Shalat Wajib Diatas Tanah (Edisi Bantahan Terhadap K.H. Mahrus Ali) (II)

0
91

 

  1. Hadits Al-Bukhory No.836 (Abu Sa’id Al-Khudry r.a)

 

حدثنا مسلم بن إبراهيم قال : حدّثنا هشام عن يحيى عن أبى سلمة قال : سألت أبا سعيد الخدري فقال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يسجد في الماء و الطين حتى رأيت أثر الطين في جبهته

 

Abu Sa’id Al-Khudry berkata: “Aku melihat Rasulullah SAW bersujud di air dan tanah sehingga aku melihat bekas tanah di keningnya”.

(Dikeluarkan oleh: Imam Al-Bukhory; Shahih al-Bukhory. No. 836 hal.116 cet. Maktabah Ar-Rusydy)

Hadits ini tidak shorih menunjukkan wajibnya shalat wajib diatas tanah dengan landasan:

  1. Hadits ini terdapat juga di beberapa nomor yang lain dikitab shahihnya, diantaranya: No. 669, 813, 2016, 2036,
  2. Untuk hadits no.669 bunyinya sebagai berikut:

جاءت سحابة فمطرت حتى سال السقف وكان من جريد النخل فأقيمت الصلاة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يسجد في الماء والطين حتى رأيت أثر الطين في جبهته.

Pada suatu hari banyak awan (mendung) lalu turunlah hujan lebat sehingga atap masjid menjadi bocor (oleh air hujan). Waktu itu atap masih terbuat dari daun pohon kurma. Ketika shalat dilaksanakan aku melihat Rasulullah SAW sujud di atas air dan lumpur hingga tampak sisa tanah becek pada dahi beliau.

Dengan hadits ini nampak jelas bahwa ketika Rasul SAW sujud di air dan lumpur tidaklah menunjukkan wajibnya sujud padanya. Hal ini hanya disebabkan kondisi saja ketika itu hujan turun dengan lebat dan setiap atapnya bocor sehingga mengakibatkan lumpur.

Memang benar masjid Rasul SAW pada waktu itu beralaskan tanah sehingga ketika terkena air hujan menjadi becek berlumpur. Namun hal ini pun adalah disebabkan kondisi saja waktu itu kebanyakan warga arab rumah-rumah dan segala bangunannya serba sederhana tanpa beralaskan lantai.

Kenapa Masjid di zaman Rasul SAW tanpa keramik? Apakah ini menunjukkan wajibnya shalat diatas tanah? Tentu jawabannya sangat mudah dengan dalil pada hadits no.1 yang sudah dibahas diatas bahwa buktinya Rasul SAW shalat diatas kayu dan kalaupun sempat mundur hendak sujud itu sudah dijawab karena Rasul ingin mensejajarkan posisinya dengan ma’mum.

Dan mungkin saja di zaman Nabi SAW batu marmer atau batu seperti keramik untuk dijadikan lantai memang ada, namun kalaulah ada sangat di pastikan keberadaannya sangat sulit di dapatkan mengingat jarak dan tempat dan juga alat transfortasi yang terbatas.

Bagi penulis sangat mudah difahami bahwa hal ini adalah permasalah tekhnis saja kondisi pada saat itu kehidupan yang seadanya tanpa harus susah susah mendatangkan batu marmer untuk dijadikan lantai masjid disaat Allah sudah jadikan apa saja di bumi sebagai tempat sujud termasuk tanah yang biasa kita injak.

 

  1. Hadits Al-Baihaqy No.2657 (Khobbab bin Al-Aroth r.a)

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ، ثنا أبو بكر هو ابن إسحاق الفقيه أنبأ الحسن بن علي بن زياد ثنا إبراهيم بن موسى، ثنا عيسى بن يونس عن زكريا بن أبي زائدة عن إبي إسحاق عن سعيد بن وهب عن خباب بن الأرت قال : شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم شدة الرمضاء في جباهنا وأكفنا فلم يشكنا

Dari khobbab bin Al-Aroth ia berkata: kami mengadu kepada Rasulullah SAW tentang sangat panasnya dahi kami (saat sujud) dan juga pergelangan kami namun Rasul SAW tidak menanggapi pengaduan kami.

