Takhrij Hadits Do’a Buka Shaum Dzahaba Al-Zhama’u

Takhrij Hadits Do’a Buka Shaum Dzahaba Al-Zhama’u

SHARE

Berdo’a ketika hendak berbuka shaum sangat dianjurkan. Namun adakah do’a khusus yang dicontohkan oleh Nabi saw ? Mengingat ada yang berpendapat sebagai berikut :

اعلم أن الأحاديث التى رويت في الدعاء الإفطار كلها ضعيفة لا يثبت منها شيء.

“Ketahuilah, bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan tentang doa buka shaum seluruhnya dhaif tidak ada yang kuat sedikitpun.”[1]

Berkaitan dengan doa buka shaum, ternyata banyak hadis yang menjelaskannya. Menurut penelitian penulis sementara, hadis-hadis tersebut antara lain bersumber dari 6 orang sahabat, dengan redaksi yang berbeda-beda.

Pada tulisan ini, penulis akan mencoba memaparkan salah satu dari do’a tersebut, yakni takhrij hadis “Dzahaba al-zhama’u …” Apakah do’a tersebut hadisnya dha’if atau tidak ? Bisa diamalkan atau tidak ?

A. Teks Hadits

Nabi saw. Apabila hendak berbuka shaum membaca do’a :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Telah hilang dahaga, terbasahi tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud, al-Bazar, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Daraquthni, al-Nasa’i, al-Baghawi, melalui jalur yang sama, yaitu Ali bin al-Hasan bin Syaqiq, dari al-Husain bin Waqid, dari Marwan bin Salim, dari Ibnu Umar, secara Marfu’.[2]

B. Penilaian Para Ulama

  1. Hadis ini Gharib

Al-Daraquthni berkata :

تَفَرَّدَ بِهِ الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

“al-Husain bin Waqid menyendiri dalam hadis ini, dan sanadnya hasan.”[3]

Al-Bazar berkata :

وهذا الحديث لاَ نعلمُهُ يُرْوَى عَن النبي صلى الله عليه وسلم إلاَّ مِن هذا الوجه بهذا الإسناد.

“Hadis ini kami tidak mengetahuinya diriwayatkan dari Nabi saw., kecuali melalui jalur ini, dengan sanad ini.”[4]

Al-Mizzi berkata :

قال الحافظ أبو عبد الله: هذا حديث غريب لم نكتبه إلا من حديث الحسين بن واقد.

Al-Hafizh Abu Abdillah berkata, hadis ini gharib, kami tidak menulisnya kecuali dari hadis al-Husain bin Waqid.[5]

 

  1. Hadis ini dhaif

Abdul Qadir al-Arnaut berkata :

حسن إسناده الدارقطني في السنن ، وذكر الحديث الحافظ في تهذيب التهذيب من ترجمته وقال: ذكره ابن حبان في الثقات مما يشعر انفراد ابن حبان بتوثيقه، وابن حبان معروف بتوثيق المجهولين فلا يعتمد توثيقه عند انفراده.

Sanadnya dihasankan oleh al-Daraquthni dalam al-Sunan, dan al-Hafizh menyebutkan hadis ini dalam Tahdzib al-Tahdzib dalam tarjamahnya, dan berkata, Ibnu Hiban menyebutkannya dalam kitab al-Tsiqat, termasuk yang memberi tahu menyendirinya Ibnu Hiban dalam mentsiqahkannya, sementara Ibnu Hiban terkenal sering mentsiqahkan rawi-rawi Majhul, sehingga pentsiqahannya tidak bisa dijadikan pegangan ketika menyendiri.[6]

Menurut Abu Abdirrahman ‘Adil al-Suqly al-Ithaly, “Dhaif, karena hadis ini berpangkal pada Marwan bin al-Muqanna’, yaitu Ibnu Salim. Tidak meriwayatkan darinya kecuali al-Husain bin Waqid dan ‘Uzrah bin Tsabit (lihat tarjamahnya dalam Tahdzib dan yang lainnya). Maka dia Majhul hal, meskipun Ibnu Hiban mentsiqahkannya, namun ia terkenal dengan ketasahulannya. Dengan demikian, wajib memperhatikan kecermatan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Taqrib  dengan perkataannya, “Maqbul.” Yakni, apabila terdapat mutabi’ (penguat), sebagaimana beliau menjelaskannya dalam muqadimah kitab, adapun di sini tidak terdapat mutabi’, maka hadisnya dhaif.”[7]

 

  1. Hadis ini shahih atau hasan

Al-Hakim berkata :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ ، فَقَدِ احْتَجَّا بِالْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ وَمَرْوَانَ بْنِ الْمُقَنَّعِ.

