits tersebut tentang cara duduk dalam raka'at kedua." (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/252)

8. Rifa’ah bin Rafi’

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ (1) ، - بِهَذِهِ الْقِصَّةِ ، قَالَ : إِذَا قُمْتَ فَتَوَجَّهْتَ إِلَى الْقِبْلَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ ، وَبِمَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَقْرَأَ ، وَإِذَا رَكَعْتَ فَضَعْ رَاحَتَيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ ، وَامْدُدْ ظَهْرَكَ ، وَقَالَ : إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ ، فَإِذَا رَفَعْتَ فَاقْعُدْ عَلَى فَخِذِكَ الْيُسْرَى.

dari Rifa'ah bin Rafi' dengan kisah seperti ini, sabdanya: "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, dan wajahmu telah menghadap ke arah kiblat, maka bertakbirlah lalu bacalah Ummul Qur'an dan surat sesuka hatimu, dan sesuai kehendak Allah untuk kamu baca, apabila kamu ruku', maka letakkanlah kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu dan hamparkanlah punggungmu." Setelah itu beliau bersabda: "Apabila kamu hendak sujud, maka kuatkanlah (kedua tangan) untuk menyangga sujudmu, dan apabila kamu mengangkat (kepala dari sujud) maka duduklah di atas pahamu yang kiri." (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/227)

9. Rifa’ah bin Rafi’

عَنْ عَمِّهِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِهَذِهِ الْقِصَّةِ - قَالَ: «إِذَا أَنْتَ قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ، فَكَبِّرِ اللَّهَ [ص:228] تَعَالَى، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ عَلَيْكَ مِنَ الْقُرْآنِ» وَقَالَ فِيهِ: «فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ، وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ، ثُمَّ إِذَا قُمْتَ فَمِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى تَفْرُغَ مِنْ صَلَاتِكَ»

dari pamannya yaitu Rifa'ah bin Rafi' dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan kisah seperti ini, beliau bersabda: "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, bertakbirlah kepada Allah Ta'ala, kemudian bacalah Al Qur'an yang mudah bagimu." -dalam hadits tersebut beliau juga bersabda- Apabila kamu duduk di tengah mengerjakan shalat, maka tenangkanlah dirimu dan duduklah di atas paha kirimu, kemudian bacalah tasyahud. Setelah itu, apabila kamu berdiri, kerjakanlah seperti itu pula, sehingga kamu selesai dari shalat." (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/227)

10. Abdullah bin Zubair

عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ ، افْتَرَشَ الْيُسْرَى ، وَنَصَبَ الْيُمْنَى ، وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى الْوُسْطَى ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ ، وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى ، وَأَلْقَمَ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ.

Dari Abdullah bin Zubair berkata : “Rasulullah Saw jika duduk setelah dua rakaat, beliau menduduki kaki kiri dan menegakan kaki kanan. Serta menempatkan ibu jari pada jari tengah dan berisyarat dengan telunjuk. Dan menempatkan tangan kiri pada paha kiri dan meletakan telapak tangannya pada lututnya. (H.R. Ibn Hibban, Sahih Ibn Hibban, 5/270)

11. Wail bin Hujr

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيِّ , قَالَ: " صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: لَأَحْفَظَنَّ صَلَاةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَلَمَّا قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ فَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ قَعَدَ عَلَيْهَا وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى , ثُمَّ عَقَدَ أَصَابِعَهُ وَجَعَلَ حَلْقَةَ الْإِبْهَامِ وَالْوُسْطَى ثُمَّ جَعَلَ يَدْعُو بِالْأُخْرَى

Dari Wail bin Hujr al-Hadrami berkata : “Aku salat dibelakang Rasulullah Saw, maka aku berkata : “aku orang yang paling hafal salat Rasulullah Saw lalu berkata :” maka ketika beliau duduk untuk tasyahud, beliau menghamparkan kaki kiri (sejajar dengan paha kiri) kemudian mendudukinya dan beliau menempatkan telapak tangan kiri pada paha kirinya dan menempatkan sikut kanan atas paha kaki kanan, kemudian mengepalkan jari-jarinya dan menjadikan melingkarkan ibu jari dan jari tengah (saling genggam) kemdian berdoa dengan yang lainnya (isyarat telunjuk). H.R. at-Thahawi, Syarah Ma’ani al-Atsar, 1/259)

12. Anas bin Malik

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الإِقْعَاءِ وَالتَّوَرُّكِ فِي الصَّلاَةِ .قَالَ عَبْدُ اللهِ : كَانَ أَبِي قَدْ تَرَكَ هَذَا الْحَدِيثَ.

Dari Anas bin Malik sesungguhnya Rasulullah Saw melarang duduk iq’a dan duduk tawaruk dalam salat (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad, 3/233) Berkata Abdullah “ Ayahku meninggalkan hadis ini”.