(Dikeluarkan oleh: Imam Al-Baihaqy; Sunan Al-Kubro Lil-Baihaqy. Juz 2 hal. 151 No.2658)

Riwayat ini “SYAD” karena hanya bermuara ke Zakaria dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Wahb dari Khobbab bin Al-Aroth r.a. Padahal dari Abu Ishaq yang diriwayatkan oleh banyak rowi sebagai muridnya tidak ada tambahan “pada dahi kami dan juga pergelangan kami”. Mereka murid-murid abu Ishaq yang tsiqoh yaitu:

  1. Abul Ahwash Salam bin Sulaim: (H.R. Ibnu Aby Syaibah; Kitab As-Shalat)

حدثنا أبو الأحوص عن أبي إسحاق عن سعيد بن وهب عن حباب قال : شكونا إلى ر سول الله صلى الله عليه وسلم الصلاة في الرمضاء فلم يشكنا

  1. Zuhair bin Mu’awiyah: (H.R. Muslim; Kitab Al-Masajid)

وحدثنا أحمد بن يونس وعون بن سلام قال عون أخبرنا وقال ابن يونس واللفظ له حدثنا زهير قال حدثنا أبو إسحق عن سعيد بن وهب عن خباب قال أتينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فشكونا إليه حر الرمضاء فلم يشكنا قال زهير قلت لأبي إسحق أفي الظهر قال نعم قلت أفي تعجيلها قال نعم

  1. Yunus bin Aby Ishaq: (H.R. Al-Baihaqy; Kitab Ash-Shalat)

أخبرنا ) أبو الحسن : محمد بن أحمد بن الحسن بن إسحاق البزاز ببغداد من أصل سماعه ، ثنا أبو محمد : عبد الله بن محمد بن إسحاق الفاكهي بمكة ، ثنا أبو يحيى بن أبي مسرة ، ثنا خلاد بن يحيى ، ثنا يونس بن أبي إسحاق ، عن أبي إسحاق [ ص: 439 ] قال : حدثني سعيد بن وهب قال : حدثني خباب بن الأرت قال : شكونا إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – الرمضاء فما أشكانا ، وقال : ” إذا زالت الشمس فصلوا ” .

  1. Syu’bah bin Al-Hajjaj: (H.R. Ahmad; Musnad Ahmad)

حدثنا سليمان بن داود أخبرنا شعبة عن أبي إسحاق قال سمعت سعيد بن وهب يقول سمعت خبابا يقول شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الرمضاء فلم يشكنا قال شعبة يعني في الظهر

  1. At-Tsaury (H.R. Abdurrozzaq; Kitab As-Shalat, Bab Waqtu Dzuhr)

عبد الرزاق ، عن الثوري ، عن أبي إسحاق ، عن سعيد بن وهب ، عن حباب قال : شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الرمضاء ، فما أشكانا يقول : ” في صلاة الظهر ” .

  1. Syarik An-Nakho’ie (H.R. At-Thobarony; Al-Mu’jam Al-Kabir)

حدثنا أبو حصين القاضي ، ثنا يحيى الحماني ، حدثنا شريك ، عن أبي إسحاق ، عن سعيد بن وهب ، عن خباب ، قال : ” شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ، الرمضاء فلم يشكنا ” .

Ditambah Sulaiman bin Mihron alias Al-A’masy dan Ziyad bin Khoitsamah yang dikeluarkan oleh Imam Ath-Thohawy dalam kitab Syarhul Ma’any juga sama mereka semua murid-murid Abu Ishaq tidak ada satupun yang meriwayatkan tambabahan seperti yang dibawa oleh Zakaria.

Diantara mereka yang paling tsiqoh dari riwayat Abu Ishaq adalah Syu’bah di ikuti oleh At-Tsaury. Dari sini nampak jelas riwayat yang melewati Zakaria yang dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqy riwayatnya “SYAD”.