“Hadis ini shahih sesuai syarat al-Syaikhain (Bukhari Muslim), sungguh keduanya telah berhujjah dengan al-Husain bin Waqid dan Marwan bin al-Muqanna’.”[8]

Al-Daraquthni berkata :

تَفَرَّدَ بِهِ الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

“al-Husain bin Waqid menyendiri dalam hadis ini, dan sanadnya hasan.”[9]

Syu’aib al-Arna’uth berkata :

إسناده حسن كما قال الدارقطني في “سننه” 3/ 156، والحافظ في “تلخيص الحبير” 2/ 202، مروان بن سالم المُقَفَّع روى عنه ثقتان وذكره ابن حبان في “الثقات”، والحسين بن واقد أخرج له مسلم وهو صدوق لا بأس به. علي بن الحسن: هو ابن شقيق العبدي المروزي.

“Sanadnya hasan sebagaimana perkataan al-Daraquthni dalam Sunannya 3/156, al-Hafizh dalam Talkhis al-Habir 2/202, Marwan bin al-Muqaffa’ meriwayatkan darinya dua orang rawi tsiqat, dan menyebutkannya Ibnu Hiban dalam al-Tsiqat, dan al-Husain bin Waqid diriwayatkan hadisnya oleh Muslim, ia shaduq la ba’sa bih, Ali bin al-Hasan, ia Ali bin al-Hasan bin Syaqiq al-‘Abdi al-Marwazi.[10]

Syaikh al-Albani berkata :

حسن .وقال الدارقطني (تفرد به الحسين بن واقد ، وإسناده حسن). وهو كما قال ، وأقره الحافظ في (التلخيص). فان الحسين هذا وإن أخرج له مسلم ، فقد قال الحافظ في (التقريب) :  (ثقة له أوهام) . ثم إن مروان بن سالم قد روى عنه غير الحسين بن واقد : عزرة بن ثابت ، وهو وان لم يوثقه غير ابن حبان، فاورده في (الثقات) (1 / 223) ، فيقويه تحسين الدارقطني لحديثه كما رايت وتصحيح من صححه كما ياتي.

“Hadis ini hasan.” Al-Daraquthni berkata, “al-Husain bin Waqid menyendiri dalam hadis ini, dan sanadnya hasan.” Dan hadis ini sebagaimana yang ia katakana, al-Hafizh menyetujuinya dalam al-Talkhis. Al-Husain ini, walaupun diriwayatkan oleh Muslim, namun al-Hafizh berkata dalam al-Taqrib , tsiqah, padanya terdapat kelemahan. Kemudian Marwan bin Salim telah meriwayatkan darinya selain al-Husain bin Waqid, yaitu ‘Uzrah bin Tsabit, dan dia meskipun tidak dipandang tsiqah selain oleh Ibnu Hiban, sebagaimana dalam al-Tsiqat 1/223, maka ia menjadi kuat dengan penilaian hasan dari al-Daraquthni terhadap hadisnya, sebagaimana engkau lihat, dan penilaian shahih dari ulama yang menshahihkannya sebagaimana akan datang.[11]

Hadis ini dipandang hasan juga oleh Sulaiman bin Nashir al-Ulwan dalam Syarh Kitab Shaum Min Sunan al-Tirmidzi (hl. 114), Salim bin ‘Id al-Hilali dalam ‘Ajalat al-Raghib (2/545), dan lain-lain.

