“Shaumlah Pasti Sehat!!” ; (Takhrīj dan kajian sanad)

Dipublish pada 25 April 2018 Pukul 03:16 WIB

459 Hits


Abu Aqsith


Menjelang bulan suci
Ramadlan, tidak salahnya kami sajikan analisis riwayat-riwayat seputar shaum
yang mudah-mudahan dapat menambah wawasan intelektual kita bersama juga sebagai
tanggung jawab moral kami dalam mengemban amanah menjaga sunnah-sunnah nabi saw.


Untuk kajian pertama,
kiranya kami mulai dengan riwayat yang sudah popular di kalangan masyarakat,
yang al-hamdulillah sebagian masyarakat telah mengetahui derajat riwayat ini
adalah lemah yaitu:


صوموا تصحّوا


“shaumlah pasti
sehat”


Riwayat ini masih dipakai
oleh beberapa pendakwah dalam ceramah-ceramahnya di saat kedudukan riwyatnya
sangat lemah. Mungkin tidak menjadi masalah dan malah bagus jika riwayat ini
disampaikan dengan menjelaskan kedudukannya yang sangat lemah tersebut, namun jika
tidak dijelaskan maka ilmu akan semakin tertutup kabut.


Perlu kita ketahui bahwa matan
(redaksi) hadits walaupun isinya tidak bertentangan dengan al-Qur’an atau
as-Sunnah namun ketika sanadnya sangat lemah (dla’īf gair muhtamal) maka
tetap saja dikatakan lemah dalam arti bahwa redaksi ini bukan dari Nabi saw.


Hasil penelitian para ahli
kesehatan telah menguatkan riwayat ini (yaitu: “shaumlah pasti sehat”) bahwa
adalah benar adanya dengan shaum seseorang akan sehat, namun bukan berarti dengan
begitu riwayat ini menjadi baik dan dipercaya dari perkataan Nabi saw. Sebab
tidak menutup peluang di masa periwayatan hadis, munculnya hadits dla’īf dan
hadits palsu (maudlū’) yang matannya boleh dikatakan “bagus” tidak
lepas dari niat yang keliru dari para pembuatnya. Mereka para rawi yang
lemah ini menisbatkan kepada Nabi saw untuk mendapatkan legitimasi hukum. Tentu
saja Nabi saw terlepas dari tanggung jawab hukum dan kesimpulan yang
dihasilkan. Mereka yang memalsukan hadits-hadits seperti ini (tentang fadlāilil
a’māl) banyak disebabkan oleh keinginan mereka mengajak orang berbuat baik.
Hanya saja cara mereka salah, yaitu dengan mengatasnamakan Nabi dan mereka-reka
lafadz dari sebuah amalan. Ada dua kebohongan yang telah dilakukan, pertama
menentukan/mereka-reka pahala dan kedua mengatasnamakan ini dari Nabi saw.


Kajian ilmiah kita tidak
cukup sebatas mengetahui ini adalah dla’if namun lebih dari itu adalah
mengetahui kenapa hadits ini dla’if. Untuk riwayat lemah “shaumlah
pasti kamu sehat”
, berikut analisis dan takhrīj nya:


 


Berdasarkan bagan di atas, Penjelasannya adalah sebagai berikut:


1.    Jalur-jalur warna merah adalah riwayat yang
membawa redaksi: sāfirū tashihhū (safarlah pasti sehat). Sebagian jalur
ada tambahan lafadz lain namun secara keseluruhan jalur merah semua riwayatnya
sama.


2.    Adapun Jalur warna biru adalah riwayat yang
membawa redaksi: sūmū tashihhū (shaumlah pasti sehat).


3.    Dengan memperhatikan peta sanad tersebut nampak
jelas jalur warna biru terdapat kekeliruan informasi dimana riwayat yang masyhūr
(popular) pada masa periwayatan tersebut adalah informasi tentang safarlah
pasti sehat, bukan tentang shaumlah pasti sehat.


Apa sebab informasi ini terjadi distorsi?