Sebenarnya riwayat yang dibawa oleh Zakaria ini ada Syahid, berikut riwayat Syahidnya:

أخبرنا  أبو الحسين بن بشران ، أنبأ أبو جعفر الرزاز ، ثنا حنبل بن إسحاق ، ثنا معلى بن أسد ، ثنا وهيب بن خالد ، عن محمد بن جحادة ، عن سليمان بن أبي هند ، عن خباب بن الأرت ، قال : شكونا إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – شدة الحر في جباهنا وأكفنا فلم يشكنا .

(Dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqy; Sunan Al-Kubro; Kitab Ash-Shalat. No. 2596)

Juga dikeluarkan oleh Imam At-Thobary No. 3704 di kitab Al-Mu’jamu Al-Kabir. Namun riwayat ini lemah sekali disebabkan terputusnya sama’ Sulaiman bin Aby Hind dari Khobbab.

Imam Ibnu Rojab menukil penyataan Yahya bin Ma’ien:

وأما رواية من زاد فيه:” في جباهنا وأكفنا ” فهي منقطعة ، حكى إسحاق بن منصور عن يحيى بن معين ، أنه قال : (هي مرسلة) ، يعني أن سليمان بن أبي هند لم يسمع من خباب ” .

“Adapun riwayat yang ada tambahan padanya “pada kening-kening kami dan telapak-telapak kami” maka riwayat itu TERPUTUS, begitulah Ishaq bin Mansur dari Yahya bin Ma’in mengkisahkan dan ia berkata: “riwayat ini Mursal”. Yakni bahwa Sulaiman bin Aby Hind tidak mendengar dari Khobbab”

(Kitab Fathul Bary Syarh Shohih Al-Bukhory Libni Rojab; Juz 3 hal.39 cet. Maktabah Al-Ghurobaa)

Riwayat yang dibawa oleh Sulaiman bin Aby Hind ini jelas MUNKAR karena telah menyalahi riwayat yang lebih kuat yaitu riwayat Sa’id bin Wahb. Sa’id bin Wahab dari Khobbab r.a lebih kuat dan lebih Atsbat dibandingkan Sulaiman bin Aby Hind dari Khobbab r.a.

Sa’id bin Wahb mendapat penilaian tsiqoh dari Ibnu Ma’ien dan Sa’id ini murid tulen dari Khobbab r.a. adapun Sulaiman bin Aby Hind rowi mastur tidak dikenal oleh para ahlu jarh. Satu penilaian penulis dapatkan dari kitab Tadzyil ‘ala Kutub Al-Jarh Wa At-Ta’dil tentang rowi ini “Lam Yakun bihi Ba-sun” (rowi ini tidak apa-apa) namun itupun yang menilainya adalah majhul, Ibnu Madiny hanya menyebutkan itu kata sahabatnya. Adapun Ibnu Hibban sudah dikenal tafarrudnya dalam penilaian rowi dari para ahlu jarh yang lain sehingga rowi-rowi majhul kadang masuk di kitabnya Ats-Tsiqooth.

Disaat rowi ini mastur, juga riwayatnya Munqothy (terputus). Beliau tidak sama’ (mendengar) dari Khobbab r.a. karena itu nampak jelas kemungkarannya dan tidak layak dipakai sebagai dalil pendukung Wajib Shalat diatas tanah karena riwayatnya cacat sekali, buang saja. Dan yang mahfudz (terpelihara) hanya riwayat Sa’id bin Wahb dari Khobbab yang diriwayatkan oleh banyak muridnya yang tsiqoh yang tidak ada tambahan padanya “pada kening-kening kami dan telapak-telapak kami”.

Atas dasar itu riwayat yang mahfudz ini nyatanya masih umum. Berikut penulis kutip riwayat Zuhair yang dikeluarkan oleh Imam Muslim:

أتينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فشكونا إليه حر الرمضاء فلم يشكنا قال زهير قلت لأبي إسحق أفي الظهر قال نعم قلت أفي تعجيلها قال نعم.