 

C.     Analisis Penulis

  1. Penilaian shahih dari al-Hakim

Penilaian shahih dari al-Hakim jelas tertolak karena wahm (keliru) sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar. Al-Hakim dalam al-Mustadrak mengira bahwa al-Bukhari berhujjah dengannya, padahal keliru, karena ia menyangka padanya dengan Marwan al-Ashfar.[12] Syaikh al-Albani menjelaskan kekeliruan al-Hakim dengan panjang lebar.[13]

 

  1. Penilaian hasan dari al-Daraquthni dan yang lainnya

Terkait dengan pernyataan al-Daraquthni, Benarkah hadis ini hasan ? karena ada yang mengatakan al-Daraquthni itu suka tasahul dalam kitab al-Sunan. Syaikh Muqbil rahimahullah pernah ditanya tentang tasahulnya al-Daraquthni, ia menjawab : “Begini, al-Daraquthni itu suka tasahul dalam Sunannya, yaitu ia seorang imam yang al-Dzahabi berkata, apabila kamu membaca kitabnya al-Ilal, kamu akan tercengang dan banyak kekagumanmu, namun dalam Sunannya ia tasahul, kadang-kadang menilai hasan hadis-hadis yang sanadnya dhaif, atau kadang-kadang berkata, rawi-rawinya tsiqah, padahal terdapat rawi yang dhaif, maka ia bertasahul dalam Sunannya.” Bahkan pernah berkata, “al-Daraquthni dalam Sunannya bukanlah al-Daraquthni dalam kitabnya al-Ilal, dalam Sunannya ditemukan tasahul dalam menilai shahih, tsiqah, dan hasan, akan tetapi hadis-hadis dalam al-Sunan kebiasaannya gharib, maka hendaklah untuk dibahas …”[14]

Untuk membuktikan benar atau tidaknya pernyataan tersebut kita langsung saja kaji satu persatu berdasarkan kaidah ulumul hadis.

 

  1. Bukankah Marwan bin Salim adalah rawi majhul hal ?

Marwan bin Salim al-Muqaffa’. Gurunya : Abdullah bin Umar bin al-Khathab. Muridnya : al-Husain bin Waqid dan ‘Uzrah bin Tsabit al-Anshari.[15]

Ia dipandang Majhul karena hanya memilik dua orang murid. Disebutnya Majhul hal. Majhul hal (tidak dikenal identitasnya) yaitu predikat hadis dhaif yang pada sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal serta mempunyai murid lebih dari satu. Disebut juga mastur.

 

Kriteria Majhul versi al-Daraquthni

Apakah al-Daraquthni tidak mengathui, bahwa Marwan bin Salim itu parawi Majhul hal, sehingga beliau berkesimpulan hadisnya hasan ? Hemat penulis, beliau tentu saja mengetahuinya, dan inilah justru kriteria Majhul versi al-Daraquthni :

وَوَجْهٌ آخَرُ وَهُوَ أَنَّ الْخَبَرَ الْمَرْفُوعَ الَّذِي فِيهِ ذِكْرُ بَنِي الْمَخَاضِ لاَ نَعْلَمُهُ رَوَاهُ إِلاَّ خِشْفُ بْنَ مَالِكٍ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ وَهُوَ رَجُلٌ مَجْهُولٌ وَلَمْ يَرْوِ عَنْهُ إِلاَّ زَيْدُ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ حَرْمَلٍ الْجُشَمِيُّ وَأَهْلُ الْعِلْمِ بِالْحَدِيثِ لاَ يَحْتَجُّونَ بِخَبَرٍ يَنْفَرِدُ بِرِوَايَتِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مَعْرُوفٍ وَإِنَّمَا يَثْبُتُ الْعَمَلُ عِنْدَهُمْ بِالْخَبَرِ إِذَا كَانَ رَاوِيهِ عَدْلاً مَشْهُورًا أَوْ رَجُلٌ قَدِ ارْتَفَعَ عَنْهُ اسْمُ الْجَهَالَةِ وَارْتِفَاعُ اسْمِ الْجَهَالَةِ عَنْهُ أَنْ يَرْوِيَ عَنْهُ رَجُلاَنِ فَصَاعِدًا فَإِذَا كَانَ هَذِهِ صِفَتَهُ ارْتَفَعَ عَنْهُ اسْمُ الْجَهَالَةِ وَصَارَ حِينَئِذٍ مَعْرُوفًا فَأَمَّا مَنْ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ إِلاَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ انْفَرَدَ بِخَبَرٍ وَجَبَ التَّوَقُّفُ عَنْ خَبَرِهِ ذَلِكَ حَتَّى يُوَافِقَهُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Al-Daraquthni berkata : contoh lain yaitu bahwa hadis marfu’ yang menyebutkan kata “bani al-makhadl” kami tidak mengetahuinya kecuali diriwayatkan oleh Khisf bin Malik dari Ibnu Mas’ud, sementara dia adalah rawi Majhul, dan tidak meriwayatkan darinya kecuali Zaid bin Jubair bin Harmal al-Jusyami, dan para ahli hadis tidak berhujjah dengan hadis yang menyendiri rawi Majhul dalam periwayatannya. Namun mereka beramal dengan hadis apabila rawinya adil dan masyhur atau rawi yang terangkat keMajhulannya. Dan rawi Majhul terangkat keMajhulannya apabila meriwayatkan darinya dua orang rawi atau lebih. Maka apabila rawi Majhul demikian sifatnya, maka terangkat jahalahnya dan sekarang menjadi ma’ruf. Adapun rawi yang hanya memiliki satu murid, menyendiri dalam periwayatannya, maka wajib tawaquf (diam) dari hadisnya tersebut sehingga riwayat lain sesuai dengannya. WAllahu a’lam[16]

