UBN Sebut Alumni Pesantren Persis Mampu jadi Titik Balik Kebangkitan Baru untuk Islam Indonesia

UBN Sebut Alumni Pesantren Persis Mampu jadi Titik Balik Kebangkitan Baru untuk Islam Indonesia

Dipublish pada 01 April 2019 Pukul 08:58 WIB

1482 Hits

Jakarta – persis.or.id, Ustadz Bahtiar Nasir (UBN) menyebutkan bahwa alumni Pesantren Persatuan Islam (PPI) mampu jadi titik balik kebangkitan baru untuk Islam yang lebih Jaya di Indonesia, Ahad (31/03/2019)

Dalam acara Silaturahmi Akbar Alumni Pesantren Persatuan Islam (Silatbar PPI) di Gedung BPPT Thamrin Jakarta itu, UBN menyampaikan rasa syukur dan harapannya kepada ribuan Alumni Pesantren Persis.

Adanya acara Silaturahiim Akbar Alumni PPI 2019 itu, dinilai UBN akan menjadi titik tolak kebangkitan Persatuan Islam di tangan para pemuda, untuk Indonesia yang lebih berjaya dengan kekuatan Islam.

Dalam padatnya agenda UBN, namun ia menyempatkan diri untuk menghadiri acara silaturahim akbar tersebut. UBN menyampaikan harapannya.

“Wahai alumni-alumni Pesantren Persatuan Islam, jadilah penerus, kalian semua belajar di sebuah lembaga yang bukan berpikir bisnis”, ujar Ustadz Bahtiar Nasir.

Hematnya, sekarang banyak lembaga pendidkan abal-abal. Bagus dari tampilan infrastrukturnya saja, bahkan diberi label sekolah internasional. Jika Persis ingin membuat sekolah Internasional, menurut UBN sangatlah mudah.

“Ada banyak tanah wakafnya, tinggal buat iklan bahwa Persis ingin membuat sekolah international dengan bayaran mahal. Saya yakin orangtua di luar sana akan antri untuk mendaftarkan anaknya di sekolah International Persis”

“Namun, Saya yakin sistem pendidikan seperti itu justru yang tidak diinginkan oleh Persatuan Islam”, ungkapnya.

Mantan ketuan GNPF MUI itu juga mengatakan bahwa para alumni Pesantren Persis itu beruntung. UBN menuturkan bahwa Pesantren Persis adalah sebuah lembaga pendidikan yang berkah, memberi banyak kebaikan bagi seluruh santrinya.

UBN menilai, sebagai lembaga pendidikn yang didirikan oleh Persis tentunya tidak lepas dari sejarah awalnya, spirit mengembalikan Islam pada originalitasnya.

Persis berjuang mengembalikan Islam pada keasliannya, yang anti pada kemunafikan, anti kepada kefasikan dan anti kepada Takhayul Bi’dah Churafat (TBC). Dan, Muhammadiyah melanjutkan apa yang sudah dicita-citakan dan dijalani oleh Persis.

“Hari ini adalah titik balik kebangkitan baru untuk Islam yang lebih jaya di Indonesia, dengan satu syarat anda semua harus menjadi penerus pendahulu Persis”, ujar UBN yang menggelegar disambut riuh antusias seluruh hadirin.

“Apakah anda semua siap menjadi penerus Isa Anshari, M Natsir dan siap menjadi penerus A Hassan dan penerus pendiri Persis lainnya ?” tanya UBN.

Ia yakin bahwa pesantren-pesantren Persis yang berdiri sejak lama sudah banyak melahirkan orang-orang yang hebat.

“Bahkan saya yang bukan lahir dari Persis sudah banyak merasakan petuah-petuah hikmah-himah bahkan energi perjuangan yang bersumber dari Persis”, ungkapnya.

Untuk menjadi penerus, UBN menekankan keharusan adanya konsisten mengimplementasikan semua ilmu yang pernah didapat selama di pesantren.

UBN berharap akan terus ada kaum santri, cerdik cendikiawan yang memilik keberanian dari pesantren-pesantren Persis.

“Hari ini, para generasi-generasi masa kini harus mampu mengelaborasi empat pilar kebangsaan yang saat ini sedang dirongrong oleh liberalisme yang hendak memukul mundur idealisme Islam”

“Hari ini, dibutuhkan mujahid-mujahid baru, Natsir - Natsir baru dan A Hassan - A Hassan baru dengan dalil- dalil yang kuat dan nash-nash yang kuat untuk memukul mundur ideologi sesat tersebut”, ujar UBN.

Terakhir, Ustadz Bahtiar Nasir mengatakan bahwa Indonesia dengan Pancasila-nya termasuk yang sudah dijanjikan oleh Allah untuk mendapatkan kemenangan. Indikatornya secara normatif ada pada ideologisnya.

Dalam Pancasila sudah utuh semua keimanan.  Keimanan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan yang kedua beramal sholeh secara kebangsaan. Jadilah manusia yang adil dan beradab melahirkan generasi-generasi yang mempersatukan Indonsia. Mulailah berjuang agar kerakyatan Indonesia ini dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan agar terjadi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Para alumni Persis harus siap menjadi amal sholeh kebangsaan ini dan mengamalkannya”, tukasnya. (HL/TG)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?