Para ulama berbeda pendapat terkait dengan kaifiyat duduk tasyahud, ada empat kelompok yaitu sebagai berikut :

A. Pendapat pertama, duduk tawaruk baik dalam duduk tasyahud awal maupun akhir. Pendapat ini merupakan pendapat imam malik (Fiqh al Ibadat ala Mazdhab al-Maliki, 166) Alasannya sebagai berikut :

Pertama, hadis dari Abdullah bin Zubair (No.1)

إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى تَحْتَ فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى

"Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam duduk dalam shalat, beliau meletakkan telapak kaki kirinya di bawah paha dan betis kanannya, dan menghamparkan telapak kaki kanannya” (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 3/172)

Kedua, hadis dari Abdullah bin Mas’ud (No. 2)

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّشَهُّدَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ وَفِي آخِرِهَا، فَكُنَّا نَحْفَظُ عَنْ عَبْدِ اللهِ حِيَ أَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ إِيَّاهُ، قَالَ: فَكَانَ يَقُولُ: إِذَا جَلَسَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ، وَفِي آخِرِهَا عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepadaku bacaan tasyahhud di pertengahan dan akhir shalat, sedangkan kami menghafalkan dari Abdullah ketika ia mengabarkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan bacaan itu kepadanya. Jika beliau duduk di pertengahan shalat dan akhirnya di atas telapak kaki kirinya (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad, 7/392)

Hadis pertama menggunakan karena menggunakan adat syarat maka berlaku mafhum syarat, yaitu apabila duduk, apakah duduk diantara dua sujud, tasyahud awal atau tasyahud akhir, beliau duduk dengan posisi tawaruk. Hadis Abdullah bin Mas’ud secara manthuq menguatkan posisi tawaruk, baik dalam tasyahud awal maupun akhir. Secara analisis taarud al adillah, Malikiyyah mendahulukan atau mentarjih hadis-hadis tawaruk dari hadis iftirasy.

B. Pendapat kedua, yaitu duduk iftirasy, baik dalam duduk tasyahud awal maupun tasyahud akhir. Pendapat ini merupakan pendapat imam Abu Hanifah. Argumentasinya sebagai berikut :

Pertama, hadis dari Abdullah bin Umar (hadis no. 4)

إِنَّمَا سُنَّةُ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِيَ الْيُسْرَى فَقُلْتُ إِنَّكَ تَفْعَلُ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ رِجْلَيَّ لَا تَحْمِلَانِي

"Sesungguhnya yang sesuai sunnah adalah kamu menegakkan telapak kakimu yang kanan sedangkan yang kiri kamu masukkan dibawahnya (melipat)." Aku pun berkata, "Tapi aku melihat anda melakukan hal itu!" Dia menjawab, "Kakiku tidak mampu." (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/165)

Kedua dan ketiga, dari sahabat Wail bin Hujr

فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

Ketika duduk tasyahud beliau membentangkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya -yakni di atas paha kirinya- serta menegakkan kaki kanannya." (H.R. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 1/324)

فَلَمَّا قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ فَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ قَعَدَ عَلَيْهَا

“maka ketika beliau duduk untuk tasyahud, beliau menghamparkan kaki kiri (sejajar dengan paha kiri) kemudian mendudukinya (H.R. at-Thahawi, Syarah Ma’ani al-Atsar, 1/259)

Keempat, hadis dari Rifa’ah bin Rafi’

: إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ ، فَإِذَا رَفَعْتَ فَاقْعُدْ عَلَى فَخِذِكَ الْيُسْرَى

apabila kamu mengangkat (kepala dari sujud) maka duduklah di atas pahamu yang kiri." (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/227)

Kelima, dari sahabat Anas bin Malik

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الإِقْعَاءِ وَالتَّوَرُّكِ فِي الصَّلاَةِ.

Rasulullah Saw melarang duduk iq’a dan duduk tawaruk dalam salat (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad, 3/233)

hadis pertama, Ibn Umar menegaskan kesunahan (marfu’) duduk iftirasy dalam salat, artinya berlaku dalam semua duduk. Hadis kedua, menunjukan bahwa ketika duduk yaitu tasyahud, beliau duduk iftirasy, dalam hadis tersebut berlaku umum, apakah tasyahud awal ataupun akhir. Begitu juga jika salat hanya dua rakaat, maka sunahnya iftirasy. Hal ini dikuatkan dua hadis dari Wail bin Hujr dan hadis Fifaah bin Rafi’ dibawahnya. Disamping adanya penetapan sunah iftirasy dalam duduk ketika salat secara umum berdasarkan dua keterangan sahabat, yaitu Abdullah bin Umar, Wail bin Hujr dan Rifaah bin Rafi’, adapula hadis yang melarang tawaruk dalam salat, sehingga jelaslah hanya iftirasy sebagai kaifiyat duduk dalam salat. Secara analisis taarud al adillah, Hanafiyah mendahulukan atau mentarjih hadis-hadis iftirasy dari hadis-hadis tawaruk (Pendapat hanafiyah ini bisa dibuka dalam kitab tabyin al-Haqaiq syarh kanz ad-Daqaiq, 1/122)