Diantara sebab terjadinya distorsi ini dari apa yang kami fahami
adalah sebagai berikut:


1.    Pada jalur biru riwayat Ibnu Abbas r.a terdapat
dua rawi bermasalah, yaitu:


a.    Muhammad bin Mu’awiyah bin A’yun an-Naisabūrī,
rawi ini pendusta atas penilaian Ibnu Ma’in, Imam Ahmad dan ad-Dāraquthnī.
Adapun Ibnu Hajar menyimpulkan ia adalah rawi matrūk.[1]


b.    Nahsyal bin Sa’īd al-Wardānī, rawi
inipun pendusta atas penilaian Ishāq bin Rāhūyah. Adapun Ibnu Hajar
menyimpulkan bahwa ia adalah rawi matrūk.[2]


2.    Pada jalur biru riwayat Abū Hurairah r.a
terdapat rawi bermasalah, yaitu: Zuhair bin Muhammad at-Tamīmī. Rawi ini
dinilai tsiqah (terpercaya) oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’īn, namun di tempat
lain menilai lā ba-sa bih. Adapun an-Nasai menilai dla’īf. Atas
penilaian keseluruhan Imam, al-Hāfidz menilai ia tsiqah, kecuali
periwayatan orang-orang Syām darinya tidak lurus.[3]
Penilian al-Hāfidz ini merujuk pada penilaian Imam al-Bukhārī dimana beliau
menyatakan:


ما روى عنه أهل الشام
فإنّه مناكير وما روى عنه أهل البصرة فإنّه صحيح


“apa saja yang diriwayatkan oleh penduduk
Syām maka (riwayatnya) munkar. Dan adapun yang diriwayatkan oleh penduduk
Bashrah darinya maka riwayatnya shahīh”


 


Penilaian al-Bukhārī
ini lebih diperjelas lagi oleh Abu Hātim bahwa “sebab demikian karena Zuhair
ini ketika meriwayatkan di Syām hafalannya telah banyak salah”. Dan pada
riwayat yang sedang dibahas ini yang meriwayatkan dari Zuhari yaitu Muhammad
bin Sulaiman
adalah orang Syām.


 


Dari apa yang telah kami paparkan di atas, simpulan yang bisa kami
fahami adalah:


1.    Riwayat Ibnu Abbas r.a jalur biru dengan
redaksi shaumlah pasti sehat riwayatnya maudlu (palsu)
telah dipalsukan oleh diatara kedua rawi yaitu Muhammad bin Mu’awiyah atau
Nahsyal bin Sa’īd. Jalur “yang benar” adalah jalur merah yang dibawa
oleh Bastham, yang redaksinya safarlah pasti sehat. Namun Bastham
ini belum diketahui biografinya.


2.    Riwayat Abu Hurairah r.a jalur biru juga dengan
redaksinya shaumlah pasti sehat riwayatnya adalah Munkar. Sebab
riwayatnya dibawa oleh Zuhair
. Ia telah berubah hafalannya dan banyak salah
ketika di Syām dan diriwayatkan oleh para rawi Syām.


3.    Adapun jalur-jalur yang berwarna merah di atas
dengan redaksi safarlah pasti sehat juga pada dasarnya jalur-jalur
bermasalah karena setiap jalurnya melewati beberapa rawi lemah bahkan sebagian
jalurnya telah terma’lulkan namun tidak bisa kami jelaskan semuanya
karena terbatasnya ruang dan waktu.


4.    Jalur periwayatan shaumlah pasti sehat ini
kami pandang telah terjadi kemungkaran redaksi dari redaksi yang lemah pula.


5.    Riwayat-riwayat ini bukan sabda Nabi saw, walau
telah kami jelaskan di awal sekalipun redaksinya sesuai dengan ilmu kesehatan.


 


Demikian analisis riwayat ini bisa kami sajikan.


 


Dadi Herdiansah, Abu Aqsith.


 



[1]
Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 897 No.6350 cet.
Darul ‘Ashimah

[2]
Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 1009 No. 7247
cet. Darul ‘Ashimah

[3]
Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 342 No. 2060
cet. Darul ‘Ashimah


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?