“Kami pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkeluh kesah kepada beliau akan teriknya (matahari) sangat panas, namun beliau tidak mempedulikan keluh kesah kami. Zuhair mengatakan : Lalu kukatakan kepada Abu Ishaq, Apakah yang dimaksud ketika shalat dhuhur? dia menjawab: Benar. Aku berkata lagi:  Itu maksudnya supaya menyegerakannya? Jawab Abu Ishaq: Benar.”

Riwayat ini tepatnya bukan menunjukkan wajibnya sujud diatas tanah karena tambahan sebelumnya yang dibawa oleh rowi mastur yaitu “pada dahi-dahi kami dan telapak tangan kami” adalah Munkar dan Syad. Riwayat ini lebih tepatnya menunjukkan pemintaan para sahabat untuk menyegerakan shalat dzuhur dari panasnya matahari yang sangat terik sekali di badan.

Permintaan para shahabat Rasul SAW ini pada zaman itu sangat diperlukan dikarenakan tempat dan segala fasilitas yang sangat terbatas. Sampai sehelai kain saja yang sangat mereka butuhkan untuk sekedar sujud sulit mereka dapatkan. Hal ini bisa kita ketahui dari beberapa riwayat yang tersebar akan kondisi mereka para shahabat yang hidup dalam kesederhanaan.

Berikut penulis kutip 2 riwayat yang shahih tentang kondisi mereka sebagai renungan bagi kita semua begitu sederhananya mereka dalam kehidupannya:

  1. Riwayat Sahl bin Sa’ad r.a: (H.R. Al-Bukhory; Kitab Ash-Shalat)

حدثنا مسدد قال حدثنا يحيى عن سفيان قال حدثني أبو حازم عن سهل بن سعد قال كان رجال يصلون مع النبي صلى الله عليه وسلم عاقدي أزرهم على أعناقهم كهيئة الصبيان ويقال للنساء لا ترفعن رءوسكن حتى يستوي الرجال جلوسا

“Dahulu para lelaki shalat bersama Rosululloh SAW mereka mengikat (ujung atas dari) sarung-sarung mereka ke leher-leher mereka seperti keadaannya anak-anak, maka dikatakan kepada para wanita (yang ikut shalat berjama’ah: “Janganlah kalian mengangkat kepala-kepala kalian sampai para lelaki benar-benar lurus dalam keadaan duduk”.

Mereka dilarang dari cepat-cepat mengangkat kepala mereka disebabkan karena akan terlihat bagi mereka bentuk aurat para lelaki yang ketika itu mereka tidak memiliki pakaian melainkan hanya satu sarung yang mereka pakai tersebut.

  1. Riwayat Aby Hurairoh r.a: (H.R. Al-Bukhory; Kitab Ash-Shalat)

حدثنا يوسف بن عيسى قال حدثنا ابن فضيل عن أبيه عن أبي حازم عن أبي هريرة قال لقد رأيت سبعين من أصحاب الصفة ما منهم رجل عليه رداء إما إزار وإما كساء قد ربطوا في أعناقهم فمنها ما يبلغ نصف الساقين ومنها ما يبلغ الكعبين فيجمعه بيده كراهية أن ترى عورته

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Aku melihat tujuh puluh orang dari ahlus-shuffah, tidak seorangpun dari mereka yang mengenakan baju, terkadang bersarung dan terkadang memakai baju. Mereka mengikatkan pada lehernya masing-masing. Di antaranya ada pakaiannya itu hanya sampai pada setengah dari kedua betisnya dan di antaranya ada pula yang sampai di kedua mata kakinya, lalu dikumpulkannyalah dengan tangannya karena takut terlihat auratnya.

Kesimpulan hadits no. 3 ini adalah: tidak sah berdalil dengan riwayat Khobbab r.a dengan wajibnya shalat wajib sujud diatas tanah. Wallahu A’lam.