 

  1. Penilaian tsiqat Ibnu Hiban, betulkah tasahul ?

Terkait jarah ta’dilnya, banyak para ahli naqd seperti al-Dzahabi, al-Asqalani, al-Mizzi, dan yang lainnya, hanya mengatakan bahwa dia dipandang tsiqat oleh Ibnu Hiban.[17]

Ibnu Hiban memang terkenal dengan tasahulnya dalam mentsiqahkan rawi dalam kitabnya al-Tsiqat. Namun ketika berbicara tautsiq Ibnu Hiban terhadap rawi tabi’in perlu diperhatikan dengan seksama :

وإن مما يجب التنبيه عليه أيضا أنه ينبغي أن يضم إلى ما ذكره المعلمي أمر آخر هام عرفته بالممارسة لهذا العلم قل من نبه عليه وغفل عنه جماهير الطلاب وهو أن من وثقه ابن حبان وقد روى عنه جمع من الثقات ولم يأت بما ينكر عليه فهو صدوق يحتج به

Syaikh al-Albani berkata : “Dan yang wajib diperingatkan juga, bahwa hendaknya menggabungkan kepada apa yang disebutkan oleh al-Mu’alimi, perkara lainnya yang penting, yang dapat mengetahuinya dengan mendalami ilmu ini, sedikit sekali yang memperhatikannya dan dilalaikan oleh mayoritas penuntut ilmu, yaitu rawi yang ditsiqahkan oleh Ibnu Hiban dan diriwayatkan darinya oleh sejumlah rawi yang tsiqah serta tidak datang riwayat yang mengingkarinya, maka ia adalah rawi shaduq yang dapat dijadikan hujjah.”[18]

ثم إن مروان بن سالم قد روى عنه غير الحسين بن واقد : عزرة بن ثابت ، وهو وان لم يوثقه غير ابن حبان ، فاورده في (الثقات) (1 / 223) ، فيقويه تحسين الدارقطني لحديثه كما رايت وتصحيح من صححه كما ياتي.

“Kemudian Marwan bin Salim telah meriwayatkan darinya selain al-Husain bin Waqid, yaitu ‘Uzrah bin Tsabit, dan dia meskipun tidak dipandang tsiqah selain oleh Ibnu Hiban, sebagaimana dalam al-Tsiqat 1/223, maka ia menjadi kuat dengan penilaian hasan dari al-Daraquthni terhadap hadisnya, sebagaimana engkau lihat, dan penilaian shahih dari ulama yang menshahihkannya sebagaimana akan datang.”[19]

 

Ali bin Nayif al-Syahud menjelaskan periwayatan rawi Majhul terbagi kepada empat tingkatan dengan hukum yang berbeda. Majhul dari kalangan sahabat, Majhul dari kalangan kibar atau ausat tabi’in, Majhul dari kalangan sighar tabi’in, dan Majhul dari kalangan tabi’ tabi’in atau generasi sesudahnya. Berkaitan dengan Majhul dari kalangan kibar atau ausat tabi’in, ia menjelaskan :

وهم الذين تتلمذوا على أيدي الصحابة الكرام فأمثال هؤلاء يقبل حديثهم إذا سلم من المخالفة .