C. Pendapat ketiga, iftirasy pada duduk tasyahud awal dan salat dua rakaat. Sedangkan pada salat yang di dalamnya dua tasyahud, tawaruk pada tasyahud kedua. Pendapat ini merupakan jama’ dari pendapat sebelumnya yaitu Malikiyyah dan Hanafiyah (Al-Mughni, 1/613) adapun qorinah jama’ dan argumentasinya adalah sebagai berikut :

Pertama, hadis Aisyah

وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka'at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan memasang tegak lurus kakinya yang kanan. (H.R. Muslim, sahih Muslim, 2/54)

kedua, Abdullah bin Zubair

إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ ، افْتَرَشَ الْيُسْرَى ، وَنَصَبَ الْيُمْنَى 

“Rasulullah Saw jika duduk setelah dua rakaat, beliau menduduki kaki kiri dan menegakan kaki kanan (H.R. Ibn Hibban, Sahih Ibn Hibban, 5/270)

Ketiga, Abu Humaid as-Sa’idi

فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kananya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/165)

D. Pendapat keempat. Tawaruk pada rakaat rakaat terakhir dan iftirasy pada tasyahud awal (lihat al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 3/450) pendapat ini merupakan pendapat Syafiiyah. Sebagaimana Hanabilah, pendapat ini merupakan jama’ dari dalil-dalil yang dikemukakan oleh kelompok pertama dan kedua. Argumentasinya sebagai berikut :

Dua Hadis dari Abu Humaid as-Saidi

فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kananya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/165)

حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ، أَخَّرَرِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ

"…dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang terdapat salam, beliau merubah posisi kaki kiri dan duduk secara tawaruk (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan) di atas betis kiri (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/252)

Analisis lafadz

Secara umum, analisis lafadz terkait dengan hadis-hadis iftirasy dan tawaruk ini terbagi menjadi tiga kategori, yaitu

a. Mujmal Iftirasy

فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

إِنَّمَا سُنَّةُ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِيَ الْيُسْرَى

فَإِذَا رَفَعْتَ فَاقْعُدْ عَلَى فَخِذِكَ الْيُسْرَى

إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ ، افْتَرَشَ الْيُسْرَى ، وَنَصَبَ الْيُمْنَى

فَلَمَّا قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ فَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ قَعَدَ عَلَيْهَا وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى

Wujuh al-Istidlal diatas semuanya masih bersifat mujmal, artinya belum dapat dipastikan posisi iftirasy secara rinci

b. Mujmal Tawaruk

إِذَا جَلَسَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ، وَفِي آخِرِهَا عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى

إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى تَحْتَ فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى

Begitu juga dengan wujuh al-Istidlal diatas belum dapat dipastikan apakah posisi tawaruk itu untuk duduk diantara dua sujud, duduk tasyahud awal atau duduk tasyahud akhir, masih belum jelas dan rinci.

c. Mubayyan Iftirasy dan Tawaruk

فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ، وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ

فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ، أَخَّرَرِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ

Wajhul istidlal yang pertama secara jelas menunjukan bahwa posisi iftirasy adalah pada tasyahud awal. Sedangkan hadis kedua dan ketiga menunjukan secara sarih yaitu “rakaat terakhir” dan “sujud terakhir yang diakhiri dengan salam” bahwa posisi tawaruk adalah pada akhir salat. Hadis-hadis diatas merupakan bayan al-Fi’li terkait dengan posisi duduk iftirasy dan tawaruk dalam salat. 

Kecatatan Hadis larangan Tawaruk

Adapun terkait dengan hadis larangan duduk tawaruk dalam salat, menurut imam al-Bazzar hadis tersebut merupakan wahm atau kesalahan salah seorang rawi yang bernama Yahya bin Ishaq al-Sailahini. Yahya menyendiri dalam periwayatan dari Hammad bin Salamah. Sedangkan jalur yang mahfudz adalah larangan menghamparkan tangan (mendepa) sebagaimana anjing atau binatang buas bertaring ketika salat. Imam Ahmadpun meninggalkan hadis tersebut. Disamping itu dalam jalur yang lain sahabat Samurah bin Jundab ada rawi yang bernama Said bin Basyir, tidak dapat dijadikan hujah (sunan al-Kubra, 2/120, Musnad al-Bazzar, 2/155, Fath al-Bari Ibn Rajab, 7/316)

Menurut pandangan kami

1. Hadis-hadis yang dijadikan dalil-dalil pemutlakkan iftirasy dan tawaruk, secara dilalah masih mujmal dan ihtimal, sehingga belum dapat dijadikan sebagai dasar istidlal

2. Ditemukan bayan al-fi’li terkait dengan kemujmalan hadis iftirasy dan tawaruk, maka hadis-hadis tersebut mesti difahami sesuai dengan hadis yang lebih sarih.