  1. Hadits Jabir bin ‘Abdullah (H.R. Abu Daud)

حدثنا أحمد بن حنبل ومسدد قالا حدثنا عباد بن عباد حدثنا محمد بن عمرو عن سعيد بن الحارث الأنصاري عن جابر بن عبد الله قال كنت أصلي الظهر مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فآخذ قبضة من الحصى لتبرد في كفي أضعها لجبهتي أسجد عليها لشدة الحر

“Dari Jabir bin Abdullah r.a ia berkata: Aku melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAW, shalat dzuhur. Aku ambil segenggam batu dan menggenggamnya sehingga sejuk. Dan aku letakkan batu itu di dahiku bila sujudku tadi dalam keadaan panas terik”

(Dikeluarkan oleh: Abu Daud; Sunan Aby Daud. Juz 1 No. 399 Kitab Shalat. Hal.344. cet. Muassasatu Ar-Royyan)

Hadits ini sepanjang penulis tahu juga di riwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy; Sunan Al-Kubro No.2658. Imam Al-Hakim; Al-Mustadrok ‘ala Shohihain No. 727. Imam An-Nasai; Sunan An-Nasai No.1081. Imam Ahmad; Musnad Ahmad No. 14097.

Semuanya bermuara ke Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqomah bin Waqqos Al-Laitsy. berikut penilaian para Imam Ahlu Jarh[1]:

Yahya bin Sa’id Al-Qotton:

أما محمد بن عمرو فرجل صالح ليس بأحفظ الناس للحديث

“Adapun Muhammad bin ‘Amr maka ia itu seorang yang sholeh (namun) ia bukan orang yang paling hafal di bidang hadits”.

 

Yahya bin Ma’in:

مازال الناس يتقون حديثه. قيل له: وما علة ذالك ؟ قال: كان يحدّث مرة عن أبي سلمة بالشيء من رأيه ثمّ يحدّث به مرّة أخرى عن أبي سلمة عن أبي هريرة

“orang-orang senantiasa waspada terhadap haditsnya. Dikatakan padanya: Apa yang menyebabkan cacatnya? Ibnu Ma’in menjawab: ia terkadang meriwayatkan dari Aby Salamah dari pendapatnya sendiri kemudian di waktu yang lain ia meriwayatkan dari Aby Salamah dari Aby Hurairoh r.a”.

Al-Juzajany:

ليس بقوي

“dia tidak kuat”

Abu Hatim:

صالح الحديث، يكتب حديثه وهو شيخ

“Sholihul Hadits, haditsnya di catat dan ia seorang syaikh”

Imam An-Nasai:

ليس به بأس وقال في موضع آخر : ثقة

“Dia tidak apa-apa, di tempat lain mengatakan: dia Tsiqoh”.

Dari keseluruhan penilaian para imam diatas imam ibnu hajar menyimpulkan: “Shoduq Lahu Auham” (dia itu Shoduq tapi banyak kekeliruan)[2]

Kesimpulan Al-Hafidz Ibnu Hajar ini hemat penulis sungguh sangat tepat. Penilaian shoduq adalah bentuk kompromi dari penilaian tsiqoh An-Nasai namun juga menilai Laisa bihi ba’sun. diperkuat penilaian dari Ibnu Sa’id Al-Qotthon dan Abu Hatim yang hanya menilai Sholih saja (sederajat dengan shoduq). Adapun penilaian Wahm (keliru) nya diambil dari perkataan Yahya bin Ma’in.

Penilaian “Shoduq Lahu Auham” bagi Ibnu Hajar riwayat yang dibawa oleh rowi tersebut adalah lemah (dloif) yang harus mendatangkan saksi (syahid) dari rowi lain untuk menguatkannya. Dan sepanjang penulis tahu, Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqomah ini menyendiri dan tidak ada saksi baginya.

Kesendirian Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqomah dari Sa’id bin Al-Harits ini adalah kelemahan yang nampak disaat murid-murid Sa’id bin Al-Harits seperti Zaid bin Aby Unaisah, ‘Amr bin Al-Harits dan Fuleih bin Sulaiman kenapa tidak meriwayatkannya.