“Mereka adalah orang-orang yang belajar di hadapan para sahabat yang mulia, maka orang-orang seperti mereka diterima hadisnya apabila selamat dari mukhalafah.[20]

وأما المجهولون من الرواة: فإن كان الرجل من كبار التابعين أو أوساطهم احْتُمِلَ حديثه وتُلُقِّيَ بحسن الظن إذا سلم من مخالفة الأصول ومن ركاكة الألفاظ. وإن كان الرجل منهم من صغار التابعين فسائغ رواية خبره، ويختلف ذلك باختلاف جلالة الراوي عنه وتحرّيه وعدم ذلك. وإن كان المجهول من أتباع التابعين فمن بعدهم، فهو أضعف لخبره سيما إذا انفرد به

Al-Dzahabi berkata, “Adapun rawi-rawi Majhul dari kalangan kibar atau ausat tabi’in, dipertimbangkan hadisnya dan diterima dengan husnu zhan (berbaik sangka), apabila selamat dari mukhalafah dengan ushul dan rukakah lafazh….”[21]

فأما المبهم الذي لم يسم، أو من سُمِيَّ ولا تعرف عينه، فهذا ممن لا يقبل روايته أحد علمناه، ولكنه إذا كان في عصر التابعين والقرون المشهود لهم بالخير، فإنه يُستأنس بروايته، ويُستضاء بها في مواطن، وقد وقع في مسند الإِمام أحمد وغيره من هذا القبيل كثير

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Adapun mubham adalah rawi yang tidak disebut namanya, atau disebut namanya namun tidak ketahui pribadinya, maka ini termasuk rawi yang tidak diterima riwayatnya sebagaimana kita ketahui. Namun apabila pada masa tabi’in dan generasi yang dipersaksikan kebaikan pada mereka, maka rawi tersebut disukai periwayatannya, dan menjadi cahaya di beberapa tempat, dan banyak terdapat dalam Musnad Imam Ahmad dan yang lainnya tentang penerimaan ini.”[22]

Berdasarkan ketarangan di atas, tautsiq Ibnu Hiban terhadap Marwan bin Salim dapat diterima, karena ia termasuk rawi ausat tabi’in sebagaimana dapat dilihat pada ruwat Tahdzibiin. (maktabah syamilah)

 

  1. Penilaian maqbul dari Ibnu Hajar

Marwan bin Salim dinilai maqbul oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Taqrib  (10/93), sementara makna maqbul menurut Ibnu Hajar adalah :

“وأهم خلاصات هذا البحث: هو أن قول ابن حجر (السادسة: من ليس له من الحديث إلا القليل، ولم يثبت فيه ما يترك حديثه من أجله، وإليه الإشارة بلفظ (مقبول) حيث يتابع، وإلا فلين الحديث) تقديره، بل معناه هو: المرتبة السادسة: مرتبة من ليس له من الحديث إلا القليل، ولم يأت فيه توثيق معتبر، أو لم يرد فيه توثيق أصلاً، ولم يرد في أحاديثه أو في كلام النقاد عليه ما يترك من أجله، وإليه الإشارة بلفظ (مقبول)، ومعنى هذه اللفظة، أن حديثه الذي يتابع عليه متابعة معتبرة يكون مقبولاً أي ثابتاً، وحديثه الذي لم يتابع عليه يكون ليناً أي مردوداً، ولكن ذلك الحديث في أعلى درجات الضعف، أي أقربها إلى درجات القوة والثبوت.والله أعلم “(1).

Syaikh Muhammad Khalf Salamah berkata, “Yang paling penting ringkasan pembahasan ini adalah bahwa perkataan Ibnu Hajar, yang keenam, rawi yang tidak meriwayatkan hadis kecuali sedikit, dan tidak kuat, hadis padanya hadis yang bersumber darinya ditinggalkan, dan kepadanya terdapat isyarat dengan lafazh “maqbul” apabila ada mutabi’, dan jika tidak, maka hadisnya lemah. Bahkan maknanya adalah tidak terdapat dalam hadisnya, atau dalam perkataan ahli naqd hadis yang ditinggalkan apabila bersumber darinya, dan berisyarat padanya dengan lafazh “maqbul”, dan makna lafazh ini, bahwa hadisnya yang memiliki mutabi’ dengan mutabi’ yang diakui, maka hadisnya maqbul, yakni kuat, sedangkan hadisnya yang tidak memiliki mutabi’, maka lemah, yakni tertolak, akan tetapi hadis tersebut berada pada tingkatan dhaif paling tinggi, yakni lebih dekat kepada derajat kuat atau tsubut. WAllahu a’lam.[23]

Namun apabila kita kaji secara langsung, ternyata penilain maqbul dari Ibnu Hajar tidak selamanya dhaif, dalam artian maqbul apabila ada mutabi’ (riwayat lain sebagai penguat). Buktinya, Ibnu Hajar sendiri banyak menilai hasan terhadap hadis, yang mana dalam sanadnya terdapat rawi maqbul dan ia tafarud (menyendiri).

