STKIP Persis Bina Spirit Kejam’iyahan di Bulan Suci

STKIP Persis Bina Spirit Kejam’iyahan di Bulan Suci

SHARE

Bandung – persis.or.id, Ada nuansa kejam’iyyahan yang kuat di bulan suci Ramadlan kali ini. Setidaknya demikian situasi yang tergambar dalam kegiatan yang dirancang khusus menjelang ifthar jama’i civitas akademika STKIP Persis.

Dengan digawangi BEM STKIP Persis sebagai pelaksana teknis, STKIP Persis menggelar kegiatan Bina Spirit Kejam’iyahan pada hari Sabtu tanggal 10 Juni 2017 bertempat di Aula Kampus Pajagalan tempat dahulu PP Persis berkantor.

Kegiatan ini bertemakan “menjalin ukhuwah, menyatukan visi di bulan suci”. Dengan tujuan agar seluruh civitas akademika meningkatkan kembali ghirah dan spirit kejam’iyahan demi menunjang pencapaian visi jam’iyyah Persis melalui ikatan kuat ukhuwah antara pimpinan pusat Persis beserta seluruh civitas akademika STKIP Persis.

Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran tasykil STKIP Persis, dosen dan mahasiswa ini dihadiri langsung oleh Ust. Dr. H. Irfan Syafrudin Ketua Bidang Tarbiyyah, Ust. H. Salam Russyad dan Dr. H. Ihsan S. Latief, M.Si sebagai Ketua STKIP Persis sekaligus Ketua Bidang Jam’iyyah PP Persis. Semua pembicara memberikan penyuluhan tentang arti penting loyalitas kepersisan dan peran strategis mahasiswa dalam mewujudkan visi jam’iyyah.

Dalam pidato pengantarnya, Dr. H. Ihsan S. Latief menekankan arti penting kekuatan ukhuwwah dan kerjasama seluruh Civitas akademika STKIP Persis bersama PP Persis dalam mewujudkan tujuan institusional Perguruan Tinggi maupun Jam’iyyah yang menaungi Perguruan Tinggi ini.

Tujuan institusional STKIP Persis adalah melahirkan tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional, berdaya saing tinggi dan berakhlakul karimah. Sementara itu, tujuan inatitusional Persatuan Islam adalah mewujudkan tegaknya syari’at Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam setiap aspek kehidupan.

Oleh karena itu, STKIP Persis sebagai satu-satunya Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) di bawah kemenristek dikti memiliki peran penting dalam membentuk kader-kader Jam’iyyah pada khususnya dan umat Islam pada umumnya yang siap dan mumpuni berkiprah di dunia pendidikan Islam dan umum.

Sementara itu, dengan suara yang lantang dan penuh semangat, Ust. Salam Rusyad menggugah kembali spirit kejam’iyyahan seluruh civitas akademika STKIP Persis untuk bersama-sama berusaha semaksimal mungkin mewujudkan visi Jam’iyyah Persis.

Bahwa ikhtiar “penegakkan syari’at Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam setiap aspek kehidupan” adalah kesepakatan kolektif seluruh unsur Jam’iyyah yang harus diperjuangkan secara maksimal sesuai dengan kapasitas dan bidangnya masing-masing.

Kelalaian dan ketidakseriusan dalam ikhtiar maksimal mewujudkan visi ini sama saja dengan mengundang murka Allah SWT. Na’udzubillaah min dzaalik.

Semestinya kita menjadi generasi Rabbani.  Jadilah generasi terbaik. Jangan sampai kita menjadi umat yg tergantikan. Jadilah generasi pelanjut perjuangan Rasulullah SAW. Di Persis, jihad pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakatan menjadi ujung tombak perjuangan Persatuan Islam yang semestinya kita majukan bersama. Ujar Ust. Salam Rusyad.

Penekanan kembali terulang ketika Ust. Salam Rusyad menyampaikan arti penting karakter Walaa wal Barraa atau loyalitas keislaman dalam kehidupan berjam’iyyah. Loyalitas umat terhadap Islam harus berada di atas segalanya.

Selain itu, dihadapan para mahasiswa, Dr. Irfan Syafrudin mengingatkan bahwa mahasiswa wajib melakukan 3 hal, yakni membaca, berdiskusi dan berorganisasi. Membaca minimal bagi mahasiswa adalah 6 jam perhari. Bagi mahasiswa Prodi Bahasa Inggris, peluang memperoleh ilmu menjadi menjadi semakin luas melalui kemampuan membaca literatur berbahasa inggris.

Demikian pula, mahasiswa Prodi Sejarah akan semakin luas cakrawala wawasan dan keilmuannya, belajar dari sejarah masa lalu dan kemudian menjadi pelaku sejarah yang dibanggakan oleh generasi selanjutnya. Bagi kita, pada rentetan sejarah masa lalu terdapat ‘ibrah (pelajaran) untuk kehidupan yang akan datang.

Selanjutnya. bagi Ust. Irfan, kelompok diskusi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari status mahasiswa. Sehingga sejak sekolah hingga kuliah, hasil diskusi yang digelutinya ada yg dimuat di surat kabar. Dengan demikian, menulis bisa dijadikan sebagai ladang pendapatan mahasiswa.

Demikian pula kerja-kerja organisasi menjadi bagian yang tidak boleh dilepaskan dari perjalanan mahasiswa. Dengan berorganisasi kitu dituntut untuk turut memecahkan persoalan keumatan, kebangsaan dan kenegaraan. Jadilah calon-calon pemimpin pembaharu di masa yang akan datang. (*)

 

***

Kontributor; Deden Syarief Hidayat, M. Ag, Ketua 3 STKIP PERSIS