Ini adalah cacat yang tersembunyi. Kenapa murid-murid Sa’id bin Al-harits tidak meriwayatkannya padahal mereka murid-murid yang paling tsiqoh?

Riwayat yang dibawa oleh Muhammad bin ‘Amr tentang kisah Jabir bin ‘Abdullah r.a ini adalah lemah (dloif). Dan tidak sah di jadikan dalil. Buang saja.

Dan kalaupun harus dikatakan riwayatnya hasan, riwayat ini tidak secara shorih menunjukkan wajibnya sujud diatas tanah dan tidak cocok dijadikan dalil untuk itu, dengan jawabannya hampir sama dengan hadits Khobbab r.a di pembahasan riwayat ke 3. Dimana riwayat ini masih “Ihtimal” yang memungkinkan pada waktu itu alas tikar sebagai tempat shalat dan sujud tidak didapatkannya.

Memang kita dapatkan qoul Imam Al-Baihaqy sebagai berikut:

ولوجاز السجود على ثوب متصل به لكان ذالك أسهل من تبرد الحصا في الكف ووضعها للسجود وبالله توفيق

“kalaulah sujud atas baju dibolehkan sebagai washilah (kening ke tanah) maka yang demikian sebenarnya lebih mudah (dilakukan) daripada (harus) mendinginkan kerikil (dulu) di telapak tangannya dan menempatkannya untuk sujud”.

Pernyataan ini lemah dengan beberapa alasan:

  1. Hadits yang dikomentarinya sudah dibahas adalah lemah melewati hanya Muhammad bin ‘Amr saja.
  2. Kalaulah hadits yang dikomentarinya baik (hasan) maka tetap lemah disaat terdapat hadits lain yang menggugurkan pendapatnya, diantaranya hadits Anas r.a:

حدثنا أبو الوليد هشام بن عبد الملك قال حدثنا بشر بن المفضل قال حدثني غالب القطان عن بكر بن عبد الله عن أنس بن مالك قال كنا نصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم فيضع أحدنا طرف الثوب من شدة الحر في مكان السجود

Dari Anas r.a ia berkata: “kami shalat bersama Nabi SAW lalu salah seorang dari kami meletakkan salah satu dari ujung bajunya di tempat sujudnya karena panasnya tempat sujud”.

(Dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhory; Shahih Al-Bukhory Kitab Shalat. Bab As-Sujud ‘Ala Ats-Tsaubi Fi Syiddatil Harr. No.386 hal. 61 cet. Maktabah Ar-Rusyd)

Hadits ini adalah shahih dengan sanadnya kuat. Apabila meragukan sanadnya silahkan di beri tempat komentar dibawah.

Hadits ini jelas telah menggugurkan qoul imam Al-Baihaqy dimana dalam hadits ini buktinya shahabat Rasul SAW tanpa harus minta izin dulu langsung menghamparkan bajunya di tempat sujudnya karena panasnya tempat sujudnya. dan sebab di hamparkan bajunya karena panas maka itu bukanlah pengecualian juga akan wajibnya, namun ini hubungannya adalah kebutuhan saja disaat waktu itu adalah serba kesederhanaan dengan fasilitas yang terbatas.

Karena itu riwayat Jabir r.a diatas yang dibawa oleh Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqomah menyalahi riwayat yang lebih kuat yaitu riwayat Anas r.a yang dibawa oleh rowi-rowi yang kuat.

Riwayat Jabir r.a diatas yang dibawa oleh Muhammad bin ‘Amr matannya terlihat ghorib (asing) dimana batu atau kerikil ditempelkan ke dahi sebagai sujudnya. Karena itu riwayat seperti ini tidak baik di pakai sebagai dalil wajibnya shalat wajib diatas tanah.

Bersambung ke hadits berikutnya no.6.

[1] Kitab Tahdzibul Kamal; Ibnu Aby Hatim. Juz 26 hal. 216-217 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[2] Kitab Taqribu Tahzib; Ibnu Hajar. Hal. 884 no.rowi 6228. Cet. Darul ‘Ashimah