Dalam kitab al-Ta’liq al-Ma’mul ‘ala ma’na Qouli Ibni Hajar Maqbul” disebutkan beberapa contoh hadis bagi rawi tafarud yang dinilai maqbul oleh Ibnu Hajar, dan beliau menilai hadis tersebut sebagai hadis hasan. Salah satu contoh hadis tersebut, dalam Tagliq al-Ta’liq (3/319) al-Hafizh berkata :

« قَالَ الإِمَامُ أَحْمَدُ (4/388) ، وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ : حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا وَبْرُ بْنُ أَبِي دُلَيْلَةَ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الطَّائِفِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَيْمُونِ بْنِ مُسَيْكَةَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ خَيْرَاً عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : « لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ » . قَالَ وَكِيعٌ : عِرْضُهُ شِكَايَتُهُ ، وَعُقُوبَتُهُ حَبْسُهُ .(3)

Menurut al-Hafizh, hadis ini sanadnya hasan, padahal dalam al-Taqrib  (1/490) rawi yang bernama Muhammad bin Maimun bin Musaikah al-Tha’ifi adalah maqbul peringkat ke enam.

Dalam Fath al-Bari (5/62) berkata, “… Sanadnya hasan, al-Thabrani berkata, bahwa hadis ini tidak diriwayatkan kecuali melalui sanad ini. Menurut Abu Muhammad al-Alafi , “Ini termasuk sesuatu yang paling jelas dan menjelaskan kepada maksud al-Hafizh dalam istilahnya, yaitu menghasankan hadis rawi maqbul, dalam keadaan tafarud, dan tidak ada mutabi’ baginya.[24]

 

  1. Bukankah Al-Husain bin Waqid tafarud ?

Menurut Ibnu Hajar, al-Husain bin Waqid al-Marwazi, Abu Abdillah al-Qadhi (w.157/159 H), tsiqah lahu auham, peringkat ke tujuh.[25]

Dimasukkan oleh Ibnu Hiban dalam kitabnya al-Tsiqat. Al-Uqaili berkata, “Imam Ahmad mengingkari hadisnya.” Ibnu Sa’ad berkata, “Hadisnya hasan.” Al-Saji berkata, “Perlu ditinjau kembali, dia shaduq suka keliru.”[26]

Ali bin Abdillah al-Shayah berkata, “Shaduq.” Ibnu Sa’ad berkata, “Hadisnya hasan.” Ahmad berkata, “Tidak apa-apa dan aku memujinya.” Abu Zur’ah, Abu Dawud, al-Nasa’i berkata, “Tidak apa-apa.” Ibnu Ma’in berkata, “Tsiqah.” Al-Dzahabi berkata, “Shaduq, Imam Ahmad mengingkari sebagian hadisnya.” Ibnu Hajar berkata, “Tsiqah, lahu auham.” Al-Bukhari menjadikan hadisnya sebagai syahid dalam fadhail al-quran, dan meriwayatkan hadisnya dalam al-Adab, dan meriwayatkan yang lainnya, wafat pada tahun 159.[27]

Ibnu Hajar berkata, “Al-Husain bin Waqid al-Marwazi dipandang tsiqah oleh Yahya bin Main dan yang lainnya. Dan ikhtilaf padanya perkataan Ahmad. Dan baginya terdapat satu tempat di fadhail al-quran.”[28]

Al-Mundziri berkata, “Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibnu Majah. Al-Tirmidzi berkata, hadis ini hasan gharib, kami hanya mengetahuinya dari hadis al-Husain bin Waqid, ini akhir pembicaraannya. Sedangkan al-Husain bin Waqid, ia adalah Abu Qadhi, perawi tsiqah, Imam Muslim berhujjah dengan dalam kitab shahihnya.”[29]