3. Metode yang digunakan baik malikiyyah maupun Hanafiyah, ketika terjadi “pertentangan” dalil adalah dengan mentarjih salah satunya. Malikiyyah mentarjih hadis-hadis tawaruk, sedangkan Hanafiyah mentarjih hadis-hadis iftirasy. Menurut kami, selama masih bisa dijama maka jama’ didahulukan dari tarjih.

4. Jika dianalisis secara maudlui dan mengkategorisasikannya antara yang mujmal dan mubayyan, maka hadis-hadis tersebut tidak bertentangan, bahkan saling menjelaskan satu sama lain.

5. Namun perihal yang menggunakan metode jama, ada persamaan dan perbedaan antara Hanabilah dan Syafiiyah. Persamaannya, pertama, pada salat yang terdiri dari dua tasyahud, maka bersepakat bahwa asyahud awal duduk iftirasy dan tasyahud akhir duduk tawaruk. Kedua pada salat yang tidak ada tasyahud awalnya, selain dua rakaat, maka duduknya tawaruk.

6. Perbedaannya keduanya terdapat pada salat dua rakaat, apakah duduknya iftirasy atau tawaruk. Menurut analisis kami dilihat dari aspek dilalah dan kesarihan lafadz, maka yang lebih tepat dan mendekati kebenaran adalah duduk tawaruk. Argumentasinya sebagai berikut

a. Wajhul Istidlal yang pertama

حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ، أَخَّرَرِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ

“sehingga jika sampai pada sujud yang didalamnya (setelah) ada salam” beliau duduk tawaruk

Wajhul istidlal diatas secara sarih menunjukan posisi tawaruk. Sujud yang didalamnya ada salam, adakalanya pada salat yang didalamnya ada dua tasyahud, ada kalanya pada salat yang tidak ada tasyahud awalnya. Selama didalamnya ada salam, maka disyariatkan duduk tawaruk.

b. Wajhul idtidlal yang kedua

وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

“Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kananya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya”

Kalimat diataspun menunjukan secara sarih bahwa posisi duduk tawaruk adalah ketika pada rakaat terakhir, apakah rakaat terakhir dalam salat dua tasyahud atau salat tanpa dua tasyahud, semisal salat subuh, salat Jumat dan lainnya.

c. Wajhul istidlal yang ketiga

وَفِي آخِرِهَا عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى

“Dan pada duduk yang terakhir (beliau) duduk tawaruk dengan kaki kirinya”

d. Adapun tanggapan terhadap argumentasi hanbaliyah

وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka'at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan memasang tegak lurus kakinya yang kanan”

Hadis diatas maksudnya bukanlah pada setiap salat dua rakaat duduk iftirasy, tapi maksudnya adalah setiap dua rakaat (tasyahud awal) pada salat yang didalamnya ada dua tasyahud, maka disyariatkan duduk iftirasy. Adapun tasyahud akhir atau duduk setelah rakaat terakhir, maka duduknya adalah tawaruk bukan iftirasy. 

e. Begitu pula dengan hadis

إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ ، افْتَرَشَ الْيُسْرَى ، وَنَصَبَ الْيُمْنَى 

“Rasulullah Saw jika duduk setelah dua rakaat, beliau menduduki kaki kiri dan menegakan kaki kanan”

Maksud dua rakaat diataspun belum jelas, apakah maksudnya pada salat tanpa tasyahud awal atau pada tasyahud awal pada salat dua tasyahud. Namun jika kita mengacu pada hadis-hadis mengenai posisi tawaruk, maka jelaslah maksud duduk dua rakaat diatas dengan cara duduk iftirasy itu maksudnya adalah ketika tasyahud awal, adapun duduk yang didalamnya ada salam, maka disyariatkan duduk tawaruk. Wallahu a’lam

Kesimpulan

Posisi duduk ketika tasyahud awal adalah iftirasy, sedangkan posisi duduk ketika tasyahud akhir atau duduk yang didalamnya ada salam adalah tawaruk.

Ginanjar Nugraha

Bandung, 24/05/2018

Siang Menjelang Sore, 9 Ramadlan 1439 H


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?