Syaikh al-Albani berkata, “Periwayatan al-Husain bin Waqid, dari Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya, al-Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat Syaikhain.” Al-Dzahabi menyetujuinya. Menurutku, “al-Husain ini hadisnya diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’alaq, kemudian padanya terdapat kedhaifan yang ringan, al-Dzahabi tentang dirinya pernah berkata dalam al-Dhu’afa, “Imam Ahmad mengingkari sebagia hadisnya.” Al-Hafizh dalam al-Taqrib  berkata, “Tsiqah lahu auham.” Menurutku, “Hadisnya hasan insya Allah ta’ala.”[30]

Memperhatikan keterangan di atas, kedudukan al-Husain bin Waqid menempati martabat hasan lidzatih. Karena meskipun dinilai tsiqah oleh para ulama, namun ulama yang lainnya ada yang mengkritisi aspek dhabtnya, sehingga muncul istilah “lahu auham” dan mengingkari sebagian hadisnya.

 

  1. Karena Tafarud, Jadi Hasan

Dr. Mahir Yasin al-Fahl menjelaskan, bahwa perawi hasan lidzatih adalah perawi pertengahan yang meriwayatkan sekian banyak hadis, lalu keliru dalam sebagian yang diriwayatkannya, dan memilki mutabi’ kebanyakan hadis yang diriwayatkannya. Maka perawi yang hasan, al-aslu (yang pokok) dalam periwayatannya adalah al-mutaba’ah dan al-mukhalafah, yaitu seorang rawi yang dinilai shaduq, karena shaduq adalah rawi yang ragu terhadap sebagaian (riwayatnya), sehingga turun dari derajat tsiqah menjadi shaduq.

Apabila hadisnya keliru dan mukhalafah (menyalahi), maka hadisnya dhaif. Dan apabila hadisnya memiliki mutabi dan sesuai dengannya, baik riwayat tersebut sederajat atau lebih tinggi darinya, maka hadisnya shahih. Adapun apabila hadisnya tidak memiliki mutabi dan syahid, maka hadisnya disebut hasan. Karena kita tidak tahu, apakah dia keliru atau benar dalam riwayatnya, disebabkan tidak ada mutabi dan juga tidak mukhalafah.

Sebagai gambaran, seorang rawi misalnya meriwayatkan 200 hadis. Kemudian dalam 20 hadis ia keliru dan 80 hadis lagi ia memiliki mutabi. Maka 20 hadis yang keliru padanya, hadisnya dhaif. Dan 80 hadis yang memiliki mutabi, hadisnya shahih. Adapun sisanya 100 hadis lagi, karena tidak ada mutabi dan juga tidak mukhalafah, maka hadisnya masuk kategori hasan (lidzatih). Rawi yang seperti ini bayak, antara lain : Ubaidah bin Humaid al-Kufi, Sulaiaman bin Utbah, Ayub bin Hani, Dawud bin Bakar bin Abi al-Farat, Muhammad bin Amr bin Alqamah, al-Harits bin Abdurrahman bin Abi Dzubab, Yunus bin Abi Ishaq, Simak bin Harb.[31]

Untuk membuktikan bahwa tafarud al-Husain hadisnya adalah hasan, berikut contoh hadisnya  :

حَدَّثَنَا أَبُو عَمَّارٍ الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ , قَالَ : حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى , عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ , عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ , قَالَ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى , يَقُولُ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ الذِّكْرَ , وَكَانَ لاَ يَأْنَفُ أَوْ لاَ يَسْتَكْبِرُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَ الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ فَيَقْضِيَ لَهُ حَاجَتَهُ.

Berkaitan dengan hadis ini, al-Tirmidzi berkata :

سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَقَالَ : هُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَهُوَ حَدِيثُ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ تَفَرَّدَ بِهِ.

“Aku bertanya kepada Muhammad (al-Bukhari) tentang hadis ini, jawabnya, hadis ini hasan, yaitu hadis al-Husain bin Waqid, ia menyendiri padanya.”[32]

 

  1. Bukankah al-Husain bin Waqid mudallis ?

Hamad bin Muhammad al-Anshari berkata, “al-Husain bin Waqid al-Mawazi, salah satu rawi tsiqah, dari atba’ al-tabi’in, al-Daraquthni dan Abu Ya’la al-Khalili mensifatinya dengan tadlis, wafat tahun 159 H, generasi pertama.[33]

Berkaitan dengan tadlisnya, al-Husain bin Waqid termasuk rawi mudallis tingkat pertama dalam shahih al-Bukhari, sehingga shighah ‘an tidak berpengaruh terhadap hadisnya.[34]

 

D.    Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa hadis do’a buka shaum “dzahaba al-zhama’u …” adalah maqbul menempati martabat hasan lidzatih. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

 

***

Penulis: Ahmad Wandi, koordinator Pusat Kajian Hadis Pemuda Persis (Lembaga Kajian Turats Dan Pemikiran Islam PP. Pemuda Persis), Wakil Ketua PD. Pemuda Persis Kab. Bandung Barat, Ketua Pc. Pemuda Persis Lembang.

Download File PDF-nya, Klik Disini

 

Referensi:

[1] Bundar bin Nafi’ al-Abdali, Syarah Kitab al-Shiyam min Umdat al-Ahkam, hlm. 23.

[2] Sunan Abi Dawud 2/529 no. 235, Musnad al-Bazar 2/221 no. 5395, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain 1/422 no. 1536, al-Sunan al-Kubra al-Baihaqi 2/255, al-Sunan al-Shugra 2/112 no. 1083, Syu’ab al-Iman 3/407, al-Da’wat al-Kabir 2/97 no. 499, Sunan al-Daraquthni 2/185 no. 25, al-Sunan al-Kubra al-Nasa’I 2/255, Amal al-Yaum Wa al-Lailah 1/268, Syarh al-Sunnah al-Baghawi 6/265 no. 1740.

[3] Sunan al-Daraquthni 3/156.

[4] Musnad al-Bazar 2/221.

[5] al-Taudhih li Syarh al-Jami’ al-Shahih 13/403.

[6] Tahqiq Jami’ al-Ushul fi Ahadits al-Rasul 6/379.

[7] lihat. www.ajurry.com.

[8] al-Mustadrak 1/422.

[9] Sunan al-Daraquthni 3/156.

[10] Tahqiq Sunan Abi Dawud 4/40.

[11] Irwa al-Ghalil 4/43.

[12] Tahdzib al-Tahdzib 10/84.

[13] lihat, Irwa al-Ghalil 4/43.

[14] al-Qayim al-Fatawa al-Haditsiyah 1/32-33 karya Nuruddin hafizhahullah.

[15] Tahdzib al-Kamal 27/390 no. 5872.

[16] Sunan al-Daraquthni 4/226-227.

[17] Tahdzib al-Kamal 27/391, Tahdzib al-Tahdzib 10/84, Lisan al-Mizan 9/421.

[18] Tamam al-Minnah, hlm. 25.

[19] Irwa al-Ghalil 4/43.

[20] al-Hafizh Ibnu Hajar wa Manhajuhu fi Taqrib  al-Tahdzib, hlm. 63, al-Khulashah fi Ilmi al-Jarh wa al-Ta’dil 1/178.

[21] Diwan al-Dhu’afa wa al-Matrukin, hal. 374, dinukil dari Dhawabith al-Jarh wa al-Ta’dil 1/61.

[22] Ikhtishar Ulum al-Hadits, hlm. 81.

[23] lihat, makna lafazh maqbul menurut Ibnu Hajar dalam kitabnya Taqrib  al-Tahdzib,  http: //www.ahlalhdeeth.com.

[24] al-Hafizh Ibnu Hajar wa Manhajuhu fi al-Taqrib , hlm. 57.

[25] Taqrib  al-Tahdzib, hlm. 169, no. 1358.

[26] Tahdzib al-Tahdzib 2/374.

[27] Juz Min ‘Ilal Ibnu Abi Hatim 2/85.

[28] Fath al-Bari 1/457.

[29] Aun al-Ma’bud 3/458.

[30] Irwa al-Ghalil 6/272.

[31] Muhadharat fi Ulum al-Hadits 1/9-10.

[32] Tartib Ilal al-Tirmidzi al-Kabir, hlm. 360 no. 670.

[33] Ithaf Dzawai al-Rusukh, hlm. 16.

[34] lihat, Khulasah Kitab Riwayat al-Mudallisin fi Shahih al-Bukhari, hlm. 11, karya Dr. Awad al-Khalf.